Chapter Forty One
Yang Datang Menjemput Bumi
POV: Aries
Aku bangun jam empat dua puluh lima seperti biasa.
Aku tidak bongkar muat pagi itu. Aku sudah izin ke Pak Han seminggu sebelumnya, dan beliau bilang, “Yo wis, ojo dipikir,” dan aku tidak tahu apakah dia tahu untuk apa.
Jadi aku bangun jam empat dua puluh lima dan tidak punya tempat untuk pergi.
Aku duduk di ruang depan sampai jam lima.
Lalu aku menyetrika kemejaku sendiri, karena Sekar sudah menyetrikanya semalam dan aku menyetrikanya lagi, karena tanganku butuh melakukan sesuatu.
Jam enam, aku membangunkan mereka.
“Sekar.”
“Aku udah bangun.”
“Dari kapan?”
“Dari tadi.”
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Lintang bangun sendiri. Dia memakai baju yang ada bunganya — yang katanya dari sepupu Claudia yang kekecilan, yang masih ada tag harganya waktu datang.
Dan Bumi.
Bumi tidak tahu apa-apa.
Kami sudah memutuskan itu bertiga, tiga hari sebelumnya, di dapur, jam sebelas malam. Sekar yang mengusulkannya dan Lintang yang menyetujuinya paling keras.
Bumi tidak diberi tahu.
Kami bilang kami mau jalan-jalan.
Dan anak itu senang sekali sampai dia tidak bisa diam sepanjang pagi, dan dia memakai sandalnya sendiri, dan dia memakainya terbalik — kanan di kiri — dan aku membetulkannya sambil berjongkok di ruang depan dan tanganku bergetar dan aku harus mengulanginya dua kali.
Kami keluar jam tujuh kurang.
Dan aku berhenti di ambang pintu.
Karena Gang Kenanga penuh.
Bu Ratmi berdiri di depan warungnya. Warungnya tutup. Rolling door-nya turun penuh. Aku belum pernah melihat warung itu tutup di hari kerja selama tiga tahun.
Pak Somad berdiri di depan bengkelnya. Bengkelnya juga tutup. Dia memakai kemeja. Aku belum pernah melihat Pak Somad memakai kemeja.
Om Yusuf berdiri di sebelahnya memegang kardus air mineral dengan dua tangan.
Bu Ning menggendong anaknya.
Bang Jecky memakai kemeja batik yang jelas bukan miliknya karena lengannya kepanjangan tujuh sentimeter.
Pak RT.
Dan di ujung, di dekat mulut gang, Mbah Tun duduk di kursi rotannya, yang jelas dibawa keluar oleh seseorang, dengan tangan kanan yang masih kurus dan pucat di pangkuannya.
Sembilan rumah.
Semuanya.
Aku berdiri di ambang pintu rumahku sendiri dan tidak bisa bergerak.
“Bu Ratmi—”
“Wis, ndang mangkat.”
“Bu, ini—”
“Ries.” Dia sudah berjalan ke arahku. “Angkoté wis ditunggu nang ujung.”
“Bu, warungnya—”
“Sedina ora dodolan ora mati.”
“Pak Somad, bengkelnya—”
“Wis,” kata Pak Somad. Satu kata.
Dan aku berdiri di sana dan mulutku bergerak dan tidak ada suara yang keluar, dan yang ada di kepalaku cuma angka.
Warung Bu Ratmi sehari kira-kira dua ratus ribu bersih.
Bengkel Pak Somad, mungkin tiga ratus.
Toko fotokopi Om Yusuf, seratus lima puluh.
Bang Jecky, orderan seharian, seratus.
Dan aku berdiri di ambang pintu menghitungnya, seperti orang gila, seperti yang selalu kulakukan, dan Bu Ratmi melihat wajahku dan tahu persis apa yang sedang kulakukan.
Dan dia menepuk lenganku sekali dan berkata:
“Ojo diitung, Ries.”
“Bu—”
“Ojo diitung.” Dia menatapku. “Ora saben perkara kuwi ana regané.”
Tidak setiap hal itu ada harganya.
Kami naik dua angkot yang disewa.
