← Chapters Ch. 22 / 51

Chapter Twenty Two

Aturan Ruang Rapat

POV: Allysa

Karakter: Allysa, Bintang, Bagas, Kirana


Aku tahu namanya akan muncul tiga minggu sebelum rapat pertama.

Daftar kontributor dari penerbit masuk ke emailku hari Rabu, lampiran PDF, dua halaman. Aku membukanya sambil menelepon vendor dengan bahu menahan ponsel di telinga.

Baris kedelapan.

Aku menyelesaikan telepon itu — enam menit lagi, tentang jadwal server — dengan suara yang benar-benar normal.

Lalu aku menutup telepon, menaruh ponselku, dan duduk memandangi layar.

Dan hal pertama yang kupikirkan bukan senang. Bukan juga takut.

Yang kupikirkan: dia akan mengira aku yang mengatur ini.

Aku menghabiskan dua puluh menit berikutnya menyusun rencana untuk mundur dari proyek itu. Aku bahkan sudah membuka pesan ke atasanku dan mengetik dua kalimat.

Lalu aku menghapusnya.

Bukan karena mulia. Karena kalau aku mundur, aku harus memberi alasan, dan tidak ada satu pun alasan yang bisa kuberikan tanpa berbohong. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri — poin nomor dua, tiga tahun lalu, di bawah hujan — bahwa aku tidak akan pernah mengatur keadaan lagi supaya menghasilkan sesuatu.

Mundur juga mengatur keadaan.

Jadi aku menulis aturan.

Sungguh, di buku catatan kerjaku, halaman yang kusobek dari bagian belakang, dengan pulpen kantor. Empat baris.

Selama proyek ini:

  1. Jangan pernah berdua saja dengannya. Kalau tidak sengaja terjadi, akhiri dalam dua menit.
  2. Jangan bicara apa pun di luar pekerjaan. Tidak ada basa-basi personal. Tidak menanyakan kabar.
  3. Kalau ada keputusan yang menguntungkan dia, pastikan ada orang lain yang mengusulkannya, atau pastikan alasannya bisa dijelaskan ke siapa pun tanpa menyebut dia.
  4. Kalau kamu mulai menunggu-nunggu hari rapat, keluar dari proyek.

Aku melipat kertas itu dan menyelipkannya di sampul belakang buku catatanku.

Aku memegang tiga dari empatnya.


Rapat pertama berjalan baik dan aku bangga pada diriku sendiri.

Bukan karena aku tampil bagus — aku memang bagus, itu bukan pencapaian, itu pekerjaanku dan aku sudah tujuh tahun melakukannya.

Aku bangga karena selama dua jam itu aku memperlakukan laki-laki itu persis seperti aku memperlakukan Rendra dan Mbak Ratih dan semua orang lain di ruangan.

Aku menyebut namanya empat kali. Aku menolak salah satu idenya sekali, dengan alasan yang jelas, di depan sebelas orang. Aku tidak melihat ke arahnya lebih lama dari yang wajar.

Dan waktu Pak Har bertanya kenapa aku merevisi proposal bagi hasil, aku menjawabnya dengan alasan bisnis yang sepenuhnya benar — karena memang benar, karena itu memang alasannya, karena aturan nomor tiga.

Aku merevisi proposal itu tiga minggu sebelum aku tahu namanya ada di daftar.

Aku ingin menuliskan itu supaya jelas, bahkan kalau tidak ada yang percaya: revisinya tanggal 8. Daftar kontributornya masuk tanggal 29.

Aku memeriksanya malam itu, di rumah, membuka folder lama cuma untuk memastikan.

Karena aku perlu tahu — untuk diriku sendiri, bukan untuk siapa pun — bahwa aku masih orang yang melakukan hal benar tanpa ada dia di ruangan.


Aku melanggar aturan nomor dua di hari yang sama.

Makan siang. Restoran padang. Sebelas orang, meja panjang.

Dan pelayan menaruh gelas di depan tiap orang, dan aku melihat tangan itu bergerak — refleks, tanpa berpikir, dalam setengah detik — memindahkan gelas ke sebelah kiri piring.

Aku sudah melihatnya berkali-kali sejak rapat pertama. Di ruang rapat, waktu air mineral dibagikan. Waktu kami minum kopi di sesi kedua.

Tiap kali, tangan itu bergerak.

Dan tiap kali, aku menahan diri.

Hari itu aku tidak menahan diri.

Aku ingin menjelaskan kenapa, karena kalau tidak, ini akan terdengar seperti taktik. Aku bersumpah itu bukan taktik. Aku sudah menghabiskan tiga tahun membongkar setiap dorongan di dalam diriku untuk mencari mana yang punya kail tersembunyi di dalamnya, dan aku sudah cukup terlatih untuk mengenali kalau ada.

