Chapter Forty Four
Yang Tidak Bisa Kuterima
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bintang, Bu Ratna, Kirana (lewat telepon)
Setelah sebelas bulan itu selesai, aku pikir bagian yang sulit sudah lewat.
Aku salah, dan aku salah dengan cara yang membuatku malu selama berbulan-bulan.
Karena ternyata bercerita tentang sepuluh tahun terburuk dalam hidupku — termasuk hal-hal yang membuatku mual waktu mengucapkannya — ternyata itu bukan bagian tersulit.
Bagian tersulit datang setelahnya, dan bentuknya sangat kecil.
Bentuknya: laki-laki itu mulai memberiku sesuatu.
Yang pertama sebuah payung.
Aku ingin kalian mengerti betapa kecilnya ini. Sebuah payung. Lipat tiga, warna biru tua, harganya mungkin lima puluh ribu.
Dia datang ke Surabaya di bulan Februari — kunjungan pertama setelah sebelas bulan itu selesai, dan kunjungan pertama yang bukan untuk bercerita — dan dia mengeluarkannya dari tasnya di meja makan.
“Buat kamu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Ya buat dipake.”
“Aku punya payung.”
Bintang mengangkat alisnya.
“Ya punya dua kalau gitu.”
Dan aku duduk di meja makan itu dan merasakan sesuatu naik di dadaku yang tidak masuk akal sama sekali.
Panas. Cepat. Dan bentuknya seperti panik.
“Bintang, aku nggak butuh.”
“Lys, ini payung.”
“Aku tau ini payung.” Suaraku keluar lebih tajam dari yang kumau. “Aku cuma—“
Aku berhenti.
Dan laki-laki itu duduk di seberangku dan menatapku, dan dia tidak marah, dan dia tidak menarik payungnya kembali.
Dia cuma bilang, pelan:
“Lys, kenapa?”
Dan aku tidak bisa menjawabnya.
Aku berdiri, mengambil piring-piring kotor, dan pergi ke dapur. Dan aku mencuci piring selama sepuluh menit dengan air yang terlalu panas sampai tanganku merah.
Payung itu masih di meja waktu aku kembali.
Aku menaruhnya di lemari sepatu malam itu dan tidak memakainya selama tujuh bulan.
Setelah itu makin sering.
Bukan hadiah besar. Dia tidak pernah membeli apa pun yang mahal — aku pikir dia sengaja, dan bertahun-tahun kemudian dia mengakui bahwa iya, dia sengaja.
Yang dia lakukan lebih kecil dan lebih tidak bisa kulawan.
Dia membawakan kopi dari kedai di seberang stasiun tiap kali datang, karena dia tahu aku suka yang di sana.
Dia mengganti keran kamar mandi yang bocor tanpa memberitahuku, dan waktu aku menyadarinya dua hari kemudian dan bertanya, dia bilang “oh iya, kemarin”.
Dia menghubungi bengkel dan mengurus servis mobilku waktu aku sedang tidak sempat.
Dan tiap kali, tanpa gagal, aku merasakan hal yang sama:
Panas, cepat, panik.
Dan tiap kali, aku merespons dengan salah satu dari dua cara — dan butuh delapan bulan sampai aku bisa melihat polanya.
Cara pertama: aku mengecilkannya. Ah, nggak usah repot-repot. Aku bisa sendiri.
Cara kedua, dan ini yang lebih parah: aku membalasnya dalam tiga hari.
Dia membawakan kopi, dan hari berikutnya aku mengirim sesuatu ke studionya di Jakarta. Dia mengganti keran, dan minggu depannya aku mengurus sesuatu untuk usahanya yang tidak pernah dia minta.
Selalu lebih besar. Selalu cepat.
Dan aku menyebutnya perhatian.
Kirana yang menyebutkannya lebih dulu, lewat telepon, di bulan keenam.
Aku sedang bercerita — bukan mengeluh, aku pikir aku sedang bercerita — tentang bagaimana Bintang mengurus servis mobilku, dan tentang bagaimana aku membalasnya dengan mengurus sesuatu yang lebih besar.
Dan Kirana diam agak lama di seberang telepon.
Lalu dia bilang:
“Mbak.”
