Chapter Thirty Two
Hal yang Paling Berbahaya
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bintang, Kirana, Bu Ratna
Setelah malam itu, dia mulai menelepon.
Tidak sering. Sekali setiap dua atau tiga minggu, selalu malam, selalu tentang ibunya.
Dan aku ingin menuliskan bagian ini dengan sangat hati-hati, karena inilah bagian di mana aku hampir menghancurkan segalanya untuk kedua kalinya, dan aku tidak menyadarinya sampai enam bulan kemudian.
Telepon-telepon itu adalah hal terindah yang pernah terjadi padaku.
Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.
Karena begini bentuknya: laki-laki itu menelepon, dan dia bercerita, dan aku mendengarkan.
Itu saja. Sesederhana itu.
Dia bercerita tentang ibunya yang tidak mau memakai obat tetes mata karena “rasanya aneh”. Tentang bagaimana perempuan itu menyimpan setiap kantong plastik dari pasar dan melipatnya jadi segitiga. Tentang bagaimana di bulan-bulan terakhir dia mulai memanggil kucing gudang dengan nama, padahal tiga puluh tahun dia bersikeras kucing tidak perlu nama.
Dan aku mendengarkan, dan aku bertanya, dan aku ingat semuanya.
Aku ingat semuanya karena aku sudah membuang sepuluh tahun kesempatan untuk mendengarkan laki-laki itu, dan sekarang tiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti sesuatu yang tidak boleh dijatuhkan.
Setelah telepon-telepon itu, aku selalu duduk di tepi kasur selama beberapa menit sebelum bisa melakukan apa pun.
Bukan karena sedih.
Karena penuh.
Yang mulai berubah adalah aku menunggu.
Awalnya kecil. Aku memastikan ponselku terisi penuh sebelum tidur. Aku berhenti menerima ajakan makan malam di hari Kamis, karena telepon-telepon itu paling sering hari Kamis. Aku mulai memikirkan hal-hal yang akan kuceritakan — bukan yang penting, cuma hal-hal kecil dari hari itu — dan menyimpannya untuk kalau-kalau.
Lalu, di bulan ketiga, aku menghitung.
Sembilan belas hari.
Aku sedang di lift, lantai empat belas, dan angka itu muncul sendiri di kepalaku tanpa kuminta.
Sembilan belas hari sejak terakhir dia menelepon.
Dan aku berdiri di lift itu dan berkata pada diriku sendiri, dengan sangat tegas, seperti guru yang menegur murid: berhenti.
Aku sudah pernah melakukan ini. Sembilan tahun lalu. Aku sudah menghapus seluruh riwayat percakapan dari ponselku persis karena ini.
Orang yang menghitung adalah orang yang sedang menunggu pembayaran.
Aku berhenti menghitung selama kira-kira dua minggu.
Lalu aku mulai lagi.
Yang benar-benar membuatku dingin datang di bulan kelima, dan bentuknya seperti hal yang manis.
Dia menelepon hari Selasa malam. Kami bicara satu jam. Dan menjelang tutup, dia bilang:
“Lys.”
“Hm?”
“Aku mau nanya sesuatu, terus kamu boleh bilang aku aneh.”
“Boleh.”
“Ibu tuh dulu suka nyanyi kalau lagi nyapu,” katanya. “Lagunya lama. Aku nggak inget judulnya. Cuma inget potongannya.”
Dan dia menyenandungkannya. Empat baris, sumbang, di telepon.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Kamu tau nggak itu lagu apa?”
“Nggak,” kataku. “Tapi aku bisa cariin.”
“Nggak usah repot—“
“Aku bisa cariin, Bintang.”
Dan aku mencarinya.
Aku menghabiskan empat malam mencarinya. Aku merekam senandungnya dari ingatan dan memutarnya ke tukang parkir, ke satpam kantor, ke ibu-ibu kelas renang Ibu. Aku memutar delapan puluh lagu keroncong dan pop lama sampai jam dua pagi selama empat malam berturut-turut.
Aku menemukannya di malam keempat.
Dan aku duduk di lantai kamar dengan lagu itu berputar dari ponselku, jam satu lewat dua puluh pagi, dan aku merasa sesuatu yang belum pernah kurasakan sejak 14 Maret.
Aku merasa berguna.
Aku hampir menekan tombol panggil detik itu juga.
Jarinya sudah di layar.
Dan yang menghentikanku bukan kebijaksanaan. Bukan aturan. Bukan sembilan poin.
Yang menghentikanku adalah bahwa aku melihat wajahku sendiri terpantul di layar ponsel yang gelap sebelum menyala.
Dan wajah itu sedang tersenyum.
Aku duduk di lantai kamar itu sampai jam tiga pagi.
Karena aku akhirnya melihat bentuknya, dan bentuknya membuatku mual.
Aku sudah menemukan sesuatu yang bisa kuberikan.
Sembilan tahun, dan itu yang pertama. Sembilan tahun aku tidak punya apa pun untuk diberikan kepada laki-laki itu — tidak ada yang dia butuhkan, tidak ada yang dia terima, tidak ada satu pun celah.
Dan sekarang ada celahnya.
Ibunya meninggal, dan laki-laki itu punya lubang di dadanya, dan aku satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mendengarkan tanpa perlu diberi penjelasan.
Aku sedang berdiri di dalam lubang itu.
Dan aku menikmatinya.
Aku duduk di lantai kamar jam tiga pagi dan memaksa diriku menyelesaikan kalimatnya sampai habis, karena kalau aku berhenti di tengah, aku akan mengizinkan diriku melanjutkan:
Kamu bukan lagi bantuin dia. Kamu lagi bikin diri kamu jadi perlu.
Dan aku sudah pernah membuat diriku jadi perlu untuk laki-laki itu.
Sepuluh tahun. Aku memutuskannya dari Damar. Aku membuatnya menolak tawaran kerja di Bandung. Aku membuat dunianya cukup kecil sehingga tidak ada tempat lain untuk dia berdiri.
Bentuknya berbeda. Niatnya sepenuhnya berbeda.
Bentuk hasilnya sama persis.
Aku mengirim lagu itu lewat pesan keesokan paginya.
Ini lagunya. Judulnya “Angin Malam”, tahun 1978.
Selamat pagi, Bintang.
Dan lalu, sebelum aku bisa berubah pikiran, aku mengetik satu pesan lagi.
Aku menulis ulang pesan itu enam kali. Yang akhirnya kukirim adalah versi keenam, dan versi keenam adalah yang paling pendek dan paling dingin dari semuanya, karena semua versi sebelumnya punya kail tersembunyi di dalamnya.
Bintang, aku nggak bisa nerima telepon kamu lagi.
Ini bukan soal kamu. Kamu nggak ngelakuin apa-apa yang salah.
Aku yang mulai nunggu. Dan begitu aku nunggu, semua yang aku kasih ke kamu jadi ada harganya.
Aku nggak mau ngasih kamu apa pun yang ada harganya. Nggak lagi.
Kirim.
Aku memasukkan ponselku ke tas dan pergi kerja, dan aku tidak membukanya sampai jam tujuh malam.
Ada dua pesan.
Aku ngerti.
Dan, dua jam kemudian:
Makasih udah nyariin lagunya.
Aku duduk di dalam mobil di parkiran kantor dan membaca dua pesan itu berkali-kali.
Lalu aku pulang dan makan malam bersama Ibu dan mendengarkan cerita tentang kelas renang, dan aku tidak menangis, dan aku tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam lima bulan.
Kirana meneleponku empat bulan kemudian.
Jam sembilan malam, hari Jumat. Aku sedang membaca di kamar.
“Mbak Allysa?”
Suaranya salah.
“Ran? Kenapa?”
Dan perempuan itu menangis di telepon selama mungkin dua puluh detik sebelum bisa bicara.
“Maaf ya Mbak, maaf, saya nggak tau mau telepon siapa lagi—“
“Nggak apa-apa. Pelan-pelan.”
Dan dia bercerita.
Aku akan menuliskan intinya saja, karena sisanya bukan milikku untuk diceritakan.
Dia mengakhirinya. Dua minggu lalu. Bukan pertengkaran, tidak ada yang salah, tidak ada orang ketiga — dia menekankan itu berkali-kali, seolah takut aku salah paham.
“Dia baik banget, Mbak,” katanya. “Sampai akhir. Dia bahkan bantuin saya angkat barang-barang saya.”
“Ran.”
“Saya cuma capek.” Suaranya pecah. “Empat tahun lebih, Mbak. Dan saya masih ngerasa kayak nginep di rumah orang.”
Aku duduk di tepi kasur dengan ponsel di telinga dan aku memandangi tembok kamarku.
“Saya tau ada sesuatu,” lanjutnya. “Saya nggak pernah tau apa. Dan saya udah bilang ke dia, berkali-kali, saya nggak butuh tau isinya. Saya cuma butuh dia percaya saya bisa nampung.”
Aku menutup mataku.
“Dan dia nggak percaya,” kata Kirana. “Bukan karena saya kurang. Dia sendiri yang bilang. Dia bilang dia udah nimbang-nimbang dan dia mutusin sendiri.”
Hening di telepon.
“Mbak masih di situ?”
“Masih.”
“Maaf ya saya cerita ke Mbak. Aneh ya.”
“Nggak aneh.”
“Mbak kan temennya juga.”
Aku menekan ponsel lebih rapat ke telinga.
“Ran,” kataku.
“Iya?”
“Kamu nggak salah apa-apa.”
“Saya tau.”
“Nggak, dengerin dulu.” Suaraku sendiri mengejutkanku; keluar lebih keras dari yang kumaksud. “Empat tahun kamu ngasih ke orang yang nggak bisa nerima. Itu bukan gagal. Itu bukan kamu kurang.”
Aku menarik napas.
“Dan yang kamu lakuin barusan — yang berhenti itu — itu yang bener.”
“Mbak.”
“Hm?”
“Mbak kok kayaknya tau banget.”
Aku memandangi tembok kamarku dan tidak menjawab selama beberapa detik.
“Iya,” kataku akhirnya. “Aku tau banget.”
Aku duduk di lantai kamar setelah telepon itu ditutup, sangat lama.
Dan aku menunggu.
Aku menunggu sesuatu naik di dadaku — sesuatu yang bentuknya seperti harapan, atau lega, atau bahkan senang. Aku sudah menyiapkan diri untuk membencinya dan mendorongnya kembali.
Tidak datang.
Yang datang justru sesuatu yang lain, dan yang ini membuatku memeluk lutut di lantai kamar:
Aku sedih untuk mereka berdua.
Untuk perempuan yang naik bus enam jam entah berapa kali selama dua tahun tujuh bulan dan tetap merasa menginap di rumah orang.
Dan untuk laki-laki yang tidak bisa percaya ada yang akan menampung — bukan karena Kirana kurang, bukan karena aku, bukan karena sepuluh tahun.
Tapi karena seorang perempuan yang sangat mencintainya pernah membenahi kerah bajunya di depan pintu ratusan kali dan berkata jangan ngerepotin ya, Bin — dan menariknya kembali dua puluh lima tahun kemudian, dua hari sebelum meninggal, waktu sudah tidak ada waktu lagi untuk memperbaikinya.
Aku menyalakan lampu, mengambil ponselku, dan membuka pesan ke Kirana.
Ran, hari Minggu kosong nggak? Aku traktir makan.
Bukan buat ngomongin dia. Buat ngomongin apa aja.
Dia membalas tiga menit kemudian dengan enam emoji menangis dan satu kata: MAU.
Dan aku menutup ponselku dan tidur.
Dan aku tidak mengirim apa pun ke Bintang. Tidak malam itu, tidak minggu itu, tidak tahun itu.
Karena sekarang pintunya terbuka, dan itu justru satu-satunya alasan aku tidak boleh mendekat.
[Bersambung ke Bab 33 — POV Bintang]