← Giliranmu Istirahat

Chapter Thirty Seven

Kamu Udah Makan?

POV: Gita


Aku melanggar aturan nomor dua pada hari Selasa, tanggal dua puluh Agustus, jam empat sore.

Aturan nomor dua: tidak boleh datang di hari lain.

Aku sudah menaatinya selama sembilan belas minggu.

Dan aku melanggarnya bukan karena aku lemah, dan bukan karena aku mencari alasan — aku ingin mencatat itu, walaupun aku tahu itu persis yang akan dikatakan orang yang sedang mencari alasan.

Aku melanggarnya karena Sekar menelepon.

“Kak Gita.”

“Sekar? Ada apa?”

“Kakak bisa baca surat resmi nggak?”

“...Bisa. Kenapa?”

“Ke sini.”


Suratnya ada di meja waktu aku sampai.

Aku membacanya tiga kali.

PEMERINTAH KOTA — DINAS SOSIAL
Perihal: Undangan Pembahasan Perwalian dan Asesmen Keluarga
Kepada: Keluarga Alm. Bpk. Kurniawan / Rumah Tangga Anak
Waktu: Kamis, 12 September, pukul 09.00

Dan di bagian bawah, di poin nomor empat:

Mohon dihadiri oleh pihak keluarga dewasa (usia ≥ 21 tahun) yang bersedia diajukan sebagai calon wali.

Aku membaca poin nomor empat itu empat kali.

“Kak Gita.”

Sekar duduk di seberangku. Lintang di lantai, pura-pura mengerjakan PR, jelas mendengarkan. Bumi di kamar.

“Sekar, di rumah ini ada yang umurnya dua puluh satu?”

“Nggak ada.”

“Di gang?”

“Bu Ratmi lima puluh empat. Pak Somad lima puluh lima. Om Yusuf empat puluh dua.”

“Nah, berarti—”

“Bukan keluarga.”

Dan aku menutup mulutku, karena itu benar, dan karena aku sudah tahu itu sebelum bertanya, dan karena aku bertanya cuma supaya ada suara di ruangan itu.


Aku mengerjakan berkasnya sampai jam sembilan malam.

Ini yang bisa kulakukan, dan ini satu-satunya yang bisa kulakukan, dan aku melakukannya dengan seluruh diriku:

Aku membuat daftar. Aku selalu membuat daftar.

Yang harus disiapkan sebelum 12 September:

  1. Fotokopi akta kelahiran empat anak
  2. Kartu keluarga terbaru
  3. Akta kematian orang tua
  4. Surat keterangan ahli waris
  5. Rapor keempat anak — bukti bersekolah, tidak putus
  6. Kartu imunisasi Bumi
  7. Surat keterangan sehat dari puskesmas
  8. Surat keterangan domisili dari RT/RW
  9. Surat pernyataan dari tetangga

Nomor sembilan yang kutulis paling akhir dan yang kupikirkan paling lama.

Karena nomor satu sampai delapan cuma membuktikan bahwa keluarga ini ada.

Nomor sembilan yang membuktikan bahwa keluarga ini berjalan.

“Sekar.”

“Hm.”

“Berapa rumah di gang ini?”

“Sembilan.”

“Delapan yang bukan rumah kalian?”

“Iya.”

Aku menulis angka delapan di pojok kertas dan melingkarinya.

“Kita minta surat dari kedelapannya,” kataku. “Ditandatangani. Distempel RT.”

“Buat apa?”

“Buat nunjukin bahwa anak-anak ini nggak dibiarin sendirian.” Aku mengetuk kertasnya. “Kalau cuma ada satu remaja tujuh belas tahun, itu kelihatannya rapuh. Kalau ada sembilan rumah, itu namanya lingkungan pengasuhan.”

Sekar menatapku.

“Kakak tau istilah itu dari mana?”

“Aku cari semalem.”

“Kakak nggak tidur?”

Dan aku tidak menjawab, dan itu adalah jawaban.


Jam sembilan lewat, Lintang dan Bumi tidur.

Jam sepuluh, Sekar bilang, “Kak Gita, tidur duluan ya.”

“Iya. Aku bentar lagi pulang.”

“Nggak usah buru-buru.”

“Sekar—”

“Angkot terakhir jam sebelas lewat lima belas,” katanya. “Kakak masih ada satu jam.”

Dan dia masuk kamar.

Dan aku duduk sendirian di ruang depan rumah nomor tujuh dengan sembilan berkas dan satu daftar dan satu lampu menyala.


Aries pulang jam sebelas kurang sepuluh.

Lebih awal dari biasanya. Aku tahu jadwalnya. Semua orang di gang ini tahu jadwalnya.

Dia membuka pintu, dan berhenti.

“Git?”

“Halo.”

“Kamu... ini hari Selasa.”

“Iya.”

“Kamu biasanya Sabtu.”

“Iya.” Aku menunjuk meja. “Sekar minta bantuan berkas.”

Dan dia melihat tumpukan berkas itu.

Dan aku melihat wajahnya, dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah Aries Kurniawan selama satu setengah tahun mengenalnya:

Dia terlihat lega.

Cuma sepersekian detik. Lalu dia menghapusnya, seperti biasa.

“Kamu nggak usah repot,” katanya.

“Nggak repot.”

“Git—”

“Aries.” Aku menaruh pulpenku. “Kalau kamu bilang ‘nggak usah’ sekarang, aku bakal ngomong panjang, dan kamu bakal kalah, dan kita berdua capek. Jadi mendingan enggak.”

Dia berdiri di ambang pintu.

Lalu dia bilang, “...Oke.”

Dan menaruh tasnya, dan duduk di lantai.


Kami mengerjakannya bersama selama empat puluh menit.

Dia yang tahu di mana semua dokumennya. Aku yang tahu apa yang dibutuhkan.

Dia mengeluarkan map merah dari lemari. Fotokopi akta. Kartu keluarga yang sudah lecek di lipatannya. Rapor Sekar dari kelas tujuh — nilainya membuatku berhenti membaca selama beberapa detik.

“Git.”

“Hm?”

“Yang nomor sembilan itu apa?”

“Surat pernyataan tetangga.”

“Buat apa?”

Aku menjelaskan.

Dan dia mendengarkan sampai selesai, dan lalu dia diam agak lama, dan lalu dia bilang:

“Aku nggak bisa minta itu.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Karena itu minta tolong.”

Dan aku menaruh pulpenku dan menatapnya.

“Aries.”

“Hm.”

“Kamu udah tiga tahun benerin antena mereka.”

“Itu beda.”

“Kenapa beda?”

“Karena itu aku yang ngasih.”

“Dan ini kamu yang minta.”

“Iya.”

“Terus?”

Dan dia menatap tumpukan berkas di meja, dan dia bilang, dengan suara yang sangat pelan:

“Aku nggak bisa, Git.”

Dan aku ingin menuliskan bahwa aku berdebat, bahwa aku meyakinkannya, bahwa aku memenangkan argumen itu malam itu.

Aku tidak.

Aku bilang, “Ya udah. Aku yang minta.”

Dan dia bilang, “Jangan.”

Dan aku bilang, “Aku bukan minta izin.”

Dan dia tidak menjawab, dan aku menulis nomor sembilan di daftarku dan melingkarinya lagi.


Jam sebelas kurang dua menit.

Berkasnya sudah rapi. Sudah kususun dalam map plastik, sudah kuberi tanda, sudah kutulis daftar apa yang masih kurang.

Aku menutup mapnya.

Dan aku sadar tidak ada lagi yang harus dikerjakan.

Dan aku sadar aku duduk di lantai ruang depan rumah nomor tujuh, jam sebelas kurang dua menit, berdua saja dengan Aries Kurniawan, dengan tiga anak tidur di kamar sebelah dan satu lampu menyala dan angkot terakhir yang berangkat delapan belas menit lagi.

Aku tidak merencanakan ini.

Aku bersumpah aku tidak merencanakan ini.

Sekar yang menelepon. Sekar yang bilang “nggak usah buru-buru”. Sekar yang masuk kamar jam sepuluh.

Dan aku duduk di lantai itu dan berpikir, untuk pertama kalinya dalam sembilan belas minggu: anak itu tau.

Sekar tahu. Sekar sudah tahu sejak entah kapan, dan Sekar tidak pernah mengatakan apa pun, dan Sekar memberiku delapan belas menit.

Dan aku tidak akan pernah tahu apakah dia memberikannya sebagai kebaikan atau sebagai ujian.


“Git.”

“Hm?”

“Makasih ya.”

“Nggak apa-apa.”

“Beneran.” Dia menatap map itu. “Aku nggak ngerti surat-surat kayak gini. Aku baca tiga kali dan aku nggak ngerti poin empat.”

“Poin empat itu yang paling penting.”

“Aku tau.” Dia mengangguk. “Aku nggak ngerti, tapi aku tau itu yang paling penting.”

Dan lalu dia mengangkat kepalanya dan tersenyum sedikit — kecil, capek, tulus — dan berkata:

“Untung ada kamu.”


Tiga kata.

Aku ingin mencatat dengan tepat apa yang terjadi di dalam dadaku waktu dia mengucapkan tiga kata itu, dan aku tidak bisa, karena tidak ada kata untuk sesuatu yang naik dan jatuh secara bersamaan.

Untung ada kamu.

Dia tidak bermaksud apa-apa.

Aku tahu itu. Aku sudah kenal dia satu setengah tahun. Kalimat itu dia ucapkan dengan nada yang sama seperti dia bilang “makasih, Bang” ke Bang Jecky.

Tapi aku duduk di lantai itu dan aku merasakan semua sembilan belas minggu itu bergerak sekaligus, dan aturan-aturan yang kutulis di aplikasi catatan HP-ku terasa seperti tulisan anak kecil.

Dan aku membuka mulutku.


Aku sudah menyiapkan kalimatnya.

Tentu saja aku sudah menyiapkan.

Aku Gita Ardhani. Aku menyiapkan kalimat untuk rapat OSIS dan pertemuan orang tua dan untuk berdiri di depan kelas dan menuduh seseorang numpang di tugas kelompok.

Aku menyiapkan kalimat ini selama sembilan belas minggu.

Dan kalimatnya bagus. Kalimatnya jujur. Kalimatnya tidak menuntut apa pun — aku sengaja menyusunnya begitu, aku menghabiskan tiga minggu memastikan bahwa kalimat itu tidak menuntut apa pun, supaya dia tidak perlu merasa berutang.

Kalimatnya begini:

Aries, aku suka sama kamu. Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma pengen kamu tau.

Empat belas kata.

Aku membuka mulutku di lantai ruang depan rumah nomor tujuh, jam sebelas kurang satu menit, dan aku membuka mulutku untuk mengucapkan empat belas kata itu.

Dan yang keluar adalah:

“Kamu udah makan?”


Dia mengangguk.

“Udah.”

Dan itu saja.

Itu saja.

Empat kata dari mulutku, dua kata dari mulutnya, dan seluruh sembilan belas minggu itu selesai dalam waktu kurang dari tiga detik.

Dan yang paling buruk — yang paling buruk dari semuanya, yang membuatku menempelkan dahi ke kaca angkot dan menutup mata sepanjang jalan pulang —

adalah bahwa aku tahu dia berbohong.

Aku tahu dia berbohong karena aku punya empat lembar kertas di dalam tasku, salinan yang diberikan Claudia kepadaku bulan lalu, dua puluh empat nomor, tulisan tangan Sekar.

Nomor tiga.

Kalau Mas bilang “aku nggak lapar” atau “udah makan”, cek piring di bak cuci. Kalau nggak ada piring kotor tambahan, dia belum makan.

Aku berdiri.

Aku ke belakang, ke bak cuci semen di dinding dapur, dan aku melihat ke dalamnya.

Kosong.

Dua gelas. Piring Lintang. Piring Bumi.

Tidak ada piring ketiga.


Aku kembali ke ruang depan.

Dia sedang memasukkan map itu ke lemari.

“Aries.”

“Hm?”

Dan aku berdiri di sana dengan pertanyaan yang benar di ujung lidahku — kamu belum makan, kan — dan aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku menanyakannya.

Dia akan bilang “udah kok”.

Dan aku akan bilang “aku udah lihat bak cucinya”.

Dan dia akan tahu bahwa ada daftar. Dia akan tahu bahwa adiknya menulis dua puluh empat nomor tentangnya dan membagikannya kepada dua orang.

Dan setelah itu dia akan mencuci piringnya sendiri setiap malam supaya ada piring ketiga di bak itu.

Dan angkanya akan tetap turun, dan kami cuma akan berhenti mengetahuinya.

Aku menutup mulutku.

“Nggak jadi,” kataku.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Dan aku mengambil tasku, dan aku bilang selamat malam, dan aku keluar dari rumah itu jam sebelas lewat tiga menit.


Di mulut gang, aku berhenti dan mengeluarkan HP-ku.

Aku mengirim pesan ke Bang Jecky.

Aku punya nomornya sejak bulan Juni, untuk urusan antar-jemput Lintang.

Bang, ini Gita. Aries belum makan malam ini. Bisa tolong?

Balasannya masuk dalam empat puluh detik.

siap

Lalu:

gue bilang gue salah beli 2 ya

Lalu, satu menit kemudian:

mbak gita

iya bang?

lo baik banget dah

Dan aku berdiri di mulut Gang Kenanga jam sebelas lewat lima malam, dengan angkot terakhir sepuluh menit lagi, memegang HP retak-di-mana-pun-tidak-retak, dan aku menangis satu kali — satu, pendek, ke arah tanah — sebelum aku menghapusnya dan berjalan ke pangkalan.

Karena aku tidak baik.

Aku cuma sedang melakukan satu-satunya hal yang boleh kulakukan, dengan sangat teliti, supaya aku tidak melakukan satu-satunya hal yang tidak boleh.


Aku sampai rumah jam dua belas kurang.

Aku membuka aplikasi catatan di HP-ku.

ATURAN
1. Sabtu tetap jalan. Tidak boleh berhenti. Tidak boleh nambah.
2. Tidak boleh datang di hari lain.
3. Tidak boleh datang jam sepuluh sampai satu.
5. Tidak boleh berharap Claudia salah.
6. Kalau Bella pergi, jangan ambil tempatnya. Tetap datang. Tapi jangan ambil tempatnya.

Aku menatap nomor dua.

Lalu aku menghapusnya.

Bukan karena aku menyerah pada diriku sendiri.

Karena tanggal dua belas September ada di kalender, dan karena poin nomor empat di surat itu berbunyi usia ≥ 21 tahun, dan karena tidak ada satu pun orang di rumah nomor tujuh yang berumur dua puluh satu tahun.

Aturan tentang menjaga jarak adalah kemewahan.

Dan mulai malam itu, kami tidak punya kemewahan.