Yang terjadi di restoran itu tidak punya kail.

Yang terjadi adalah ini: aku sudah lelah menyimpannya.

Selama tiga tahun aku menyimpan sepuluh tahun tentang laki-laki itu di dalam kepalaku, dan tidak ada satu orang pun di dunia yang bisa kuajak bicara tentangnya, dan sebagian besar isinya adalah hal-hal buruk yang kulakukan.

Tapi ada beberapa yang bukan.

Ada beberapa hal yang aku tahu tentang dia — bukan dari menyakitinya, bukan dari mengelolanya — cuma dari duduk di seberangnya tiga ribu enam ratus lima puluh kali dan akhirnya, terlambat, mulai melihat.

Dan itu satu-satunya hal yang kupunya yang bukan racun.

Jadi aku mengucapkannya. Sekali. Sambil menuang sambal.

Dan aku menetapkan tiga syarat untuk diriku sendiri sebelum membuka mulut, dan aku memegang ketiganya:

Tidak menoleh ke arahnya. Tidak menunggu jawaban. Tidak pernah mengucapkannya lagi.

Aku menaruh sendok sambalku dan mulai makan, dan aku tidak melihat wajahnya sama sekali.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di wajah itu. Aku baru tahu bertahun-tahun kemudian, dan waktu dia menceritakannya aku harus menaruh piring yang sedang kucuci.

Yang kutahu waktu itu cuma satu hal: dia berdiri dari meja beberapa menit kemudian dan pergi ke toilet, dan dia tidak kembali selama cukup lama.

Dan aku duduk di meja itu menghabiskan makananku sambil mendengarkan Bagas bercerita tentang macet, dan aku tertawa di tempat yang tepat, dan tidak ada satu pun orang di meja itu yang tahu apa yang baru saja terjadi.

Malamnya aku membuka buku catatan kerjaku, mengeluarkan kertas terlipat itu, dan mencoret aturan nomor dua.

Lalu aku menulis ulang di bawahnya:

2. (revisi) Boleh sekali. Sudah dipakai. Habis.


Aku bertemu Kirana enam minggu kemudian.

Aku sudah menyiapkan diri sejak proyek ini dimulai. Aku tahu dia editor di penerbit itu; aku sudah melihat namanya di daftar yang sama, tiga baris di atas nama Bintang.

Kami belum pernah berada di ruangan yang sama sampai sesi peninjauan naskah hari Kamis itu.

Dia masuk terlambat lima menit, dengan tumpukan kertas dan tas yang selempangnya melorot, dan dia langsung minta maaf ke seluruh ruangan dengan suara keras.

“Maaf maaf maaf, printer-nya ngambek.”

Dan dia duduk di kursi kosong, tepat di seberangku.

“Halo. Kirana.”

“Allysa.”

Kami bersalaman.

Dan dia tidak mengenaliku sama sekali.

Aku tidak tahu kenapa aku berharap dia akan mengenali. Kami bertemu sekali, tiga tahun lalu, selama sepuluh detik, di depan gerbang kos-kosan pada malam hari. Aku bilang aku salah alamat. Dia bilang oh, oke.

Tidak ada alasan sama sekali untuk dia mengingatku.

Tapi ada bagian di dalam diriku — bagian yang tidak akan pernah kubanggakan — yang merasa bahwa malam itu adalah salah satu malam terpenting dalam hidupku, dan karena itu seharusnya juga penting bagi orang lain yang ada di sana.

Bukan. Bagi Kirana, malam itu adalah malam dia memasak sup untuk rekan kerjanya yang sakit dan berpapasan dengan perempuan yang salah alamat.

Itu saja seluruhnya.


Sesi itu berjalan tiga jam, dan aku akan menuliskan sesuatu yang sulit:

Perempuan itu hebat.

Dia membela naskahnya dengan keras. Dia bertengkar denganku — sungguh bertengkar, dua kali, tentang pemotongan teks untuk layar kecil — dan dia menang sekali dan kalah sekali, dan waktu dia kalah dia bilang “oke, saya salah” dengan suara keras tanpa satu pun rasa malu.

Dia menyela Bintang di tengah kalimat: “Bin, itu bukan poin kamu. Poin kamu yang halaman sebelas.”

Dan Bintang berhenti, berpikir sebentar, lalu bilang “oh iya” dan melanjutkan dari halaman sebelas.

Aku melihat itu terjadi dari seberang meja.

Perempuan itu tahu isi kepala laki-laki itu lebih baik daripada laki-laki itu sendiri, di tengah rapat, dan dia mengoreksinya di depan sembilan orang, dan tidak ada satu pun kecanggungan di antara mereka.

Aku menunduk ke catatanku dan menulis sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan rapat, cuma supaya tanganku bergerak.


Dia menghampiriku di lift setelahnya.

“Mbak Allysa!”

Aku menahan pintu.

Dia masuk sambil mengatur tumpukan kertasnya. “Duh, maaf ya tadi saya ngotot banget.”

“Nggak apa-apa. Bagus kok.”

“Bagus gimana? Saya galak.”

“Ya bagus. Orang yang nggak ngotot berarti nggak peduli sama naskahnya.”

Kirana menoleh dan tersenyum lebar.

“Nah! Itu! Bilangin ke bos saya.”

Lift turun. Angka-angkanya berkedip.

Dan di antara lantai empat belas dan lantai sepuluh, dia bicara lagi:

“Mbak, boleh nanya nggak? Ini di luar kerjaan.”

Perutku dingin.

“Boleh.”

“Mbak kenal Bintang dari dulu, ya?”

Lift terus turun.

“Kenapa nanya gitu?” kataku, dan suaraku keluar dengan nada yang benar-benar biasa, karena aku sudah punya dua puluh tahun latihan.

“Nggak apa-apa.” Kirana mengangkat bahu. “Cuma kayaknya dia kenal Mbak. Dari cara dia manggil Mbak di rapat kayaknya.”

“Kita satu kampus.”

“Oh, gitu.” Dia mengangguk. “Pantesan.”

Lantai delapan. Lantai enam.

“Dia gimana sih waktu kuliah?” tanya Kirana, dan nada suaranya benar-benar cuma penasaran — nada orang yang senang dengan seseorang dan ingin tahu versi orang itu yang belum dia temui.

Dan aku berdiri di lift itu dan menyadari sesuatu:

Aku bisa menghancurkannya sekarang.

Tidak dengan bohong. Dengan jujur.

Aku bisa mengatakan satu hal yang benar — satu detail kecil yang cuma bisa diketahui oleh orang yang pernah tidur di sebelahnya selama sepuluh tahun — dan perempuan ini akan pulang malam ini membawa satu duri kecil yang tidak bisa dia cabut.

Dia nggak bisa tidur kalau ada bunyi jam dinding.

Itu saja cukup. Satu kalimat. Dan Kirana akan tersenyum dan bilang oh gitu, dan lalu suatu hari nanti dia akan berbaring di kamarnya sendiri dan berpikir dari mana perempuan itu tahu?

Aku merasakan bentuk kalimat itu di mulutku.

Lantai tiga.

“Dia pendiam,” kataku. “Duduknya paling belakang. Saya nggak terlalu kenal.”

“Oh.” Kirana tertawa. “Sekarang juga masih gitu sih, kalau lagi rame.”

Pintu lift terbuka di lobi.

“Duluan ya, Mbak. Makasih!”

Dan dia keluar sambil menyeimbangkan tumpukan kertasnya, dan selempang tasnya melorot lagi, dan dia membenahinya sambil berjalan.

Aku berdiri di dalam lift sampai pintunya menutup lagi dan lift itu naik membawaku ke lantai sembilan belas tanpa aku menekan apa pun.


Malam itu aku duduk di kamar dan tidak bisa berhenti gemetar.

Bukan karena sedih.

Karena aku baru saja melihat sesuatu di dalam diriku sendiri, di dalam lift, selama kira-kira empat detik, dan bentuknya persis sama dengan perempuan yang membunuh seseorang selama sepuluh tahun.

Dorongan itu masih ada.

Aku tidak melakukannya. Itu benar, dan itu penting, dan aku memegang itu erat-erat malam itu supaya bisa tidur.

Tapi aku merasakannya. Aku merasakan bentuknya di mulutku, dan selama sepersekian detik aku merasakan juga hal lain yang jauh lebih memalukan:

Rasanya enak.

Tiga tahun. Dua ratus tiga belas halaman. Sembilan poin di daftar. Kelas memasak, lari pagi hari Minggu, permintaan maaf ke Bagas.

Dan dorongan itu masih di sana, utuh, menunggu di dalam lift antara lantai empat belas dan lantai enam.

Aku duduk di lantai kamar dengan punggung ke pintu dan berkata pada diriku sendiri kalimat yang akan kuulang berkali-kali selama bertahun-tahun berikutnya, tiap kali aku merasakan bentuk itu lagi:

Kamu bukan orang yang sembuh.

Kamu orang yang milih, tiap hari, berkali-kali sehari, seumur hidup.

Dan hari ini kamu milih bener.

Besok kamu harus milih lagi.

Aku mematikan lampu.


[Bersambung ke Bab 23 — POV Bintang]