Bang Jecky yang mengurusnya. Dia bilang dia dapat harga bagus. Belakangan aku tahu dia membayar sendiri dan menolak diganti oleh siapa pun.
Dua belas orang.
Aku duduk di angkot depan dengan Sekar di sebelahku dan Bumi di pangkuan Sekar. Lintang duduk di depan dengan Gita.
Dan di angkot belakang, di antara Bu Ratmi dan Bu Ning, ada Claudia.
Dia memakai seragam sekolah.
Dia membolos hari itu. Dia dan Gita berdua. Dan aku baru tahu belakangan bahwa Gita — ketua kelas, juara paralel, yang tidak pernah absen sekali pun dalam tiga tahun — mengurus surat izin untuk mereka berdua dengan alasan “urusan keluarga”, dan wali kelas kami menandatanganinya tanpa bertanya satu pun.
Kantornya di lantai dua.
Ruangannya kecil. Meja panjang, delapan kursi, satu AC yang bunyinya keras.
Dan waktu dua belas orang berdiri di koridor depan pintunya, ada petugas yang keluar dan bilang, “Maaf, ini yang keluarga siapa ya?”
Dan Bu Ratmi bilang, “Kabeh.”
“Bu, ruangannya cuma muat delapan.”
“Yo wis, sing wolu mlebu, liyané ngenteni.”
“Bu—”
“Mas.” Bu Ratmi menatapnya. “Awake dhewe teka saka jam pitu esuk. Sing ngenteni ora bakal mulih.”
Yang masuk delapan orang.
Aku. Sekar. Bumi.
Bu Hanifah. Kepala seksinya, namanya Pak Danang. Dan satu orang lagi dari bagian hukum yang tidak banyak bicara.
Tante Ratih.
Dan Bu Ratmi, sebagai perwakilan lingkungan.
Yang menunggu di koridor: Pak Somad, Om Yusuf dengan kardusnya, Bu Ning, Mbah Tun di kursi yang dibawakan petugas, Pak RT, Bang Jecky, Lintang, Gita, dan Claudia.
Pintunya tidak ditutup rapat.
Aku tahu karena aku bisa mendengar Lintang bertanya sesuatu ke Gita di menit kelima belas, dan Gita menyuruhnya pelan-pelan.
Pak Danang membuka dengan penjelasan.
Aku akan meringkasnya, karena kalau kutulis lengkap kalian akan bosan seperti aku bosan, dan karena rasa bosan itu bagian dari yang membuatku hampir hancur.
Kalimat-kalimat itu sopan. Tenang. Formal.
Dan setiap satu dari mereka adalah pisau.
“Berdasarkan asesmen, rumah tangga ini tidak memiliki wali sah.”
“Pengasuh utama berusia tujuh belas tahun, yang secara hukum masih anak.”
“Terdapat empat anak, tiga di antaranya di bawah dua belas tahun.”
“Penghasilan tidak tetap, tidak tercatat, dan bersumber dari pekerjaan informal berisiko.”
“Waktu pengasuhan efektif orang dewasa: nol jam per hari.”
Aku mengangkat kepalaku di kalimat terakhir.
“Nol jam?”
“Iya, Mas.”
“Saya di rumah tiap pagi.”
“Mas berangkat setengah lima.”
“Saya pulang malam.”
“Jam sebelas empat puluh.” Pak Danang membaca dari kertasnya. “Adik-adik sudah tidur jam sembilan.”
Dan aku duduk di kursi plastik itu dan tidak punya jawaban, karena angkanya benar, dan aku sendiri yang memberikan angkanya kepada Bu Hanifah hari Sabtu itu, empat puluh tiga kali dengan tambahan “nggak apa-apa”.
Lalu Tante Ratih bicara.
Dan aku ingin menuliskan ini dengan adil, karena dia berhak diperlakukan dengan adil.
Dia tidak menyerang.
Dia bicara pelan, dan dua kali suaranya bergetar, dan sekali dia harus berhenti dan minum.
Dia bilang:
Dia punya rumah tetap. Suaminya karyawan tetap di pabrik, dua belas tahun. Ada BPJS. Ada satu anak, Kiki, kelas dua SD.
