Chapter Thirty Five
Pura-Pura Tidur
POV: Aries
Aku tahu tentang proyek itu sejak minggu kedua.
Aku ingin mencatat itu di sini karena aku belum pernah mengatakannya kepada siapa pun, dan karena kalau aku tidak menuliskannya, cerita ini jadi tidak jujur.
Aku tahu.
Aku tahu sejak minggu kedua, dan aku diam selama lima bulan.
Ini yang kuhitung.
Claudia bilang “aku beli dua, salah pesen” — dua puluh tiga kali dalam sebelas minggu.
Dua puluh tiga.
Orang bisa salah pesan sekali. Bisa dua kali. Tiga kali kalau dia sedang banyak pikiran.
Tidak ada orang yang salah pesan dua puluh tiga kali dan setiap kali kelebihannya persis satu bungkus dan setiap kali kebetulan di jam makan.
Claudia bilang “aku nggak habis” — tujuh belas kali.
Padahal di bulan Maret dia pernah menghabiskan satu porsi penuh plus setengah punyaku, dan dia bilang, “Aku kalau lapar serem.”
Nasi di rumah — takarannya naik tiga kali. Bertahap. Sedikit-sedikit, seperti orang yang berharap tidak ketahuan.
Sekar tidak pernah salah takar dalam tiga tahun.
Bu Ratmi — porsinya bertambah, harganya tidak. Aku tahu harganya. Aku sudah makan di warung itu ribuan kali.
Bang Jecky — mulai menawarkan makan setiap kali kami bertemu di jalan. Setiap kali. Dan kalau kutolak sekali, dia menawarkan lagi. Dan kalau kutolak dua kali, dia bilang, “Ya udah gue beliin dua, lo bawa aja,” yang mana adalah kalimat yang persis, kata per kata, seperti kalimat Claudia.
Mereka bahkan tidak menyusun naskah yang berbeda.
Aku bisa menghentikannya kapan saja.
Aku cuma perlu bilang satu kalimat: aku tau kalian ngapain.
Dan mereka akan berhenti. Semuanya. Dalam satu hari.
Aku tidak mengatakannya.
Dan alasan aku tidak mengatakannya bukan karena aku baik. Aku memikirkannya berminggu-minggu dan aku sampai pada tiga alasan, dan cuma yang ketiga yang jujur.
Alasan pertama: kalau aku bilang, mereka akan malu.
Alasan kedua: kalau aku bilang, Sekar akan merasa gagal, dan Sekar sudah cukup merasa gagal tahun ini.
Alasan ketiga: Aku suka.
Aku suka.
Itu saja. Itu yang sebenarnya.
Selama tiga tahun aku adalah orang yang mengurus, dan selama lima minggu ada lima orang di dua tempat berbeda yang menyusun rencana rahasia untuk memastikan aku makan.
Dan setiap kali salah satu dari mereka bilang “aku salah pesen”, aku tahu itu bohong, dan aku memakannya, dan sepanjang hari itu ada sesuatu di dalam dadaku yang terasa hangat dan memalukan sekaligus.
Jadi aku diam.
Dan aku ikut berpura-pura, dan kami semua berpura-pura bersama-sama, dan itu ternyata adalah bahasa kedua yang dimiliki rumah nomor tujuh dan aku baru menyadarinya di umur tujuh belas tahun.
Hari Sabtu, awal Agustus.
Toko bangunan Pak Ilyas ada bongkaran besar hari itu. Tiga truk. Dua ratus sak semen.
Aku selesai jam enam sore dan aku tidak bisa merasakan lengan kananku dengan benar.
Aku pulang. Mandi. Duduk di ruang depan.
Dan Bu Ratmi memanggil dari warung, “Ries! Rene sik!”
Aku ke warung.
“Kenapa, Bu?”
“Mangan.”
“Bu, saya udah—”
“Mangan.”
Aku duduk.
Dan itu adalah bagian dari proyek juga, dan aku tahu, dan aku makan.
Aku ketiduran di meja warung jam tujuh lewat.
Itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
Aku tidur di lantai rumah. Aku tidur di kursi kasir. Aku tidur di kursi plastik lorong puskesmas. Aku tidur di bangku kelas hampir setiap hari selama dua tahun.
Aku belum pernah tidur di warung Bu Ratmi.
Karena warung itu tempat orang melihatmu.
Aku bangun — setengah bangun — waktu ada yang menggeser piring di depanku.
Dan aku mendengar suara Bu Ratmi, pelan sekali:
“Wis, jarno wae.”
Dan suara Claudia: “Nanti masuk angin, Bu.”
“Jarno.”
Dan aku memutuskan untuk tidak membuka mata.
Ini alasannya, dan alasannya adalah perhitungan, karena semua yang kulakukan adalah perhitungan.
Kalau aku membuka mata, aku harus duduk tegak.
Kalau aku duduk tegak, aku harus minta maaf.
Kalau aku minta maaf, Claudia akan marah — dia sudah bilang dia akan marah, dia sudah bilang itu di halte waktu hujan bulan Maret — dan dia akan bilang “kamu boleh”, dan aku akan mengangguk.
Dan setelah itu semuanya kembali normal.
Kalau aku tidak membuka mata, aku bisa tinggal di sini sedikit lebih lama.
Jadi aku tidak membuka mata.
Aku ingin mencatat bahwa itu adalah pertama kalinya dalam tiga tahun aku berbohong untuk keuntunganku sendiri.
Waktu berjalan.
Aku mendengar warung. Bunyi wajan. Bunyi gelas. Ada pembeli yang datang membeli rokok dan Bu Ratmi bicara dengannya dengan volume yang lebih pelan dari biasanya.
Ada bunyi kursi digeser di sebelahku.
Ada napas.
Dan aku mencium sesuatu — bukan parfum, Claudia tidak pernah pakai parfum ke gang — cuma sabun dan sedikit bau angkot.
Dan lalu ada tangan di rambutku.
Tidak menekan. Cuma menaruh.
Dan lalu bergerak, sekali, ke belakang.
Ada beberapa hal yang perlu kalian tahu supaya kalian mengerti kenapa bagian ini penting untukku.
Aku tidak disentuh.
Bukan tidak pernah — Bumi memelukku setiap hari, Lintang memelukku setiap Minggu.
Tapi itu berbeda. Itu adalah tangan-tangan kecil yang memegangku karena mereka butuh dipegang.
Terakhir kali ada orang yang menyentuh kepalaku karena ingin memberi sesuatu, bukan meminta sesuatu, adalah tanggal empat bulan Maret tiga tahun lalu, jam setengah tujuh pagi, di dapur, sebelum Ibu berangkat.
Aku ingat karena aku sedang membuat kopi dan tanganku basah dan aku tidak sempat menoleh.
Tiga tahun, empat bulan, dua puluh sembilan hari.
Aku menghitungnya malam itu di minimarket, dan aku tidak akan berpura-pura aku tidak menghitungnya.
Dan lalu dia mencium keningku.
Cepat. Tidak lama. Mungkin dua detik.
Dan aku berbohong sepanjang dua detik itu.
Aku menjaga napasku tetap panjang dan pelan seperti orang tidur. Aku tidak menggerakkan satu otot pun. Aku bahkan tidak mengeraskan tanganku, dan itu bagian yang paling sulit, karena seluruh tubuhku ingin bergerak.
Dan waktu dia menarik diri, aku mendengar dia menarik napas dengan cara yang tidak rata.
Dan dia bilang, sangat pelan, ke rambutku:
“Aku sayang kamu.”
Dan lalu dia bilang, lebih pelan lagi, dan aku yakin dia tidak bermaksud aku mendengarnya:
“Makan yang bener, please.”
Aku “bangun” delapan menit kemudian.
Aku menghitungnya. Aku memaksa diriku menunggu sampai ada bunyi yang cukup keras — ada motor lewat — supaya bangunku masuk akal.
Aku duduk. Aku mengucek mata.
“Eh—”
“Ketiduran,” kata Claudia.
“Berapa lama?”
“Empat puluh menit.”
Dua puluh delapan, sebenarnya. Aku tahu karena aku sadar sejak menit kedua belas.
“Maaf—”
“Aries.”
“...Iya. Oke. Maaf.”
“Kamu barusan minta maaf dua kali.”
“Iya.”
“Setelah aku bilang jangan.”
“Iya.”
Dan dia menatapku dengan mata menyipit sedikit, dan aku menahan wajahku tetap datar, dan aku menahannya dengan susah payah.
“Ries.”
“Hm?”
“Kamu kenapa merah?”
“Panas.”
“Ini jam delapan malem.”
“Warungnya deket kompor.”
“Kamu duduk paling jauh dari kompor.”
“Claudia.”
“Iya?”
“Aku ada shift jam delapan.”
Dan aku berdiri dan menyandang tasku dan keluar dari warung itu dengan kecepatan yang, kalau kupikirkan sekarang, jelas sekali mencurigakan.
Di ujung gang, Bang Jecky sedang duduk di motornya.
Dia melihatku lewat.
Dia tidak berkata apa-apa.
Lalu, waktu aku sudah lima meter melewatinya, dia berkata ke udara kosong:
“Ries.”
“Iya, Bang.”
“Lo tadi bangun jam berapa?”
Aku berhenti.
“...Barusan.”
“Oh.” Dia mengangguk. “Soalnya gue lihat dari sini, jari lo gerak dari tadi.”
Aku tidak berbalik.
“Bang.”
“Iya?”
“Jangan cerita.”
Dan Bang Jecky — dua puluh empat tahun, belum pernah pacaran, penasihat cinta terburuk sedunia — menyalakan motornya dan berkata, dengan suara yang bergetar sedikit:
“Gue nggak cerita apa-apa. Gue lagi ngeliatin langit.”
Malam itu di minimarket, jam sepuluh, aku mengeluarkan struk bekas.
Aku menulis:
— 3 tahun 4 bulan 29 hari
Aku menatapnya.
Lalu aku menulis di bawahnya:
— aku bohong. aku bangun dari menit ke-12.
Lalu, di bawahnya lagi:
— aku nggak nyesel
Aku melipatnya.
Sekarang ada dua puluh enam lembar di saku dalam tasku, diikat karet gelang, karena minggu lalu kertasnya mulai berjatuhan setiap kali aku mengeluarkan HP.
Jam sebelas empat puluh aku pulang.
Air putih di meja. Sandal menghadap keluar.
Dan Sekar belum tidur.
Dia duduk di meja, tidak melipat apa-apa, tidak menyetrika apa-apa. Cuma duduk.
Sekar tidak pernah cuma duduk.
“Sekar?”
“Mas.”
“Kenapa?”
Dan dia bilang, dengan suara yang datar seperti biasa, tapi dengan sesuatu di bawahnya yang tidak biasa:
“Tadi sore ada orang nyariin kita.”
Aku menaruh tasku.
Pelan.
“Siapa?”
“Nggak masuk. Dia berdiri di mulut gang, terus nanya-nanya ke Bu Ratmi.”
“Nanya apa?”
“Nanya rumah nomor tujuh. Nanya kita berapa orang.” Dia menatap meja. “Nanya Bumi umur berapa.”
Ruangan itu terasa berubah suhu.
“Bu Ratmi bilang apa?”
“Bu Ratmi nggak bilang apa-apa. Bu Ratmi malah balik nanya dia siapa.”
“Terus?”
Dan adikku mengangkat kepalanya.
“Terus dia bilang dia dari dinas,” katanya. “Terus dia nanya, ‘Yang jadi wali anak-anak itu siapa, ya, Bu? Yang dewasa.’”
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur reading
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu