Chapter Thirty Six
Kota yang Tidak Ada Dia di Dalamnya
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bu Ratna (lewat telepon), Kirana (lewat telepon), Damar (lewat pesan)
Surabaya panas dengan cara yang berbeda dari Jakarta.
Itu hal pertama yang kutulis di catatanku minggu pertama, dan aku menuliskannya karena aku tidak punya hal lain untuk ditulis.
Aku menyewa apartemen kecil di daerah Wonokromo. Dua kamar, satu tidak terpakai. Aku membeli kasur, meja, dan dua kursi, dan selama tiga bulan pertama aku tidak membeli apa pun lagi karena aku belum yakin aku benar-benar tinggal di sana.
Kantornya baru. Timku dua puluh tiga orang, semuanya lebih muda dariku, semuanya memanggilku “Bu” dan aku menyuruh mereka berhenti dan mereka tidak berhenti.
Pekerjaannya berat. Itu bagus. Itu satu-satunya yang bagus di enam bulan pertama.
Aku ingin menuliskan sesuatu tentang enam bulan pertama itu yang belum pernah kuceritakan ke siapa pun, termasuk ke Kirana, termasuk ke Ibu.
Aku pikir aku akan merasa lega.
Aku sudah membayangkannya selama tiga bulan sebelum pindah — bahwa begitu aku keluar dari kota itu, sesuatu di dadaku akan longgar. Bahwa aku akan bisa bernapas.
Yang terjadi kebalikannya.
Karena selama dua belas tahun di Jakarta, aku hidup dengan satu hal yang tidak pernah kuakui: kemungkinan.
Bukan harapan. Aku sudah membunuh harapan berkali-kali, dengan sangat rapi, dan aku bangga pada itu.
Kemungkinan itu lain. Kemungkinan itu tidak butuh diberi makan. Kemungkinan itu cuma perlu geografi.
Selama aku di kota yang sama, ada kemungkinan — sangat kecil, mungkin satu banding sepuluh ribu — bahwa aku akan berpapasan dengannya di toko buku, di mal, di lampu merah. Sudah terjadi dua kali dalam dua belas tahun.
Di Surabaya, angkanya nol.
Bukan kecil. Nol.
Dan aku tidak tahu bahwa selama dua belas tahun aku bernapas di atas angka satu banding sepuluh ribu itu sampai angkanya jadi nol.
Bulan pertama aku tidak bisa tidur. Bulan kedua aku bisa tidur tapi bangun jam tiga tiap malam. Bulan ketiga aku mulai bekerja empat belas jam sehari, dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan, dan aku melakukannya juga.
Ibu meneleponku tiap Minggu.
“Kamu udah makan?”
“Udah, Bu.”
“Bohong.”
“Ya nanti aku makan.”
“Lys.”
“Iya?”
“Kamu di sana lagi ngapain, sih?”
Dan aku duduk di lantai apartemen kosong di Wonokromo dengan ponsel di telinga dan tidak bisa menjawab.
Yang menyelamatkanku bukan sesuatu yang besar.
Bulan keempat, salah satu anak timku — namanya Sekar, dua puluh empat tahun, baru lulus — menangis di ruang rapat.
Bukan karena aku. Karena presentasinya berantakan dan direktur regional memotongnya di tengah dan dia tidak siap.
Setelah rapat, dia datang ke mejaku dan minta maaf, dan dia masih menahan tangis, dan dia bilang:
“Maaf ya Bu, saya nggak profesional.”
Dan aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang tenang dan benar dan berguna.
Yang keluar malah:
“Sekar, kamu udah makan?”
Dia mengerjap.
“...Belum, Bu.”
“Ya udah. Ayo.”
Dan aku membawanya makan di warung depan kantor, dan kami tidak membicarakan presentasinya sama sekali selama empat puluh menit, dan waktu kembali ke kantor dia sudah tidak menangis.
Aku duduk di mejaku sore itu dan menyadari sesuatu.
Sepuluh tahun di kehidupan pertama, ada seorang laki-laki yang bertanya kamu udah makan? kepadaku hampir tiap hari.
Dan aku menganggapnya basa-basi. Aku menganggapnya sesuatu yang diucapkan orang untuk mengisi ruang.
Aku bahkan pernah kesal karenanya. Tahun kedelapan, aku pulang capek dan dia bertanya dan aku bilang nggak usah nanya terus, kayak anak kecil aja.
Dan dia bilang “oh, iya.”
Dan dia berhenti bertanya. Selama dua tahun terakhir, dia tidak pernah bertanya lagi.
Aku duduk di meja kantor Surabaya, dua belas tahun kemudian, dan akhirnya mengerti bahwa itu bukan basa-basi.
Itu satu-satunya cara laki-laki itu tahu untuk bilang aku ada di sini dan aku memperhatikanmu, karena semua cara yang lebih besar sudah kututup satu per satu.
Dan aku memotong yang terakhir.
Aku mulai membangun sesuatu setelah itu.
Pelan. Tidak dramatis.
Aku mulai makan siang bersama tim. Aku menghafal nama anak-anak mereka. Aku belajar bahwa Sekar menggambar di waktu luangnya dan aku memintanya menunjukkan gambarnya, dan gambarnya bagus, dan aku bilang begitu, keras-keras, di depan orang lain.
Aku pindah ke apartemen yang lebih baik dan membeli sofa.
Aku bergabung dengan kelas renang untuk orang dewasa — bukan karena aku ingin berenang. Karena aku ingin bisa bilang ke Ibu bahwa aku mengambil kelas renang.
Dan di bulan kedelapan, waktu Ibu menelepon dan bertanya “kamu di sana lagi ngapain, sih?”, aku punya jawaban.
“Aku lagi bikin hidup, Bu.”
Ibu diam di seberang cukup lama.
“Ya udah,” katanya. “Bagus.”
Dan lalu, sebelum menutup:
“Lys.”
“Iya?”
“Ibu boleh ke sana nggak?”
Aku menempelkan tangan ke mulut.
“Ibu bosen di sini,” katanya cepat, sebelum aku sempat menjawab. “Kolamnya jelek. Airnya bau kaporit.”
“Ibu, kolamnya udah tujuh tahun sama.”
“Ya makanya bosen.”
Aku menjemputnya di bandara tiga minggu kemudian.
Dia tinggal empat bulan. Dia mengomel tentang panasnya, tentang macetnya, tentang harga cabai yang katanya lebih mahal. Dia menemukan kolam renang komunitas di dekat apartemen dalam sepuluh hari.
Dan di malam terakhir sebelum dia pulang, di meja makan apartemenku, dia bilang:
“Lys.”
“Iya, Bu?”
“Ibu mau ngomong, terus Ibu nggak akan ngomongin lagi.”
Aku menaruh sendokku, karena aku sudah hafal kalimat pembuka itu.
“Kamu udah nggak nunggu,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
“Ibu liat,” lanjutnya. “Waktu di Jakarta, kamu tuh kayak orang yang lagi berdiri di halte. Sekarang enggak.”
Dia mengangkat bahu.
“Sekarang kamu kayak orang yang punya rumah.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
“Bu.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari dia dateng,” kataku, dan suaraku keluar lebih kecil dari yang kumau, “aku harus gimana?”
Ibu memandangiku di meja makan apartemen kecil di Wonokromo itu.
Dan perempuan berumur tujuh puluh tahun yang lima belas tahun lalu — dua puluh tujuh tahun lalu, di hitungan yang lain — berdiri di dapur dan mengucapkan sebelas kata yang membentuk seluruh hidupku, menjawab:
“Ya kamu tanya dia mau apa.”
“Terus?”
“Terus kamu bilang kamu mau apa.”
Dia mengambil sendoknya lagi.
“Gitu doang, Lys. Orang normal gitu doang.”
Aku menulis suratnya tiga hari sebelum pindah dari Jakarta, dua tahun sebelum semua ini.
Aku menulisnya tujuh kali.
Enam versi pertama kubuang, dan aku tahu persis kenapa aku membuangnya: karena keenamnya punya kail.
Versi pertama menceritakan sembilan jam di parkiran. Kubuang — itu tagihan.
Versi kedua meminta maaf lagi. Kubuang — dua belas tahun, dan aku masih mencoba memindahkan bebanku ke tangan orang lain dengan menyebutnya permintaan maaf.
Versi ketiga menceritakan bahwa aku mencintainya. Kubuang, dan yang ini paling lama kupandangi sebelum kurobek — karena begitu kalimat itu ada di tangannya, laki-laki itu harus melakukan sesuatu dengannya. Dia harus menjawab, atau memilih tidak menjawab, dan tidak menjawab pun jadi keputusan yang harus dia pikul.
Aku sudah menaruh terlalu banyak hal di pundak orang itu selama sepuluh tahun.
Aku tidak akan menaruh yang terakhir.
Versi ketujuh panjangnya enam baris.
Aku menitipkannya ke Damar di warung kopi yang bapaknya menyetel dangdut — warung yang sama dengan lima belas tahun lalu, yang ternyata tidak pernah tutup di dunia ini, dan aku baru menyadari itu waktu duduk di kursi plastiknya lagi.
Damar membaca instruksinya, bukan suratnya.
Kasih ke dia kalau dia nanya aku ke mana. Kalau dia nggak nanya, buang aja.
Dia mengangkat wajah.
“Lys. Ini apaan?”
“Ya itu.”
“Kalau dia nggak nanya-nanya selama sepuluh tahun?”
“Ya berarti sepuluh tahun.”
Damar menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
“Lo tau nggak,” katanya akhirnya, “gue benci lo selama bertahun-tahun.”
“Aku tau.”
“Gue nggak tau kenapa. Gue nggak pernah tau apa yang lo lakuin.” Dia mengaduk es tehnya. “Gue cuma tau ada sesuatu, dan gue tau itu lo, dan gue benci lo.”
“Iya.”
“Terus lo minta gue nyimpen surat yang mungkin nggak akan pernah gue kasihin.”
Aku tidak menjawab.
Damar menyandarkan punggung ke kursi plastiknya, dan dia memandangi jalanan di luar warung cukup lama.
“Gue simpen,” katanya.
“Makasih, Mar.”
“Bukan buat lo.” Dia mengangkat bahu. “Buat dia. Kalau suatu hari dia nanya, gue nggak mau jawabannya cuma ‘nggak tau’.”
Dia melipat surat itu dan memasukkannya ke dompetnya.
Dan sebelum aku pergi, dia bilang satu hal lagi.
“Lys.”
“Iya?”
“Dulu lo pernah minta gue satu hal. Di warung ini juga, lima belas tahun lalu.”
Aku berhenti di ambang warung.
“Lo bilang: jangan ninggalin dia.” Damar menatapku. “Lo inget nggak?”
“Inget.”
“Gue nggak ninggalin dia,” katanya. “Lima belas tahun. Nggak sekali pun.”
Dan laki-laki itu mengangkat gelas es tehnya sedikit, ke arahku, seperti orang yang menyelesaikan sesuatu.
“Jadi kita impas.”
Isi suratnya enam baris.
Aku tidak akan menuliskannya di sini.
Bukan karena rahasia. Karena surat itu masih ada, dan yang membacanya cuma satu orang, dan aku ingin bagian itu jadi miliknya.
Yang bisa kutuliskan cuma ini: tidak ada satu pun kata “maaf” di dalamnya.
Dua belas tahun aku mengucapkan kata itu, dalam pesan, dalam dua ratus tiga belas halaman, di depan pagar rumah ibuku dalam gelap.
Dan di kertas terakhir yang akan sampai ke tangannya, aku akhirnya berhenti.
Karena minta maaf selalu meminta sesuatu.
Dan aku sudah selesai meminta.
[Bersambung ke Bab 37 — POV Bintang]