← Chapters Ch. 38 / 51

Chapter Thirty Eight

Halaman yang Butuh Empat Belas Tahun

POV: Allysa

Karakter: Allysa (sendirian), Bu Ratna (lewat telepon)


Aku ingin kembali ke minggu pertama di Surabaya, karena ada satu malam yang kulewati waktu menceritakan bagian itu.

Aku melewatinya karena aku belum siap.

Sekarang siap.


Malam keempat. Apartemen di Wonokromo. Koper besarku masih berdiri di sudut ruangan, belum dibuka, karena aku baru mengeluarkan pakaian secukupnya untuk empat hari kerja dan sisanya terasa seperti keputusan yang belum ingin kubuat.

Jam empat pagi. Aku sudah bangun sejak jam dua dan tidak bisa tidur lagi.

Dan aku membuka aplikasi catatan berjudul HAL-HAL YANG KULAKUKAN untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

Entri terakhirnya sudah ada di sana, ditulis di malam waktu aku menyadari aku sudah menjalani sepuluh tahun yang sama dari kursi yang berlawanan:

Aku cinta dia. Sepuluh tahun. Dari awal. Dan itu bukan pembelaan — itu yang bikin semuanya jauh lebih jahat.

Dan di bawahnya, tiga kata yang tidak pernah kulanjutkan:

Tahun keempat aku mulai—

Aku menatap tiga kata itu selama mungkin dua puluh menit.

Lalu aku menghapusnya, dan mulai dari awal, dan kali ini aku tidak berhenti.


Aku akan menuliskan isinya di sini. Semuanya. Karena kalau aku menyimpannya lagi, seluruh empat belas tahun ini tidak ada gunanya.

Tahun keempat, sesuatu berubah di dalam aku. Dan aku sudah empat belas tahun mencoba menuliskannya dan selalu berhenti, jadi aku akan menulisnya sekarang tanpa berhenti, dan aku tidak akan membaca ulang sampai selesai.

Aku mulai jijik sama dia.

Bukan bosan. Bukan tidak sayang. Jijik.

Ini bentuknya: aku naikkan tekanannya, dan dia menyerap. Aku naikkan lagi, dia menyerap lagi. Aku bilang sesuatu yang seharusnya membuat orang normal marah, dan besok paginya dia sudah bikin kopi dan bertanya aku tidur nyenyak apa tidak.

Dan tiap kali itu terjadi, ada sesuatu di dalam dadaku yang naik, dan rasanya panas, dan bentuknya seperti ini:

Kenapa kamu diam saja.

Berdiri. Lawan. Bentak aku sekali saja, satu kali saja, biar aku tahu kamu masih ada.

Punya harga diri, dong.

Aku memanggilnya menyedihkan di dalam kepalaku. Ratusan kali. Aku tidak pernah mengucapkannya keras-keras — dan aku sempat merasa itu berarti sesuatu, seolah tidak mengucapkan itu bentuk pengendalian diri. Bukan. Aku tidak mengucapkannya karena aku takut kalau kuucapkan, dia akan pergi, dan aku belum selesai memakainya.

Dan ini bagian yang paling tidak bisa kutanggung:

Aku jijik padanya karena dia membuktikan bahwa Ibu benar.

Ibu bilang kalau kamu memberi semuanya, kamu akan hancur dan tidak ada yang tersisa untuk dijaga. Aku percaya itu sejak umur sembilan tahun.

Dan Bintang berdiri di rumah itu tiap hari selama sepuluh tahun sebagai bukti hidup bahwa Ibu benar — orang yang memberi semuanya memang dihabisi. Dia buktinya. Dia berjalan-jalan di rumahku dengan bukti itu menempel di badannya.

Jadi tiap kali aku melihatnya, aku melihat ibuku di dapur dengan tangan gemetar.

Dan aku menyakiti dia untuk itu.

Untuk sesuatu yang bukan dia lakukan, di dapur yang tidak pernah dia masuki, kepada perempuan yang tidak pernah dia temui.

Sepuluh tahun aku menghukum laki-laki itu karena dia mengingatkanku pada hal yang paling kutakutkan di dunia.

Itu bukan takut. Aku sudah empat belas tahun menyebutnya takut karena takut itu bisa dimaafkan.

Itu kejam. Titik. Tidak ada kata lain dan aku sudah berhenti mencarinya.


Aku menyelesaikan tiga paragraf itu jam lima kurang.

Tanganku gemetar sepanjang menulisnya. Aku harus berhenti dua kali untuk meletakkan ponsel karena jariku tidak bisa mengenai huruf yang benar.

Dan waktu selesai, aku duduk di lantai apartemen kosong itu dengan koper yang belum kubuka di sudut ruangan, dan aku menunggu.

Aku menunggu sesuatu yang mengerikan terjadi.

Aku sudah menyiapkan diri untuk itu selama empat belas tahun — itu sebabnya aku tidak pernah bisa menuliskannya. Karena aku yakin bahwa begitu kalimat itu ada di luar kepalaku, dalam bentuk yang bisa dibaca, sesuatu akan runtuh.

Bahwa aku akan berubah jadi perempuan yang menghina laki-laki paling baik yang pernah kutemui, karena kebaikannya, dan aku tidak akan bisa hidup sebagai perempuan itu.

Aku duduk di lantai dan menunggu.

Tidak ada.

Yang datang cuma sesuatu yang sama sekali tidak kuduga:

Ringan.

Bukan lega. Lega itu artinya ada yang selesai, dan tidak ada yang selesai.

Bukan bebas. Aku tidak merasa bebas dari apa pun; semua yang kutulis itu tetap benar dan akan selamanya benar.

Cuma ringan.

Seperti orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang sudah lama dipeluk sampai lupa bahwa itu berat.


Aku memikirkan kenapa selama berbulan-bulan setelahnya, dan jawaban terbaik yang bisa kususun adalah ini.

Selama empat belas tahun, aku membawa dua versi diriku di dalam kepala.

Versi pertama: perempuan yang kejam karena takut. Perempuan yang tumbuh dengan ibu yang patah dan mewarisi patahannya, yang menyakiti orang karena tidak tahu cara lain. Perempuan itu menyedihkan, tapi dia bisa dipahami, dan orang yang bisa dipahami bisa dimaafkan.

Versi kedua: yang sebenarnya. Perempuan yang menghina seseorang karena orang itu baik.

Dan aku menghabiskan empat belas tahun memastikan versi kedua tidak pernah keluar dari kepalaku — dengan dua ratus tiga belas halaman, dengan sembilan poin, dengan tidak pernah menyentuh apa pun yang tidak boleh kusentuh.

Menjaga rahasia itu memakan tenaga.

Dan yang paling licik: selama versi kedua masih di dalam, aku masih bisa berdebat dengannya. Aku masih bisa menghabiskan malam-malam mencoba membuktikan bahwa aku bukan perempuan itu. Aku masih punya harapan untuk menang.

Begitu kalimatnya ada di layar, tidak ada lagi yang bisa didebat.

Aku memang perempuan itu.

Dan begitu itu selesai — begitu tidak ada lagi yang perlu dibuktikan, dibela, atau dimenangkan —

seluruh tenaga yang selama ini kupakai untuk berdebat jadi tidak ada tempatnya, dan tenaga itu kembali padaku.

Itu yang namanya ringan.

Bukan pengampunan. Aku tidak memaafkan diriku sendiri malam itu dan aku belum memaafkannya sekarang, dan menurutku itu tidak masalah.

Aku cuma berhenti bertengkar dengan sesuatu yang sudah terjadi.


Aku membuka koperku jam enam pagi.

Aku menggantung semua bajuku, menaruh sepatu di rak, menyusun buku di lantai karena aku belum punya rak buku.

Lalu aku mandi, berangkat kerja, dan hari itu aku menyetujui tiga hal yang sudah tertunda dua minggu karena aku tidak bisa berkonsentrasi.

Empat bulan kemudian aku membeli sofa.

Delapan bulan kemudian aku mendaftar kelas renang.

Dan waktu Ibu bertanya di telepon “kamu di sana lagi ngapain, sih?”, aku punya jawaban, dan jawabannya benar.


Aku menelepon Ibu di suatu malam di bulan kedelapan.

Bukan hari Minggu. Rabu, jam sepuluh malam.

“Kenapa? Ada apa?”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Ya kalau nggak apa-apa kenapa nelepon hari Rabu.”

Aku duduk di sofa baruku di apartemen Wonokromo.

“Bu,” kataku. “Aku mau nanya sesuatu, dan aku mau Ibu jawab jujur walaupun jelek.”

Hening di seberang.

“Ya udah, tanya.”

Aku memandangi lantai.

“Ibu inget nggak, waktu aku kelas tiga SD, Ibu pernah ngomong di dapur? Habis Ayah pergi.”

“Ngomong apa?”

Dan aku mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya dalam dua puluh tujuh tahun.

“Ibu bilang: Ibu terlalu banyak memberi. Sampai nggak ada yang tersisa buat dijaga.

Telepon itu sunyi.

Sunyi yang lama. Cukup lama sampai aku memeriksa layarnya untuk memastikan sambungannya belum putus.

“Bu?”

“Ibu di sini.”

Suaranya berubah.

“Ibu inget?”

“Enggak,” katanya. “Ibu nggak inget sama sekali.”

Aku menutup mataku.

“Tapi Ibu percaya kamu,” lanjutnya. “Ibu waktu itu ngomong sendiri terus tiap hari. Ibu nggak tau kamu di mana.”

“Aku di pintu dapur.”

Aku mendengar sesuatu di seberang — kursi yang ditarik, mungkin. Perempuan itu duduk.

“Kamu bawa itu berapa lama, Lys?”

“Dua puluh tujuh tahun.”

Hening lagi.

Dan lalu aku mendengar ibuku menangis di telepon, dan aku belum pernah mendengar itu seumur hidupku, tidak sekali pun — tidak di pemakaman ayahku, tidak waktu ayahku pergi, tidak waktu aku pindah ke Surabaya dan dia pura-pura mengurus bawang.

“Bu—“

“Bentar.”

Aku menunggu.

Aku menunggu mungkin dua menit penuh, dengan ponsel di telinga, di sofa apartemen di kota yang tidak pernah kubayangkan akan kutinggali.

“Lys,” katanya akhirnya. Suaranya basah dan rata. “Ibu mau minta maaf, tapi Ibu nggak tau maaf buat apa.”

“Bu, nggak usah—“

“Ibu nggak ngajarin kamu itu.”

“Aku tau.”

“Ibu nggak niat—“

“Bu, aku tau.” Aku menekan ponsel lebih rapat. “Aku udah lama tau. Ibu waktu itu lagi tenggelam. Ibu nggak lagi ngajarin siapa-siapa.”

Ibu diam.

“Aku yang mungut,” kataku. “Aku umur sembilan tahun dan aku mungut sesuatu yang jatuh dari tangan Ibu, dan aku bawa selama dua puluh tujuh tahun, dan aku pakai buat—“

Aku berhenti.

“Buat apa?” tanya Ibu.

Dan aku duduk di sofa itu, dan aku memikirkan enam baris yang kutitipkan ke Damar dua tahun lalu, dan aku memikirkan laki-laki yang tidak akan pernah membacanya.

“Buat nyakitin orang,” kataku.


Kami bicara satu jam empat puluh menit malam itu.

Ibu bercerita tentang ayahku. Hal-hal yang tidak pernah kutahu — bahwa mereka menikah karena dijodohkan setengah, bahwa laki-laki itu baik di empat tahun pertama, bahwa yang membuatnya pergi bukan perempuan lain melainkan sesuatu yang jauh lebih membosankan dan jauh lebih menyedihkan.

Dan menjelang tutup, Ibu bilang:

“Lys.”

“Iya?”

“Ibu mau ngomong satu hal, terus Ibu nggak akan ngomongin lagi.”

Aku hampir tertawa.

“Iya, Bu.”

“Yang Ibu bilang di dapur itu,” katanya. “Ibu tarik.”

Aku berhenti bernapas.

“Ibu nggak inget pernah ngomong. Tapi kalau Ibu pernah, Ibu tarik sekarang.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Ngasih semuanya itu nggak salah, Lys.” Suaranya pelan. “Ibu nggak hancur gara-gara ngasih. Ibu hancur gara-gara Ibu nggak nyisain apa-apa buat Ibu sendiri.”

Dia berdeham.

“Itu beda. Ibu butuh dua puluh tujuh tahun buat tau bedanya.”


Aku duduk di sofa itu setelah telepon ditutup, dan lampu apartemen masih menyala, dan di luar ada suara motor lewat.

Dan aku menangis.

Bukan untuk Bintang. Bukan untuk sepuluh tahun. Bukan untuk apa pun yang sudah kutangisi ratusan kali selama empat belas tahun.

Aku menangis untuk anak perempuan berumur sembilan tahun yang berdiri di ambang pintu dapur, memegang gagang pintu, mendengar ibunya bicara sendiri sambil menata piring.

Anak itu tidak melakukan apa pun yang salah.

Dia cuma berdiri di tempat yang salah, di menit yang salah, dan dia mendengar sesuatu yang bukan ditujukan untuknya, dan dia melakukan apa yang dilakukan semua anak sembilan tahun:

Dia percaya.

Aku duduk di sofa apartemen Wonokromo jam dua belas malam dan menangis untuk anak itu selama mungkin setengah jam, dan itu pertama kalinya dalam hidupku aku menangis untuk diriku sendiri tanpa merasa aku sedang mencuri sesuatu.


[Bersambung ke Bab 39 — POV Bintang]