Chapter Nine
Sepuluh Nama
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Damar, Bu Sri (lewat telepon), Allysa (lewat pesan)
Pengumumannya keluar hari Kamis jam empat sore, dan aku baru membukanya jam sembilan malam.
Bukan karena aku sibuk. Aku duduk di kamar sejak jam empat, tahu persis bahwa daftarnya sudah tayang, dan aku tidak membukanya selama lima jam.
Di hidup pertamaku, aku akan menyebut itu nggak enak hati. Sekarang aku tahu namanya apa. Namanya menunda kekalahan supaya bisa hidup lima jam lebih lama sebagai orang yang belum kalah.
Aku sudah menyiapkan diri sepenuhnya. Aku sudah menyusun kalimat yang akan kukatakan ke Damar. Aku bahkan sudah merencanakan gambar berikutnya, supaya begitu penolakan itu masuk, aku sudah punya tempat untuk melangkah.
Jam sembilan aku jalan ke warnet, membayar delapan ribu, dan membuka halamannya.
Sepuluh nama.
Aku membacanya dari atas, pelan-pelan, seperti orang mengecek daftar korban.
Nama keempat.
Bintang Mahendra — Anak yang Menoleh
Aku membacanya lagi. Lalu sekali lagi. Lalu aku menggeser layar ke bawah untuk memastikan ini memang daftar finalis dan bukan daftar peserta.
Bukan. Ada 617 peserta.
Aku duduk di bilik warnet nomor tiga, di antara suara tembakan dari game anak SMA di bilik sebelah, dan aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Bukan menangis. Kali ini bukan.
Aku cuma perlu menutup wajah selama sekitar satu menit karena ada sesuatu yang bergerak terlalu cepat di dalam dadaku dan aku takut mukanya kelihatan.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa aku memang tidak cukup bagus, dan aku membangun seluruh hidupku di atas keyakinan itu, dan aku memilih pekerjaan berdasarkan keyakinan itu, dan aku memilih siapa yang boleh memperlakukanku bagaimana berdasarkan keyakinan itu.
Dan ternyata cuma butuh satu kali kirim.
Satu kali. Sembilan hari mengerjakan. Delapan ribu rupiah di warnet.
Itu bagian yang paling sulit kutelan malam itu, dan aku masih belum sepenuhnya menelannya sampai sekarang: bukan bahwa dunia menolakku selama sepuluh tahun.
Dunia tidak pernah sempat menolakku.
Aku tidak pernah mengetuk.
Aku menelepon Damar dari warnet, dan dia berteriak begitu keras sampai anak SMA di bilik sebelah melepas headphone-nya dan menoleh.
“ANJIR. ANJIR! Bin! Gue bilang apa? GUE BILANG APA?”
“Belum menang, Mar. Baru finalis.”
“BODO AMAT. Sepuluh dari enam ratus, Bin!”
“Enam ratus tujuh belas.”
“NAH!”
Aku tertawa sampai perutku sakit, di bilik warnet, jam setengah sepuluh malam.
“Gue ke kos lo sekarang,” katanya. “Kita makan. Gue traktir.”
“Lo nggak punya duit.”
“Gue punya tujuh belas ribu.”
“Ya udah gue yang traktir.”
“Nah gitu dong.”
Kami makan nasi goreng di pinggir jalan, jam sebelas malam, di gerobak yang lampunya cuma satu bohlam kuning dan bangkunya panjang tanpa sandaran.
Damar bicara tanpa henti selama dua puluh menit. Tentang bagaimana dia sudah tahu dari dulu. Tentang bagaimana dia akan minta tanda tangan sekarang selagi murah. Tentang bagaimana dia akan pasang statusnya besok pagi.
Lalu di tengah dia menyeruput teh tawar panas, dia berhenti.
“Bin.”
“Hm.”
“Lo tau nggak apa yang paling gue kesel dari lo?”
“Apa?”
“Lo tuh dari dulu bagus.” Dia menaruh gelasnya. “Serius. Dari semester dua. Dan lo tuh selalu ngomong kayak orang yang lagi minta maaf udah ada di ruangan.”
Aku berhenti mengunyah.
“Gue pernah nunjukin gambar lo ke temen gue anak DKV,” lanjut Damar, mengaduk nasgornya. “Dia bilang lo bakal masuk mana aja kalau lo mau. Gue bilangin ke lo, lo bilang ‘ah, dia belum liat yang lain.‘”
“Gue nggak inget.”
“Ya lo nggak inget karena lo emang nggak dengerin.” Damar mengangkat bahu. “Gue udah capek ngomong. Terus gue diem aja.”
Aku memandangi piringku.
Di hidup pertama, tujuh tahun setelah malam ini, laki-laki ini akan berhenti meneleponku. Dan selama tujuh tahun aku menyimpan cerita di kepalaku bahwa dia yang meninggalkanku, bahwa dia berubah setelah kerja, bahwa memang begitu pertemanan orang dewasa.
Ternyata polanya sudah ada dari semester dua.
Orang bilang aku bagus. Aku menolak. Orang bilang aku bagus lagi. Aku menolak lagi. Sampai orangnya capek dan berhenti bilang.
Lalu bertahun-tahun kemudian aku duduk di apartemen orang lain dan berpikir tidak ada yang pernah bilang aku bagus.
“Mar.”
“Hm?”
“Bilang lagi dong.”
Damar menoleh. “Hah?”
“Yang tadi. Bilangin lagi.”
Dia menatapku seperti aku baru saja meminta ginjalnya.
“...Lo bagus?”
“Iya.”
“Lo bagus.”
“Sekali lagi.”
“Anjir.” Damar tertawa, lalu memukul bahuku dengan punggung tangan. “LO BAGUS, BIN. LO BAGUS BANGET. PUAS?”
Bapak penjual nasi goreng menoleh.
“Puas,” kataku.
Dan aku menghabiskan nasi gorengku dengan mata perih, dan Damar tidak berkomentar apa-apa, dan itu salah satu malam terbaik dalam dua kehidupanku.
Aku menelepon Ibu keesokan paginya.
Aku sengaja menunggu sampai pagi karena Ibu tidur jam sembilan dan akan panik kalau ada telepon malam.
“Halo?”
“Bu.”
“Kenapa? Ada apa? Kamu sakit?”
“Nggak, Bu. Nggak apa-apa.”
“Terus kenapa nelepon pagi-pagi? Ibu kira ada apa-apa.”
Aku tersenyum sendiri di kamar kos.
“Bu, aku ikut lomba gambar.”
“Hah?”
“Lomba gambar. Buat buku anak. Terus aku masuk sepuluh besar dari enam ratus tujuh belas orang.”
Hening di seberang.
Lalu — dan ini yang tidak kuduga sama sekali — Ibu tertawa. Tertawa keras, tertawa yang jarang sekali kudengar, tertawa yang membuat suaranya jadi muda.
“Ya ampun,” katanya. “Ya ampun. Bin.”
“Kenapa ketawa?”
“Nggak. Ibu—“ Dia berhenti. Aku mendengar dia menarik napas. “Ibu tuh dulu mikir kamu bakal berhenti.”
Aku diam.
“Kamu dari kecil suka gambar. Terus makin gede makin nggak pernah cerita.” Suaranya melunak. “Ibu kira udah nggak. Ibu nggak berani nanya, takut kamu kepikiran.”
Aku duduk di tepi kasur dan menatap dua gambar yang tertempel di tembok dengan selotip.
“Iya,” kataku. “Sempet berhenti.”
“Terus sekarang mulai lagi?”
“Iya.”
“Ya udah. Bagus.” Ibu berdeham. “Jangan berhenti lagi ya.”
“Iya, Bu.”
“Beneran ya.”
“Iya.”
“Ya udah, Ibu mau ke pasar. Cabai naik lagi, lho, delapan belas ribu.”
Dan telepon ditutup, karena begitulah Ibu.
Aku memandangi ponselku, dan aku memikirkan sesuatu yang membuat dadaku sesak dengan cara yang aneh:
Di hidup pertama, ini tidak pernah terjadi. Bukan karena Ibu berbeda. Karena aku tidak pernah punya apa pun untuk diceritakan.
Tiga tahun sebelum Ibu meninggal, di telepon terakhir yang panjang, dia bertanya “gimana kerjaan?” dan aku bilang “ya gitu, Bu.”
Dan itu jawaban yang jujur.
Wawancaranya hari Selasa berikutnya. Kantor penerbit di daerah Kebayoran, gedung tiga lantai dengan lift yang hanya muat empat orang.
Aku datang empat puluh menit lebih awal dan duduk di lobi memandangi rak berisi buku-buku terbitan mereka.
Ada satu buku bergambar sapi memakai topi. Aku mengambilnya, membacanya sampai habis — dua belas halaman — dan mengembalikannya.
Lalu aku duduk lagi.
Dan aku merasakan sesuatu yang tidak kuduga: gugup yang bersih.
Ini terdengar aneh, tapi aku tidak tahu cara lain menyebutnya. Selama sepuluh tahun, setiap kali aku gugup, gugupnya selalu bercampur sesuatu yang lain — takut merepotkan, takut mengecewakan, takut menghabiskan waktu orang. Gugup yang isinya permintaan maaf.
Di lobi itu aku cuma gugup. Titik. Karena aku menginginkan sesuatu dan aku belum tahu apakah akan dapat.
Aku duduk di sana dan memutar-mutar perasaan itu di tangan seperti orang memeriksa batu yang baru dipungut.
Ternyata beginirasanya menginginkan sesuatu untuk diri sendiri.
Aku umur tiga puluh empat dan aku baru merasakannya sekarang.
Wawancaranya empat puluh lima menit dan dilakukan oleh dua orang: seorang bapak-bapak kepala studio yang banyak diam, dan seorang perempuan yang banyak bicara.
Perempuan itu yang membuka map berisi karyaku.
“Anak yang Menoleh,” katanya. “Ini kamu yang nulis ceritanya juga?”
“Iya.”
“Ilustrator yang nulis sendiri itu jarang.” Dia membalik halaman. “Biasanya kalau ilustrator nulis, ceritanya bagus tapi gambarnya jelek. Atau sebaliknya.”
“Punya saya yang mana?”
Dia mengangkat wajah, kaget, lalu tertawa — keras, tanpa ditahan sedikit pun, sampai bapak-bapak di sebelahnya melirik.
“Berani juga,” katanya.
Dia menutup mapnya dan menyandarkan siku ke meja.
“Halaman enam,” katanya. “Waktu anak itu ditanya ‘kamu minta maaf buat apa?’ terus dia diem. Itu halaman terbaiknya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu nggak ngasih jawaban.” Dia mengetuk meja dengan pena. “Sembilan dari sepuluh orang bakal nulis di situ, ‘karena dia takut dimarahin’ atau apa. Kamu nggak. Kamu biarin kosong.”
Aku menelan ludah.
“Anak-anak lebih pinter dari yang orang kira,” lanjutnya. “Mereka tau kalau lagi dikasih jawaban yang gampang.”
Lalu dia mengulurkan tangan.
“Kirana, by the way. Editor. Saya yang bakal ngerecokin kamu kalau nanti masuk sini.”
Aku menyalaminya.
“Bintang.”
“Iya, saya tau.” Dia tersenyum. “Nama kamu tuh gampang banget diinget.”
Aku pulang jalan kaki sampai halte, dan aku merasa ringan, dan aku menyadari sesuatu di tengah jalan yang membuatku berhenti melangkah:
Aku ingin memberitahu seseorang.
Bukan Damar. Damar sudah kuberitahu, dan dia sudah berteriak, dan dia akan berteriak lagi nanti. Bukan Ibu; Ibu akan kutelepon nanti malam.
Ada dorongan lain, yang datang lebih dulu dari keduanya, yang muncul begitu saja di detik aku keluar dari gedung itu.
Aku ingin memberitahu satu-satunya orang di dunia yang tahu berapa lama aku tidak menggambar.
Bukan sepuluh hari. Bukan sebulan.
Lima tahun. Kardus di gudang apartemen dengan lakban yang sudah menguning.
Cuma ada satu orang di planet ini yang tahu bahwa itu pernah terjadi, dan orang itu mengirimiku pesan tiap malam jam sembilan, dan aku tidak pernah membalasnya sekali pun.
Aku berdiri di trotoar Kebayoran dengan ponsel di tangan selama mungkin dua menit penuh.
Lalu aku memasukkannya ke saku dan naik angkot.
Malam itu pesannya masuk seperti biasa, 21.14.
Semoga harimu baik hari ini.
Aku membacanya jam sebelas, seperti biasa, sebelum tidur.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa aku sudah mulai menunggunya.
[Bersambung ke Bab 10 — POV Allysa]