← Giliranmu Istirahat

Chapter Twelve

Tiga Sendok

POV: Sekar


Aku tidak suka menjelaskan hal-hal.

Menjelaskan itu artinya kau ingin dimengerti, dan kalau kau ingin dimengerti artinya kau ingin sesuatu dari orang lain, dan aku sudah lama memutuskan untuk tidak ingin apa-apa dari siapa pun.

Jadi aku akan menulis ini sependek mungkin.


Setahun lalu aku menemukan bahwa Mas Aries punya empat puluh menit kosong tiga kali seminggu.

Aku tidak menemukannya dari dia. Dia tidak pernah bercerita apa-apa. Aku menemukannya dari selisih waktu.

Aku menghitung. Aku selalu menghitung.

Kurir habis jam setengah tujuh. Minimarket mulai jam delapan. Rumah ke minimarket empat puluh menit. Kalau dia pulang dulu, dia harus berangkat lagi dua puluh menit setelah sampai.

Jadi dia tidak pulang.

Jadi ada empat puluh menit di mana dia berada di suatu tempat, sendirian, tidak makan.

Aku bertanya sekali. Cuma sekali.

“Mas kalau Selasa makan malem di mana?”

“Nanti di minimarket.”

“Beli?”

“Iya.”

Bohong. Aku tahu dia bohong karena aku tahu berapa uang yang dia bawa hari Selasa.

Aku tidak menyebutnya bohong. Aku cuma berhenti bertanya.


Sejak hari itu, tiga kali seminggu, aku jalan ke minimarket.

Bukan ke undakan tempat dia duduk — aku tidak tahu tempat itu sampai belakangan. Aku jalan ke minimarket dan menitipkan termos ke kasir yang namanya Mas Yuda, dan Mas Yuda memberikannya waktu Mas Aries datang.

Aku bilang ke Mas Aries bahwa termosnya dititipkan Bu Ratmi lewat Bang Jecky.

Dia percaya, karena dia orang yang mudah percaya kalau ceritanya masuk akal dan dia sedang capek.

Jalan dari rumah ke minimarket dua puluh lima menit.

Bolak-balik lima puluh menit.

Tiga kali seminggu.

Selama satu tahun.

Aku tidak menulis ini supaya kalian kagum. Aku menulisnya supaya jelas berapa harganya, karena nanti aku akan menyerahkannya kepada orang lain, dan aku ingin jelas bahwa aku tahu persis apa yang kuserahkan.


Lintang tidak tahu. Bumi tidak tahu. Bu Ratmi tidak tahu.

Yang tahu cuma Mas Yuda, dan Mas Yuda tidak peduli.

Sekali dia bertanya, “Adiknya, ya?”

“Iya.”

“Tiap minggu ke sini?”

“Iya.”

“Nggak capek?”

Aku tidak menjawab, dan dia tidak bertanya lagi.

Itu satu-satunya percakapan kami dalam satu tahun.


Sekarang bagian yang tidak enak.

Ada dua hal yang tidak muat dalam satu hari, dan aku menyadarinya bulan Februari.

Yang pertama: termos.

Yang kedua: aku.

Ada program di sekolahku, tiga sore seminggu, jam empat sampai jam enam. Aku tidak akan menuliskan namanya di sini. Aku dipanggil ke ruang guru dan diberi selembar formulir dan Bu Rina bilang aku salah satu dari empat anak yang diminta ikut, dan kalau lolos ada kelanjutannya, dan kelanjutannya itu — kata beliau — bisa mengubah banyak hal.

Aku memegang formulir itu tiga hari.

Selasa, Rabu, Jumat, jam empat sampai jam enam.

Selasa, Rabu, Jumat, jam enam lewat, aku jalan ke minimarket.

Kalau kuhitung dari sekolah langsung ke minimarket, masih bisa. Sampai jam tujuh kurang. Tapi termosnya ada di rumah, dan tehnya harus dibuat panas, dan nasinya harus dibungkus, dan itu ada di rumah, dan rumah ada di arah yang berlawanan.

Aku menghitungnya sebelas kali.

Aku mencoba menggeser: buat tehnya pagi-pagi. Tapi jam tujuh malam tehnya sudah dingin dan Mas Aries akan meminumnya tetap sambil bilang enak, dan itu lebih buruk daripada tidak sama sekali.

Aku mencoba menitipkan ke Lintang. Tapi Lintang sepuluh tahun dan jalanan itu gelap.

Aku mencoba tidak ikut hari Jumat saja. Tapi Bu Rina bilang harus tiga-tiganya.

Hari ketiga, aku melipat formulir itu jadi empat dan memasukkannya ke bawah tumpukan baju di lemari.

Aku tidak membuangnya. Aku cuma memasukkannya ke bawah tumpukan baju.

Aku tidak akan menjelaskan alasannya di sini. Nanti juga akan ada orang yang menemukannya dan menjelaskannya untukku, dengan suara yang lebih keras dari yang kuinginkan.


Sekarang bagian tentang Kak Claudia.

Aku tidak menyukainya selama enam minggu.

Bukan karena dia jahat. Dia tidak jahat. Justru itu masalahnya.

Aku sudah pernah melihat orang seperti dia. Dua tahun lalu ada ibu-ibu dari gereja yang datang tiga minggu berturut-turut membawa kardus. Setahun lalu ada mahasiswa yang membuat video tentang kami dan berjanji akan datang lagi. Ada juga Tante Ratih, yang datang setiap Lebaran, menangis, memeluk Bumi, dan pulang.

Semuanya baik. Semuanya tulus. Semuanya berhenti.

Yang tinggal cuma sembilan rumah di gang ini, yang tidak pernah menangis dan tidak pernah berjanji.

Jadi waktu Kak Claudia datang, aku menghitungnya seperti aku menghitung yang lain: berapa minggu sampai berhenti.

Tebakanku empat minggu.


Dia bertahan lewat empat minggu.

Lalu dia membayar komite Mas Aries, dan aku pikir: nah, itu dia. Itu bentuknya. Dia salah satu yang menyelesaikan masalah lalu pergi merasa lega.

Aku menyiapkan diri untuk itu.

Lalu dia menghilang tiga hari, dan aku pikir: sudah.

Lalu dia kembali.

Dengan tangan kosong.

Dan waktu aku bertanya kenapa dia kembali — dan aku bertanya dengan sengaja, dan aku sengaja tidak memberikan wajah apa pun, supaya dia tidak punya petunjuk jawaban mana yang benar —

dia bilang, “Karena rumahku sepi.”

Bukan karena aku mau bantu.

Bukan karena kasihan.

Karena rumahnya sepi.

Itu jawaban orang yang datang untuk dirinya sendiri.

Dan orang yang datang untuk dirinya sendiri tidak akan berhenti, karena tidak ada yang bisa membuatnya merasa sudah cukup berjasa lalu pulang.

Hari itu aku mengubah tebakanku.


Hari Selasa, jam setengah enam sore, aku menunggunya di mulut gang.

Dia datang jam lima empat puluh, turun dari ojek, dan langsung kaget waktu melihatku berdiri di sana.

“Sekar? Kenapa? Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa.”

“Beneran? Lintang kenapa-napa?”

“Nggak.”

Aku menyerahkan termos.

Dia menerimanya dengan dua tangan, otomatis, seperti orang menerima barang yang tidak dia mengerti.

“...Ini apa?”

“Teh.”

“Buat aku?”

“Bukan.”

Dia menatap termos itu.

“Selasa, Rabu, Jumat,” kataku. “Mas Aries duduk di undakan depan toko kelontong dua ruko sebelum minimarket. Dari jam setengah tujuh sampai jam delapan.”

Wajahnya berubah.

“Kamu tau tempat itu?”

“Aku tau sejak setahun lalu.”

“Tapi—”

“Kasih ke dia jam tujuh. Jangan lebih malem, nanti dingin.”

“Sekar, tunggu—”

“Di dalem ada nasi juga. Bawahnya. Dipisah biar nggak bau.”

“Sekar.”

Aku berhenti bicara.

“Kenapa kamu ngasih ini ke aku?”

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu selama tiga hari, dan jawabanku bagus, dan jawabanku bohong.

Jadi aku tidak memakainya.

“Karena aku cuma bisa tiga kali seminggu,” kataku. “Kakak bisa tiap hari.”

Dia membuka mulut.

Aku melanjutkan sebelum dia sempat bicara, karena kalau dia bicara duluan aku mungkin berubah pikiran.

“Aku nggak ngasih izin buat apa-apa,” kataku. “Aku nggak ngerestuin apa-apa. Aku nggak peduli Kakak suka sama Mas Aries atau nggak.”

“Sekar—”

“Aku cuma ngasih kerjaan.”

Aku menatapnya.

“Kalau Kakak berhenti di tengah, jangan bilang aku. Aku nggak mau tau. Cukup taruh termosnya di depan pintu rumah, malem-malem, biar aku nggak lihat mukanya.”

Dia tidak menjawab selama beberapa detik.

Lalu dia mengangguk, sekali.

“Oke.”


Aku sudah berbalik dua langkah waktu dia memanggil.

“Sekar.”

“Hm.”

“Tehnya... gulanya berapa?”

Aku berhenti.

Aku tidak berbalik. Aku senang aku tidak berbalik.

“Tiga,” kataku.

“Tiga sendok?”

“Iya.”

“Itu banyak banget.”

“Iya.”

Ada jeda.

“Dulu berapa?” tanyanya.

Dan aku tidak tahu bagaimana dia tahu harus bertanya itu.

Aku benar-benar tidak tahu. Aku memikirkannya berbulan-bulan setelahnya dan aku tetap tidak tahu.

“Dua,” kataku.

“Kenapa jadi tiga?”

Aku berdiri di mulut gang, membelakanginya, dan untuk pertama kalinya sejak umur sebelas tahun ada sesuatu yang naik ke tenggorokanku dan tidak mau turun.

“Karena dua nggak cukup lagi,” kataku.

Dan aku masuk ke gang tanpa menoleh.


Malam itu Mas Aries pulang jam sebelas empat puluh seperti biasa.

Aku pura-pura sudah tidur.

Dia menaruh tasnya. Duduk di lantai. Minum air yang kutaruh di meja.

Lalu dia diam agak lama.

Dan aku mendengar dia bilang, pelan sekali, ke ruangan kosong:

“...Sekar.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu masih bangun?”

Aku tidak menjawab.

Dia diam lagi.

Lalu dia berkata, dan suaranya terdengar seperti orang yang sedang menyusun kalimat dan gagal:

“Tehnya enak.”

Cuma itu.

Lalu dia berbaring di lantai dan tidur dalam dua menit, seperti biasa, seperti orang yang tubuhnya sudah menunggu izin sejak jam empat pagi.

Aku berbaring memunggungi tembok dan tidak bergerak sampai napasnya berubah.

Lalu aku bangun pelan-pelan, mengambil selimut dari kasur Bumi yang selalu ditendang ke lantai, dan menaruhnya di atas kakinya.

Cuma kakinya. Kalau seluruh badan, dia bangun.

Aku sudah tahu itu sejak umur dua belas.