Chapter Twenty
Setiap Sabtu
POV: Gita
Sabtu pertama aku datang dengan rencana.
Aku selalu datang dengan rencana. Itu bukan kesombongan, itu penyakit.
Rencananya begini: aku datang jam sepuluh, aku bantu Lintang dua jam, aku bantu Sekar satu jam, aku pulang jam satu. Tiga jam. Terukur. Berulang. Bisa dievaluasi.
Aku bahkan membuat catatan di HP-ku: Sabtu 1 — kenalan, petakan kebutuhan.
Aku menghapus catatan itu Sabtu ketiga, dan aku ingin mencatat di sini bahwa menghapusnya adalah hal terbaik yang kulakukan sepanjang tahun itu.
Sabtu pertama, tidak ada yang berjalan sesuai rencana.
Aku sampai jam sepuluh kurang lima. Sekar tidak ada di rumah.
“Mbak Sekar lagi nyuci,” kata Lintang, yang membukakan pintu. “Di belakang.”
“Aku bantu, ya.”
“Nggak boleh.”
“Kenapa?”
“Nggak tau. Nggak boleh aja.”
Jadi aku duduk di ruang depan. Di lantai, karena tidak ada kursi, karena satu-satunya meja sedang dipakai untuk melipat baju.
Lintang duduk di depanku dan mengeluarkan bukunya, dan dalam empat menit dia sudah menceritakan: nama gurunya, siapa yang dia benci di kelas dan kenapa, bahwa dia pernah juara dua lomba mewarnai tingkat kecamatan, dan bahwa kakaknya pernah membelikan mereka pizza dua tahun lalu.
“Yang paling kecil,” katanya. “Dibagi empat.”
“Enak?”
“Enak banget.” Dia mengangguk keras. “Mas Aries bilang dia udah kenyang jadi bagiannya buat Bumi.”
Aku menulis sesuatu di catatan HP-ku setelah pulang hari itu.
Bukan rencana.
Cuma kalimat itu.
Bumi tidak mau mendekat sama sekali.
Dia berdiri di ambang pintu dapur selama satu jam penuh, memegang gagang pintu, memandangiku.
“Halo,” kataku.
Dia tidak menjawab.
“Namaku Gita.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu Bumi, ya?”
Dia masuk ke dapur.
Lintang mengangkat kepalanya dari buku. “Bumi emang gitu.”
“Ke semua orang?”
“Enggak.” Lintang berpikir. “Kak Claudia langsung dikasih nama hari pertama.”
“Nama apa?”
“Orang Yang Dateng.”
“Oh.” Aku menulis di bukuku dengan lebih keras dari yang perlu. “Bagus.”
Sekar keluar jam setengah dua belas.
Tangannya merah sampai siku. Dia mengelapnya di celana, duduk di lantai di seberangku, dan berkata:
“Kakak beneran dateng.”
“Iya.”
“Sabtu depan?”
“Iya.”
“Sabtu depannya lagi?”
“Iya.”
Dia mengangguk sekali, dan tidak berkata apa-apa lagi, dan sepanjang sisa hari itu dia memperlakukanku seperti orang memperlakukan kursi baru di ruang tamu: tidak dilarang, tidak disapa, dicatat keberadaannya.
Aku pulang jam satu.
Di angkot, aku sadar aku tidak melakukan satu pun hal berguna hari itu.
Aku mengajari Lintang enam soal. Enam. Anak itu bisa mengerjakan lima di antaranya sendiri.
Dan aku duduk di angkot dan merasakan sesuatu yang tidak enak — perasaan yang sudah kukenal, perasaan yang bilang ini nggak efisien, kamu buang tiga jam.
Aku mengabaikannya.
Itu juga hal terbaik yang kulakukan tahun itu.
Sabtu ketiga, gang itu sudah normal lagi.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya — aku baru tahu belakangan, dari Claudia, potongan-potongan, dan aku tidak akan menuliskannya di sini karena itu bukan bagianku untuk diceritakan.
Yang kulihat cuma ini:
Jam sebelas, ada suara memanggil dari luar.
“Ries! Iso ora?”
Dan Aries — yang sedang duduk di lantai membetulkan tali tas Bumi dengan jarum — langsung berdiri.
“Iya, Pak!”
Dia keluar. Dua puluh menit. Kembali dengan tangan kotor oli.
Lalu duduk lagi, dan melanjutkan menjahit tali tas Bumi dari titik yang sama.
Dan Sekar, yang sedang melipat baju di meja, melihat itu.
Dan aku melihat wajah Sekar waktu melihat itu.
Anak empat belas tahun itu menutup matanya sebentar, sekitar satu detik, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu berbunyi lagi setelah lama rusak.
Lalu dia melanjutkan melipat.
Aku mengatur jadwalku supaya tidak bertemu Aries.
Ini penting untuk kutulis dengan jujur.
Aku datang jam sepuluh. Sabtu, dia angkut semen di toko bangunan Pak Ilyas dari jam satu siang. Jadi jam sepuluh sampai jam satu, dia di rumah.
Berarti kami bertemu.
Jadi Sabtu keempat aku menggeser jadwalku ke jam satu.
Aku bilang ke Sekar alasannya adalah les pagi. Aku tidak punya les pagi.
Sekar menerima alasan itu tanpa berkedip, yang belakangan kusadari artinya dia tidak percaya sedikit pun.
Kenapa aku menghindarinya?
Bukan karena aku takut dia marah. Aku sudah tahu dia tidak akan marah. Itu justru masalahnya.
Aku menghindarinya karena setiap kali dia melihatku, dia menyapa.
“Pagi, Git.”
Dua kata. Ramah. Biasa. Sama seperti dia menyapa siapa pun.
Dan setiap kali dia mengucapkannya, ada sesuatu di dalam dadaku yang berkata: dia nggak inget.
Dia tidak ingat aku membuatnya berdiri di depan kelas dan mengulang kata maaf empat kali.
Dia tidak ingat aku mengirimnya ke BK.
Dia tidak ingat aku memaksa panggilan orang tua kepada anak yang tidak punya orang tua.
Bukan karena dia memaafkan.
Karena buat dia, itu bukan kejadian besar.
Itu cuma salah satu dari ratusan hal tidak menyenangkan yang terjadi kepadanya bulan itu, dan dia tidak punya ruang di kepalanya untuk menyimpan yang mana yang paling menyakitkan.
Dan aku — yang sudah menulis empat versi permintaan maaf, dua ratus kata, dan menghapusnya —
aku bukan siapa-siapa dalam ingatannya.
Aku tidak tahu ada hal yang lebih memalukan dari itu.
Sabtu keenam, aku mulai mengajari Sekar.
Bukan rencanaku. Dia yang minta, dengan cara yang sangat Sekar sekali:
Dia menaruh buku Matematika di lantai di sebelahku, membuka halaman 84, dan pergi ke dapur.
Aku menunggu sepuluh menit. Dia tidak kembali.
Jadi aku membaca halaman 84.
Waktu dia kembali, aku bertanya, “Ini yang nggak bisa?”
“Bukan yang nggak bisa.”
“Terus?”
“Yang bisa.” Dia duduk. “Aku mau tau cara Kakak.”
“Cara aku?”
“Kakak juara paralel.” Dia membuka bukunya. “Aku mau tau cara Kakak ngerjain.”
Aku mengerjakannya.
Dia memperhatikan. Tidak mencatat. Cuma memperhatikan, dengan mata yang bergerak mengikuti pensilku.
Waktu selesai, dia mengambil buku itu, membaliknya, dan mengerjakan soal berikutnya sendiri.
Persis dengan caraku.
Dalam separuh waktu.
Aku duduk di lantai rumah nomor tujuh dan menatap hasil kerjanya.
“Sekar.”
“Hm.”
“Kamu ranking berapa di kelas?”
“Satu.”
“Paralel?”
“Satu.”
Dia mengatakannya seperti orang menyebutkan warna sepatunya.
“Dari kelas berapa?”
“Tujuh.”
“Terus?”
“Terus apa?”
Aku menaruh pensilku.
“Sekar, kamu mau masuk SMA mana?”
“Negeri.”
“Yang mana?”
“Yang deket.”
“Kenapa yang deket?”
“Biar bisa jalan kaki.”
Dan dia mengatakannya dengan wajah yang begitu datar sehingga aku hampir melewatkannya.
Hampir.
“Sekar, nilai kamu bisa masuk mana aja.”
“Iya.”
“Ada program-program juga. Beasiswa, kelas akselerasi, ada yang—”
Dan tangannya berhenti.
Cuma sepersekian detik. Pensilnya berhenti di tengah angka, lalu melanjutkan, dan angka itu jadi sedikit tebal di satu titik karena pensilnya diam terlalu lama di kertas.
“Aku tau,” katanya.
“Kamu tau?”
“Iya.”
“Kamu udah pernah ditawarin?”
Dia menutup bukunya.
“Kak Gita.”
“Hm?”
“Lintang mau dijemput dari mengaji jam empat. Kakak bisa nemenin?”
Dan aku — yang seumur hidup terkenal karena tidak pernah membiarkan sesuatu menggantung, yang mengejar setiap ketidakberesan sampai ke akarnya, yang mengirim seorang anak ke BK karena empat kali tidak datang kerja kelompok —
aku bilang, “Bisa.”
Dan aku tidak bertanya lagi.
Aku sudah memikirkan alasannya berkali-kali sejak itu.
Alasan yang paling kusukai: aku sedang belajar berhenti bertanya, seperti yang diajarkan gang ini.
Alasan yang sebenarnya: aku baru saja diterima di rumah ini enam Sabtu yang lalu, dan aku takut mendorong satu pintu terlalu keras dan diusir.
Aku memilih tempatku sendiri di rumah itu daripada mencari tahu apa yang disembunyikan anak itu.
Aku akan membayar mahal untuk pilihan itu.
Sabtu kedelapan, sesuatu berubah.
Aku sedang menemani Lintang di ruang depan waktu ada berat kecil menabrak punggungku.
Aku menoleh.
Bumi berdiri di belakangku, memegang mobil-mobilan plastik yang rodanya tinggal tiga.
Dia tidak bicara.
Dia menaruh mobil itu di lantai, di sebelah kakiku.
Lalu pergi.
“...Itu apa?” tanyaku ke Lintang.
Lintang mengangkat kepalanya, melihat mobil itu, lalu tersenyum lebar sekali.
“Dikasih.”
“Dikasih?”
“Iya. Berarti Kakak boleh main di sini.”
Aku menatap mobil plastik beroda tiga itu.
Dan aku — Gita Ardhani, ketua kelas, juara paralel, anak yang tidak pernah menangis di depan siapa pun sejak kelas lima —
harus pura-pura menjatuhkan pensil dan mengambilnya di bawah meja selama sepuluh detik.
Sabtu kesepuluh, aku salah perhitungan.
Toko bangunan Pak Ilyas tutup lebih awal karena hujan.
Aku sedang di ruang depan bersama Lintang waktu pintu terbuka jam dua siang.
Aries berdiri di ambang pintu, basah kuyup, membawa kaus kerja di tangan.
Dan kami bertatapan.
Dan aku — dengan seluruh dua ratus kata yang sudah kuhapus, dengan sepuluh menit di seberang jalan, dengan sepuluh Sabtu — membuka mulut.
Dan dia bilang duluan:
“Eh, Git.” Dia mengelap wajahnya dengan lengan. “Makasih ya, udah ngajarin Lintang.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dia sering cerita.” Aries melepas sepatunya. “Katanya kamu jelasinnya pelan. Dia suka.”
“...Iya.”
“Maaf ya, aku nggak pernah sempet nemenin kamu.” Dia mengangkat kaus basahnya. “Ini basah, aku ke belakang dulu. Kalau mau minum ambil sendiri, ya. Anggep rumah sendiri.”
Dan dia masuk ke belakang.
Dan aku duduk di lantai dengan buku Lintang di pangkuanku dan tangan yang tidak bisa berhenti bergetar.
Maaf ya, aku nggak pernah sempet nemenin kamu.
Dia minta maaf.
Dia minta maaf kepadaku.
Sekar sudah bilang. Sekar sudah bilang persis, sepuluh minggu lalu, di mulut gang: dia bakal minta maaf karena udah bikin Kakak repot mikirin dia.
Aku pikir Sekar melebih-lebihkan.
Sekar tidak pernah melebih-lebihkan apa pun seumur hidupnya.
Aku pulang jam lima sore.
Di angkot, hujan, aku menempelkan dahi ke kaca dan mencoba mengurutkan apa yang barusan terjadi.
Dan yang kudapat bukan rasa bersalah.
Rasa bersalah itu sudah selesai. Rasa bersalah selesai di Sabtu keempat, kira-kira, dan itu persis seperti yang diperingatkan Sekar: setelah beberapa minggu, rasanya jadi enak.
Yang kurasakan di angkot itu sesuatu yang lain, dan aku memutar-mutarnya selama empat puluh menit sebelum aku berani memberinya nama, dan waktu aku memberinya nama aku langsung ingin mengambilnya kembali.
Aku tidak lagi datang setiap Sabtu untuk menebus apa pun.
Aku datang karena aku ingin.
Dan itu, kalau kupikirkan sekarang, adalah saat semuanya mulai jadi rumit.
Karena rasa bersalah punya ujung. Rasa bersalah bisa lunas.
Yang satu ini tidak.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu reading
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu