Chapter Twenty
Yang Tidak Kuketahui
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Damar, Bu Ratna, Bintang (dari jauh)
Aku tidak tahu apa-apa tentang hari Selasa itu.
Aku baru mengetahuinya bertahun-tahun kemudian, di dapur, waktu dia menceritakannya sambil mencuci piring dengan nada orang yang bercerita tentang cuaca. Dan waktu dia bercerita, aku harus duduk.
Tapi malam itu — Selasa, jam setengah enam sore, di seberang kedai kopi Jalan Wijaya — aku tidak tahu sama sekali bahwa ada orang yang berdiri di sana.
Yang kuingat dari hari itu cuma tiga hal.
Pertama: rapat sore batal jadi aku bisa pulang lebih awal.
Kedua: kemejaku kotor dan aku harus mencucinya sendiri malamnya karena kalau Ibu yang melihat, dia akan bertanya, dan aku sedang tidak punya tenaga menjelaskan.
Ketiga: bapak penjual jeruk itu memaksa memberiku jeruk dan aku menolak, dan aku menolaknya bukan karena mulia.
Aku menolak karena aku tidak sanggup menerima terima kasih.
Aku sudah begitu selama berbulan-bulan. Ada sesuatu di dalam diriku yang menutup rapat setiap kali seseorang berterima kasih padaku, karena bagian dari kepalaku langsung menghitung — kamu tidak pantas, kamu tahu kamu tidak pantas — dan lebih mudah menolak jeruknya daripada berdiri di sana menahan itu.
Jadi kalau ada yang menganggap aku baik hari itu: tidak.
Aku cuma sedang tidak sanggup dipuji.
Yang kutahu adalah ini: sesuatu berubah di minggu itu.
Aku mengirim pesan hari Jumat. Seperti biasa, dua mingguan, isinya tidak penting.
Ibuku panen cabe. Empat biji. Dia foto-fotoin ke grup keluarga.
Biasanya balasannya datang dalam sehari. Enam kata, delapan kata, kadang cuma satu.
Kali ini tidak ada.
Sehari. Dua hari. Seminggu.
Dan aku, yang sudah menghapus seluruh riwayat percakapan kami empat bulan lalu supaya berhenti menyimpan kuitansi, mendapati diriku menghitung lagi.
Tiga belas hari.
Aku sedang di lift lantai sembilan belas waktu angka itu muncul sendiri di kepalaku, tanpa kuminta, dan aku menempelkan dahi ke dinding lift dan berkata pada diriku sendiri: berhenti.
Setelah tiga minggu, aku bertanya ke Damar.
Ini pertama kalinya aku bertanya tentang Bintang duluan sejak warung kopi itu, hampir dua tahun lalu. Aku menahannya selama dua tahun. Aku bangga pada hal-hal kecil sekarang; itu salah satunya.
Mar, Bintang baik-baik aja kan?
Balasannya masuk empat jam kemudian.
Damar
baik. kenapa emang
Nggak apa-apa. Cuma nanya.
lys
Iya?
dia jadian
Aku sedang berdiri di pantry kantor waktu membacanya.
Aku ingat aku menaruh ponselku di meja pantry, dengan sangat hati-hati, seolah kalau kutaruh terlalu keras sesuatu akan pecah. Lalu aku mengambil gelas. Lalu aku menuangkan air. Lalu aku minum sampai habis, sambil berdiri, memandangi dispenser.
Baru setelah itu aku mengambil ponselku lagi.
Sama siapa?
editor kantornya. namanya kirana
udah lama sih deketnya. gue kira lo tau
Nggak. Aku nggak tau.
lys lo gapapa?
Aku menatap layar itu.
Dan aku mengetik jawaban yang, kalau ada yang bertanya, adalah kalimat paling jujur yang pernah kutulis seumur hidupku:
Aku seneng.
serius?
Serius.
Dan aku memang serius.
Itu bagian yang paling sulit dijelaskan, dan aku sudah mencoba menjelaskannya ke diriku sendiri berkali-kali sejak sore itu.
Aku berdiri di pantry lantai sembilan belas dan hatiku hancur — betul-betul hancur, ada rasa dingin yang turun dari tenggorokan sampai ke perut — dan pada saat yang sama, di ruangan yang sama, ada sesuatu di dalam diriku yang lega.
Karena aku sudah melihat perempuan itu.
Aku melihatnya turun dari gerbang kos dua tahun lalu sambil membawa kantong plastik kosong dan berteriak ke jendela lantai dua supaya supnya dihabiskan.
Aku melihatnya tertawa.
Dan aku sudah tahu sejak malam itu — sejak aku duduk di lantai kamar dan membenci perempuan itu selama sepuluh menit lalu berhenti — bahwa kalau ada seseorang di dunia ini yang boleh mendapatkan Bintang, orangnya bukan aku.
Aku pulang kerja hari itu, makan malam bersama Ibu, mendengarkan cerita tentang cabai, mencuci piring, dan tidur.
Dan aku tidak menangis.
Aku menunggu sepanjang malam untuk menangis, seperti orang menunggu hujan yang mendungnya sudah kelihatan sejak sore.
Tidak turun.
Yang datang malah sesuatu yang lain, sekitar jam dua pagi, waktu aku berbaring menghadap tembok:
Aku memikirkan Bintang duduk di suatu tempat, di suatu restoran, dan ada orang di seberang mejanya yang bertanya hari ini gimana? dan benar-benar menunggu jawabannya.
Dan aku menangis, akhirnya, tapi bukan untuk diriku sendiri.
Kalian boleh percaya atau tidak. Aku sendiri butuh waktu lama untuk percaya.
Aku berhenti mengirim pesan setelah itu.
Bukan drama. Aku tidak mengirim pesan terakhir yang manis. Aku tidak mengumumkan apa-apa.
Aku cuma berhenti.
Alasannya sederhana dan ada di daftarku, poin nomor empat, yang kutulis dua tahun lalu sambil berjalan pulang di bawah hujan:
Kalau kehadiranku bikin dia nggak nyaman, pergi. Nggak usah nunggu disuruh.
Sekarang ada orang lain di ruangan itu.
Dan perempuan mana pun di dunia ini, betapapun baiknya, betapapun jelasnya, tidak seharusnya punya pacar yang tiap dua minggu menerima pesan dari perempuan lain yang tidak bisa dia jelaskan.
Bintang tidak akan bisa menjelaskan aku.
Itu bukan kekurangannya. Itu memang tidak bisa dijelaskan. Bagaimana kamu menjelaskan bahwa ada perempuan yang pernah menghancurkanmu selama sepuluh tahun di kehidupan yang tidak pernah terjadi?
Jadi aku pergi.
Bukan pergi ke mana-mana. Aku masih di kota yang sama, masih di gedung yang sama, masih naik lift ke lantai sembilan belas tiap pagi.
Aku cuma berhenti muncul.
Ibu yang menyadarinya lebih dulu.
“Kamu udah nggak nangis-nangis lagi,” katanya suatu malam, di dapur, tanpa menoleh dari wastafel.
“Iya.”
“Bagus.”
“Iya.”
Dia mematikan keran.
“Terus kenapa mukanya jadi kayak gitu?”
Aku menoleh. “Kayak gimana?”
Ibu mengelap tangannya ke lap, lalu menoleh dan menatapku dengan tatapan yang cuma dimiliki ibu-ibu.
“Kosong.”
Aku tidak menjawab.
Karena dia benar, dan karena aku sudah melihatnya sendiri di foto wisuda kesembilan belas dua tahun lalu — foto yang tidak sengaja, wajah yang belum sempat dipasang.
Aku masih menyimpan foto itu.
“Lys.”
“Hm?”
“Kamu nggak boleh gitu.”
“Gimana, Bu?”
Ibu menaruh lapnya.
“Kamu nyalahin diri kamu sendiri,” katanya. “Ibu nggak tau buat apa dan Ibu nggak akan nanya. Tapi Ibu tau bentuknya. Ibu pernah kayak gitu dua tahun.”
Aku memandangi lantai dapur.
“Boleh,” lanjut Ibu. “Boleh nyesel. Orang emang harus nyesel kalau salah.”
Dia menarik kursi dan duduk — untuk kedua kalinya seumur hidupku, di dapur ini.
“Tapi kamu tuh bukan lagi nyesel.”
“Terus apa?”
“Kamu lagi ngukum diri kamu sendiri,” katanya. “Dan kamu suka.”
Aku mengangkat wajahku terlalu cepat.
“Aku nggak—“
“Ibu juga suka, dulu.” Ibu mengangkat bahu, dan senyumnya miring dan pahit, senyum yang sama dengan dua tahun lalu. “Dua tahun Ibu nggak keluar rumah. Ibu bilang ke diri Ibu sendiri, Ibu lagi berkabung.”
Dia menepuk meja pelan.
“Bohong. Ibu lagi nyaman.”
Kulkas berdengung.
“Kalau kamu ngukum diri sendiri terus,” kata Ibu, “kamu nggak perlu ngapa-ngapain lagi. Nggak perlu berubah. Nggak perlu jadi orang baru. Tinggal duduk di situ, sedih, terus ngerasa udah bayar.”
Aku menggenggam tepi meja.
“Ibu—“
“Yang bener tuh berat, Lys.” Dia berdiri lagi, kembali ke wastafel, kembali mengerjakan sesuatu. “Yang bener tuh kamu harus tetep idup. Tetep makan. Tetep ketawa kalau ada yang lucu. Padahal kamu ngerasa nggak pantes.”
Air keran menyala.
“Itu yang berat. Bukan nangis.”
Aku duduk di dapur itu dengan tangan di tepi meja dan tidak bisa mengatakan apa-apa selama sangat lama.
Karena perempuan yang berdiri membelakangiku di wastafel itu — perempuan yang lima belas tahun lalu mengucapkan sebelas kata yang membentuk seluruh hidupku, perempuan yang tidak akan pernah tahu apa yang dia lakukan — baru saja memberiku hal yang paling berguna yang pernah kudapat dari siapa pun.
Dan dia mengucapkannya sambil mencuci panci.
Aku mulai berubah setelah malam itu, pelan sekali.
Aku menerima ajakan makan siang dari tim. Aku ikut lari pagi hari Minggu bersama orang-orang kantor, dan aku payah sekali, dan seseorang menertawakanku dan aku ikut tertawa dan tidak ada yang mati.
Aku mengambil kelas memasak dua bulan. Aku tidak pandai. Guru kelasnya, ibu-ibu berumur enam puluhan, bilang tanganku terlalu tegang.
“Mbak, ini masak. Bukan operasi.”
Aku belajar membuat sup ayam di minggu ketiga. Aku memasaknya untuk Ibu.
Ibu bilang keasinan. Lalu dia menghabiskannya.
Aku tidak sembuh. Aku ingin jelas soal itu — aku tidak berubah jadi orang yang berbeda, dan wajah kosong di foto wisuda itu masih muncul di cermin kalau aku sedang tidak bersiap.
Tapi aku berhenti membuat rumah dari penyesalan.
Dan itu, ternyata, adalah hal pertama yang benar-benar kulakukan untuk diriku sendiri sejak umur sembilan tahun.
Aku melihat mereka sekali.
Sekitar delapan bulan setelah Damar mengirim pesan itu. Sabtu sore, di mal, bukan mal yang biasa kudatangi — aku sedang menemani teman kantor mencari kado.
Mereka jalan berdua di depan toko sepatu.
Perempuan itu bicara sambil menggerakkan tangan, jelas sedang menceritakan sesuatu yang panjang. Rambutnya diikat asal-asalan, sama seperti dua tahun lalu.
Dan Bintang berjalan di sebelahnya sambil mendengarkan.
Bukan itu yang membuatku berhenti berjalan.
Yang membuatku berhenti: di tengah cerita, Bintang tertawa.
Kepalanya ke belakang sedikit, matanya menyipit, dan dia tertawa dengan suara — aku bisa mendengarnya dari jarak dua puluh meter, di tengah keramaian mal, di antara musik dan orang-orang.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun aku tidur di sebelah laki-laki itu dan aku tidak pernah sekali pun mendengar suara itu.
Aku tidak tahu suaranya seperti itu.
Temanku menarik lenganku dan bertanya kenapa berhenti, dan aku bilang tidak apa-apa, dan kami masuk ke toko sebelah.
Malamnya, di rumah, aku membuka aplikasi catatan yang berjudul HAL-HAL YANG KULAKUKAN.
Aku tidak menambahkan entri.
Aku cuma membaca halaman terakhir, yang kutulis dua tahun lalu:
Ternyata dia bisa. Selama ini dia bisa. Dia cuma nggak pernah dikasih ruang.
Dan di bawahnya, malam itu, aku mengetik satu kalimat terakhir. Setelah itu aku tidak membuka aplikasi itu lagi selama bertahun-tahun.
Hari ini aku denger dia ketawa.
Udah. Cukup.
Ini yang aku minta. Bukan yang lain.
[Bersambung ke Bab 21 — POV Bintang]