“Hm?”
“Mbak tau nggak Mbak barusan ngomong kayak siapa?”
“Kayak siapa?”
Dan perempuan itu — yang tidak tahu apa-apa tentang sepuluh tahun, yang tidak akan pernah tahu — bilang:
“Kayak Bintang, dulu.”
Aku menaruh gelasku.
“Ran—“
“Empat tahun, Mbak.” Suaranya pelan. “Empat tahun aku ngasih dia sesuatu terus dia balikin lebih gede dalam tiga hari. Tiap kali. Sampai aku capek dan berhenti ngasih.”
Hening di teleponku.
“Dan waktu aku bilang ke dia,” lanjut Kirana, “dia nggak ngerti. Dia beneran nggak ngerti, Mbak. Dia pikir dia lagi baik.”
Aku duduk di sofa apartemen Gubeng dan menutup mataku.
“Ran.”
“Iya?”
“Aku nggak tau caranya berhenti.”
Dan Kirana bilang sesuatu yang membuatku menempelkan tangan ke mulut:
“Ya makanya dulu aku pergi, Mbak.”
Aku hampir mengakhirinya di bulan kedelapan.
Aku ingin menuliskan ini apa adanya, karena kalau tidak, seluruh bagian ini akan terdengar seperti kesulitan kecil yang bisa dilewati dengan kesadaran.
Bukan.
Aku duduk di lantai kamar di suatu malam bulan Oktober dan menyusun kalimat untuk mengakhirinya, dan aku menyusunnya sampai selesai, dan aku hampir mengirimnya.
Alasannya — dan alasannya bagus, alasannya adalah jenis alasan yang bisa kutuliskan di kertas dan tidak ada satu pun orang yang bisa membantahnya:
Laki-laki ini menghabiskan tiga tahun belajar cara memberi dan menerima. Dia berdiri di lorong lantai sembilan dan meminta tolong dan itu butuh tiga tahun latihan.
Dan aku tidak bisa menerima payung.
Kalau aku tinggal, aku akan melakukan padanya persis apa yang dia lakukan pada Kirana selama empat tahun. Aku akan mengembalikan segalanya dengan bunga sampai laki-laki itu berhenti mencoba, dan dia akan berhenti mencoba dengan sangat sopan, dan suatu hari dia akan berdiri di suatu tempat dan sadar bahwa dia sudah mengecil lagi.
Aku sudah pernah mengecilkan orang itu sekali. Sepuluh tahun.
Aku tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya, dengan bentuk yang berbeda, sambil menyebutnya cinta.
Aku menyusun pesannya sampai selesai. Empat paragraf.
Dan aku duduk di lantai kamar dengan ibu jariku di atas tombol kirim selama mungkin lima belas menit.
Lalu Ibu mengetuk pintu kamarku.
“Kamu belum tidur?”
“Belum, Bu.”
Dia masuk tanpa diundang, seperti biasa, dan duduk di tepi kasurku.
Perempuan tujuh puluh tujuh tahun dengan rambut yang sudah dilepas dari ikatannya.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Lys.”
Aku menaruh ponselku di lantai, telungkup.
“Aku mau ngakhirin,” kataku.
Ibu tidak bereaksi sama sekali.
“Kenapa?”
Dan aku menceritakan semuanya. Payung. Kopi. Keran. Servis mobil. Tiga hari. Lebih besar. Kirana. Empat tahun.
Ibu mendengarkan sampai habis.
Lalu dia bilang:
“Kamu inget nggak waktu kamu kecil, Ibu jahitin baju lebaran kamu?”
Aku mengerjap.
“Bu, ini—“
“Jawab dulu.”
“...Inget.”
“Tiap tahun,” katanya. “Sampai kamu SMP. Terus kamu bilang nggak usah, kamu mau beli aja.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatap lantai.
“Karena aku malu.”
“Malu kenapa?”
“Karena anak lain beli di toko.”
Ibu mengangguk pelan.
“Kamu tau nggak Ibu ngerasa gimana waktu kamu bilang gitu?”
Aku tidak menjawab.
“Ibu ngerasa nggak berguna,” katanya, dengan nada yang benar-benar biasa. “Itu satu-satunya yang bisa Ibu kasih ke kamu waktu itu, Lys. Ibu nggak punya duit. Ibu nggak bisa ngajarin kamu apa-apa. Ibu cuma bisa jahit.”
Kamar itu sunyi.
“Terus kamu nolak,” katanya. “Dan Ibu bilang ‘ya udah’. Dan Ibu nggak pernah jahitin kamu lagi.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Bu—“
“Ibu nggak lagi nyalahin kamu.” Dia menepuk lututku sekali. “Kamu umur tiga belas. Anak umur tiga belas emang gitu.”
Dia menarik napas.
“Ibu cuma mau kamu tau bentuknya dari sisi yang satunya.”
Aku menurunkan tanganku.
“Waktu kamu nolak dikasih,” kata Ibu, “kamu nggak lagi ngelindungin orangnya, Lys. Kamu lagi bilang ke dia bahwa dia nggak punya apa-apa yang cukup berharga buat kamu terima.”
Dia berdiri dari tepi kasur.
“Itu bukan rendah hati.”
Dan dia berjalan ke pintu.
“Bu.”
Dia berhenti.
“Terus aku harus gimana?”
Dan ibuku — yang belajar berenang di umur enam puluh dua, yang menarik kembali sebelas kata setelah dua puluh tujuh tahun lewat telepon — menoleh dan bilang:
“Ya pake payungnya.”
Aku memakai payung itu hari Selasa berikutnya.
Hujan sore, aku pulang kerja, dan aku mengeluarkannya dari lemari sepatu dan membukanya di depan lobi kantor.
Dan aku berdiri di bawah payung biru tua seharga lima puluh ribu itu di trotoar Surabaya sambil menangis, dan orang-orang lewat dan melihatku dan tidak ada yang bertanya, dan itu bagus.
Aku mengirim satu foto ke Bintang malam itu.
Payungnya, terbuka, di lantai ruang tamu supaya kering.
Tidak ada teks.
Dia membalas empat menit kemudian.
Nah.
Dan lalu:
Basah nggak?
Dan aku mengetik jawabannya sambil masih menangis di sofa:
Nggak.
Bagus.
Aku tidak sembuh setelah malam itu.
Aku ingin sangat jelas soal itu, karena aku sudah dua puluh enam tahun belajar bahwa tidak ada satu pun malam yang menyelesaikan apa pun.
Tapi aku mulai punya alat.
Aturannya kubuat sendiri, di catatan yang sama dengan sembilan poin lama itu, dan aturannya cuma dua.
1. Kalau dia ngasih sesuatu, jangan bales apa pun selama tujuh hari.
Aku baru tahu setahun kemudian bahwa laki-laki itu punya aturan yang sama persis, dengan angka yang sama persis, ditulis tiga tahun sebelum aku menulisnya.
Kami menemukannya sendiri-sendiri, di dua kota, tanpa pernah membicarakannya.
Waktu akhirnya ketahuan — di dapur, tidak sengaja, karena dia menyebutkan “tujuh hari” dan aku menaruh piring yang sedang kupegang — kami berdua tertawa sampai Ibu keluar dari kamar untuk memeriksa apa yang terjadi.
2. Kalau kamu ngerasa panik waktu dikasih, bilang. Jangan diem.
Yang kedua jauh lebih sulit, dan aku gagal berkali-kali.
Tapi di suatu hari Sabtu di bulan Desember, waktu dia membawakan sesuatu lagi — aku bahkan tidak ingat apa — dan aku merasakan panas itu naik lagi di dadaku,
aku menaruh tanganku di meja dan berkata:
“Bintang, aku lagi panik.”
Dan laki-laki itu berhenti bergerak.
Lalu dia duduk. Dan dia bilang:
“Oke. Kita diem dulu.”
Dan kami duduk di meja makan itu tanpa bicara selama mungkin empat menit, dengan benda apa pun itu di antara kami, sampai dadaku berhenti panas.
Lalu aku mengambilnya.
Dan aku bilang, “Makasih.”
Dan dia bilang, “Sama-sama.”
Dan tidak ada satu pun dari kami yang menambahkan apa-apa setelah itu.
[Bersambung ke Bab 45 — POV Bintang]