Chapter Two
Empat Kalimat
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bintang (tidak hadir), Damar, Vinka (disebut)
Aku pulang jam sebelas lewat dua puluh, dan yang pertama kali kulihat bukan suratnya.
Yang pertama kali kulihat: bingkai foto di dinding ruang tamu sudah kosong.
Aku berdiri di depan pintu sambil melepas sepatu, memandangi kaca kosong itu, dan hal pertama yang muncul di kepalaku adalah kesal. Bukan panik. Bukan curiga. Kesal, seperti orang yang menemukan barangnya dipindahkan tanpa izin.
Ngapain sih.
Baru kemudian aku melihat kertas di meja makan. Terlipat dua kali. Di sebelah kiri.
Aku membacanya sambil berdiri. Butuh dua belas detik. Aku tahu persis dua belas detik karena aku membacanya lagi, dan lagi, dan lagi setelahnya sampai aku hafal, sampai aku bisa menutup mata dan melihat bentuk huruf-hurufnya.
Aku pergi bukan karena aku berhenti sayang.
Dan reaksi pertamaku — ini yang tidak akan pernah bisa kuceritakan ke siapa pun, ini yang akan kubawa sampai mati — reaksi pertamaku adalah mendengus.
Drama.
Itu yang kupikirkan. Dua suku kata. Drama.
Karena begitulah cara kerja kepalaku waktu itu. Bintang tidak pernah pergi. Bintang tidak bisa pergi. Sepuluh tahun aku menguji itu, tiap tahun lebih keras dari sebelumnya, dan tiap kali dia bertahan, dan tiap kali aku membuktikan bahwa aku benar: dia tidak akan ke mana-mana.
Jadi aku melipat suratnya kembali. Aku taruh di tempatnya semula. Aku masuk kamar, ganti baju, cuci muka.
Aku berpikir: besok pagi dia balik.
Aku berpikir: bagus. Biar dia belajar.
Aku bahkan tidak menelepon.
Yang menelepon adalah nomor tidak dikenal, jam satu lewat empat puluh pagi.
Aku angkat karena kupikir kantor.
Ada suara laki-laki yang menyebut nama rumah sakit, lalu menyebut nomor plat motor, lalu menanyakan apakah aku mengenal seseorang bernama Bintang Mahendra, dan aku bilang iya, dan dia bertanya hubungan saya apa dengan yang bersangkutan.
Dan aku diam.
Ini bagian yang perlu kalian pahami, dan aku tidak akan menghaluskannya: aku diam bukan karena syok.
Aku diam karena aku tidak tahu harus menjawab apa.
Sepuluh tahun. Tunangan? Kami memang bertunangan — aku melamarnya di depan orang banyak di tahun kesembilan, tanpa cincin, tanpa persiapan, sebagai tambalan setengah hati untuk sesuatu yang sudah bocor terlalu lama — tapi tidak pernah ada tanggal, tidak pernah ada rencana, tidak pernah ada apa pun setelah malam itu. Pacar? Sepuluh tahun terlalu panjang untuk kata itu. Keluarga? Aku tidak pernah membawanya ke acara keluargaku.
Aku berdiri di dapur, jam satu lewat empat puluh pagi, dan aku tidak bisa menyebutkan hubunganku dengan laki-laki yang sudah tidur di sebelahku selama tiga ribu enam ratus lima puluh malam.
Akhirnya aku bilang, “Saya... yang tinggal serumah.”
Suara di seberang mengatakan sesuatu tentang datang sekarang juga.
Yang mereka minta aku lakukan namanya identifikasi.
Kata yang bersih sekali. Klinis. Seperti pekerjaan kantor.
Aku tidak akan menuliskan bagian itu. Bukan karena tidak sanggup — aku sudah menuliskannya di kepalaku ribuan kali sejak malam itu, tiap malam, dengan detail yang tidak mau memudar — tapi karena tidak penting. Yang penting cuma satu hal yang kulihat di sana, dan hal itu bukan wajahnya.
Punggung tangan kanannya.
Ada bekas luka kecil di situ, garis putih tipis, seperti bulan sabit. Dari tahun keenam, waktu dia memecahkan gelas di dapur dan memungut pecahannya dengan tangan kosong karena aku bilang jangan berisik, aku lagi rapat.
Aku ingat malam itu. Aku ingat aku mendengar bunyi gelas pecah dari kamar. Aku ingat aku menunggu tiga detik untuk memastikan dia tidak akan meminta tolong, dan dia memang tidak meminta tolong, dan aku kembali ke laptopku.
Aku baru tahu tangannya luka empat hari kemudian, waktu dia menyerahkan gelas kopi ke tanganku dan aku melihat plesternya, dan aku bertanya, “Kenapa tuh?”
Dan dia bilang, “Nggak apa-apa. Kepeleset.”
Dia bohong supaya aku tidak merasa bersalah.
Di rumah sakit itu, jam empat pagi, aku memandangi bekas luka kecil berbentuk bulan sabit itu, dan itulah pertama kalinya sesuatu di dalam diriku patah.
