← Chapters Ch. 42 / 51

Chapter Forty Two

Empat Puluh Satu Hari

POV: Allysa

Karakter: Allysa, Bu Ratna, Kirana (lewat telepon), Sekar


Dia menginap dua malam di Surabaya lalu pulang.

Kami tidak bertemu lagi selama dua hari itu. Itu kesepakatannya — bukan kesepakatan yang diucapkan, cuma sesuatu yang jelas bagi kami berdua sejak dia berdiri di lorong dan bilang aku nggak akan mati kalau nunggu enam bulan lagi.

Dia mengirim satu pesan sebelum naik kereta.

Aku pulang. Nomorku masih yang ini.

Kamu nggak usah kabarin kalau udah mikir. Kabarin kalau kamu udah tau kamu mau apa.

Kalau jawabannya nggak, itu juga jawaban. Aku nggak akan nanya dua kali.

Aku membaca pesan itu di meja makan, dan Ibu duduk di seberangku sedang mengupas jeruk, dan dia mengangkat wajahnya dan bilang:

“Kenapa mukanya gitu?”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Lys.”

Aku menaruh ponselku.

“Dia bilang aku nggak usah buru-buru.”

Ibu mengangguk sambil terus mengupas.

“Ya bagus.”

“Bu.”

“Hm?”

“Aku nggak tau harus gimana.”

Dan ibuku menyodorkan setengah jeruk ke arahku.

“Ya makan dulu,” katanya.


Butuh empat puluh satu hari.

Aku menghitungnya, dan aku menghitungnya bukan karena aku menghitung hari-hari lagi seperti dulu. Aku menghitungnya karena di hari keempat puluh satu aku menulis di catatan: hari ke-41. Udah tau.

Aku akan menceritakan apa yang terjadi dalam empat puluh satu hari itu, karena tidak ada satu pun yang dramatis dan itulah gunanya.


Minggu pertama aku tidak memikirkannya sama sekali.

Itu bukan kiasan. Aku benar-benar tidak memikirkannya, dan aku terkejut pada diriku sendiri.

Ada tiga hal di kantor yang harus selesai sebelum kuartal berganti. Aku bekerja, aku pulang, aku bertengkar dengan Ibu tentang volume TV, aku tidur.

Dan di hari keenam, waktu aku sedang mengantre di kasir supermarket, aku baru sadar: aku belum memikirkannya selama enam hari.

Dua puluh lima tahun lalu, kalau laki-laki itu mengirimiku satu pesan, aku tidak akan bisa mengerjakan apa pun selama tiga hari.

Aku berdiri di antrean kasir dan merasakan sesuatu yang aneh — bukan senang, bukan sedih.

Semacam pengakuan.

Oh. Aku punya hidup sekarang.


Minggu kedua aku mulai takut.

Dan yang kutakutkan bukan yang kalian kira.

Aku takut aku akan bilang iya karena aku merasa harus.

Aku duduk di lantai kamar di malam kesebelas dan menulis di ponselku, dan aku menulis pertanyaannya dengan sangat jujur, karena aku sudah lama berhenti punya alasan untuk tidak:

Kalau aku bilang iya, aku bilang iya karena apa?

Dan aku menuliskan semua jawaban yang muncul, tanpa menyaring, seperti orang menuang isi tas ke meja.

Karena aku pengen.

Karena kalau aku bilang nggak, aku nyakitin dia lagi.

Karena aku ngerasa aku ngutang dan ini caranya bayar.

Karena ini kesempatan terakhir dan kalau aku nolak nggak akan ada lagi.

Karena aku pengen tau gimana rasanya kalau aku nggak jahat.

Karena aku pengen.

Aku menatap daftar itu.

Enam jawaban. Cuma dua yang bersih, dan keduanya kalimat yang sama, dan aku menuliskannya dua kali tanpa sadar.

Empat sisanya adalah bentuk-bentuk lama.

Dan aku duduk di lantai kamar itu dan menyadari bahwa Kirana benar — Kirana yang bilang di telepon, Mbak tuh orangnya kalau ada yang dateng, Mbak bakal mikir Mbak harus bayar.

Kalau aku menjawab minggu itu, aku akan menjawab dengan salah satu dari empat yang kotor.

Jadi aku tidak menjawab.


Minggu ketiga aku menelepon Kirana.

Aku menceritakan semuanya. Bukan sepuluh tahun — itu tidak akan pernah bisa kuceritakan ke siapa pun kecuali satu orang, dan sekarang aku tahu persis bagaimana rasanya karena laki-laki itu berdiri di lorong lantai sembilan dan bilang dia capek menyimpannya sendirian.

Aku menceritakan bagian yang bisa diceritakan.

Bahwa dia datang. Bahwa dia bilang dia tidak punya perasaan itu. Bahwa dia meminta sesuatu.

Kirana diam agak lama di seberang telepon.

“Mbak,” katanya. “Dia bilang dia nggak sayang sama Mbak?”

“Dia bilang dia nggak punya perasaan itu.”

“Dan Mbak masih mikirin?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku duduk di sofa dan memandangi lampu ruang tamu.

“Karena dia jujur,” kataku.

Kirana menunggu.

“Ran, kalau dia dateng ke sini terus bilang ‘aku masih cinta kamu, ayo balikan’ — aku bakal nolak.”

“Serius?”

“Serius.” Aku menarik napas. “Karena itu bohong. Nggak ada orang yang masih cinta setelah dua puluh lima tahun dan sebelas tahun nggak ketemu. Yang ada cuma orang yang kangen sama versi dirinya sendiri yang dulu.”

Hening di seberang.

“Dia nggak ngasih aku itu,” kataku. “Dia ngasih aku yang bener. Dia bilang aku nggak punya perasaan itu, dan aku nggak tau caranya maafin kamu, dan aku mau minta tolong.”

Aku menutup mataku.

“Ran, itu tiga kalimat paling nggak romantis yang pernah aku denger.”

“Terus?”

“Terus itu satu-satunya yang aku percaya.”


Minggu keempat Ibu bertanya.

Kami sedang makan malam. Dia menaruh sendoknya di tengah dan bilang:

“Lys, Ibu tanya sekali.”

“Iya, Bu.”

“Kamu mau nggak?”

Dan aku duduk di meja makan itu dan mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya:

“Mau, Bu.”

Ibu mengangguk.

“Ya udah.”

“Tapi—“

“Nah.” Dia mengambil sendoknya lagi. “Kamu selalu ada ‘tapi’.”

“Bu, dengerin dulu.”

Ibu menunggu.

“Aku takut aku nggak bisa nerima,” kataku.

“Nerima apa?”

“Apa pun.” Aku memutar gelasku. “Bu, aku dua puluh lima tahun nggak pernah nerima apa-apa dari dia. Nggak sekali pun. Aku selalu yang ngasih, dan aku selalu ngasih diem-diem, dan aku bahkan nggak pernah nempelin nama aku.”

Aku mengangkat wajah.

“Kalau dia ngasih aku sesuatu, aku nggak tau harus gimana.”

Ibu mengunyah pelan.

“Ya latihan.”

“Bu—“

“Kamu tuh selalu mikir semua harus beres dulu baru boleh mulai,” katanya. “Ibu belajar berenang umur enam puluh dua. Ibu tenggelem berapa kali menurut kamu?”

“Bu, ini beda.”

“Ya beda.” Dia mengangkat bahu. “Ini lebih gampang. Nggak ada airnya.”


Hari keempat puluh satu jatuh di hari Rabu, dan yang membuatku tahu bukan sesuatu yang besar.

Sekar datang ke mejaku sore itu untuk pamit — dia dapat tawaran di perusahaan lain, posisi yang lebih baik, dan dia sudah dua minggu tidak berani memberitahuku.

Dia berdiri di depan mejaku dan hampir menangis.

“Maaf ya, Bu.”

“Maaf buat apa?”

“Ya—“ Dia menggerakkan tangannya. “Ibu udah ngajarin saya banyak banget. Terus saya malah pergi.”

Dan aku berdiri dari kursiku dan memeluk anak itu di tengah kantor, dan aku bilang:

“Sekar, itu bagus banget.”

“Ibu nggak marah?”

“Marah kenapa?”

Dan dia bilang sesuatu yang membuatku berdiri diam di tengah kantor selama beberapa detik terlalu lama:

“Saya takut Ibu ngerasa saya nggak tau terima kasih.”


Aku pulang malam itu dan duduk di sofa dan tidak menyalakan TV.

Karena aku baru saja melihat sesuatu.

Anak itu takut pergi karena dia merasa berhutang.

Dan aku — yang menghabiskan empat tahun memberinya waktu, kesempatan, dan koreksi — aku tidak merasa dia berhutang sedikit pun. Sama sekali tidak. Aku ingin dia pergi. Aku senang dia pergi.

Semua yang kuberikan kepada anak itu selama empat tahun bukan pinjaman.

Aku memberikannya karena aku mau.

Dan aku duduk di sofa apartemen Gubeng jam sembilan malam dan mengucapkan sesuatu keras-keras di ruangan kosong, kepada tidak seorang pun:

“Oh.”

Karena kalau itu benar untuk Sekar —

kalau seseorang bisa memberi bertahun-tahun tanpa membuat penerimanya berhutang —

maka semua yang kulakukan selama dua puluh lima tahun juga bukan pembayaran.

Aku menghitungnya sebagai pembayaran. Aku menyusun seluruh hidupku sebagai pembayaran. Tapi tidak ada satu pun orang di sisi lain yang mengeluarkan tagihan.

Bintang tidak pernah menagihku. Sekali pun. Dua puluh lima tahun.

Yang menagih cuma aku.

Aku duduk di sofa itu dengan tangan menutup mulut.

Dua puluh lima tahun aku mengira aku sedang membayar utang.

Ternyata aku cuma perempuan yang menolak berhenti menghukum dirinya sendiri, dan aku menyebutnya penebusan karena itu terdengar lebih baik.


Aku mengirim pesannya jam sebelas malam.

Bintang, aku udah tau.

Balasannya masuk empat menit kemudian.

Iya?

Dan aku duduk di sofa itu dan mengetik dengan tangan yang gemetar, dan aku menulis ulang tiga kali, dan versi yang akhirnya kukirim adalah versi paling pendek karena dua versi sebelumnya masih punya kail.

Aku mau cerita ke kamu.

Bukan buat bayar. Bukan buat kamu maafin aku.

Aku mau cerita karena aku juga capek nyimpen sendirian, dan cuma kamu yang tau itu pernah ada.

Jadi ini bukan aku nolongin kamu. Ini kita berdua.

Aku menekan kirim dan langsung menaruh ponselku telungkup di sofa.

Tiga menit.

Lalu ponselnya bergetar.

Oke.

Dan, dua puluh detik kemudian:

Aku sabtu depan ke Surabaya.

Dan, dua puluh detik kemudian lagi — dan pesan yang ini yang membuatku menekan ponsel itu ke dada dan menangis di sofa jam sebelas lewat, dengan ibuku sudah tidur di kamar sebelah:

Lys, ini bakal lama banget ya.

Sepuluh tahun. Dua sisi.

Kita butuh berapa lama buat nyeritain semuanya?

Aku mengetik jawabannya.

Nggak tau.

Lama.

Dan dia membalas:

Bagus.


[Bersambung ke Bab 43 — POV Bintang]