Chapter Thirty Nine
Sembilan Rumah, Satu Barisan
POV: Bu Ratmi
Aku jualan di gang ini sejak tahun sembilan puluh delapan.
Dua puluh delapan tahun. Warung yang sama, kompor yang sama sampai tahun dua ribu delapan belas, bangku plastik biru yang sama sampai sekarang walaupun sudah retak di dua tempat dan aku ganjal pakai triplek.
Aku sudah melihat anak-anak di gang ini lahir, sekolah, nikah, pindah.
Anak keduaku pindah ke Kalimantan tahun dua ribu dua puluh dan pulang setahun sekali kalau ada rezeki.
Jadi kalau ada yang tanya kenapa aku begini sama anak-anak nomor tujuh itu, jawabannya bukan karena aku orang baik.
Jawabannya karena warungku buka dari jam lima pagi sampai jam sepuluh malam, dan selama tujuh belas jam itu aku duduk menghadap gang, dan aku melihat semuanya.
Aku melihat semuanya, setiap hari, selama tiga tahun.
Dan orang yang melihat sesuatu setiap hari selama tiga tahun tidak punya pilihan lagi.
Ada satu hal yang belum pernah kuceritakan kepada anak itu.
Aku sudah tiga tahun tidak menceritakannya, dan aku tidak akan menceritakannya sampai mati, dan aku menuliskannya di sini cuma supaya ada yang tahu.
Pagi itu, tanggal empat Maret, jam setengah tujuh.
Ibunya lewat depan warungku.
Dia sudah rapi. Mau ke kondangan saudaranya di luar kota, sama bapaknya, naik motor.
Dan dia berhenti, seperti biasa, karena dia selalu berhenti.
“Mbak Ratmi.”
“Yo, Bu?”
“Nitip anak-anak ya.”
Itu saja.
Tiga kata. Sambil membetulkan kerudungnya. Sambil tertawa kecil.
Kalimat yang diucapkan ibu-ibu setiap hari di seluruh Indonesia, seribu kali sehari, tanpa arti apa-apa.
“Nitip anak-anak ya.”
Dan aku bilang, “Yo wis, ndang budhal.”
Dan dia pergi.
Jam empat sore hari itu, ada telepon.
Dan sejak jam empat sore hari itu, tiga kata itu berhenti jadi basa-basi.
Aku tidak percaya takdir dan aku tidak percaya firasat dan aku sudah lima puluh empat tahun dan aku tahu itu cuma kebetulan.
Tapi aku juga tahu ini: ibunya menitipkan anak-anaknya kepadaku jam setengah tujuh pagi, dan jam empat sore dia tidak ada.
Dan aku tidak pernah bilang tidak.
Jadi kalau kalian bertanya kenapa aku memasak berlebih setiap hari selama tiga tahun — bukan aku, itu Mbah Tun, aku beda lagi caranya —
kalau kalian bertanya kenapa aku menyuruh setiap orang yang lewat warungku untuk duduk dan makan, kenapa aku tidak pernah mau menerima uang dari anak itu, kenapa aku memarahi Aries Kurniawan seperti aku memarahi anakku sendiri —
itu bukan kebaikan.
Itu titipan.
Dan orang yang dititipi tidak berhak merasa berjasa.
Sekarang soal surat itu.
Gita yang datang. Anak perempuan yang rapi, yang ketua kelas, yang tiap Sabtu ke sini sejak bulan April.
Dia datang hari Rabu sore membawa kertas dan pulpen dan wajah orang yang sudah menyiapkan pidato.
“Bu Ratmi, saya mau minta tolong.”
“Njaluk tulung opo?”
“Surat pernyataan, Bu. Dari tetangga. Isinya keterangan bahwa anak-anak nomor tujuh diasuh dan dijaga oleh lingkungan.”
“Kanggo opo?”
“Untuk dibawa ke Dinas Sosial tanggal dua belas.”
Aku menaruh sendokku.
“Sing njaluk sopo? Aries?”
“Bukan, Bu.” Dia menggeleng. “Aries nggak mau minta.”
“Yo mesti.”
“Beliau bilang itu minta tolong.”
Dan aku mengelap tanganku di celemek dan duduk di bangku plastik biru itu, dan aku menatap anak perempuan itu, dan aku bertanya:
“Nduk. Kowe ngerti ora, telung taun iki bocah kuwi wis nulungi wong pirang-pirang nang gang iki?”
“...Nggak tau persis, Bu.”
“Aku ngerti.” Aku menunjuk kepalaku. “Aku ngitung.”
Aku ambil buku warungku.
Buku warung itu buku tulis biasa, isinya utang pembeli. Siapa ngutang berapa, tanggal berapa, sudah bayar atau belum.
Tapi ada satu halaman di belakang yang bukan utang.
Aku buka halaman itu dan aku putar ke arah Gita.
“Iki opo, Bu?”
“Woco.”
Dan dia membacanya.
Tulisan tanganku jelek. Aku tahu. Aku cuma tamat SMP dan sudah lima puluh empat tahun dan tanganku gemetar kalau menulis lama.
Tapi tanggalnya benar semua.
12 Mei — Ries mbenerke kompor
18 Mei — Ries ngangkat kulkas Bu Ning
3 Juni — Ries dorong motor Jecky nganti bengkel
9 Juni — Ries mbenerke atap warung sing bocor
21 Juni — Ries jemput anake Bu Ning nang sekolah
2 Juli — Ries mbenerke kran Mbah Tun
14 Juli — Ries ngangkat mesin fotokopi Yusuf
Empat halaman.
Tiga tahun.
“Bu Ratmi...”
“Aku wiwit nyathet taun kepungkur,” kataku. “Merga aku wedi lali.”
“Takut lupa?”
“Iyo.” Aku menutup bukunya. “Merga suk nek ana wong takon bocah kuwi wong apa dudu, aku ora pengin mung ngomong ‘apik’. Aku pengin nduwe tanggalé.”
Malam itu aku keliling.
Delapan rumah. Aku sendiri yang keliling, bukan Gita, karena Gita anak orang dan ini gang kami.
Rumah nomor satu, Pak Somad.
Dia lagi di bengkel jam sembilan malam.
“Mad.”
“Hm.”
“Ana surat sing kudu ditandatangani.”
“Surat opo.”
Aku jelaskan.
Dia mendengarkan sampai selesai. Tidak bertanya sekali pun.
Lalu dia mengelap tangannya, masuk ke dalam, dan keluar lagi membawa kacamata baca yang sudah pecah di satu sisi.
“Endi.”
Dia membaca. Dua menit. Lalu tanda tangan.
Lalu dia bilang, “Ratmi.”
“Opo.”
“Nek kudu teka, aku melu.”
“Nang kantor Dinas?”
“Iyo.”
“Kowe ora kerjo?”
Dan laki-laki itu — yang dalam sepuluh tahun mungkin bicara denganku total lima ratus kalimat — melepas kacamatanya dan bilang:
“Bengkelku wis rong puluh taun ora tutup.”
Lalu dia diam sebentar.
“Tanggal rolas tak tutup.”
Rumah nomor tiga, Om Yusuf.
Ini yang paling repot, dan yang paling banyak gunanya.
“Bu Ratmi, sebentar.”
Dia masuk ke belakang tokonya dan keluar membawa kardus.
Kardus air mineral. Penuh.
“Iki opo, Yus?”
“Arsip.”
Dia membukanya.
Dan aku berdiri di depan toko fotokopi itu jam setengah sepuluh malam dan melihat isinya, dan aku harus duduk.
Fotokopi rapor Sekar, kelas tujuh sampai sembilan. Semua semester.
Fotokopi rapor Lintang, kelas satu sampai empat.
Fotokopi kartu imunisasi Bumi. Lengkap. Semua titiknya.
Fotokopi surat-surat sekolah. Kuitansi SPP. Bukti bayar seragam.
Fotokopi ijazah SMP Aries.
Fotokopi kartu keluarga, tiga versi, karena tiga kali diperbarui.
“Yusuf.”
“Iya, Bu?”
“Kowe nyimpen kabeh iki?”
“Iya.”
“Kawit kapan?”
Dan dia menutup kardusnya dan bilang, dengan suara biasa saja:
“Dari hari pertama, Bu. Waktu saya ngurus akta kematiannya.”
“Telung taun?”
“Tiga tahun.”
“Kanggo opo?”
Dan Om Yusuf — laki-laki empat puluh dua tahun yang tokonya kecil dan yang tidak pernah bicara lebih dari yang perlu —
berkata:
“Bu, saya ini tukang fotokopi.”
Dia mengetuk kardusnya sekali.
“Saya nggak bisa angkat galon. Saya nggak bisa masak. Saya nggak bisa nemenin anak-anak belajar.” Dia mengangkat bahu. “Yang saya bisa cuma satu: kalau suatu hari ada orang datang minta bukti, saya punya.”
Rumah nomor lima, Bu Ning.
Ini yang paling lama.
Karena begitu aku menjelaskan, perempuan itu langsung menangis.
“Ning—”
“Bu, mereka mau ngambil Bumi?”
“Durung mesthi.”
“Bu, saya yang nyusuin dia.”
“Aku ngerti.”
“Sembilan bulan, Bu.” Dia menutup mulutnya. “Anak saya sendiri sampai kurang.”
“Ning.”
“Saya tanda tangan, Bu. Saya tanda tangan sepuluh kali kalau perlu.”
Dan dia menandatangani, dan tangannya bergetar, dan tanda tangannya jelek sekali.
Dan lalu dia bilang sesuatu yang membuatku berdiri di depan rumahnya lebih lama dari yang kurencanakan.
“Bu Ratmi.”
“Opo.”
“Kalau nanti ditanya kenapa saya mau nyusuin anak orang,” katanya, “saya jawab apa?”
“Yo jujur wae.”
“Jujurnya jelek, Bu.”
“Piye?”
Dan dia menghapus matanya dan bilang:
“Waktu itu saya baru lahiran. Saya depresi, Bu. Saya nggak mau bangun dari kasur. Suami saya sampai bingung.”
Dia menarik napas.
“Terus Aries dateng ke sini jam sembilan malam, gendong Bumi yang nangis dari sore, mukanya udah nggak ada bentuknya.” Suaranya pecah. “Terus dia nggak minta apa-apa. Dia cuma nanya, ‘Bu, ini gimana caranya diem?’”
Aku diam.
“Dan saya bangun dari kasur,” kata Bu Ning. “Buat pertama kalinya dalam dua minggu.”
Dia menatapku.
“Jadi kalau ditanya siapa yang nolong siapa, Bu, saya bingung jawabnya.”
Rumah nomor delapan, Mbah Tun.
Yang ini aku sisakan paling akhir karena aku tahu ini yang paling berat.
Dia sudah tidur waktu aku sampai. Aku bangunkan.
“Mbah.”
“Hm... sopo?”
“Ratmi.”
Dia bangun. Duduk. Tangan kanannya masih kurus, masih pucat, walaupun gipsnya sudah lepas dua bulan.
Aku jelaskan.
Dan dia mendengarkan dengan mata setengah tertutup, dan waktu aku selesai, dia berkata:
“Ndi kertasé.”
Dia menandatangani.
Lalu dia menyerahkan kertasnya kembali dan bilang:
“Rat.”
“Opo, Mbah.”
“Nek mengko ditakoni aku sopo-né bocah kuwi, aku kudu ngomong opo?”
Dan aku duduk di kursi rotan di ruang depan rumah paling kecil di gang ini, jam sepuluh malam, dan aku tidak punya jawaban.
Karena memang tidak ada.
Perempuan tujuh puluh tiga tahun ini bukan nenek mereka. Bukan saudara. Bukan apa-apa secara surat.
Dia cuma orang yang setiap sore selama tiga tahun mengetuk pintu rumah nomor tujuh dan berbohong tentang takaran masakannya.
“Mbah ngomong wae sing sakbenere,” kataku akhirnya.
“Sakbenere piye?”
“Sing telung taun kuwi.”
Dan Mbah Tun menatap tangan kanannya yang kurus, dan berkata:
“Nek aku ngomong sakbenere, aku kudu ngomong nek aku ngapusi bocah kuwi saben sore telung taun.”
“Iyo.”
“Kuwi apik apa elek?”
Dan aku bilang, dan aku bilang dengan yakin sekali walaupun aku tidak yakin:
“Kuwi apik, Mbah. Kuwi paling apik.”
Delapan tanda tangan.
Aku kumpulkan semuanya dalam dua malam. Om Yusuf yang mengetik ulang dan memfotokopi. Pak RT yang menstempel — beliau tidak bertanya apa-apa, cuma bilang “Kok baru sekarang”, dan aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku menyerahkannya ke Gita hari Jumat.
Delapan surat. Satu kardus arsip. Satu buku warung yang kufotokopi empat halamannya.
“Bu Ratmi...”
“Wis, gowo.”
“Ini banyak banget, Bu.”
“Kurang.”
“Bu?”
Dan aku menatap anak perempuan itu, dan aku bilang hal yang sudah kupikirkan sejak malam pertama:
“Nduk, iki kabeh mung nunjukke nek bocah-bocah kuwi ana sing ngurusi.”
“Iya, Bu. Itu kan yang penting?”
“Dudu.”
Aku mengelap tanganku di celemek.
“Sing dibutuhke kuwi wong dewasa,” kataku. “Sing umuré rong puluh siji. Sing jenengé iso ditulis nang kertas.”
Gita diam.
“Lan awake dhewe ora nduwe kuwi,” kataku.
Sekarang aku mau menulis bagian yang paling tidak enak.
Anak itu tidak tahu satu pun dari semua ini.
Aries tidak tahu bahwa aku keliling delapan rumah selama dua malam.
Aries tidak tahu bahwa Om Yusuf punya kardus.
Aries tidak tahu bahwa Pak Somad akan menutup bengkelnya tanggal dua belas untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun.
Aries tidak tahu bahwa Bu Ning menangis di depan rumahnya sambil memegang pulpen.
Dan kami sepakat — tanpa membicarakannya, cuma dengan saling melihat di gang — untuk tidak memberitahunya sampai hari H.
Kenapa?
Karena kalau dia tahu, dia akan datang ke sembilan rumah dan minta maaf.
Dia akan berkata “nggak usah, Bu” ke setiap orang.
Dan kalau ada yang tetap memaksa, dia akan mulai menghitung lagi, dan menambah kerja lagi, dan mencari cara membayar lagi, dan berat badannya akan turun lagi.
Aku sudah tiga tahun duduk menghadap gang ini.
Aku hafal dia.
Jumat malam, jam sebelas empat puluh, aku sedang menutup warung waktu dia lewat.
“Malem, Bu.”
“Malem, Ries.”
“Bu Ratmi belum tidur?”
“Sik ngresiki.”
“Saya bantu.”
“Ora usah, ndang mulih.”
“Bentar aja, Bu.”
Dan dia mengangkat dua meja tanpa kuminta, seperti biasa, seperti tiga tahun terakhir.
Dan waktu selesai dia berdiri di depan warungku dan bilang, “Udah, Bu. Saya pulang.”
“Ries.”
“Iya, Bu?”
Dan aku menatap anak itu.
Tujuh belas tahun. Kurus. Bau semen. Lingkar matanya hitam sejak umur lima belas.
Anak dari perempuan yang berhenti di depan warungku jam setengah tujuh pagi tanggal empat Maret dan bilang tiga kata sambil tertawa kecil.
“Ries.”
“Iya, Bu?”
Dan aku hampir mengatakannya.
Aku hampir menceritakan semuanya — soal ibunya, soal tiga kata itu, soal kenapa aku begini selama tiga tahun.
Tapi kalau kuceritakan, anak itu akan berpikir dia adalah beban titipan.
Jadi aku bilang:
“Sesuk ojo lali sarapan.”
Dan dia bilang, “Iya, Bu.”
Dan dia pulang.
Dan aku menutup rolling door warungku dan berdiri di gang yang gelap selama beberapa detik, dan aku berkata pelan-pelan ke arah rumah nomor tujuh, ke arah pintu yang sudah tertutup, ke arah perempuan yang sudah tiga tahun tidak ada:
“Isih tak titipke, Bu.”
Masih kutitipkan.
“Tapi aku wis tuwo.”
Tapi aku sudah tua.
“Lan tanggal rolas iki, aku ora ngerti isih cukup apa ora.”
Dan tanggal dua belas ini, aku tidak tahu masih cukup atau tidak.
- 1 Dua Puluh Empat Jam
- 2 Alamat yang Salah
- 3 Ketua Kelas
- 4 Bukan Bella
- 5 Sembilan Rumah
- 6 Surat dari BK
- 7 Amplop
- 8 Tiga Hari Tanpa Gang
- 9 [Kesaksian] Buku Sampul Biru
- 10 PR Matematika
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tiga Sendok
- 13 Halte, Hujan, Bahu
- 14 Tugas Pacar Apa?
- 15 Biar Nggak Kepisah
- 16 Sepuluh Menit di Seberang Jalan
- 17 [Kesaksian] Penebusan yang Murah
- 18 Kamar Mandi Mbah Tun
- 19 Yang Tidak Boleh Dibayar
- 20 Setiap Sabtu
- 21 Sekolah Cinta Sekar
- 22 Angkot Terakhir
- 23 Rumah yang Terlalu Besar
- 24 [Kesaksian] Ayah Aku Kerja
- 25 Panik
- 26 Kencan Empat Puluh Menit
- 27 Hari Ayah di SD
- 28 Yang Dihitung Setiap Minggu
- 29 Dua Perempuan, Satu Bak Cuci
- 30 Tanpa Peringatan
- 31 Cermin
- 32 Yang Tidak Bisa Dicabut
- 33 [Kesaksian] Yang Selama Ini Kupegang
- 34 Sembilan Detik
- 35 Pura-Pura Tidur
- 36 Tamu yang Sopan
- 37 Kamu Udah Makan?
- 38 Kolom Kosong
- 39 Sembilan Rumah, Satu Barisan reading
- 40 [Kesaksian] Data Anak Sepuluh Tahun
- 41 Yang Datang Menjemput Bumi
- 42 Setelah Semua Orang Pulang
- 43 Giliranmu Istirahat
- 44 Kalau Aku Nyeberang Malam Itu
- 45 Sekali Saja
- 46 Kata yang Terakhir Kudengar
- 47 Mau Jadi Apa
- 48 Orang Kelima
- 49 Jam Lima Pagi
- 50 Delapan Kali Salah
- 51 [Kesaksian] Tentang Kakak Kami
- 52 Giliranmu