Chapter Forty Two
Setelah Semua Orang Pulang
POV: Aries
Jam empat sore, gang itu kembali seperti biasa.
Warung Bu Ratmi buka lagi. Rolling door-nya naik jam setengah tiga, dan jam empat sudah ada empat orang duduk di bangku plastik biru membicarakan sesuatu yang bukan tentang kami.
Bengkel Pak Somad menyala. Gerinda berbunyi.
Bang Jecky sudah menerima orderan lagi.
Om Yusuf sudah kembali ke mesin fotokopinya, dan kardus air mineral itu sudah kembali ke belakang toko, dan tidak ada yang membicarakannya.
Aku berdiri di ambang pintu rumahku dan memperhatikan semuanya selama beberapa menit.
Dan aku ingat berpikir: kalau ada orang asing lewat gang ini sekarang, dia tidak akan tahu bahwa lima jam yang lalu sembilan rumah di sini menutup pekerjaannya dan naik dua angkot ke lantai dua kantor pemerintah.
Tidak ada tandanya.
Mereka melakukannya, lalu pulang, lalu membuka warung lagi.
Aku sudah tiga tahun tinggal di antara orang-orang ini dan hari itu adalah pertama kalinya aku benar-benar mengerti mereka.
Aku tidak kerja hari itu.
Bukan karena aku memutuskan. Aku sudah izin di semua tempat seminggu sebelumnya, karena aku tidak tahu rapat itu akan selesai jam berapa, dan aku selalu menyiapkan skenario terburuk.
Jadi aku pulang jam satu siang dan tidak punya tempat untuk pergi sampai besok pagi.
Delapan belas jam.
Aku belum pernah punya delapan belas jam sejak umur empat belas.
Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan waktu itu.
Aku serius. Aku berdiri di ruang depan rumahku sendiri jam setengah dua siang dan aku benar-benar tidak tahu.
Jadi aku mencuci.
Lalu Sekar keluar dari dapur dan berkata, “Mas ngapain?”
“Nyuci.”
“Itu udah aku cuci tadi pagi.”
“...Oh.”
Aku menaruh embernya.
Lalu aku menyapu.
Lalu Lintang bilang, “Mas, udah aku sapu.”
Lalu aku membetulkan engsel pintu kamar mandi yang sudah dua bulan bunyi.
Itu memakan waktu dua puluh menit.
Lalu tidak ada lagi.
Dan aku duduk di lantai ruang depan jam tiga sore dengan tangan yang tidak tahu harus melakukan apa, dan aku merasakan sesuatu yang sangat tidak enak yang butuh waktu lama untuk kunamai.
Namanya: takut.
Karena selama tiga tahun aku tidak pernah punya waktu untuk duduk diam, dan aku baru menyadari sore itu bahwa mungkin itu bukan kebetulan.
Jam empat, Sekar duduk di seberangku di lantai.
Dia tidak membawa apa-apa. Tidak melipat, tidak menyetrika, tidak mengupas.
Sekar duduk tanpa membawa apa-apa.
“Mas.”
“Hm.”
“Mas nggak apa-apa?”
Dan aku membuka mulut untuk bilang nggak apa-apa —
lalu aku berhenti.
Karena Bu Hanifah menghitung. Empat puluh tiga kali dalam satu jam. Dan aku sudah memikirkan angka itu sejak hari Sabtu dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
“Aku nggak tau,” kataku.
Sekar mengangkat kepalanya.
“Nggak tau?”
“Iya.” Aku menatap lantai. “Aku nggak tau aku gimana.”
Dan adikku menatapku selama beberapa detik.
Lalu dia bilang, “Itu jawaban yang bener.”
Jam lima, Bu Hanifah menelepon.
Aku mengangkatnya di depan pintu.
“Mas Aries, saya cuma mau kabari, ya. Ini di luar prosedur, tapi saya rasa Mas berhak tahu duluan.”
“Iya, Bu.”
“Begitu penetapan wali keluar, saya akan ajukan tiga adik Mas untuk program bantuan.”
“Program apa, Bu?”
“KIP untuk Sekar, Lintang, dan Bumi. Kartu Indonesia Pintar. Dan saya akan cek kelayakan keluarga untuk PKH.”
Aku diam.
“Mas?”
“Iya, Bu.”
“Selama ini nggak bisa diajukan karena nggak ada wali sah yang bisa tanda tangan,” katanya. “Sekarang bisa.”
“Bu.”
“Iya?”
“Berapa nilainya?”
Dan Bu Hanifah menyebutkan angkanya.
Aku menghitungnya di kepalaku sambil berdiri di ambang pintu, seperti yang selalu kulakukan.
Untuk tiga anak, setahun.
Kira-kira sama dengan penghasilanku dari toko bangunan Pak Ilyas selama sepuluh bulan.
Sepuluh bulan mengangkat semen.
“Mas?”
“Iya, Bu. Terima kasih.”
“Mas Aries.”
“Iya?”
“Mas kedengarannya nggak senang.”
Dan aku berdiri di ambang pintu rumahku dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada perempuan yang baru saja menolong keluargaku.
“Nggak, Bu. Saya senang.”
“Mas.”
“...Saya cuma perlu waktu, Bu.”
Aku masuk. Aku duduk. Aku tidak bicara selama sepuluh menit.
Lalu Sekar bilang, “Bu Hanifah bilang apa?”
Aku menceritakannya.
Dan waktu selesai, aku bilang hal yang sudah berputar di kepalaku sejak telepon itu ditutup:
“Sekar, itu bantuan pemerintah.”
“Iya.”
“Itu buat orang yang nggak mampu.”
“Iya.”
Dan adikku menatapku.
“Mas.”
“Hm.”
“Kita emang nggak mampu.”
Aku menatap lantai.
“Aku tau kedengerannya kayak—”
“Mas.” Dia memotongku. “Bapak dulu kerja apa?”
“...Sopir.”
“Sopir kantoran, kan? Yang ada slip gajinya?”
“Iya.”
“Berarti Bapak bayar pajak.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Tiap bulan, sampai meninggal,” kata Sekar. “Aku pernah lihat slipnya di map merah. Ada potongannya.”
Dia mengangkat bahu.
“Jadi itu bukan dikasihani,” katanya. “Itu balik lagi.”
Dan aku duduk di lantai rumahku sendiri dan merasakan sesuatu yang aneh: adikku baru saja melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan Lintang di bulan Juli.
Dia tidak mengubah uangnya.
Dia mengubah kolomnya.
Malam itu kami tidur di ruang depan.
Bukan rencana. Terjadi begitu saja.
Jam delapan, Bumi tertidur di lantai di depan TV yang menyala sendiri karena tidak ada yang menontonnya.
Aku hendak mengangkatnya ke kamar.
Dan Lintang bilang, “Mas.”
“Hm?”
“Malem ini di sini aja.”
“Di ruang depan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan dia bilang, “Nggak apa-apa. Pengen aja.”
Dan aku melihat Sekar, dan Sekar sudah berdiri untuk mengambil kasur tipis dari kamar sebelum aku sempat mengatakan apa pun.
Kami menggelar dua kasur tipis di lantai ruang depan.
Bumi di tengah, karena Bumi selalu di tengah, karena Bumi tidur seperti orang yang jatuh dari langit dan butuh ruang di dua sisi.
Lintang di kanan.
Sekar di ujung.
Dan aku di kiri, di dekat pintu, seperti biasa, karena aku selalu tidur di dekat pintu.
Lampu dimatikan semua kecuali satu di dapur.
Dan jam sembilan lewat, dalam gelap, Lintang berkata:
“Mas.”
“Hm.”
“Aku boleh nanya nggak?”
“Boleh.”
“Tadi di kantor, Mas nangis ya?”
Aku menatap langit-langit.
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan aku hampir bilang nggak apa-apa.
Aku merasakannya datang. Bentuknya sudah ada di mulutku.
“Karena aku takut,” kataku.
Hening.
“Mas takut?”
“Iya.”
“Mas nggak pernah takut.”
“Aku takut terus, Lintang.”
“Dari kapan?”
“Dari umur empat belas.”
Dan aku mendengar adikku bergerak di gelap, dan lalu ada tangan kecil memegang lenganku.
“Mas.”
“Hm.”
“Kenapa nggak pernah bilang?”
Dan aku berbaring di lantai ruang depan rumah nomor tujuh dan menjawab pertanyaan itu dengan jujur untuk pertama kalinya:
“Karena aku pikir kalau aku bilang, kalian jadi takut juga.”
Diam.
Lalu Sekar, dari ujung, dengan suara datar dalam gelap:
“Kita udah takut, Mas.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Dari kapan?”
“Dari umur sebelas,” kata Sekar.
“Aku dari umur delapan,” kata Lintang.
Dan Bumi, yang ternyata belum tidur, berkata dari tengah:
“Bumi juga.”
“Bumi takut apa?”
Dan anak lima tahun itu bilang, “Nggak tau. Takut aja.”
Kami berbaring di gelap selama beberapa menit.
Lalu aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidupku.
Aku bertanya.
“Kalian mau apa?”
“Hah?” kata Lintang.
“Kalian.” Aku menatap langit-langit. “Bukan yang kalian butuh. Yang kalian mau.”
“Maksudnya gimana?”
“Kalau boleh milih satu hal. Apa aja.”
Dan ruangan itu jadi sunyi dengan cara yang berbeda.
Lintang duluan.
“Aku mau ke kebun binatang.”
“Kamu udah ke sana bulan Juni.”
“Iya, tapi sama sekolah.” Dia menggeser badannya. “Aku mau yang sama Mas.”
Aku menutup mataku.
“Terus?”
“Terus aku mau lihat gajah lama-lama.” Suaranya makin semangat. “Yang kemarin cuma lima menit terus disuruh jalan lagi.”
“Berapa lama yang kamu mau?”
“Setengah jam.”
“Setengah jam liatin gajah?”
“Iya.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
Lalu Bumi.
“Bumi mau kasur.”
Aku membuka mataku.
“Bumi kan punya kasur.”
“Bukan.” Dia menggeleng dalam gelap; aku merasakannya lewat bantal. “Kasur yang gede.”
“Yang gede gimana?”
Dan anak itu bilang:
“Yang muat empat.”
Aku tidak bisa menjawab selama sekitar sepuluh detik.
“Bumi.”
“Hm.”
“Kenapa yang muat empat?”
Dan Bumi bilang, dengan suara yang sudah mulai mengantuk:
“Biar Mas nggak di lantai.”
Lalu Sekar.
Dan Sekar butuh waktu lama sekali.
Aku menunggu. Aku tidak mendesak.
Lintang juga tidak, yang mana adalah hal yang mengejutkan, karena Lintang mendesak semua hal.
Dan akhirnya, dari ujung kasur, dalam gelap:
“Aku mau main ke rumah Ayu.”
Aku menoleh.
“Ayu temen kamu?”
“Iya.”
“Kamu belum pernah?”
“Belum.”
“Dia ngajak?”
“Sering.”
“Berapa kali?”
Dan adikku diam sebentar.
“Aku ngitung,” katanya. “Dua puluh enam kali.”
Dua puluh enam.
Aku berbaring di lantai rumahku sendiri dalam gelap dan menghitung ke belakang.
Dua puluh enam kali seorang anak perempuan mengajak temannya main ke rumahnya.
Dan dua puluh enam kali temannya bilang tidak, karena harus jaga adik, karena harus masak, karena harus jalan lima puluh menit membawa termos.
“Sekar.”
“Hm.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
“Karena kalau aku bilang, Mas bakal ngatur biar aku bisa pergi.”
“Iya. Terus?”
“Terus Mas bakal ngambil shift tambahan buat gantiin waktunya.”
Dan dia bilang itu dengan nada yang paling datar di dunia, dan dia benar, dan kami berdua tahu dia benar.
Lalu Lintang bertanya.
Tentu saja Lintang yang bertanya.
“Mas.”
“Hm.”
“Mas mau apa?”
Dan ruangan itu berhenti.
Aku berbaring di lantai dan menatap langit-langit yang tidak bisa kulihat, dan aku mencari.
Aku benar-benar mencari.
Aku membuka laci itu, seperti yang kulakukan di bulan Februari waktu Claudia bertanya, dan seperti yang kulakukan di bulan September waktu Claudia bertanya lagi.
Dan lacinya masih kosong.
Tapi kali ini ada yang berbeda.
Kali ini aku tidak menutupnya buru-buru.
“Aku nggak tau,” kataku.
“Mas nggak punya?”
“Aku nggak tau, Ntang. Aku beneran nggak tau.”
“Kenapa?”
Dan aku bilang:
“Karena aku nggak pernah dikasih waktu buat mikirin.”
Diam.
“Tapi aku lagi belajar,” kataku.
“Belajar gimana?”
“Ada yang lagi ngajarin.”
Dan Lintang bilang, “Kak Claudia?”
Dan aku bilang, “Iya.”
Dan Lintang bilang, “Bagus. Soalnya Mas lama banget belajarnya.”
Dan Sekar tertawa dari ujung kasur.
Sekar. Tertawa.
Suaranya pendek dan agak parau dan aku belum pernah mendengarnya sejak umur sebelas tahun, dan aku berbaring di lantai ruang depan rumahku sendiri dalam gelap dan mendengarkan adikku tertawa dan aku menutup mataku sangat rapat.
Aku tidak menunggu protokol malam itu.
Ini bagian yang penting, dan ini bagian yang membuat malam itu berbeda dari semua malam sebelumnya.
Selama tiga tahun, kalau aku runtuh, mereka yang bergerak.
Lampu dimatikan setengah. Lintang membaca. Bumi naik ke pangkuan.
Mereka mengunciku.
Malam itu aku tidak menunggu.
Aku bergeser ke tengah — melewati Bumi, yang mengeluarkan suara protes kecil dalam tidurnya — dan aku merentangkan tangan kananku ke arah Lintang dan tangan kiriku ke arah tempat Sekar berbaring.
“Mas?”
“Sini.”
“Mas ngapain?”
“Sini, Sekar.”
Dan adikku diam sebentar.
Lalu aku merasakan kasur bergeser.
Dan dia pindah.
Dan Lintang langsung menempel tanpa disuruh dua kali, dan Bumi tetap di tengah karena Bumi tidak akan pindah dari tengah bahkan kalau rumahnya roboh.
Empat orang di dua kasur tipis di lantai ruang depan rumah nomor tujuh Gang Kenanga.
Dan aku memeluk mereka duluan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku yang duluan.
“Mas.”
“Hm.”
“Kasurnya sempit.”
“Iya.”
“Kaki aku keluar.”
“Iya.”
“Mas.”
“Apa lagi, Lintang.”
“Nggak apa-apa.” Dia menggeser kepalanya ke lenganku. “Aku cuma pengen manggil.”
Dan aku berbaring di sana dan tidak menjawab, karena ada sesuatu di tenggorokanku.
Dan lalu, dalam gelap, dengan suara yang sudah hampir hilang karena mengantuk, adikku berkata:
“Sayang Mas.”
Dan aku membuka mulutku.
Dan aku merasakan bentuk kata itu di sana — kata yang tidak pernah kuucapkan sejak umur empat belas tahun, kata yang terakhir kudengar dari mulut Ibu di pintu dapur jam setengah tujuh pagi tanggal empat Maret —
dan tenggorokanku menutup.
Bukan kiasan. Menutup.
Dan yang keluar dari mulutku adalah:
“Hm.”
Dan aku berbaring di gelap dengan tiga adikku menempel di badanku, dan aku menatap langit-langit yang tidak bisa kulihat, dan aku membenci diriku sendiri lebih dalam daripada yang pernah kurasakan seumur hidupku.
Seribu dua ratus kali.
Aku tidak tahu angkanya waktu itu. Aku baru tahu bulan November, dari Claudia, di dapur, jam lima pagi.
Tapi malam itu, di lantai ruang depan, aku sudah tahu bentuknya walaupun aku belum tahu angkanya.
Dan aku berjanji pada diriku sendiri, dalam gelap, tanpa mengucapkannya:
Sebelum tahun ini habis.
Sebelum tahun ini habis, aku akan mengucapkannya.
Dan aku melanggar janji itu selama dua bulan lagi.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang reading
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu