Chapter Twenty Nine
Kalimat yang Ditarik Kembali
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Bu Sri, Kirana, Damar
Dua hari sebelum Ibu pergi, dia menyuruhku membuka jendela.
Kamarnya di rumah, bukan di rumah sakit. Kami sudah membawanya pulang tiga minggu sebelumnya, karena itu yang dia minta, dan karena kali ini ada seseorang yang bertanya apa yang dia mau.
“Bin.”
“Iya, Bu.”
“Jendelanya.”
Aku membukanya. Angin sore masuk, membawa bau tanah karena hujan baru berhenti, dan suara anak-anak main bola di lapangan ujung gang.
Ibu memandangi jendela itu agak lama.
“Kucingnya masih ada nggak?”
“Masih. Yang matanya sebelah udah gede banget sekarang, Bu. Gendut.”
“Ya iyalah. Kamu kasih makan terus.”
Aku duduk di kursi di samping ranjangnya. Kursi kayu yang kupindahkan dari ruang tamu tiga minggu lalu dan tidak pernah kukembalikan.
Kami diam beberapa menit.
Suara bola. Suara anak berteriak. Suara motor lewat.
“Bin.”
“Iya?”
“Kamu udah makan?”
“Udah, Bu.”
“Bohong.”
“Nanti aku makan.”
“Ya makan sekarang.”
“Nanti.”
Dia menoleh, dan tenaganya sudah tidak cukup untuk membuat wajah galak, tapi dia mencobanya juga.
Aku pergi ke dapur, mengambil nasi dan telur, dan makan di kursi kayu itu sambil dia menonton.
Dan begitu suapan terakhir masuk, dia bilang:
“Nah.”
Seolah itu pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga.
Kirana datang hari itu juga, jam delapan malam, langsung dari terminal.
Dia masuk ke kamar dengan rambut berantakan dan tas yang selempangnya melorot, dan Ibu menoleh dan bilang:
“Ran. Kamu kurusan.”
“Ibu juga.”
“Ya Ibu emang lagi sakit. Kamu apa alesannya.”
Kirana tertawa sampai matanya berair, dan aku tidak tahu apakah itu tawa atau bukan.
Malam itu dia yang menemani sampai jam dua pagi supaya aku bisa tidur. Aku tidak tidur; aku berbaring di ruang tengah dan mendengarkan suara mereka berdua dari kamar, pelan-pelan, sesekali tertawa kecil.
Aku ingin menuliskan itu di sini, terpisah dari yang lain, supaya jelas:
Perempuan itu naik bus enam jam untuk duduk di kursi kayu di kamar ibuku sampai jam dua pagi. Dia melakukannya berkali-kali selama dua tahun tujuh bulan. Dia tidak pernah sekali pun mengeluh, tidak pernah sekali pun mengungkitnya, tidak pernah sekali pun menggunakannya untuk apa pun.
Dan enam bulan setelah malam itu, aku melepasnya.
Bukan karena dia kurang. Tidak ada satu pun yang kurang dari perempuan itu.
Aku ingin itu tercatat, apa pun yang terjadi setelahnya di cerita ini.
Malam terakhir yang benar-benar dia sadar penuh adalah hari Senin.
Aku sedang membetulkan bantalnya waktu dia memegang pergelangan tanganku.
Genggamannya lemah. Kurus sekali. Dan aku ingat berpikir bahwa aku belum pernah benar-benar memperhatikan tangan ibuku seumur hidupku — tangan yang menjahit selama tiga puluh tahun untuk membiayai satu orang.
“Bin.”
“Iya, Bu.”
“Ibu mau ngomong.”
“Iya.”
Dia menarik napas, dan ada bunyi yang tersangkut di dadanya, dan dia menunggu bunyi itu lewat.
“Nanti kalau Ibu udah nggak ada,” katanya, “kamu jangan ngerepotin orang ya.”
Dan begitu kalimat itu keluar, aku merasakan sesuatu jatuh di dalam dadaku.
Bukan sedih.
Capek. Capek yang sangat tua, capek yang umurnya lebih tua dari sepuluh tahun bersama Allysa, capek yang sudah ada di sana sejak umur enam tahun.
Aku bilang, “Iya, Bu.”
Seperti yang kukatakan ratusan kali sepanjang hidupku.
Dan Ibu diam.
Aku menoleh.
Perempuan itu sedang menatap langit-langit dengan kening berkerut, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak beres dan sedang mencoba menemukan letaknya.
“Bu?”
“Bentar.”
Dia diam lagi. Napasnya berbunyi.
Dan lalu, sangat pelan:
“Ibu selalu bilang gitu ya sama kamu.”
Aku tidak menjawab.
“Dari kecil.” Suaranya makin pelan. “Tiap kamu mau berangkat sekolah. Tiap kamu main ke rumah orang. Jangan ngerepotin ya, Bin.”
Tangannya masih di pergelangan tanganku.
“Berapa kali coba Ibu bilang gitu.”
Kamar itu sunyi. Kipas angin berputar pelan. Di luar ada suara jangkrik.
“Bu, nggak apa-apa—“
“Bin, denger dulu.”
Aku diam.
Ibu menarik napas lagi, dan kali ini butuh waktu lebih lama, dan aku hampir memanggil Kirana.
“Ibu waktu itu takut,” katanya. “Ibu sendirian, ndak punya apa-apa, dan Ibu takut orang-orang mikir Ibu nggak becus. Jadi Ibu pastiin kamu nggak pernah nyusahin siapa-siapa.”
Dia menoleh, dan menatapku, dan matanya jernih sekali malam itu — lebih jernih dari tiga minggu terakhir.
“Ibu nggak kepikiran kamu bakal bawa itu.”
Aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku dan aku menelannya.
“Bu, aku nggak—“
“Kamu bawa,” katanya. “Ibu liat. Dari kamu SD.”
Genggamannya mengencang sedikit.
“Kamu tuh kalau abis nendang bola langsung nengok ke Ibu. Tiap kali. Nengok dulu, baru liat bolanya masuk apa nggak.”
Aku menunduk dan menutup mata dan air mataku jatuh ke seprai.
“Ibu tarik,” kata Ibu.
Aku mengangkat wajah.
“Yang tadi. Yang Ibu bilang barusan.” Napasnya berat. “Ibu tarik. Nggak jadi.”
“Bu—“
“Denger.” Dia menepuk pergelangan tanganku, dua kali, pelan sekali. “Kamu ngerepotin aja, Bin.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Kamu ngerepotin orang.” Suaranya bergetar sekarang. “Yang banyak. Yang sering. Sampai orangnya kesel.”
“Bu.”
“Ngerepotin orang itu boleh.” Dia menarik napas lagi. “Itu bukan dosa. Ibu salah.”
Dan aku menunduk sampai dahiku menyentuh tepi ranjang dan aku menangis dengan cara yang tidak pernah kulakukan bahkan di malam aku pulang dan menemukan pintu itu terbuka empat setengah tahun lalu.
Ibu menaruh tangannya di kepalaku.
“Ya udah,” katanya. “Ya udah, Bin. Ya udah.”
Dan dia membiarkannya di situ sampai aku selesai.
Ada satu hal lagi malam itu, yang lebih pendek, dan yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun sampai bertahun-tahun kemudian.
Menjelang aku pamit tidur, Ibu memanggilku lagi.
“Bin.”
“Iya, Bu.”
“Ibu nanya satu.”
“Iya.”
Dia memandangi langit-langit.
“Kamu pernah patah hati parah ya.”
Aku berdiri di ambang pintu kamar dan tidak bergerak.
“Kenapa Ibu nanya gitu?”
“Ya Ibu ibu kamu.” Dia mengangkat bahu, satu sentimeter. “Kamu balik ke sini empat tahun lalu, nangis di depan pintu kayak orang kesurupan. Ibu nggak nanya waktu itu.”
“Iya.”
“Sekarang Ibu nanya.”
Aku berdiri di ambang pintu itu, dan aku memikirkan sepuluh tahun, dan perempuan di gang dengan buku dua ratus tiga belas halaman, dan aspal yang hangat di pipi di perempatan Jalan Kemuning.
“Iya, Bu,” kataku. “Pernah.”
Ibu mengangguk pelan.
“Udah sembuh?”
Dan aku berdiri di sana selama beberapa detik terlalu lama.
“Udah,” kataku.
Ibu menoleh ke arahku.
Dan perempuan itu — dua hari sebelum meninggal, dengan napas yang tersangkut, dengan tenaga yang tidak cukup untuk mengangkat kepalanya dari bantal — perempuan itu menatapku dan bilang:
“Bin. Ibu udah mau mati. Jangan bohong.”
Aku menempelkan punggung ke kusen pintu.
“Belum, Bu,” kataku.
“Nah.”
Dan dia menoleh ke langit-langit lagi, puas, seperti orang yang baru saja membereskan satu hal terakhir dari daftarnya.
“Ya udah,” katanya. “Nanti diberesin.”
Ibu meninggal hari Rabu, jam sepuluh lewat empat pagi.
Aku memegang tangannya. Kirana ada di ruangan. Tetangga sudah berkumpul di ruang tamu sejak subuh karena begitulah kampung bekerja — orang tahu sebelum diberi tahu.
Aku tidak akan menuliskan bagaimana rasanya.
Bukan karena tidak sanggup. Karena aku sudah pernah kehilangan perempuan ini sekali, dan waktu itu aku tidak ada di ruangan, dan aku menghabiskan tujuh tahun berikutnya membayangkan bagaimana rasanya kalau aku ada.
Sekarang aku tahu.
Dan yang bisa kukatakan cuma ini: rasanya sakit sekali, dan itu jauh lebih baik.
Damar sampai jam dua siang. Dia naik travel dari Jakarta, berangkat jam delapan pagi begitu kutelepon.
Dia memelukku di halaman, di depan semua orang, dan tidak berkata apa-apa selama satu menit penuh.
Lalu dia melepas dan bilang, “Gue urus konsumsi.”
Dan dia mengurus konsumsi, seharian, tanpa disuruh.
Sekitar jam empat sore dia menghampiriku di teras belakang, tempat aku duduk sendirian untuk pertama kalinya sejak pagi.
“Bin.”
“Hm.”
Damar duduk di sebelahku. Dia menggosok tengkuknya, canggung, dengan cara yang tidak pernah kulihat.
“Ada satu hal. Gue nggak tau harus ngomong apa nggak.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Di parkiran,” katanya. “Yang deket masjid.”
“Kenapa?”
Damar memandangi kebun singkong tetangga.
“Ada mobil dari tadi siang. Dari jam satu.”
Aku tidak bicara.
“Gue liat pas beli es batu jam dua.” Dia mengangkat bahu. “Terus gue lewat lagi jam setengah empat. Masih ada.”
“Mar.”
“Iya.”
“Siapa?”
Dan Damar menoleh dan menatapku, dan dia tidak menyebut nama, karena dia tidak perlu.
Aku berdiri dari teras belakang dan berjalan mengitari rumah ke arah jalan.
Dari situ, lewat pagar, aku bisa melihat parkiran kecil di samping masjid — tanah, tanpa aspal, biasanya dipakai orang parkir motor kalau ada acara.
Ada satu mobil di ujung. Sedan abu-abu.
Kaca depannya memantulkan sinar sore jadi aku tidak bisa melihat ke dalam.
Aku berdiri di balik pagar rumah ibuku, di hari ibuku meninggal, dan memandangi mobil itu selama mungkin dua menit.
Dan aku memikirkan tiga hal, berurutan, dan aku ingat ketiganya dengan sangat jelas sampai sekarang.
Yang pertama: ngapain dia ke sini.
Yang kedua, datang beberapa detik kemudian, dan lebih pelan: dia nggak masuk.
Sudah tiga jam lebih. Rumah ini penuh orang. Tidak ada satu pun yang akan menghentikannya kalau dia turun dan masuk — di kampung, siapa pun boleh melayat, tidak ada yang bertanya siapa.
Dia tidak masuk.
Dan yang ketiga — yang membuatku berbalik dan kembali ke rumah tanpa melakukan apa-apa:
Kalau aku ke sana sekarang, apa pun yang aku bilang, itu tentang aku.
Kalau aku menyuruhnya pulang, itu untuk membuatku merasa punya kendali.
Kalau aku memanggilnya masuk, itu untuk membuatku merasa jadi orang baik di hari aku paling ingin merasa jadi orang baik.
Perempuan itu tidak datang untuk diurus. Kalau dia mau diurus, dia sudah keluar dari mobil tiga jam lalu.
Jadi aku tidak melakukan apa-apa.
Aku kembali ke dalam rumah, dan aku duduk di samping jenazah ibuku bersama orang-orang yang mengaji, dan aku tidak memberitahu siapa pun kecuali Damar bahwa aku tahu.
Mobil itu masih di sana jam tujuh malam.
Masih di sana jam sembilan.
Aku memeriksanya lewat jendela ruang tengah, dua kali, dan aku tidak akan berpura-pura bahwa aku tidak memeriksanya.
Sekitar jam sepuluh malam, waktu tamu terakhir sudah pulang dan tinggal keluarga jauh yang menginap, aku ke jendela lagi.
Parkirannya kosong.
[Bersambung ke Bab 30 — POV Allysa]
- 1 Barang yang Tidak Kubawa
- 2 Empat Kalimat
- 3 Suara yang Sudah Tujuh Tahun Tidak Kudengar
- 4 Pintu yang Tidak Dibuka
- 5 Tangan yang Masih Ingat
- 6 Nomor Satu
- 7 Dibaca Jam Sebelas Malam
- 8 Es Teh Dua
- 9 Sepuluh Nama
- 10 Sepuluh Tahun Lagi
- 11 Yang Tidak Bisa Ditarik
- 12 Hal yang Tidak Kupakai
- 13 Bulan Kedelapan
- 14 Perempuan yang Naik Tangga
- 15 Paket Tanpa Nama Pengirim
- 16 Yang Kutulis untuk Dibaca Sekali
- 17 Aku Tahu
- 18 Izin Tanpa Harapan
- 19 Dari Seberang Jalan
- 20 Yang Tidak Kuketahui
- 21 Sebelah Kiri
- 22 Aturan Ruang Rapat
- 23 Ruangan yang Terkunci
- 24 Satu Kali Membantu
- 25 Ibu Datang ke Jakarta
- 26 Laki-laki yang Tidak Salah Apa-apa
- 27 Sekarang Aku Tahu
- 28 Lembar di Tangan
- 29 Kalimat yang Ditarik Kembali reading
- 30 Sembilan Jam
- 31 Empat Puluh Menit
- 32 Hal yang Paling Berbahaya
- 33 Bayar Utang ke Orang Lain
- 34 Teman
- 35 Kabar Baik
- 36 Kota yang Tidak Ada Dia di Dalamnya
- 37 Enam Baris
- 38 Halaman yang Butuh Empat Belas Tahun
- 39 Cara Meminta
- 40 Perempuan yang Punya Rumah
- 41 Yang Kubawa dari Jakarta
- 42 Empat Puluh Satu Hari
- 43 Dua Sisi
- 44 Yang Tidak Bisa Kuterima
- 45 Kursi di Samping Kasur
- 46 Satu Hal Terakhir
- 47 Lunas
- 48 Sebelas Kalimat
- 49 Orang yang Nyentuh Duluan
- 50 Jam Sebelas Malam
- 51 Epilog — Sebelah Kiri