Chapter Eighteen
Kamar Mandi Mbah Tun
POV: Aries
Ada satu hal yang belum kuceritakan, dan aku menyembunyikannya bukan cuma dari kalian.
Aku menyembunyikannya dari semua orang.
Sebulan sebelum semua ini, aku dapat pekerjaan baru.
Gudang distributor minuman, dua belas kilometer dari rumah. Shift malam, jam sepuluh sampai jam dua pagi. Tiga malam seminggu: Senin, Rabu, Jumat.
Bayarannya tiga setengah kali lipat minimarket.
Aku tidak melepas minimarket. Aku mengambil dua-duanya.
Jadi hari Rabu dan Jumat, jadwalku begini:
04.25 bangun. 04.30 bongkar muat. 07.00 sekolah. 12.00 cuci piring. 13.00 sekolah lagi. 15.30 kurir. 18.30 undakan. 20.00 minimarket. 23.00 selesai. 23.15 naik motor pinjaman Bang Jecky ke gudang. 23.40 sampai. Jam dua pagi selesai. Jam setengah tiga sampai rumah.
Dua jam tidur.
Lalu jam empat dua puluh lima lagi.
Aku bilang ke semua orang bahwa aku masih di minimarket sampai jam sebelas dan langsung pulang.
Ke Sekar. Ke Bu Ratmi. Ke Bang Jecky, yang motornya kupinjam dengan alasan mengantar barang.
Ke Claudia.
Aku bohong ke semuanya, dan aku tidak merasa bersalah waktu itu, karena aku punya alasan yang bagus, dan orang yang punya alasan bagus selalu merasa dia sedang tidak berbohong. Dia merasa sedang mengatur informasi.
Alasannya ada di lemari, di dalam kaleng biskuit.
Pendaftaran SMA Negeri — Sekar Kurniawan
Uang pendaftaran: 350.000
Seragam (4 set): 780.000
Buku paket: 620.000
Uang gedung: 2.400.000
Total: 4.150.000
Batas pembayaran: 30 Juni.
Aku menghitungnya di bulan Februari.
Dengan tujuh pekerjaan, sampai Juni aku bisa mengumpulkan dua juta empat ratus.
Kurang satu juta tujuh ratus lima puluh ribu.
Dengan gudang, aku bisa mengumpulkan empat juta tiga ratus.
Lebih seratus lima puluh ribu.
Itu satu-satunya perhitungan dalam tiga tahun terakhir yang hasilnya lebih.
Aku menatap angka itu di dapur, jam satu pagi, di bulan Februari, dan aku ingat aku menaruh pensilku dan duduk di lantai dan tidak bergerak selama beberapa menit.
Lebih.
Aku belum pernah punya kata itu.
Malam itu hari Rabu.
Aku sampai di gudang jam sebelas empat puluh. Malam itu stock opname — sekali sebulan, seluruh gudang dihitung ulang, dan semua orang wajib hadir sampai selesai.
Pak Broto, kepala gudang, sudah mengingatkan tiga kali dalam seminggu.
“Malam ini nggak ada yang pulang sebelum selesai. Ngerti?”
“Ngerti, Pak.”
“Aries.”
“Iya, Pak.”
“Kamu paling muda di sini. Kamu paling cepet. Saya andelin kamu buat rak enam sampai sepuluh.”
“Siap, Pak.”
Jam dua belas lewat, aku di rak delapan.
Jam dua belas lewat dua puluh tiga, HP-ku bergetar di saku.
Aku tidak mengangkatnya. Kami tidak boleh pegang HP waktu opname.
Bergetar lagi.
Bergetar lagi.
Empat kali.
Yang meneleponku di jam dua belas malam cuma ada tiga kemungkinan, dan ketiganya buruk.
Aku turun dari tangga rak dan mengangkatnya.
“Mas.”
Suara Sekar.
Sekar tidak pernah menelepon. Dalam satu tahun, Sekar meneleponku dua kali, dan dua-duanya karena Bumi demam tinggi.
“Kenapa.”
“Mas.” Napasnya cepat. “Mbah Tun.”
“Kenapa Mbah Tun.”
“Aku denger bunyi.” Suaranya bergetar dengan cara yang belum pernah kudengar. “Tadi aku mau ke belakang, terus aku denger bunyi dari rumah Mbah. Kayak ada yang jatuh. Terus aku panggil, nggak ada yang jawab.”
“Sekar—”
“Aku ke sana, Mas. Pintunya nggak dikunci.”
“Sekar, kamu di mana sekarang.”
“Di kamar mandinya.” Dia menarik napas dan suaranya pecah. “Mbah di lantai, Mas. Dari tadi. Lantainya dingin. Aku nggak bisa angkat.”
Aku sudah berjalan ke pintu gudang sebelum dia selesai bicara.
“Aku dateng.”
“Mas kan lagi—”
“Aku dateng. Dua puluh menit.”
“Mas, minimarketnya—”
“Sekar.” Aku sudah di halaman. “Selimutin badannya. Jangan digerakin. Jangan diangkat. Panggil Bu Ratmi sama Pak Somad. Sekarang.”
“Iya.”
“Sekar.”
“Iya?”
“Kamu bagus. Kamu udah bener.”
Aku menutup telepon dan berbalik.
Pak Broto berdiri di pintu gudang.
“Mau ke mana.”
“Pak, saya harus pulang.”
“Sekarang?”
“Iya, Pak.”
“Aries, ini opname.”
“Saya tau, Pak.”
“Kamu tau ini artinya apa?”
Aku tahu.
Aku benar-benar tahu, dengan sangat jelas, dengan angka-angkanya sekalian: empat juta tiga ratus, batas 30 Juni, uang gedung dua juta empat ratus.
Aku berdiri di halaman gudang jam dua belas lewat dua puluh lima malam dan aku menghitung untuk terakhir kalinya.
“Iya, Pak. Saya tau.”
“Ada apa emangnya?”
Dan di sinilah aku melakukan hal yang belakangan tidak bisa kujelaskan ke siapa pun.
Aku bisa saja bilang. Satu kalimat. Tetangga saya jatuh, Pak, orang tua, tinggal sendirian. Pak Broto orang baik. Mungkin dia akan mengizinkan.
Tapi kalau aku bilang, itu jadi alasan.
Dan kalau aku memberi alasan, artinya aku sedang minta dimaklumi.
Dan aku sudah punya satu aturan sejak umur lima belas tahun: aku tidak minta apa-apa dari siapa pun.
“Ada urusan keluarga, Pak.”
“Urusan keluarga apa?”
“Maaf, Pak. Saya harus pergi.”
Pak Broto menatapku lama.
“Kalau kamu keluar dari pintu itu,” katanya, “besok jangan datang.”
“Iya, Pak.”
“Aries.”
“Iya, Pak?”
“Saya nggak lagi ngancem. Saya lagi ngasih tau.” Dia menggeleng pelan. “Ini opname. Ada empat orang. Kalau satu pergi, hitungannya kacau semalaman, dan yang tanggung jawab saya.”
“Saya ngerti, Pak.”
“Kamu anak paling rajin yang pernah kerja di sini.”
“Makasih, Pak.”
“Saya nggak mau kehilangan kamu.”
Aku membungkuk. Cukup dalam.
“Maaf, Pak.”
Lalu aku berbalik dan menyalakan motor pinjaman Bang Jecky dan pergi, dan aku tidak menoleh, karena kalau aku menoleh aku akan berhenti.
Aku sampai jam dua belas empat puluh delapan.
Rumah Mbah Tun sudah terang. Ada empat orang di dalam: Sekar, Bu Ratmi, Pak Somad, dan Bang Jecky yang masih memakai jaket ojolnya terbalik.
Mbah Tun masih di lantai kamar mandi, sudah diselimuti dua selimut, kepalanya diganjal bantal.
Matanya terbuka.
“Ries,” katanya. Suaranya pelan tapi jelas. “Kowe kok mrene.”
“Mbah jangan ngomong dulu.”
“Mbah ora popo.”
“Mbah.”
“Mung kepleset.”
Aku berjongkok.
Tangan kanannya bengkok di posisi yang salah. Ada memar di pelipisnya, sudah membiru, yang artinya bukan baru.
“Mbah jatuhnya jam berapa?”
“Ora ngerti.”
“Mbah.”
“...Bar Isya, paling.”
Bakda Isya.
Jam tujuh lebih.
Sekar menemukannya jam dua belas lewat dua puluh.
Lima jam.
Perempuan tujuh puluh tiga tahun di lantai kamar mandi selama lima jam, di rumah yang temboknya berbatasan dengan sembilan rumah lain yang semuanya menyayanginya.
Aku berdiri dan melihat ke dinding.
Pegangan besi itu masih di sana.
Terpasang rapi. Sekrupnya kencang. Aku sudah mengeceknya dua minggu lalu waktu lewat, dan aku mengeceknya lagi sekarang dengan menariknya sekuat tenaga, dan besinya tidak bergerak sama sekali.
“Mbah.”
“Hm.”
“Mbah nggak pegangan?”
Mbah Tun diam.
“Mbah?”
“...Adoh.”
“Apa?”
“Pegangané adoh.” Dia menggerakkan matanya ke arah tembok. “Aku tibo pas mbukak lawang. Pegangané nang kono.”
Dua langkah.
Aku memasang pegangan itu di sisi dekat bak mandi, karena aku pikir bahaya terbesar ada di dekat air.
Dia jatuh di dekat pintu.
Dua langkah dari besi yang kupasang.
Puskesmas jam satu pagi tidak seperti di film.
Sepi. Terang sekali. Lantainya bunyi kalau diinjak.
Tulang pergelangan tangan kanannya retak. Ada benturan di kepala tapi tidak parah. Dokter jaganya bilang harus dirujuk untuk dirontgen pinggulnya besok pagi.
“Yang nunggu siapa?”
“Saya, Bu.”
“Kamu cucunya?”
“...Iya.”
Aku berbohong dua kali malam itu. Sekali ke Pak Broto, sekali ke dokter.
Kedua kebohongan itu untuk hal yang sama, dan aku baru menyadari itu berbulan-bulan kemudian: dua-duanya untuk menghindari menjelaskan siapa kami satu sama lain.
Karena tidak ada kata yang benar.
Dia bukan nenekku. Aku bukan cucunya.
Dia cuma perempuan yang berbohong setiap sore selama tiga tahun supaya adik-adikku punya alasan untuk makan.
Tidak ada kolom untuk itu di formulir mana pun.
Bu Ratmi memaksa membayar. Aku menolak.
Kami berdebat di lorong puskesmas jam dua pagi, dua orang berbisik keras, sampai perawat menegur.
Akhirnya kami bagi dua.
Bagianku dua ratus tiga puluh ribu.
Sisa uangku bulan itu jadi enam puluh ribu.
Aku tidur satu setengah jam malam itu, di kursi plastik lorong puskesmas.
Jam empat aku bangun sendiri, tanpa alarm, karena tubuhku sudah tidak butuh alarm lagi.
Jam empat tiga puluh aku bongkar muat di toko Pak Han.
Jam tujuh aku sekolah.
Jam sembilan aku tertidur di bangku belakang dekat jendela, dan aku bermimpi tentang sesuatu yang tidak kuingat, dan waktu aku bangun ada tangan menahan tempat pensil di ujung mejaku supaya tidak jatuh.
Sore itu aku ke gudang.
Bukan untuk kerja. Untuk mengambil sisa gaji dua minggu.
Pak Broto menyerahkan amplopnya sendiri, tidak lewat administrasi.
“Aries.”
“Iya, Pak.”
“Semalam gimana?”
“Selesai, Pak.”
“Yang di rumah?”
“Sudah aman.”
Dia mengangguk.
“Kalau bulan depan ada lowongan lagi, kamu saya panggil.”
“Makasih, Pak.”
“Aries.”
“Iya?”
“Kamu tadi malem nggak mau cerita alasannya, ya?”
Aku diam.
“Kenapa?”
Dan aku tidak menjawab, dan Pak Broto menghela napas, dan menepuk bahuku sekali, dan masuk ke dalam.
Jam enam sore aku sudah punya rencana baru.
Aku menghitungnya di atas motor pinjaman, di lampu merah, di kepala.
Tanpa gudang, sampai 30 Juni aku bisa mengumpulkan dua juta tiga ratus.
Kurang satu juta delapan ratus lima puluh ribu.
Opsi: cuci motor ditambah. Cari borongan Minggu sore. Jual HP dan beli yang lebih murah.
Masih kurang.
Opsi terakhir: mundurkan pendaftaran Sekar satu tahun. Dia masuk tahun depan. Umur lima belas masuk SMA bukan hal aneh, banyak yang begitu.
Aku menghitung opsi itu selama tiga detik.
Lalu aku menghapusnya dan tidak pernah menghitungnya lagi.
Malam itu aku ke puskesmas.
Mbah Tun sudah dipindah ke ruangan. Tangannya digips. Dia sedang mendengarkan radio kecil yang entah bagaimana sudah ada di sana.
“Ries.”
“Malam, Mbah.”
“Lungguh.”
Aku duduk.
Dia menatapku lama sekali, dengan cara orang tua menatap yang membuatmu merasa dia sedang membaca sesuatu di belakang wajahmu.
“Ries.”
“Iya, Mbah.”
“Mau bengi kowe kerjo, ta?”
Dan aku sudah punya jawabannya sebelum dia selesai bertanya, karena aku sudah menyiapkannya sepanjang perjalanan ke sini, karena aku tahu dia akan bertanya.
“Enggak, Mbah,” kataku. “Libur.”
“Libur?”
“Iya. Rabu emang libur.”
Mbah Tun menatapku.
Dan aku menatap balik, dan aku menahan wajahku tetap datar, dan aku bahkan tersenyum sedikit di ujung.
“Oh,” katanya akhirnya. “Yo wis.”
Dan dia kembali ke radionya.
Dan aku duduk di sebelahnya sampai jam sembilan malam, dan mengupas jeruk, dan kami tidak membicarakan apa pun yang penting.
Aku pikir aku berhasil.
Aku benar-benar berpikir begitu, selama tiga minggu.
Aku tidak tahu bahwa Mbah Tun sudah berumur tujuh puluh tiga tahun, dan bahwa perempuan tujuh puluh tiga tahun sudah mendengar terlalu banyak anak berbohong dengan wajah datar, dan bahwa satu-satunya alasan dia bilang “yo wis” malam itu
adalah karena dia sedang terlalu lelah untuk bertengkar,
dan karena dia sudah tahu ke mana harus bertanya kalau dia sudah keluar dari rumah sakit.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun reading
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu