← Lunas

Chapter Ten

Sepuluh Tahun Lagi

POV: Allysa

Karakter: Allysa, Bintang


Aku tidak berencana datang malam itu.

Aku perlu menuliskan itu supaya jelas, karena kalau tidak, seluruh kejadian ini akan terdengar seperti sesuatu yang kususun. Tidak. Aku sudah menulis di daftarku, poin nomor empat: kalau kehadiranku bikin dia nggak nyaman, pergi. Nggak usah nunggu disuruh.

Aku memegang aturan itu selama tujuh puluh satu hari.

Malam itu aku melanggarnya.

Yang memicunya sepele — semua hal yang menghancurkan selalu sepele. Aku sedang di rumah, membuka laptop untuk mengerjakan skripsi, dan aku menemukan satu tab yang lupa kututup: halaman pengumuman lomba itu.

Sepuluh nama. Nomor empat.

Aku sudah melihatnya empat hari lalu. Aku sudah membacanya berkali-kali. Aku bahkan sudah menyimpan tangkapan layarnya, yang bodoh, yang tidak akan pernah kutunjukkan ke siapa pun.

Tapi malam itu aku membacanya lagi, dan tiba-tiba ada sesuatu yang naik dari perutku dan tidak mau turun lagi.

Bukan bangga. Aku tidak berhak bangga.

Yang naik adalah ini: ini seharusnya sudah terjadi sembilan tahun lalu.

Nama itu seharusnya sudah ada di daftar itu sembilan tahun lalu, dan bukan cuma di daftar ini — di daftar-daftar lain, di sampul buku, di rak toko. Laki-laki itu punya semua yang dia butuhkan sejak umur dua puluh empat.

Dan yang dia dapat malah aku.

Aku menutup laptop, mengambil jaket, dan keluar rumah tanpa memberitahu Ibu.


Aku sampai di depan gerbang kosnya jam setengah sepuluh.

Lampu kamar nomor tujuh menyala.

Dan aku berdiri di trotoar itu — di tempat yang sama persis dengan tempat aku berdiri tujuh puluh satu hari lalu, di antara motor-motor yang diparkir — dan aku mengirim pesan.

Aku di bawah. Boleh turun sebentar? 5 menit. Terakhir.

Kirim.

Dan aku langsung menyesal, karena kata terakhir itu bohong dan kami berdua tahu, dan karena itu tekanan, dan karena aku sudah berjanji tidak akan pernah menekannya lagi.

Aku mengetik lagi:

Maaf. Lupain yang tadi. Kamu nggak usah turun.

Terlambat.

Bayangannya sudah bergerak di balik gorden.


Dia turun tiga menit kemudian, memakai kaos dan sandal jepit, dan berdiri di dalam gerbang tanpa membukanya.

“Iya?”

Ramah yang kosong itu lagi. Tujuh puluh satu hari dan tidak berubah sedikit pun.

Dan seluruh kalimat yang kususun sepanjang perjalanan langsung hilang dari kepalaku, seperti selalu.

“Aku—“ Aku menelan ludah. “Selamat ya. Yang lomba itu.”

“Oh.” Dia mengangguk. “Makasih.”

Hening.

Dari dalam kos ada suara TV. Ada motor lewat. Ada nyamuk di betisku dan aku tidak menepuknya.

“Cuma itu?” tanyanya.

Dan begitulah caranya terjadi.

Tidak dengan kalimat yang kususun. Tidak dengan sebelas kalimat yang kuhafal untuk halte itu. Yang keluar dari mulutku adalah satu-satunya hal yang memang benar-benar ada di dalam dadaku selama tujuh puluh satu hari terakhir, dan keluarnya berantakan, dan aku tidak sempat menahannya:

“Aku minta maaf.”

Bintang tidak bergerak.

“Aku minta maaf,” ulangku, dan begitu keluar sekali, sisanya keluar semua, seperti orang yang mencabut sumbat. “Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf. Aku nggak tau harus gimana lagi. Aku nulis kamu tiap malem dan aku tau itu ganggu dan aku tau kamu nggak minta, dan aku udah janji sama diri aku sendiri aku nggak akan maksa kamu, tapi aku—“

“Lys.”

“—aku nggak bisa tidur. Tiap malem. Aku kebayang terus. Aku kebayang kamu duduk di depan aku dan aku nggak liat kamu, aku nggak pernah liat kamu sekalipun, aku—“

“Allysa.”

Aku berhenti.

Bintang berdiri di balik gerbang dengan tangan di saku, dan ekspresinya bukan marah. Ekspresinya lelah.

“Minta maaf buat apa?” tanyanya.

Aku membuka mulut.

“Kita kan belum ngapa-ngapain,” lanjutnya, pelan, hampir lembut. “Kamu nggak pernah ngelakuin apa-apa ke saya. Kita ketemu berapa kali? Lima? Enam?”

Saya.

Dia memakai saya. Sejak kapan? Aku mencoba mengingat kapan dia berhenti bilang aku kepadaku dan aku tidak bisa menemukan titiknya, dan itu berarti aku juga tidak memperhatikan yang ini.

“Jadi kamu minta maaf buat apa?” ulangnya.

Dan aku tidak bisa menjawab.

Ini jebakan yang tidak dia pasang; dia tidak sedang menjebakku, dia benar-benar bertanya. Tapi aku tidak bisa menjawab tanpa mengatakan hal yang tidak boleh kukatakan, karena kalau aku bilang aku minta maaf buat sepuluh tahun yang belum terjadi, dia akan berpikir aku gila, dan itu satu-satunya hal yang lebih buruk daripada dibenci.

Jadi aku berdiri di sana dengan mulut terbuka dan tidak ada yang keluar.

“Ya udah,” kata Bintang. “Selamat malam.”

Dia berbalik.

“Aku cuma nggak mau kamu ngerasa kayak gitu lagi!”

Kalimat itu keluar terlalu keras dan terlalu cepat, dan aku langsung menutup mulutku dengan tangan, tapi sudah lewat.

Bintang berhenti.

Punggungnya kaku.

Lalu dia berbalik pelan-pelan, dan ekspresinya sudah berubah — bukan ramah kosong lagi, bukan lelah lagi — dan untuk pertama kalinya sejak 14 Maret aku melihat sesuatu yang hidup di wajah laki-laki itu.

“Kayak gitu yang mana?” tanyanya.

Suaranya rendah.

“...Bintang—“

“Kayak gitu yang mana, Lys.”

Dia melangkah selangkah lebih dekat ke gerbang.

“Kamu bilang ‘lagi’.” Suaranya masih pelan, tapi ada sesuatu yang retak di dalamnya. “Berarti pernah. Kapan?”

Aku tidak bisa bernapas.

“Kapan saya pernah ‘ngerasa kayak gitu’?” Dia mencengkeram jeruji gerbang dengan satu tangan. “Kita ketemu enam kali. Enam. Kamu nggak pernah ngapa-ngapain ke saya. Kamu bahkan belum sempat—“

Dia berhenti.

Dan kemudian, sangat pelan, dengan suara yang sepenuhnya berbeda:

“Kamu bahkan belum sempat nggak nanya waktu Ibu saya meninggal.”

Dunia berhenti.

Aku menatap wajahnya.

Bintang menatap balik, dan aku melihat momen persisnya — momen di mana dia mendengar sendiri apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Aku melihat rahangnya mengencang. Aku melihat tangannya melepas jeruji.

Ibunya hidup.

Perempuan itu hidup, sehat, di rumah bercat hijau muda enam jam dari sini, dan tiga bulan lalu anaknya pulang dan menangis di pelukannya di depan pintu, dan dua minggu lalu dia menelepon untuk bilang dia masuk sepuluh besar.

Ibunya hidup.

Dan laki-laki itu baru saja mengucapkan kalimat waktu Ibu saya meninggal dengan nada orang yang menyebut hari Selasa.

“Bintang,” bisikku.

“Saya salah ngomong.”

“Bintang—“

“Saya capek. Saya salah ngomong.” Dia mundur selangkah dari gerbang. “Lupain.”

“Kamu—“

“Selamat malam, Allysa.”

Dan dia berbalik dan masuk, dan kali ini dia tidak berjalan pelan-pelan; dia hampir setengah berlari menaiki tangga, dan aku mendengar pintu kamar nomor tujuh ditutup terlalu keras.

Lampunya mati sepuluh detik kemudian.


Aku berjalan pulang malam itu, tiga kilometer, karena angkot terakhir sudah lewat dan karena aku tidak bisa duduk diam di mana pun.

Dan sepanjang tiga kilometer itu, kepalaku menyusun ulang tujuh puluh satu hari terakhir dari awal, satu per satu, dan semuanya berubah bentuk.

Dia tidak datang ke halte itu.

Bukan karena mogok. Bukan karena aku merusak sesuatu. Karena dia tahu.

Dia pulang ke rumah ibunya sebelas hari — sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama sepuluh tahun karena aku selalu menahannya. Hal pertama yang dia lakukan setelah bangun di hari itu adalah pergi ke tempat yang akan hilang darinya di tahun ketujuh.

Dia mulai menggambar lagi. Kardus yang di dunia lain kutimbun di gudang apartemen selama lima tahun.

Dia menelepon Damar tiap dua hari. Damar bilang begitu, di warung kopi, sambil bingung. Dia jadi baik banget sama gue.

Dan cara dia memperlakukanku — sopan, netral, ramah yang kosong, tanpa satu tetes pun racun.

Aku selama ini membaca itu sebagai: dia belum jatuh cinta ke aku di titik waktu ini.

Bodoh sekali. Bodoh, bodoh, bodoh.

Artinya bukan belum.

Artinya sudah selesai.

Aku berhenti berjalan di tengah trotoar dan menekuk badan dengan tangan di lutut, seperti orang yang baru selesai lari, dan aku tidak bisa menarik napas dengan benar selama mungkin satu menit penuh.

Karena dua hal masuk sekaligus, dan keduanya sama beratnya, dan aku tidak tahu yang mana yang lebih dulu meremukkanku.

Yang pertama: dia ingat semuanya. Setiap malam yang kutinggalkan. Setiap kalimat. Pesta ulang tahun Vinka. Meja makan jam sebelas malam. Ibunya.

Dia hidup dengan itu semua di dalam kepalanya, tiap hari, sambil tersenyum sopan ke perempuan yang melakukannya, sambil bilang makasih dan nggak apa-apa dan selamat malam.

Tujuh puluh satu hari.

Yang kedua, dan ini yang membuatku tidak bisa berdiri:

Selama tujuh puluh satu hari itu, dia tidak pernah sekali pun mengungkitnya.

Tidak sekali pun. Tidak ada balasan pedas. Tidak ada kamu tuh dulu begini. Tidak ada satu pun tagihan yang dia serahkan kepadaku, padahal dia memegang seluruh bukunya, padahal dia berhak.

Orang yang membenci akan mengungkit. Orang yang menghukum akan menagih.

Bintang tidak melakukan apa pun.

Dia cuma menutup pintu dengan sopan dan pergi membangun hidupnya sendiri, seolah aku bukan sesuatu yang perlu dibalas.

Seolah aku bukan apa-apa.

Dan tidak ada satu pun kalimat di dunia ini yang bisa dia ucapkan yang lebih menghancurkan daripada itu.


Aku sampai rumah jam satu pagi. Ibu sudah tidur.

Aku duduk di lantai kamar dengan punggung ke pintu dan membuka ponsel.

Ibu jariku melayang di atas kolom pesan selama sangat lama.

Aku bisa mengetiknya sekarang. Empat kata. Aku juga inget semuanya.

Dan semuanya akan berubah malam ini juga. Tidak akan ada lagi berpura-pura. Kami akan bisa bicara — benar-benar bicara — untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan.

Ibu jariku turun ke huruf pertama.

Lalu aku menariknya.

Karena aku membayangkan hal berikutnya, dan hal berikutnya itu jelas sekali di kepalaku:

Kalau dia tahu aku ingat, maka semua yang kulakukan sejak hari itu — semua pesan jam sembilan malam, semua permintaan maaf, semuanya — akan berubah artinya.

Bukan lagi perempuan yang menyesal.

Jadi perempuan yang menagih. Perempuan yang berkata lihat, aku sudah berubah, sekarang giliranmu.

Dan sepuluh tahun lalu aku sudah pernah melakukan itu. Aku melamarnya di depan orang banyak di tahun kesembilan, tanpa cincin, tanpa rencana, sebagai tambalan — dan yang sebenarnya kucari waktu itu adalah rasa lega bagi diriku sendiri.

Aku tidak akan mengulanginya.

Kalau aku memberitahunya sekarang, itu untuk aku. Supaya aku tidak perlu lagi menanggung ini sendirian. Supaya ada orang lain yang tahu, dan tahu itu artinya beban jadi separuh.

Bintang menanggungnya sendirian selama tujuh puluh satu hari tanpa mengeluh sekali pun.

Aku bisa juga.

Aku menghapus huruf yang belum sempat jadi kata, dan aku mengetik yang lain:

Maaf ya yang tadi. Aku nggak akan ke sana lagi.

Selamat malam, Bintang.

Kirim.

Lalu aku menaruh ponsel telungkup di lantai, memeluk lutut, dan menangis sampai subuh dengan bantal ditekan ke wajah supaya Ibu tidak dengar.

Dan di antara isakan itu, ada satu kalimat yang terus berputar di kepalaku, kalimat yang dia ucapkan tanpa sadar di balik jeruji gerbang, dengan nada orang menyebut hari Selasa:

Kamu bahkan belum sempat nggak nanya waktu Ibu saya meninggal.

Belum sempat.

Seolah itu jadwal.

Seolah dia sudah tahu bahwa suatu saat nanti, cepat atau lambat, aku pasti akan melakukannya lagi.


[Bersambung ke Bab 11 — POV Bintang]