Bukan waktu melihat wajahnya. Waktu melihat tangannya.
Damar datang ke pemakaman.
Aku tidak tahu bagaimana dia tahu; mungkin dari tetangga kos lamanya, mungkin dari rumah sakit. Dia berdiri di barisan paling belakang sepanjang acara, memakai kemeja yang jelas bukan miliknya, dan dia tidak menangis sama sekali.
Setelah semuanya selesai, waktu orang-orang mulai bubar, dia menghampiriku.
Aku sudah menyiapkan diri untuk dipukul. Sungguh. Aku berdiri di sana dan aku ingin dipukul, karena kalau dipukul artinya ada harga yang dibayar dan kalau ada harga yang dibayar artinya masih ada semacam neraca yang bisa diseimbangkan.
Damar tidak memukulku.
Dia cuma berdiri di depanku, memandangi wajahku agak lama, seperti orang yang sedang menghafal sesuatu untuk diingat nanti.
Lalu dia bilang, pelan sekali, hampir seperti bertanya:
“Dia sempat bahagia nggak, sih?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
Damar mengangguk sekali — bukan mengangguk mengerti, tapi mengangguk seperti orang yang baru saja mendapat jawaban yang sudah dia duga — lalu dia pergi. Tidak menoleh lagi.
Itu kalimat terakhir yang dia ucapkan padaku selama sisa hidupku di dunia itu.
Bukunya kutemukan sembilan hari kemudian.
Aku sedang membereskan meja kerjanya. Bukan karena ingin — karena harus. Ada surat dari leasing motor yang butuh dokumen, dan dokumennya di laci, dan laci itu tidak pernah kubuka seumur hidup karena aku tidak pernah sekali pun penasaran dengan apa yang dia simpan.
Sampul abu-abu. Sudutnya lecek. Karetnya kendur.
Halaman pertama, spidol hitam:
HAL-HAL YANG TIDAK JADI KUKATAKAN
Aku duduk di kursinya dan membacanya dari awal.
Tanggalnya dimulai tahun kedua. Tulisannya rapi di awal, makin lama makin kecil, makin lama makin miring, seperti orang yang menulis buru-buru sebelum ketahuan.
Hari ini dia potong rambut. Pendek. Bagus banget. Aku hampir bilang tapi dia lagi ngetik. Nanti aja.
Hari ini dia pegang tanganku tiga detik waktu nyeberang. Tiga detik. Cukup buat seminggu.
Dia batuk semalaman. Aku bangun jam 2 buat naruh air anget di meja. Paginya udah nggak ada. Nggak tahu dia minum atau dibuang. Nggak nanya.
Hari ini dia bilang aku bukan siapa-siapa. Cuma nebeng. Aku ketawa biar dia nggak canggung.
Aku berhenti di situ.
Aku ingat pesta itu. Ulang tahun Vinka, tahun keenam. Bintang mengulurkan tangan ke teman-temanku dan mulai memperkenalkan diri, dan aku memotongnya — aku memotongnya sambil tersenyum, dengan nada bercanda yang ringan sekali, nada yang sudah kulatih bertahun-tahun — dan semua orang tertawa.
Dan Bintang tertawa juga.
Aku ingat berpikir waktu itu: bagus. Dia santai orangnya.
Aku membalik halaman.
Hari ini aku hampir bilang aku capek. Tapi nanti dia mikir aku nyalahin dia. Ya udah.
Foto studio yang ketiga. Nggak apa-apa, dia sibuk. Aku ambil dua tiket lagi buat bulan depan. Mbaknya udah hafal mukaku.
Ibu meninggal. Aku nggak nyalahin dia. Sungguh. Aku cuma pengen dia nanya.
Ada tiga ratus dua puluh tujuh entri.
Aku menghitungnya. Malam itu juga, sampai jam empat pagi, aku menghitungnya satu per satu dengan pensil, memberi nomor di sudut tiap halaman, karena aku butuh melakukan sesuatu dengan tanganku dan menghitung adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan tanpa berpikir.
Tiga ratus dua puluh tujuh.
Dan tidak ada satu pun — satu pun — yang berisi kebencian terhadapku.
Itu bagian yang membunuhku. Kalau ada satu saja halaman di mana dia memakiku, satu saja di mana dia menulis aku benci dia, mungkin aku bisa bertahan. Aku bisa memegang halaman itu dan berkata pada diriku sendiri, nah, dia juga jahat, kami impas.
Tidak ada.
Sepuluh tahun, dan laki-laki itu tidak pernah sekali pun membenciku, bahkan di dalam buku yang dia yakin tidak akan pernah ada yang baca.
Dan kemudian aku sampai ke pemahaman yang paling tidak bisa kulawan.
Bukan di malam itu. Beberapa hari kemudian, waktu aku sedang berdiri di dapur memegang gelas kosong, dan tiba-tiba semuanya tersusun sekaligus di kepalaku seperti orang membuka tirai:
Aku berhasil.
Sepuluh tahun aku bekerja keras — dan itu memang kerja keras, itu butuh ketekunan, itu butuh konsistensi yang luar biasa — untuk membuat laki-laki itu cukup kecil sehingga kehilangan dia nanti tidak akan membunuhku.
Itu logikanya. Itu selalu logikanya sejak awal.
Ibuku dulu mencintai dengan cara memberikan segalanya, dan waktu ayahku pergi, ibuku hancur sampai tidak bisa berdiri, dan aku yang umur sembilan tahun berdiri di dapur melihat dia menata piring dengan tangan gemetar sambil bilang, “Ibu terlalu banyak memberi. Sampai nggak ada yang tersisa buat dijaga.”
Dan aku belajar. Aku belajar dengan sangat baik.
Kalau kamu tidak pernah menunjukkan bahwa seseorang berharga bagimu, maka dia tidak punya kuasa untuk menghancurkanmu saat dia pergi.
Jadi selama sepuluh tahun aku mengecilkan Bintang. Sedikit demi sedikit, dengan sabar, dengan kejam, sampai ke ukuran yang aman untuk hilang.
Dan sekarang dia hilang.
Dan aku tidak bisa berdiri dari lantai dapur selama dua hari.
Dua hari itu bukan kiasan.
Jumat sore aku duduk di lantai dapur karena kakiku tidak mau menahan berat badanku lagi, dan Minggu pagi aku masih di sana. Ada gelas yang pecah di dekat kulkas dan aku tidak memungutnya. Ponselku berdering entah berapa puluh kali dari kantor dan aku mendengarnya seperti mendengar suara dari apartemen tetangga.
Aku tidak menangis meraung-raung. Itu juga bukan yang terjadi.
Aku cuma... berhenti.
Dan di jam-jam kosong itu, aku memikirkan satu hal berulang-ulang, hal yang paling sederhana dan paling tidak bisa kuperbaiki:
Dia menaruh gelas di sebelah kiri.
Selalu. Setiap kali. Sepuluh tahun.
Dan aku tidak pernah menyadarinya sampai dia mati.
Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Sepuluh tahun, tiga ribu enam ratus lima puluh kali sarapan, dan aku duduk di depannya, dan aku melihat ke arahnya, dan aku tidak melihat apa-apa.
Karena aku memang tidak pernah benar-benar melihatnya.
Itu kejahatanku. Bukan kata-kata kasarnya, bukan malam-malam yang kutinggalkan, bukan ulang tahun yang kulewatkan. Kejahatanku adalah dia duduk di seberangku selama sepuluh tahun dan aku tidak pernah repot-repot melihat.
Aku menempelkan dahi ke pintu kulkas, di lantai dapur itu, dan aku berbisik ke ruangan kosong — dan ini kalimat paling jujur yang pernah keluar dari mulutku seumur hidup:
“Aku sayang kamu.”
Sepuluh tahun. Dan aku baru bisa mengucapkannya di ruangan yang tidak ada orangnya.
06.11.
Kamarku. Rumah Ibu.
Aku tahu itu kamarku sebelum aku membuka mata, karena baunya. Pengharum lemari yang Ibu selalu beli — merek yang berhenti diproduksi entah tahun berapa — dan bau kayu lemari tua dan bau nasi goreng dari dapur.
Aku membuka mata dan menatap langit-langit yang tidak pernah kulihat lagi sejak umur dua puluh tiga.
Aku tidak bergerak. Sangat lama.
Bukan karena bingung. Justru sebaliknya — aku mengerti terlalu cepat, dan pengertian itu masuk ke dadaku seperti seseorang menuangkan air panas ke dalamnya, dan aku terlalu takut bergerak karena bergerak berarti mungkin ini akan berhenti.
Ponsel di meja. Layarnya menyala waktu kusentuh.
06.11 Senin, 14 Maret
Ada satu pesan terkirim di layar, terkirim tiga menit lalu. Oleh tanganku sendiri, yang tidak kuingat mengetiknya, karena tangan ini memang belum mengetiknya — tangan ini mengetiknya sepuluh tahun lalu.
Ke: Bintang
Nanti jadi ketemu di halte kan?
Aku menatap layar itu sampai mataku perih.
Hari ini. Sore ini. Halte itu. Hujan itu.
Sore ini laki-laki itu akan berdiri di depanku dengan seluruh tubuhnya basah karena dia berlari dari terminal dan lupa bawa payung, dan dia akan bilang dia mencintaiku dengan suara yang bergetar, dan aku —
Aku akan menjawab, “Ya udah.”
Dua kata.
Dan dia akan bahagia selama seminggu penuh karena dua kata itu, dan dia akan menulisnya di halaman pertama buku abu-abu yang belum dia beli, dan sepuluh tahun kemudian dia akan mati di perempatan Jalan Kemuning sambil mengkhawatirkan apakah aku akan salah paham.
Aku menekan ponsel itu ke dadaku dengan dua tangan.
Dan untuk pertama kalinya sejak umur sembilan tahun, aku menangis dengan suara.
[Bersambung ke Bab 3 — POV Bintang]