← Giliranmu Istirahat

Chapter Twenty Eight

Yang Dihitung Setiap Minggu

POV: Lintang


Hari Minggu itu hari paling penting.

Bukan soalnya libur. Soalnya cuma hari Minggu Mas nggak kerja subuh.

Hari lain Mas berangkat jam setengah lima. Aku bangun jam enam. Jadi pas aku bangun, Mas udah pergi.

Hari Minggu Mas ada di dapur jam enam.

Cuma hari Minggu.

Cuma satu jam setengah.


Aku mulai meluk Mas waktu aku umur delapan.

Aku inget harinya. Hari Minggu juga. Aku bangun terus aku ke dapur terus aku liat Mas lagi masak air.

Terus aku peluk aja.

Nggak ada alesan. Aku cuma pengen.

Terus Mas kaget dikit terus dia bilang, “Kenapa?”

Terus aku bilang, “Nggak apa-apa.”

Terus Mas diem.

Terus Mas nggak nyuruh aku lepas.

Jadi minggu depannya aku peluk lagi.


Yang bikin aku ngitung itu hari Minggu yang ketiga.

Waktu itu aku meluk terus tangan aku ketemu di depan perut Mas.

Ketemunya pas banget. Jari aku ketemu jari aku. Ujungnya doang.

Terus minggu depannya aku peluk lagi.

Dan jari aku lewat.

Nggak ketemu ujung sama ujung. Tapi lewat. Kayak sedikit banget, tapi lewat.

Aku bilang ke Mas, “Mas.”

Mas bilang, “Hm.”

Aku bilang, “Tangan aku jadi panjang ya?”

Terus Mas ketawa dikit terus bilang, “Iya, kamu udah gede.”

Terus aku seneng.

Terus aku ke kamar terus aku duduk.

Terus aku mikir.

Terus aku sadar aku baru delapan tahun dan tangan aku nggak mungkin panjang secepet itu dalam seminggu.


Jadi aku bikin sistem.

Aku bikinnya di halaman paling belakang buku biru aku. Di dalem sampulnya. Yang nggak keliatan kalau bukunya ditutup.

Sistemnya gini.

Aku bikin MAS = 10.

Sepuluh itu waktu jari aku ketemu ujung sama ujung. Itu hari Minggu ketiga waktu aku umur delapan.

Terus tiap Minggu aku peluk terus aku liat jari aku lewat berapa.

Kalau jari aku lewat lebih jauh, berarti Masnya berkurang.

Kalau jari aku lewat satu ruas, aku kurangin satu.

Gitu aja.

Aku tau ini bukan cara ngitung yang bener. Aku tau. Aku udah kelas empat sekarang, aku udah belajar centimeter.

Tapi aku bikin sistemnya waktu aku delapan tahun, terus aku nggak boleh ganti di tengah.

Kalau diganti di tengah nanti angkanya nggak nyambung.


Ini isi halaman belakangnya.

Aku salin di sini soalnya aku hafal.

MAS = 10
MAS = 10
MAS = 10
MAS = 9
MAS = 9
MAS = 9
MAS = 9
MAS = 8

Terus banyak banget delapan.

Terus:

MAS = 7

Terus banyak tujuh.

Terus tahun lalu:

MAS = 6

Terus enam terus.

Terus bulan Maret:

MAS = 5

Aku berhenti nulis dua minggu waktu itu.

Aku nggak peluk juga. Aku pura-pura ketiduran dua hari Minggu.

Terus Mas nanya, “Kamu sakit?”

Aku bilang, “Nggak.”

Terus minggu ketiga aku peluk lagi.

Soalnya kalau aku nggak peluk, angkanya nggak ilang.

Angkanya tetep lima.

Aku cuma jadi nggak tau aja.

Dan nggak tau itu lebih serem.


Hari Minggu itu Kak Claudia dateng pagi.

Pagi banget. Jam setengah tujuh.

Biasanya dia dateng sore. Selasa Rabu Jumat sore, terus Sabtu.

Tapi hari itu Minggu dan jam setengah tujuh dan dia dateng.

Aku belum ke dapur waktu dia dateng. Aku masih di kasur.

Terus aku denger pintu.

Terus aku denger Mbak Sekar bilang, “Kak Claudia?”

Terus Kak Claudia bilang, “Maaf ya. Aku nggak bisa tidur.”

Terus Mbak Sekar bilang, “Masuk aja.”

Terus Mbak Sekar bilang, “Mas di dapur.”


Terus aku bangun.

Terus aku ke dapur.

Dan aku liat Kak Claudia berdiri di deket pintu dapur.

Dia nggak masuk. Dia berdiri aja.

Dan Mas lagi di depan kompor, punggungnya ke kita, lagi masak air kayak biasa.

Terus aku jalan.

Terus aku peluk.


Aku nggak liat Kak Claudia waktu aku meluk.

Aku merem. Aku selalu merem.

Soalnya kalau merem lebih gampang ngitungnya.

Aku taruh dahi aku di punggung Mas. Di tengah, di antara tulang yang menonjol dua itu.

Terus aku rasain.

Terus aku ngitung jari.


Satu ruas.

Dua ruas.

Dua ruas setengah.

Aku ngitung dua kali biar nggak salah.

Dua ruas setengah.

Bulan lalu dua ruas.


Mas bilang, “Lintang.”

Aku bilang, “Hm.”

Mas bilang, “Airnya mendidih.”

Aku bilang, “Bentar.”

Terus aku pegang lebih lama.

Terus aku ketok-ketok jari aku di perutnya. Aku selalu gitu. Bukan buat apa-apa. Aku cuma ngitung ulang.

Terus aku lepas.

Terus aku bilang, “Udah.”

Terus Mas bilang, “Udah apa?”

Terus aku bilang, “Udah aja.”

Kayak biasa.


Terus aku noleh.

Dan Kak Claudia masih berdiri di pintu.

Dan dia nggak gerak sama sekali.

Dan mukanya aneh banget.

Terus Mas noleh juga terus dia kaget terus dia bilang, “Claudia? Kamu dari kapan di situ?”

Kak Claudia bilang, “Baru.”

Bohong. Dia dari tadi.

Terus Mas bilang, “Kok pagi banget?”

Kak Claudia bilang, “Nggak bisa tidur.”

Terus Mas bilang, “Udah sarapan?”

Kak Claudia bilang, “Belum.”

Terus Mas bilang, “Duduk. Aku bikinin.”

Terus Mas balik ke kompor.

Dan Kak Claudia liat punggung Mas lama banget.


Terus aku tarik tangannya.

Aku bilang pelan, “Kak. Sini.”

Dia bilang, “Kenapa?”

Aku bilang, “Sini aja.”

Aku bawa dia ke kamar.


Aku ambil buku biru aku.

Terus aku buka.

Bukan yang depan. Bukan yang belakang juga.

Aku buka sampulnya. Yang dalem.

Terus aku kasih ke Kak Claudia.

Dia baca.

Aku liatin dia baca.

Dia baca dari atas ke bawah. Terus dia berhenti. Terus dia baca lagi dari atas.

Terus tangannya gemeter.


Dia bilang, “Lintang.”

Aku bilang, “Iya.”

Dia bilang, “Ini apa?”

Aku bilang, “Itu Mas.”

Dia bilang, “Angkanya kenapa turun?”

Terus aku jelasin.

Aku jelasin semuanya. Soal jari. Soal ruas. Soal aku bikin sepuluh waktu umur delapan.

Aku jelasin lama. Sampe aku haus.

Terus aku selesai.

Terus aku bilang, “Sekarang lima.”

Terus aku bilang, “Eh, bentar.”

Terus aku ambil pensil.

Terus aku tulis di bawahnya.

MAS = 4


Terus Kak Claudia nutup mukanya.

Sama kayak waktu itu. Waktu aku nunjukin bagian belakang.

Cuma yang ini beda.

Yang ini dia nggak bisa berhenti.

Yang ini bahunya gerak-gerak terus dan dia nggak ngeluarin suara sama sekali dan itu lebih serem daripada kalau nangis biasa.

Aku bingung.

Jadi aku ambil tisu lagi.


Terus dia bilang, suaranya pecah, “Lintang, kenapa kamu nggak bilang ke Mas Aries?”

Dan aku bilang yang bener.

Aku bilang, “Nggak boleh.”

Dia bilang, “Kenapa nggak boleh?”

Terus aku duduk di kasur.

Terus aku bilang:

“Soalnya kalau Mas tau aku ngitung, nanti Mas makan pura-pura.”

Dia bilang, “Pura-pura?”

Aku bilang, “Iya. Di depan aku.”

Aku bilang, “Mas bakal makan banyak kalau aku liat. Terus nanti kalau aku nggak liat, Mas nggak makan.”

Aku bilang, “Terus angkanya tetep turun.”

Aku bilang, “Terus aku nggak tau lagi.”


Kak Claudia nggak ngomong lama banget.

Terus dia bilang, “Ntang.”

Aku bilang, “Hm.”

Dia bilang, “Kamu umur berapa?”

Aku bilang, “Sepuluh.”

Dia bilang, “Sepuluh.”

Aku bilang, “Iya. November sebelas.”

Terus dia meluk aku.

Kenceng banget.

Aku bilang, “Kak, sesek.”

Dia bilang, “Maaf.”

Tapi dia nggak lepas.

Jadi aku diem aja.


Terus aku bilang, “Kak.”

Dia bilang, “Hm.”

Aku bilang, “Janji ya.”

Dia bilang, “Janji apa?”

Aku bilang, “Jangan bilang Mas.”

Terus dia diem lama.

Terus dia bilang, “Ntang, ini—”

Aku bilang, “Janji.”

Terus dia bilang, “Aku nggak bisa janji.”

Aku bilang, “Kenapa?”

Terus dia bilang, “Karena ini penting banget.”


Terus aku mikir.

Terus aku bilang, “Ya udah gini aja.”

Dia bilang, “Gimana?”

Aku bilang, “Kakak nggak usah bilang.”

Aku bilang, “Kakak bikin Mas makan aja.”

Dia bilang, “Gimana caranya?”

Aku bilang, “Nggak tau. Kakak pinter, mikir sendiri.”

Terus dia ketawa. Sambil nangis lagi.

Terus dia bilang, “Oke.”

Aku bilang, “Janji?”

Dia bilang, “Janji.”


Habis itu kita ke dapur.

Mas udah selesai masak. Ada nasi goreng. Dua piring.

Mas bilang, “Makan.”

Kak Claudia bilang, “Kamu mana?”

Mas bilang, “Aku udah tadi.”

Dan aku liat Kak Claudia.

Dan Kak Claudia liat aku.

Terus Kak Claudia bilang, “Ries, aku nggak habis kalau sepiring.”

Mas bilang, “Ya udah, sisain aja.”

Kak Claudia bilang, “Nggak enak nyisain.”

Mas bilang, “Nggak apa-apa.”

Kak Claudia bilang, “Ambil piring.”

Mas bilang, “Claudia—”

Kak Claudia bilang, “Ambil. Piring.”

Terus Mas ngambil piring.

Terus Kak Claudia bagi dua nasi gorengnya. Setengah ke piring Mas.

Terus Mas duduk.

Terus Mas makan.


Dan Mas makan cepet banget.

Cepet banget sampe Kak Claudia berhenti ngunyah terus liatin.

Terus Mas sadar terus dia pelanin.

Terus dia bilang, “Maaf. Kebiasaan.”

Kak Claudia bilang, “Kebiasaan apa?”

Mas bilang, “Di rumah makan cuma ada sepuluh menit.”

Terus nggak ada yang ngomong lagi sampe habis.


Malemnya aku buka buku aku lagi.

Aku liat angka empat.

Terus aku liat angka sepuluh yang paling atas.

Dan aku mikir sesuatu yang aku nggak pernah tulis dan nggak pernah aku bilang ke siapa-siapa.

Aku mikir: kalau turun terus, nanti nol.

Terus aku mikir: nol itu apa.

Terus aku nggak mau mikir lagi.

Jadi aku tutup bukunya.

Terus aku taruh di bawah bantal.

Terus aku tidur.

Dan Minggu depan aku peluk lagi.

Soalnya kalau aku nggak peluk, angkanya nggak ilang.

Angkanya cuma jadi nggak keliatan.