Dia bilang dia bersedia jadi wali Bumi.
Dia bilang Bumi boleh dikunjungi kapan saja. Setiap minggu kalau mau. Dia bahkan akan membayar ongkosnya.
Dia bilang — dan ini bagian yang membuatku menunduk — bahwa dia sudah tiga tahun ingin melakukan sesuatu dan tidak pernah tahu caranya, dan bahwa setiap Lebaran dia pulang dari gang itu dan menangis di angkutan.
“Saya bukan mau ngambil anak orang,” katanya. “Saya mau bantu keponakan saya yang umurnya tujuh belas tahun dan udah tiga tahun jadi orang tua.”
Dan Pak Danang mengangguk, dan menulis, dan berkata:
“Baik. Ini opsi yang paling realistis.”
Lalu dia menoleh kepadaku.
“Mas Aries.”
“Iya, Pak.”
“Saya mau tanya langsung, dan saya minta Mas jawab jujur.”
“Iya, Pak.”
Dan dia menaruh pulpennya, dan menatapku, dan bertanya:
“Apakah Mas sanggup mengasuh tiga adik sendirian?”
Ruangan itu.
AC-nya berbunyi. Ada suara motor dari luar jendela. Sekar duduk di sebelahku dan aku bisa merasakan lengannya menempel di lenganku dan aku bisa merasakan dia berhenti bernapas.
Dan aku membuka mulutku.
Dan yang siap keluar — yang sudah berdiri di ujung lidahku sejak umur empat belas tahun, yang sudah kuucapkan puluhan ribu kali, yang adalah satu-satunya bahasa yang kupunya —
adalah:
Sanggup, Pak. Nggak apa-apa. Saya bisa.
Aku sudah merasakan bentuknya di mulutku.
Dan aku ingat Bu Hanifah berdiri di mulut gang hari Sabtu dan berbalik dan berkata: “Nanti tanggal dua belas, kalau ditanya, Mas jangan bilang ‘nggak apa-apa’.”
Dan aku ingat adikku berdiri di dapur memegang lenganku dengan dua tangan: “Mas jangan iya-in.”
Dan aku ingat satu baris di kertas struk yang kutulis di kursi kasir minimarket bulan Juli dan tidak pernah kuucapkan kepada siapa pun.
Aku menutup mataku.
Dan aku berkata:
“Nggak, Pak.”
Sekar menoleh cepat.
“Mas—”
“Nggak,” ulangku.
Dan aku membuka mataku dan menatap Pak Danang, dan aku mengucapkan kalimat yang paling sulit dalam seluruh hidupku, lebih sulit daripada mengangkat lima puluh karung, lebih sulit daripada berjalan keluar dari gudang jam dua belas lewat dua puluh lima malam:
“Saya nggak sanggup sendirian.”
Ruangan itu sunyi.
“Saya nggak bisa masak. Adik saya yang empat belas tahun yang masak, tiap hari, sejak umur sebelas.”
Aku menatap meja.
“Saya nggak ada di rumah dari jam setengah lima sampai jam sebelas empat puluh. Bapak bener, itu nol jam. Saya nggak bisa bantah.”
“Mas—”
“Saya nggak tau selimut Bumi harus yang biru.” Suaraku goyah dan aku membiarkannya. “Saya baru tau bulan lalu. Dari adik saya. Yang umurnya empat belas.”
Aku menarik napas.
“Kalau Bapak nanya apakah saya sanggup sendirian,” kataku, “jawabannya nggak. Nggak pernah. Nggak sekali pun dalam tiga tahun.”
Pak Danang menaruh pulpennya.
“Terus selama tiga tahun ini gimana, Mas?”
Dan aku mengangkat kepalaku, dan aku menatap pintu yang tidak tertutup rapat, dan aku berkata:
“Ada di luar, Pak.”
Yang terjadi berikutnya berlangsung selama empat puluh menit dan aku tidak akan pernah melupakannya.
Om Yusuf masuk pertama, membawa kardus air mineralnya.
Dia menaruhnya di atas meja panjang itu dan membukanya dan mengeluarkan isinya satu per satu, dan dia menyebutkan namanya satu per satu seperti orang menghitung stok:
“Rapor Sekar Kurniawan, kelas tujuh sampai sembilan, enam semester, lengkap.”
“Rapor Lintang Kurniawan, kelas satu sampai empat, delapan semester, lengkap.”
“Kartu imunisasi Bumi Kurniawan. Lengkap. Semua sesuai jadwal.”
“Kuitansi SPP tiga anak, tiga tahun, tiga puluh enam bulan. Tidak ada yang menunggak lebih dari dua bulan.”
“Bukti pembayaran seragam. Bukti pembelian buku. Kartu BPJS.”
Pak Danang mengangkat wajahnya. “Bapak yang menyimpan semua ini?”
“Iya, Pak.”
“Sejak kapan?”
“Sejak hari pertama.”
“Kenapa?”
Dan Om Yusuf berdiri di ruangan itu, laki-laki empat puluh dua tahun yang tokonya kecil, dan berkata:
“Karena saya tukang fotokopi, Pak. Cuma itu yang saya bisa.”
Bu Ratmi yang kedua.
Dia mengeluarkan buku warungnya dan membuka halaman belakang.
“Iki cathetanku.”
“Ini apa, Bu?”
“Catatan.” Dia mendorongnya. “Tiga tahun. Setiap kali anak itu nolong orang di gang saya.”
Pak Danang membacanya.
Empat halaman. Tulisan tangan yang jelek. Tanggalnya benar semua.
“Bu, ini...” Dia membalik halamannya. “Ini bukan catatan bantuan untuk anak itu.”
“Dudu.”
“Ini catatan bantuan dari anak itu.”
“Iyo.”
Dia menutup bukunya dan menatap laki-laki di seberang meja.
“Pak,” katanya. “Sampeyan nakoni bocah kuwi sanggup ngopeni telu adhine apa ora.”
“Iya, Bu.”
“Sing perlu ditakokké dudu kuwi.” Dia mengetuk bukunya sekali. “Sing perlu ditakokké: telung taun iki bocah kuwi ngopeni pirang wong.”
Bu Ning masuk dan bicara selama tiga menit, dan di menit kedua dia menangis, dan dia menceritakan sembilan bulan itu, dan dia menceritakan bagian yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun kecuali Bu Ratmi.
Bahwa dia sedang depresi. Bahwa dia tidak mau bangun dari kasur selama dua minggu.
Bahwa seorang anak berumur empat belas tahun mengetuk pintunya jam sembilan malam sambil menggendong bayi dua tahun yang menangis sejak sore, dan bertanya, “Bu, ini gimana caranya diem?”
“Saya bangun dari kasur hari itu, Pak,” katanya. “Buat pertama kalinya dalam dua minggu.”
“Bu, tapi—”
“Jadi kalau Bapak tanya siapa yang ngurus siapa,” katanya, “saya bingung jawabnya.”
Pak Somad masuk keempat.
Dan Pak Somad tidak bicara.
Dia berdiri di ujung meja selama sekitar lima detik, dan Pak Danang menunggu, dan Bu Hanifah menunggu.
Lalu dia bilang:
“Saya jemput adiknya dari sekolah dua bulan. Tahun pertama.”
Lalu diam lagi.
“Terus?” tanya Pak Danang.
“Terus dia berhenti minta.”
“Kenapa?”
Dan Pak Somad menatap meja dan berkata:
“Karena dia udah bisa ngatur sendiri.”
Dan lalu, setelah jeda yang panjang, laki-laki itu — yang dalam tiga tahun mungkin mengucapkan dua ratus kata kepadaku —
berkata:
“Saya nggak punya anak, Pak.”
Ruangan itu sunyi.
“Dua puluh delapan tahun nikah, nggak dikasih.” Dia tidak mengangkat kepalanya. “Terus tiga tahun lalu ada anak umur empat belas dateng ke bengkel saya jam lima pagi, nanya boleh nggak dia belajar benerin motor biar bisa cari duit.”
Dia diam.
“Saya bilang boleh.”
Diam lagi.
“Bengkel saya nggak pernah tutup dua puluh tahun. Hari ini tutup.”
Dan dia duduk.
Mbah Tun yang terakhir.
Petugas membawakan kursi. Dia duduk. Tangannya di pangkuan.
Dan Pak Danang bertanya, dengan sopan, pertanyaan yang harus dia tanyakan:
“Ibu ini siapanya anak-anak?”
Dan aku menutup mataku.
Karena aku sudah tahu tidak ada jawabannya.
Dia bukan nenek mereka. Bukan saudara. Bukan apa-apa secara surat. Tidak ada satu pun kolom di formulir mana pun di Republik ini yang muat untuk hubungan itu.
Dan Mbah Tun duduk di kursi itu dan berkata, dengan suara pelan sekali:
“Aku ki tanggané, Pak.”
“Tetangga saja?”
“Iyo.”
“Ibu, maaf, kalau tetangga—”
“Pak.”
“Iya, Bu?”
Dan perempuan tujuh puluh tiga tahun itu mengangkat wajahnya.
“Aku wis telung taun ngapusi bocah kuwi,” katanya.
Pak Danang berhenti menulis.
“Bohong gimana, Bu?”
“Saben sore aku masak. Terus aku teka nang ngarep lawangé. Terus aku ngomong: ‘Ries, mbah masak kakehan, ndang dijupuk.’”
Dia menatap tangannya.
“Aku ora tau kakehan, Pak.”
“Bu—”
“Telung taun. Saben sore. Sewu limangatus dina.”
Dan dia mengangkat kepalanya, dan matanya basah, dan suaranya tidak bergetar sedikit pun:
“Nek kuwi durung cukup nggo dadi sedulur,” katanya, “aku ora ngerti kudu ngapa maneh.”
Ruangan itu sunyi selama mungkin sepuluh detik.
Lalu Bu Hanifah — yang belum bicara sejak pembukaan, yang duduk di ujung meja dan menulis sepanjang waktu —
menutup mapnya.
“Pak Danang.”
“Iya, Bu Hanifah?”
“Saya mau menyampaikan penilaian saya.”
“Silakan.”
Dan dia berdiri.
“Saya sudah sebelas tahun di bagian ini,” katanya. “Saya sudah melakukan kurang lebih empat ratus asesmen rumah tangga anak.”
Dia mengeluarkan HP-nya.
“Hari Sabtu kemarin, saya mewawancarai anak berumur sepuluh tahun selama satu jam.”
Dia membuka galeri fotonya.
“Dan anak itu memberi saya ini.”
Dan dia menaruh HP-nya di tengah meja, dan menggeser fotonya satu per satu, dan aku melihatnya dari kursiku.
Halaman-halaman bergaris. Tulisan pensil. Kolom-kolom.
Buku sampul biru.
“Dua ratus tiga puluh halaman,” kata Bu Hanifah. “Dua puluh tiga nama. Ditulis oleh anak kelas empat SD sejak dia berumur delapan tahun.”
Dia menggeser satu foto lagi.
“Dan Pak, saya minta Bapak perhatikan kolomnya.”
“Kolom apa?”
“Ada dua kolom. PEMBERIAN dan UTANG.” Dia menatap Pak Danang. “Kolom PEMBERIAN kosong. Dari halaman satu sampai dua ratus tiga puluh.”
“Kenapa kosong?”
Dan Bu Hanifah berkata:
“Karena anak itu bilang, kalau ditulis di kolom pemberian, artinya mereka nggak bayar. Dan kalau nggak bayar, mereka dikasihani.”
Dia mengambil HP-nya kembali.
“Pak, saya tidak bisa menaruh ini di laporan sebagai bukti hukum,” katanya. “Saya tahu itu.”
Dia menutup mapnya.
“Tapi saya bisa menaruhnya sebagai penilaian profesional saya. Dan penilaian saya begini: rumah tangga ini secara administratif rapuh, dan secara pengasuhan adalah yang paling kuat yang pernah saya lihat.”
Dan lalu Tante Ratih berdiri.
Aku tidak siap untuk itu.
“Pak Danang.”
“Iya, Bu?”
“Saya mau menarik permohonan saya.”
Bu Hanifah mengangkat kepalanya. Pak Danang menaruh pulpennya.
“Bu Ratih, kalau ditarik, statusnya tetap kosong—”
“Saya belum selesai.”
Dan dia berdiri di ruangan itu, dan dia melihat ke Bu Ratmi, dan ke Pak Somad, dan ke Mbah Tun.
Lalu dia melihatku.
“Saya menarik permohonan pengasuhan,” katanya. “Dan saya mengajukan diri sebagai wali.”
“Bedanya?”
“Bedanya,” katanya, “Bumi tetap di sana.”
Aku tidak mengerti selama beberapa detik.
Pak Danang yang menjelaskan.
Wali secara hukum. Namanya di kertas. Yang menandatangani surat sekolah, yang mengurus dokumen, yang bertanggung jawab secara administratif, yang bisa dihubungi negara kalau ada apa-apa.
Tapi tempat tinggal anak-anak tetap di Gang Kenanga nomor tujuh.
“Bu, ini nggak biasa,” kata Pak Danang.
“Tapi bisa?”
“Bisa, dengan penetapan pengadilan, dan dengan kunjungan berkala—”
“Saya bersedia.”
“Bu Ratih, ini artinya tanggung jawab hukum ada di Ibu tapi anaknya nggak di rumah Ibu.”
“Saya tau.”
“Kalau terjadi apa-apa—”
“Saya tau, Pak.”
Dan dia menatapku dari seberang meja.
“Ries.”
“Iya, Tante.”
“Tante nggak bisa jadi ibumu,” katanya. “Tante udah kelewatan tiga tahun buat itu.”
Suaranya bergetar.
“Tapi Tante bisa jadi nama di kertas,” katanya. “Dan kalau itu yang bikin kamu boleh tetap sama adik-adikmu, ya udah, Tante jadi nama di kertas.”
Aku menangis di ruangan itu.
Aku ingin menuliskannya dengan jujur karena tidak ada gunanya berpura-pura.
Aku menangis di ruangan pemerintah lantai dua, jam sebelas siang, tanggal dua belas September, di depan tujuh orang dewasa dan satu adik perempuan berumur empat belas tahun yang memegang lenganku dengan dua tangan.
Dan tidak ada satu orang pun yang menyuruhku berhenti.
Ada satu hal yang harus kuceritakan, dan ini bagian yang membuat semua orang di ruangan itu berhenti.
Di menit ke-empat puluh, di tengah semua itu, waktu Pak Danang sedang menjelaskan prosedur penetapan dan semua orang bicara sekaligus —
Bumi turun dari pangkuan Sekar.
Tidak ada yang memperhatikan.
Dia jalan ke pintu ruangan itu.
Di depan pintu, di lantai, ada sepatu dan sandal yang dilepas orang-orang yang menunggu di koridor. Berantakan. Bertumpuk.
Dan anak lima tahun itu duduk di lantai, dan mulai membalik semuanya satu per satu.
Menghadap pintu.
Sepatu Om Yusuf. Sandal Bu Ning. Sandal Mbah Tun. Sepatu Pak RT. Sepatu Bang Jecky.
Dan yang terakhir, sepatuku.
Dia membaliknya, meluruskannya, dan menepuknya sekali dengan telapak tangannya.
Dan Pak Danang berhenti bicara.
Dan seluruh ruangan menoleh.
Dan Bu Hanifah bertanya, dengan suara yang sangat pelan, “Dek, itu ngapain?”
Dan Bumi bilang, tanpa mengangkat kepalanya:
“Biar gampang pulang.”
Kami keluar dari kantor itu jam dua belas lewat.
Belum selesai. Masih ada sidang penetapan di pengadilan bulan depan. Masih ada kunjungan berkala tiga bulan sekali. Masih ada dua puluh berkas lagi.
Tapi Bumi pulang bersama kami.
Dan di koridor, waktu pintu dibuka, sembilan orang berdiri.
Lintang lari duluan dan memeluk pinggangku sampai aku hampir jatuh.
Bang Jecky menangis dengan sangat tidak sopan dan tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali.
Gita berdiri di belakang, dengan map berisi delapan surat pernyataan yang tidak jadi dipakai hari itu, dan aku melihat dia menekan map itu ke dadanya dan menutup matanya sebentar.
Dan Claudia berdiri paling ujung.
Dia tidak lari. Dia tidak memeluk.
Dia berdiri di sana dengan seragam sekolahnya dan tangan kosong, dan aku menghitung — karena aku selalu menghitung — dan aku menyadari sesuatu yang membuatku berhenti berjalan di tengah koridor:
Dia tidak membawa apa pun.
Tidak ada amplop. Tidak ada pengacara. Tidak ada nama besar. Tidak ada telepon ke kenalan siapa pun.
Perempuan yang bulan Maret melunasi utang komiteku satu juta tiga ratus lima puluh ribu dalam sepuluh menit di depan meja Tata Usaha —
berdiri di koridor kantor Dinas Sosial selama lima jam, sejak jam tujuh pagi, tanpa melakukan apa pun.
Aku jalan ke arahnya.
“Claudia.”
“Hm?”
“Kamu di sini dari jam tujuh.”
“Iya.”
“Kamu nggak ngapa-ngapain.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan dia menatapku, dan matanya merah, dan dia bilang:
“Karena ini bukan masalah yang bisa aku beli, Ries.”
Dan lalu, sambil menghapus matanya dengan pergelangan tangan:
“Dan karena aku udah belajar bahwa yang kamu butuhin bukan orang yang nyelesein.”
Dia menarik napas.
“Kamu butuh orang yang berdiri di barisan.”
Kami pulang naik dua angkot yang sama.
Dua belas orang. Jam satu siang. Panas sekali.
Dan di angkot depan, Bumi tertidur di pangkuan Sekar sebelum kami keluar dari jalan besar.
Dan Lintang duduk di sebelahku dan membuka bukunya dan mulai menulis.
“Kamu nulis apa?”
“Bentar.”
“Lintang.”
“Bentar, Mas, aku lagi mikir naruh kolomnya.”
Dan aku melihat dari samping.
Dia menulis:
12 SEPTEMBER.
BU RATMI TUTUP WARUNG 1 HARI.
PAK SOMAD TUTUP BENGKEL 1 HARI (20 TAHUN PERTAMA).
OM YUSUF BAWA ARSIP 3 TAHUN.
BU NING CERITA YANG DIA GA PERNAH CERITA.
MBAH TUN NGAKU BOHONG 1500 HARI.
BANG JECKY BAYAR 2 ANGKOT.
KAK GITA BIKIN 8 SURAT.
KAK CLAUDIA BERDIRI 5 JAM.
TANTE RATIH JADI NAMA DI KERTAS.
Lalu dia berhenti.
Dan dia menatap kertasnya lama sekali.
“Kenapa?” tanyaku.
Dan adikku bilang, “Aku bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Ini masuk kolom mana.”
Dia memutar bukunya ke arahku.
Tiga kolom. PEMBERIAN. UTANG. BELUM TAU.
“Kalau UTANG,” katanya, “berarti nanti kita bayar. Tapi ini nggak ada harganya, Mas. Aku nggak bisa ngitung.”
“Terus?”
“Kalau BELUM TAU, berarti nanti aku pindahin. Tapi aku nggak bakal pernah tau.”
Dan aku duduk di angkot itu, dengan adikku yang tertidur di seberang dan adikku yang bertanya di sebelah, dan aku melihat kolom paling kiri.
Kolom yang kosong sejak halaman satu.
Kolom yang tidak pernah dipakai selama tiga tahun karena adikku belajar dari kakaknya bahwa memakainya sama dengan mengaku dikasihani.
“Ntang.”
“Hm?”
“Tulis di yang kiri.”
Dia menoleh cepat.
“Yang PEMBERIAN?”
“Iya.”
“Mas—”
“Tulis di yang kiri, Lintang.”
Dan adikku menatapku dengan mata yang sangat lebar, dan lalu dia menunduk, dan dia menulis, dan tangannya bergetar sampai huruf-hurufnya miring.
Dan itu adalah baris pertama di kolom sebelah kiri buku sampul biru itu dalam tiga tahun dan dua ratus tiga puluh halaman.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi reading
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu