Chapter Thirty Four
Sembilan Detik
POV: Claudia
Proyeknya jalan lima minggu.
Sekar dan aku menyebutnya “proyek” karena kami butuh nama, dan kalau ada namanya rasanya lebih seperti pekerjaan dan kurang seperti kepanikan.
Aturannya cuma satu: Aries tidak boleh tahu.
Karena kalau dia tahu, dia akan makan di depan kami dan berhenti makan waktu tidak ada yang melihat, dan angkanya akan tetap turun, dan kami cuma akan berhenti mengetahuinya.
Itu kalimat Lintang. Anak sepuluh tahun. Aku memakainya sebagai dasar seluruh strategi selama lima minggu.
Yang kami lakukan:
Sekar menambah takaran nasi sedikit demi sedikit. Tiga sendok jadi tiga setengah. Dua minggu kemudian empat.
Aku “salah pesan” dua bungkus setiap hari Senin.
Aku “tidak habis” setiap hari Rabu.
Bu Ratmi — yang kami libatkan di minggu kedua, karena tanpa dia ini tidak mungkin — mulai menaruh piring di warung yang isinya lebih banyak, tanpa mengubah harganya.
Bang Jecky diberi tugas satu: kalau melihat Aries di jalan jam makan, tawarkan makan, dan jangan menerima penolakan pertama.
Mbah Tun tidak perlu diberi tahu apa-apa. Mbah Tun sudah melakukannya selama tiga tahun.
Lima minggu.
Dan aku ingin mencatat hasilnya dengan jujur, karena aku tahu kalian berharap sesuatu:
Hasilnya kecil.
Dia makan lebih banyak. Iya. Tapi dia juga menambah satu shift bulan Juli, dan dia mengangkat semen dua hari lebih banyak per minggu, dan pada akhirnya semua yang masuk keluar lagi lewat punggungnya.
Sekar bilang, di telepon, hari Senin malam:
“Kak, ini kayak nuangin air ke ember bocor.”
“Terus kita berhenti?”
“Nggak.”
“Kenapa nggak?”
Dan dia bilang, “Karena embernya bocor, bukan pecah.”
Hari Rabu, akhir Juli, jam setengah tujuh sore, undakan depan toko kelontong.
Hari itu tidak istimewa.
Aku ingin menekankan itu. Aku sudah memikirkannya ratusan kali sejak saat itu dan aku tetap tidak menemukan apa pun yang istimewa dari hari Rabu itu.
Panas. Kering. Lalu lintas biasa. Penjual bakso dorong lewat jam tujuh lewat sepuluh, persis, seperti biasa.
Aries duduk di sebelahku dengan tas di pangkuan. Dia sedang menceritakan sesuatu tentang pemilik toko bangunan yang salah menghitung sak semen dan hampir memarahi orang yang salah.
Ceritanya panjang, untuk ukuran dia. Mungkin empat kalimat.
Aku membuka botol air dan menyerahkannya kepadanya.
“Nih.”
“Makasih.”
Dan sambil menyerahkan botol itu, aku bilang:
“Aku sayang kamu.”
Aku tidak merencanakannya.
Aku bersumpah. Aku sudah memikirkan kalimat itu selama berminggu-minggu — di angkot, di kamar, jam dua pagi — dan aku punya tiga skenario lengkap tentang kapan dan bagaimana.
Tidak satu pun dari tiga skenario itu adalah hari Rabu jam setengah tujuh sambil menyerahkan botol air mineral seharga empat ribu rupiah.
Kalimat itu cuma keluar.
Seperti kau menyerahkan sesuatu dan bilang “hati-hati panas”. Refleks.
Dan begitu keluar, aku langsung sadar aku sudah tidak bisa menariknya kembali, dan aku duduk di undakan semen itu dan menunggu.
Detik satu.
Dia memegang botol itu dengan dua tangan.
Detik dua.
Dia tidak bergerak.
Detik tiga.
Aku melihat matanya. Matanya menatap botol itu.
Detik empat.
Masih menatap botol itu.
Detik lima.
Ada motor lewat. Ada anak SMP naik sepeda sambil teriak ke temannya. Ada bunyi rolling door dari ruko sebelah.
Detik enam.
Aku mulai berpikir mungkin dia tidak dengar, dan aku mulai menyusun cara untuk pura-pura tidak pernah mengatakannya.
Detik tujuh.
Aku melihat telinganya.
Merah. Dari bawah, naik.
Detik delapan.
Dia menarik napas — pendek, seperti orang mau bicara — lalu tidak jadi.
Detik sembilan.
Dan dia berkata:
“Oh.”
Aku menunggu.
“Iya,” katanya.
Aku menunggu lagi.
“Aku…” Dia memegang botol itu lebih erat. “Terima kasih.”
Dan lalu, tanpa jeda satu detik pun, dengan nada yang sepenuhnya normal:
“Besok aku masuk shift jam delapan, bukan jam tujuh. Yuda tukeran. Jadi kalau kamu ke sini, aku ada sampe jam delapan kurang seperempat.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Dan aku tertawa.
Aku tertawa sampai badanku membungkuk ke depan, sampai perutku sakit, sampai aku harus memegang lututku dengan tangan yang satu lagi supaya tidak jatuh dari undakan.
“Claudia—”
“Bentar—”
“Kenapa?”
“BENTAR.”
“Aku salah ngomong?”
Dan itu membuatnya jauh lebih parah, dan aku tertawa sampai ada air keluar dari mataku, dan aku duduk di undakan semen depan toko kelontong yang sudah tutup dan tertawa selama hampir satu menit penuh.
Dan sepanjang itu, Aries Kurniawan duduk di sebelahku memegang botol air mineral empat ribu rupiah dengan dua tangan, dengan telinga merah, dengan wajah orang yang benar-benar tidak tahu apakah dia baru saja lulus atau gagal.
Itu lucu.
Aku ingin mencatat itu dengan jelas: itu benar-benar lucu.
Dan aku masih menganggapnya lucu sampai sekarang.
Aku baru mengerti bagian yang lain empat puluh menit kemudian.
Jam delapan lewat sepuluh, aku ke minimarket.
Bukan hari kerjaku. Aku ke sana karena aku selalu ke sana, dan karena Mas Yuda sudah lama berhenti bertanya.
Aku beli sesuatu. Aku tidak ingat apa.
Dan waktu aku ke toilet karyawan di belakang, aku melihat wajahku di cermin kecil di atas wastafel.
Dan aku berpikir, tanpa alasan apa pun:
Dia bilang terima kasih.
Dan aku berhenti.
Karena di kepalaku, tiba-tiba, ada sesuatu yang mulai mencari.
Kapan terakhir kali kamu denger dia bilang kata itu?
Aku berdiri di toilet karyawan minimarket itu dan mencari.
Sungguhan mencari. Aku memutar ulang lima bulan terakhir, kejadian demi kejadian, seperti orang membalik-balik struk.
Lintang, setiap kali, di pintu, sebelum kakaknya berangkat kerja: “Sayang Mas!”
Dan jawabannya: “Hm.”
Bumi, malam-malam, waktu digendong: “Bumi sayang Mas.”
Dan jawabannya: usapan di kepala.
Sekar tidak pernah mengucapkannya sama sekali, tapi Sekar tidak mengucapkan apa pun, jadi itu bukan data.
Bu Ratmi, waktu Aries membetulkan kompornya: “Kowe ki, Ries. Wis tak anggep anak dewe.”
Dan jawabannya: “Makasih, Bu.”
Aku terus mencari.
Lima bulan. Ratusan jam. Undakan, angkot, halte, warung, ruang depan rumah nomor tujuh.
Dan aku tidak menemukan satu pun.
Tidak sekali.
Tidak ke aku. Tidak ke Lintang. Tidak ke Bumi. Tidak ke siapa pun.
Aries Kurniawan tidak pernah mengucapkan kata itu.
Aku duduk di lantai toilet karyawan minimarket itu.
Di lantai. Di toilet minimarket. Aku ingin mencatatnya apa adanya karena kalau kuperhalus nanti terdengar lebih anggun daripada yang sebenarnya.
Aku duduk di lantai dan menangis dengan tangan menutupi mulut supaya Mas Yuda tidak dengar dari kasir.
Dan aku menangis bukan karena dia tidak mengatakannya kepadaku.
Aku bisa hidup tanpa itu. Aku sudah memutuskan itu sejak lama, entah kapan, mungkin sejak bulan Maret.
Aku menangis karena aku baru mengerti sesuatu:
Dia bukan menahan.
Dia bukan malu, dan dia bukan tidak mau, dan dia bukan sedang menyimpannya untuk momen yang tepat.
Dia tidak punya kata itu.
Itu bukan barang yang dia simpan di laci dan tidak mau keluarkan.
Laci itu kosong.
Dan orang yang lacinya kosong tidak akan pernah tahu bahwa lacinya kosong, karena tidak ada yang bisa dibandingkan.
Aku menelepon Sekar malam itu, jam sepuluh lewat.
“Kak Claudia?”
“Sekar, aku mau nanya.”
“Nanya.”
“Mas Aries pernah bilang ‘sayang’ nggak?”
Hening.
“Sekar?”
“Ke siapa?”
“Ke siapa aja.”
Dan adiknya diam selama sekitar delapan detik, dan aku tahu dia sedang melakukan persis yang kulakukan di toilet minimarket: mencari.
Cuma dia mencari di tiga tahun, bukan lima bulan.
“Nggak pernah,” katanya akhirnya.
“Nggak pernah sekali pun?”
“Nggak.”
“Ke Bumi?”
“Nggak.”
“Ke Lintang?”
“Nggak.”
“Lintang bilang tiap hari.”
“Iya.” Suaranya rata seperti biasa. “Mas jawab ‘hm’.”
“Sekar—”
“Aku udah ngitung, Kak.” Dia menarik napas. “Lintang bilang rata-rata delapan kali seminggu. Tiga tahun. Sekitar seribu dua ratus kali.”
Aku memegang HP-ku dengan dua tangan.
“Seribu dua ratus kali,” ulangnya, “dan nggak ada satu pun yang dibales.”
“Sekar.”
“Hm.”
“Kenapa?”
Dan adiknya diam lama sekali.
Lalu dia bilang, “Aku punya tebakan. Tapi aku nggak pernah nanya.”
“Apa tebakan kamu?”
“Kak Claudia inget nggak, Ibu sama Bapak meninggalnya kecelakaan?”
“Iya.”
“Mas ada di rumah waktu itu. Aku juga.” Suaranya tidak berubah sama sekali. “Ibu berangkat pagi. Aku lagi nyapu. Mas lagi bikin kopi.”
“Sekar, kamu nggak usah—”
“Aku inget kalimat terakhirnya,” katanya. “Ibu berdiri di pintu, terus dia bilang ke Mas, ‘Sayang, jangan lupa Bumi dikasih makan jam sembilan.’”
Aku menutup mataku.
“Terus Ibu pergi,” kata Sekar. “Terus nggak ada lagi.”
Hening di telepon.
“Aku nggak tau apa itu alasannya,” katanya. “Aku nggak pernah nanya.”
“Kenapa nggak nanya?”
“Karena kalau ternyata iya,” katanya, “aku nggak tau harus ngapain sama jawabannya.”
Aku tidak tidur sampai jam dua pagi.
Dan aku menghabiskan waktu itu memutuskan sesuatu, dan aku ingin menuliskan keputusannya dengan tepat karena aku menaatinya selama enam bulan berikutnya:
Aku tidak akan pernah memintanya.
Tidak sekali pun. Tidak dengan bertanya, tidak dengan memancing, tidak dengan mengucapkannya lalu menunggu dengan wajah berharap.
Karena kalau aku memintanya, dia akan memberikannya.
Tentu saja dia akan memberikannya. Dia tidak pernah bisa menolak orang yang datang membawa kebutuhan. Dia akan mengucapkannya karena aku membutuhkannya, dan itu akan jadi hadiah, dan hadiah dari Aries Kurniawan selalu berarti ada sesuatu yang dia potong dari dirinya sendiri untuk membayarnya.
Aku tidak mau kata itu dibayar.
Aku mau kata itu dimiliki.
Jadi aku memutuskan hal kedua:
Aku akan terus mengucapkannya.
Setiap hari. Ringan. Sambil menyerahkan botol air, sambil turun dari angkot, sambil menutup telepon. Tanpa jeda, tanpa menunggu, tanpa wajah berharap.
Bukan supaya dia membalas.
Supaya dia dengar bunyinya.
Supaya kata itu ada di dalam rumah dan di dalam angkot dan di undakan semen depan toko kelontong yang sudah tutup, terus-menerus, sampai kata itu berhenti terdengar asing.
Kalau butuh setahun, tidak apa-apa.
Kalau butuh tiga tahun, tidak apa-apa.
Kalau dia tidak pernah mengucapkannya seumur hidupnya, itu juga tidak apa-apa.
Besoknya, hari Kamis, di undakan.
“Ries.”
“Hm?”
“Aku sayang kamu.”
Dan dia — yang jelas sudah menghabiskan seluruh malam sebelumnya memikirkan ini, karena aku bisa melihatnya dari cara dia langsung menegakkan punggung — menjawab dengan sesuatu yang sudah dia siapkan:
“Aku juga menghargai kamu.”
Aku menoleh.
“Kamu apa?”
“Aku juga menghargai kamu.” Dia mengangguk sekali, mantap. “Sangat.”
“Ries.”
“Salah?”
“Itu kayak sambutan kepala sekolah.”
“Aku cari di internet semalem.”
“Ya Tuhan.”
“Yang muncul itu semua.” Dia terlihat frustrasi, sungguhan. “Aku baca tiga puluh. Semuanya sama. Aku pilih yang paling nggak lebay.”
Dan aku tertawa lagi, dan dia bilang “kenapa” lagi, dan aku bilang “nggak apa-apa” lagi.
Dan aku mengucapkannya lagi hari Jumat.
Dan hari Sabtu.
Dan hari Minggu.
Dan setiap hari setelahnya, sampai bulan November.
Dan setiap kali dia menjawab dengan sesuatu yang berbeda dan salah dan disiapkan semalam sebelumnya, dan aku menyimpan semuanya di kepalaku, dan aku masih hafal semuanya sampai sekarang.
Aku juga menghargai kamu.
Sama-sama.
Aku juga. — ini yang paling dekat, dan dia mengucapkannya di bulan September, dan aku hampir menabrak tiang lampu.
Hati-hati di jalan.
Oke.
Dan tidak satu pun dari semua itu yang membuatku sedih.
Karena aku sudah memutuskan sejak malam di lantai toilet minimarket itu:
Aku bukan sedang menunggu jawaban.
Aku sedang mengisi laci.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik reading
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu