Chapter Twenty Four
[Kesaksian] Ayah Aku Kerja
POV: Bumi
Aku Bumi.
Umur aku lima.
Aku punya satu kakak. Namanya Mbak Sekar.
Terus aku punya Lintang. Lintang bukan kakak. Lintang temen.
Terus aku punya Mas.
Hari itu Bu Ratmi pergi.
Bu Ratmi bilang mau ke rumah sakit sama Mbah Tun. Mbah Tun tangannya masih putih.
Terus Mbak Sekar ujian. Ujian itu nggak boleh diganggu.
Terus Lintang sekolah.
Terus Mas duduk di lantai lama banget terus pegang kepala.
Terus Mas bilang, “Bumi.”
Aku bilang, “Apa.”
Mas bilang, “Ikut Mas ya.”
Aku bilang, “Ke mana.”
Mas bilang, “Ke sekolah Mas.”
Aku seneng banget.
Sekolah Mas gede banget.
Ada tangga. Ada banyak pintu. Ada anak-anak gede semua.
Mas gendong aku di tangga soalnya tangganya banyak.
Terus Mas bilang, “Bumi, nanti duduk diem ya.”
Aku bilang, “Iya.”
Mas bilang, “Jangan lari-lari.”
Aku bilang, “Iya.”
Mas bilang, “Jangan ngomong keras-keras.”
Aku bilang, “Iya.”
Terus Mas jongkok. Terus Mas benerin bajuku yang keluar.
Terus Mas bilang, “Maaf ya.”
Aku nggak ngerti kenapa Mas minta maaf.
Aku bilang, “Iya.”
Di kelas Mas ada banyak orang.
Semua lihat aku.
Aku sembunyi di belakang kaki Mas.
Terus ada cewek dateng. Rambutnya diiket.
Itu Orang Yang Dateng.
Aku seneng. Aku lari.
Terus Orang Yang Dateng jongkok terus bilang, “Bumi! Kok di sini?”
Aku bilang, “Bu Ratmi pergi.”
Dia bilang, “Ohh.”
Terus dia lihat Mas. Terus mukanya jadi aneh.
Terus dia bilang ke Mas, “Kenapa nggak bilang?”
Mas bilang, “Nggak apa-apa.”
Terus Orang Yang Dateng diem.
Terus dia bilang, “Sini, Bumi. Duduk sama Kakak.”
Aku bilang, “Kakak cuma satu.”
Dia bilang, “Iya iya. Sama Orang Yang Dateng.”
Aku duduk.
Terus ada anak cowok dateng. Namanya Ridho. Aku tau soalnya dia bilang namanya.
Ridho bilang, “Woy, ini adek lo?”
Mas bilang, “Iya.”
Ridho bilang, “Lucu banget anjir.”
Terus banyak orang dateng. Banyak banget.
Semua bilang aku lucu.
Ada yang kasih permen. Ada yang kasih roti. Ada yang foto aku.
Aku suka.
Terus istirahat.
Terus Mas bilang, “Bumi, Mas beli makan bentar.”
Aku bilang, “Aku ikut.”
Mas bilang, “Di sini aja. Sama Kak Bella.”
Terus Mas pergi.
Terus banyak orang duduk di depan aku.
Ada lima. Aku ngitung.
Yang satu bilang, “Bumi, umur berapa?”
Aku bilang, “Lima.”
Yang satu bilang, “Sekolah?”
Aku bilang, “PAUD.”
Yang satu bilang, “Rumahnya di mana?”
Aku bilang, “Gang.”
Semua ketawa. Aku nggak tau kenapa lucu.
Terus yang cewek bilang, “Bumi, ibunya kerja apa?”
Aku diem.
Aku nggak tau ibu itu apa.
Bukan nggak tau artinya. Aku tau artinya. Di PAUD ada ibu-ibu banyak, yang jemput.
Cuma aku nggak punya.
Jadi aku bilang, “Nggak ada.”
Yang cewek bilang, “Nggak ada gimana?”
Aku bilang, “Nggak ada aja.”
Terus dia bilang, “Ya ayahnya kerja apa?”
Terus aku seneng.
Soalnya yang ini aku tau.
Aku tau banget.
Aku bilang, keras, soalnya aku bangga:
“Ayah aku kerja!”
Terus semuanya diem.
Semuanya.
Aku ngitung, ada lima di depan aku, terus di belakang ada banyak, terus semua diem.
Nggak ada yang ngomong.
Kelasnya sepi banget. Aku bisa denger kipas.
Terus yang cewek bilang, pelan, “Ayah kamu... siapa?”
Aku nunjuk.
Aku nunjuk kursi Mas. Kursinya di belakang, deket jendela. Ada tasnya di situ.
Aku bilang, “Itu.”
Terus ada yang nangis.
Aku nggak tau siapa. Di belakang.
Terus ada yang bilang, “Astaga.”
Terus yang cowok namanya Ridho berdiri terus keluar kelas cepet banget.
Aku nggak ngerti.
Aku nggak ngomong yang aneh.
Aku bilang yang bener.
Terus Orang Yang Dateng megang tangan aku.
Kenceng banget.
Aku bilang, “Sakit.”
Dia bilang, “Maaf. Maaf, Bumi.”
Terus dia lepasin.
Terus aku lihat mukanya.
Mukanya kayak Lintang waktu buku birunya kena air.
Terus Mas balik.
Mas bawa nasi bungkus sama teh.
Mas masuk pintu terus berhenti.
Soalnya semua orang lihat Mas.
Semua. Nggak ada yang ngomong.
Mas bilang, “Kenapa?”
Nggak ada yang jawab.
Mas bilang lagi, “Bumi ngapain? Dia nakal ya? Maaf ya, dia—”
Terus Orang Yang Dateng berdiri.
Terus dia jalan ke Mas.
Terus dia bilang pelan, aku denger dikit: “Ries. Keluar bentar.”
Mas bilang, “Kenapa?”
Dia bilang, “Keluar aja.”
Terus dia ambil nasi bungkusnya dari tangan Mas.
Terus dia narik tangan Mas.
Dan Mas ikut.
Mas nggak pernah ikut kalau ditarik.
Tapi Mas ikut.
Aku makan nasi bungkusnya sendiri.
Enak.
Terus ada yang duduk di sebelah aku. Yang cewek tadi.
Dia nggak ngomong lama.
Terus dia bilang, “Bumi.”
Aku bilang, “Apa.”
Dia bilang, “Kakak kamu... eh. Ayah kamu. Dia baik?”
Aku bilang, “Baik.”
Dia bilang, “Dia galak nggak?”
Aku bilang, “Nggak.”
Dia bilang, “Dia suka main sama kamu?”
Aku mikir.
Aku mikir lama.
Terus aku bilang, “Mas capek.”
Dia bilang, “Capek?”
Aku bilang, “Iya. Mas tidur di lantai.”
Dia bilang, “Kenapa di lantai?”
Aku bilang, “Kasurnya buat aku.”
Terus dia nggak ngomong lagi.
Terus dia berdiri terus jalan ke belakang kelas terus dia duduk di kursi terus dia nunduk lama banget.
Terus aku bosen.
Aku keluar kelas dikit. Cuma dikit. Nggak lari.
Ada tempat sholat. Ada banyak sandal.
Banyak banget. Berantakan semua.
Ada yang kebalik. Ada yang misah. Ada yang numpuk.
Aku nggak suka.
Jadi aku benerin.
Aku bikin lurus semua. Terus aku putar. Semua ngadep pintu.
Satu-satu. Banyak banget. Tangan aku pegel.
Terus ada ibu guru dateng.
Dia bilang, “Lho, ini siapa?”
Aku bilang, “Bumi.”
Dia lihat sandalnya. Dia bilang, “Kamu yang ngerapiin?”
Aku bilang, “Iya.”
Dia bilang, “Kenapa dibalik semua?”
Aku bilang, “Biar gampang.”
Dia bilang, “Gampang apanya?”
Aku bilang, “Gampang pulang.”
Terus ibu gurunya jongkok.
Terus dia lihat aku lama.
Terus dia bilang, “Kamu adiknya siapa?”
Aku bilang, “Mas.”
Dia bilang, “Mas siapa?”
Aku bilang, “Mas Aries.”
Terus ibu gurunya nutup mulutnya pake tangan.
Terus dia bilang pelan banget, “...Aries Kurniawan?”
Aku bilang, “Iya.”
Terus dia berdiri terus dia jalan cepet ke arah lain.
Aku nggak ngerti kenapa semua orang jalan cepet hari itu.
Pulangnya Mas gendong aku.
Di tangga. Terus di jalan. Terus di angkot.
Aku ngantuk.
Aku bilang, “Mas.”
Mas bilang, “Hm.”
Aku bilang, “Maaf.”
Mas bilang, “Maaf kenapa?”
Aku bilang, “Aku salah ngomong.”
Mas bilang, “Ngomong apa?”
Aku diem.
Soalnya aku nggak tau yang salah yang mana.
Aku bilang, “Nggak tau.”
Terus Mas diem lama.
Terus Mas bilang, “Bumi nggak salah.”
Aku bilang, “Bener?”
Mas bilang, “Bener. Bumi nggak pernah salah.”
Terus aku tidur di bahunya.
Terus aku bangun bentar pas angkotnya goyang.
Terus aku lihat muka Mas.
Mas lihat ke luar jendela.
Terus aku lihat air.
Di pipinya.
Cuma satu. Terus dia hapus pake tangan cepet banget.
Terus dia lihat aku.
Terus dia bilang, “Kenapa bangun?”
Aku bilang, “Mas kenapa.”
Mas bilang, “Kelilipan.”
Aku bilang, “Oh.”
Terus aku tidur lagi.
Sampai rumah aku turun sendiri.
Terus aku lihat sandalnya Mas di depan pintu.
Kebalik.
Aku benerin.
Aku putar. Ngadep pintu.
Terus Mas lihat.
Terus Mas jongkok.
Terus Mas peluk aku lama banget.
Lama banget.
Sampai aku bilang, “Mas, sesek.”
Terus Mas lepas.
Terus Mas bilang, “Makasih, Bumi.”
Aku bilang, “Sama-sama.”
Aku nggak tau makasih buat apa.
Sandal doang.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja reading
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu