Chapter Forty Six
Satu Hal Terakhir
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bintang, Bu Ratna, Kirana (lewat telepon)
Aku tidak menjawab malam itu.
Bukan karena dia memintaku begitu — walaupun dia memintanya, dan itu salah satu hal paling baik yang pernah dilakukan siapa pun untukku.
Aku tidak menjawab karena aku tidak bisa bicara.
Kami duduk di balkon itu selama mungkin dua puluh menit setelah dia mengucapkannya. Teh kami sudah dingin. Dia tidak menambahkan apa-apa dan tidak menuntut apa-apa, dan sekali dia bilang “kamu kedinginan nggak?” dan aku menggeleng, dan itu satu-satunya kalimat dalam dua puluh menit itu.
Lalu dia bilang, “Aku tidur ya,” dan masuk.
Dan aku duduk di balkon itu sendirian sampai jam dua pagi.
Aku ingin menuliskan apa yang kurasakan malam itu dengan jujur, karena kalau aku menuliskannya sebagai kebahagiaan, seluruh dua puluh enam tahun ini jadi tidak masuk akal.
Yang kurasakan bukan bahagia.
Yang kurasakan adalah takut, dan takutnya punya bentuk yang sangat spesifik, dan aku butuh dua bulan untuk bisa menamainya.
Bentuknya begini:
Selama dua puluh enam tahun, aku punya satu pekerjaan.
Pekerjaannya jelas. Pekerjaannya berat. Pekerjaannya tidak akan pernah selesai — aku sudah menuliskannya sendiri di malam pertama, poin nomor lima, sambil berjalan pulang di bawah hujan: semua ini nggak akan pernah cukup. Ya udah. Tetep lakuin.
Dan aku melakukannya. Dua puluh enam tahun. Tiap hari.
Dan sekarang laki-laki itu duduk di balkon dan mengatakan sesuatu yang, kalau kuterima, akan mengakhiri pekerjaan itu.
Karena kalau aku bilang iya — kalau aku duduk di sebelahnya dan menerimanya dan membiarkan diriku bahagia —
maka apa yang terjadi dengan sepuluh tahun itu?
Siapa yang akan terus membayarnya?
Aku duduk di balkon apartemen Gubeng jam dua pagi dan akhirnya mengucapkannya di dalam kepalaku dengan kata-kata yang benar:
Kalau aku bahagia, artinya aku berhenti bayar.
Dan kalau aku berhenti bayar, artinya sepuluh tahun itu jadi gratis.
Aku menceritakannya ke Kirana tiga minggu kemudian.
Aku menceritakannya dengan susah payah, dengan berhenti dua kali, dan waktu selesai dia diam di seberang telepon selama sangat lama.
Lalu dia bilang:
“Mbak, aku boleh marah?”
Aku mengerjap.
“...Boleh.”
“Mbak brengsek.”
Aku hampir menjatuhkan ponselku.
“Ran—“
“Aku serius.” Suaranya keras dan tidak menahan apa pun. “Aku udah kenal Mbak lima belas tahun dan aku belum pernah marah sama Mbak, jadi tolong denger.”
Aku diam.
“Mbak baru aja bilang,” katanya, “kalau Mbak bahagia, itu artinya sesuatu jadi gratis.”
“Iya.”
“Buat siapa?”
“...Maksudnya?”
“BUAT SIAPA, MBAK?”
Aku menempelkan ponsel lebih rapat ke telinga.
“Mbak ngomong kayak ada orang yang lagi nagih,” kata Kirana. “Siapa? Nama orangnya siapa?”
Dan aku duduk di sofa dan membuka mulut dan tidak ada yang keluar.
“Nggak ada, kan.” Suaranya melunak sedikit. “Nggak ada orangnya, Mbak. Nggak pernah ada.”
Aku menutup mataku.
“Mbak yang bikin utangnya. Mbak yang tentuin jumlahnya. Mbak yang nagih tiap hari selama dua puluh enam tahun.”
Dia menarik napas.
“Dan sekarang Mbak takut berhenti karena kalau Mbak berhenti, Mbak harus ngaku bahwa nggak ada yang minta Mbak mulai.”
Aku memikirkan itu selama empat bulan.
Dan aku sampai ke titik di mana aku hampir bisa menerimanya. Aku benar-benar hampir. Aku bisa mengucapkan kalimatnya, aku bisa menuliskannya, aku bisa mengangguk waktu Kirana mengatakannya.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa kulewati, dan hal itu tidak logis dan tidak bisa dibantah dengan logika mana pun.
Bentuknya begini:
Kalau tidak ada yang menagih —
kalau utangnya tidak pernah ada —
maka apa arti dua puluh enam tahunku?
Poin nomor satu sampai sembilan. Dua ratus tiga belas halaman. Vinka. Bagas. Aturan di sampul belakang buku catatan. Sembilan jam di parkiran masjid. Lagu tahun 1978 yang kucari empat malam. Telepon yang kuputus sendiri karena aku melihat wajahku tersenyum di layar yang gelap.
Kalau tidak ada utang, maka semua itu bukan pembayaran.
Maka semua itu cuma... aku, menghukum diriku sendiri, selama dua puluh enam tahun, tanpa alasan.
Dan aku tidak sanggup.
Aku tidak sanggup melihat dua puluh enam tahun hidupku dan menyebutnya sia-sia.
Lebih mudah tetap berhutang.
Setidaknya kalau aku berhutang, semua itu ada gunanya.
Aku menceritakannya ke Ibu di suatu malam bulan Mei.
Kami sedang di dapur. Dia sedang mengiris, aku sedang mencuci, dan aku menceritakannya tanpa berhenti selama lima menit sambil terus mencuci piring yang sama berulang-ulang.
Ibu mendengarkan sampai habis.
Lalu dia menaruh pisaunya, dan mengelap tangannya, dan bilang:
“Lys, matiin kerannya.”
Aku mematikannya.
“Duduk.”
Aku duduk.
Dan perempuan berumur tujuh puluh delapan tahun itu duduk di kursi seberangku di dapur apartemen Gubeng — di dapur, duduk, yang butuh tujuh puluh tahun sebelum dia bisa melakukannya tanpa merasa sedang bermalas-malasan.
“Ibu mau cerita,” katanya.
“Bu—“
“Denger dulu.”
Aku diam.
“Waktu ayah kamu pergi,” katanya, “Ibu dua tahun nggak keluar rumah. Kamu inget?”
“Inget.”
“Terus habis itu Ibu jahit. Tiga puluh tahun.” Dia mengangkat bahu. “Tiap hari, dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas malem. Sabtu Minggu juga.”
Aku mengangguk.
“Kamu tau nggak kenapa Ibu jahit sebanyak itu?”
“Buat biayain aku.”
“Iya.” Ibu mengangguk. “Itu bener. Tapi itu bukan semuanya.”
Dia menaruh tangannya di meja.
“Ibu jahit sebanyak itu biar Ibu nggak punya waktu buat mikir,” katanya. “Kalau Ibu berhenti, Ibu harus duduk. Dan kalau Ibu duduk, Ibu harus mikirin kenapa dia pergi. Dan Ibu nggak sanggup.”
Dapur itu sunyi.
“Tiga puluh tahun, Lys. Ibu nyebutnya kerja keras. Semua orang muji Ibu.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Padahal Ibu lagi ngumpet.”
Aku menatapnya.
“Terus waktu tangan Ibu udah nggak bisa,” lanjutnya, “Ibu berhenti. Dan Ibu duduk. Dan Ibu bengong dua bulan, terus kamu daftarin Ibu berenang.”
Dia mengangkat bahu.
“Dan sekarang Ibu tujuh puluh delapan dan Ibu bisa berenang dan Ibu punya temen enam orang di kolam.”
Aku tidak bicara.
“Lys, Ibu mau nanya,” katanya. “Tiga puluh tahun Ibu jahit itu sia-sia nggak?”
Aku mengangkat wajah cepat.
“Nggak—“
“Kenapa nggak?”
Dan aku membuka mulut dan berhenti.
“Karena—“ Aku menelan ludah. “Karena Ibu ngebesarin aku.”
“Iya.”
“Karena Ibu jadi jago jahit.”
“Iya.”
“Karena—“
Aku berhenti.
Ibu menunggu.
“Bu,” kataku, dan suaraku sudah hilang. “Tapi Ibu ngumpet.”
“Iya.” Dia mengangguk pelan. “Ibu ngumpet, dan Ibu ngebesarin kamu, dan Ibu jadi jago jahit. Tiga-tiganya bener, Lys. Bareng.”
Dia menepuk meja sekali dengan telapak tangan.
“Alesannya jelek. Yang jadinya bagus.”
Aku menangis di kursi dapur itu selama mungkin lima belas menit.
Ibu tidak memelukku. Kami masih bukan keluarga yang berpelukan, bahkan sekarang, bahkan setelah semuanya.
Dia berdiri, mengambil piring, dan melanjutkan mencuci — dan sesekali dia menepuk punggungku dengan tangan yang basah waktu lewat.
“Bu,” kataku akhirnya.
“Hm?”
“Aku takut kalau aku berhenti, aku jadi orang yang dulu lagi.”
Ibu mematikan keran.
“Lys,” katanya, tanpa berbalik. “Kamu tuh dua puluh enam tahun nggak nyakitin siapa-siapa.”
“Bu—“
“Ibu ngitung.” Dia berbalik dan bersandar ke wastafel. “Vinka. Anak kantor yang namanya siapa itu, Bagas. Sekar. Kirana.”
Dia menghitung dengan jari.
“Empat orang yang kamu ceritain ke Ibu selama dua puluh enam tahun. Empat-empatnya kamu urusin sampai bener.”
Dia mengangkat bahu.
“Orang jahat nggak gitu, Lys.”
Aku menelepon Bintang malam itu jam sebelas.
Aku tidak menjawab apa-apa. Aku belum siap dan aku tahu aku belum siap.
Yang kukatakan cuma:
“Bintang.”
“Hm?”
“Aku belum bisa jawab.”
“Aku tau.”
“Tapi aku mau bilang kenapa.”
Dan aku menceritakan semuanya. Balkon, dua jam. Ketakutan yang bentuknya spesifik. Kirana yang marah lewat telepon. Ibu di dapur.
Dan bagian yang paling sulit — bagian yang membuatku harus berhenti tiga kali:
“Aku takut kalau aku bahagia, sepuluh tahun itu jadi gratis buat kamu.”
Bintang tidak menjawab selama sangat lama.
Lalu dia bilang:
“Lys, kamu Sabtu depan kosong?”
“...Kosong.”
“Aku ke sana.”
“Bintang, kamu baru dari sini dua minggu lalu—“
“Lys.”
“Iya?”
Dan laki-laki itu bilang, dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya — bukan lembut, bukan sedih, tapi sesuatu yang mendekati marah dan bukan marah:
“Ada satu hal yang harusnya aku ceritain ke kamu dua puluh enam tahun lalu.”
Aku menggenggam ponselku.
“Cerita apa?”
“Bukan lewat telepon.”
“Bintang—“
“Lys, ini bukan soal kamu.” Dia menarik napas. “Ini soal aku. Dan kamu udah dua puluh enam tahun bayar buat sesuatu yang kamu nggak tau ceritanya.”
Aku tidak tidur malam itu.
Dan hari Sabtu, jam satu siang, bel apartemen berbunyi.
Dan Ibu berteriak dari ruang tamu — seperti dua tahun lalu, dengan kalimat yang sama persis, dengan volume yang sama persis:
“LYS! ADA ORANG!”
[Bersambung ke Bab 47 — POV Bintang]