Chapter Thirty Seven
Enam Baris
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Damar
“Dia udah pindah.”
Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain.
“Pindah ke mana?”
“Surabaya.” Damar berhenti. “Dua tahun lalu, Bin.”
Aku berdiri di lantai dua studio dengan tangan di kusen jendela.
Dua tahun.
Perempuan itu sudah tidak ada di kota ini selama dua tahun, dan aku tidak tahu.
Dan aku ingin menuliskan reaksiku dengan jujur, karena reaksiku bukan yang seharusnya.
Yang pertama muncul bukan sedih. Bukan kehilangan.
Panik.
Panik yang dingin dan cepat, jenis yang muncul waktu kamu menepuk saku dan dompetmu tidak ada di sana.
Dan aku berdiri di jendela itu dan menyadari, dengan sangat jelas, bahwa aku baru saja mengetahui sesuatu tentang diriku sendiri yang sudah dua belas tahun kutolak:
Aku sudah menganggap perempuan itu sebagai sesuatu yang tersimpan.
Bukan orang. Bukan seseorang yang menjalani hidupnya sendiri dengan pekerjaan, ibunya, dan pilihan-pilihan yang tidak ada hubungannya denganku.
Aku menganggapnya sebagai satu-satunya arsip dari sepuluh tahun yang tidak pernah terjadi. Aku menyimpannya di suatu tempat di kota ini seperti orang menyimpan kotak di gudang, dan aku tidak pernah membukanya selama sebelas tahun, dan aku menganggapnya akan selalu ada di sana kalau suatu hari aku butuh.
Dua belas tahun aku bilang pada diriku sendiri bahwa aku tidak menginginkannya.
Itu benar.
Yang tidak pernah kuperiksa adalah pertanyaan yang lain: apakah aku sedang menyimpannya.
Dan jawabannya baru saja masuk lewat telepon dalam empat kata.
“Bin? Lo masih di situ?”
“Masih,” kataku.
“Lo nggak apa-apa?”
Aku menekan dahi ke kaca jendela.
“Mar,” kataku. “Kenapa lo nggak bilang?”
Dan Damar diam agak lama sebelum menjawab.
“Karena lo nggak nanya,” katanya.
Dia datang ke studio hari Sabtu.
Aku pikir dia mau makan siang. Dia sudah duduk di kursi seberang mejaku sepuluh menit, membicarakan anaknya yang mulai jalan, waktu dia mengeluarkan dompetnya.
Dan mengeluarkan kertas terlipat dari dalamnya.
Kertasnya sudah lusuh. Lipatannya menipis di garisnya, warnanya sudah bukan putih lagi, dan sudutnya melengkung karena bertahun-tahun ditekan di dalam dompet laki-laki yang duduk di atas dompetnya sendiri.
Dia menaruhnya di mejaku.
“Ini apa?”
“Dia nitip,” kata Damar.
Aku menatap kertas itu.
“Kapan?”
“Tiga hari sebelum dia pindah.”
Aku tidak menyentuhnya.
“Dua tahun, Mar?”
“Dua tahun.”
“Lo bawa-bawa ini di dompet lo selama dua tahun?”
Damar menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Dia bilang: kasih ke gue kalau gue nanya dia ke mana,” kataku pelan. Itu bukan pertanyaan. Aku sudah tahu; aku sudah tahu sejak melihat bentuk kertasnya.
“Kalau lo nggak nanya, gue disuruh buang.”
Aku mengangkat wajah.
“Kenapa lo nggak buang?”
Dan Damar — laki-laki yang membenci perempuan itu selama bertahun-tahun tanpa pernah tahu kenapa, yang bertanya dia sempat bahagia nggak, sih di pemakaman yang tidak pernah terjadi — Damar mengangkat bahu.
“Karena gue nggak percaya lo nggak akan nanya,” katanya.
“Butuh dua tahun.”
“Iya.” Dia berdiri, mengambil kunci motornya. “Tapi gue menang taruhan.”
Dia berjalan ke pintu.
“Mar.”
“Hm?”
“Lo nggak baca?”
Damar berhenti di ambang pintu dan menoleh, dan ekspresinya benar-benar tersinggung.
“Ya enggak lah,” katanya. “Anjir.”
Dan dia pergi.
Aku tidak membukanya sampai malam.
Aku bekerja sampai jam tujuh dengan kertas itu di sudut meja. Aku memindahkannya dua kali. Aku menaruh cangkir kopi di atasnya sekali, lalu memindahkan cangkirnya karena merasa itu tidak sopan, lalu merasa bodoh karena berpikir begitu.
Jam delapan aku naik ke lantai dua, duduk di kasur, dan membukanya.
Tulisan tangan. Pulpen biru. Enam baris.
Bintang,
Aku pindah ke Surabaya. Kerjaan. Bukan buat kamu, dan bukan buat lari dari kamu.
Aku nggak minta apa-apa di surat ini. Aku udah selesai minta.
Aku cuma mau kamu tau satu hal, dan ini yang terakhir: kamu nggak pernah ngerepotin siapa-siapa. Nggak ibu kamu, nggak Damar, nggak Kirana, nggak aku.
Itu bohong yang kamu percaya kelamaan. Udah, jangan dipercaya lagi.
Allysa.
Aku membacanya empat kali.
Lalu aku melipatnya lagi, menaruhnya di kasur, dan duduk memandangi tembok.
Karena begini yang terjadi di dalam kepalaku, dan urutannya penting:
Yang pertama kupikirkan bukan isinya.
Yang pertama kupikirkan: dia tau.
Dia tahu tentang Ibu. Tentang kalimat yang diucapkan ratusan kali sepanjang masa kecilku sambil membenahi kerah bajuku. Tentang malam dua hari sebelum Ibu pergi, waktu perempuan itu menariknya kembali dengan napas yang tersangkut.
Dia tahu karena aku menceritakannya.
Sebelas tahun lalu. Di lantai rumah kosong ibuku, dengan kardus bekas mi instan terbuka di depanku, jam delapan malam sampai jam sepuluh lewat.
Satu jam empat puluh menit. Aku bercerita dan dia tidak menyela sekali pun.
Dan perempuan itu menyimpannya. Sembilan tahun. Lalu dia menaruhnya di enam baris di kertas yang akan dititipkan ke orang lain dengan instruksi untuk dibuang kalau aku tidak bertanya.
Yang kedua yang kupikirkan — dan ini yang membuatku berbaring di kasur itu dengan lengan menutupi mata — adalah bentuk suratnya.
Aku sudah menyiapkan diri untuk apa pun.
Aku sudah membayangkan, selama sepuluh menit antara turun dari lantai bawah dan membuka lipatan itu, semua kemungkinan isinya.
Permintaan maaf lagi. Aku punya jawaban untuk itu.
Pengakuan cinta. Aku punya jawaban untuk itu juga, dan jawabannya sudah kuucapkan di depan pagar rumahnya dua belas tahun lalu.
Cerita tentang sembilan jam di parkiran. Itu yang paling kutakutkan — karena kalau dia menuliskan itu, aku akan berhutang, dan aku sudah tahu bagaimana rasanya berhutang kepada seseorang yang menghancurkanku.
Tidak ada satu pun.
Perempuan itu punya semuanya di tangannya. Dua belas tahun bahan. Sembilan jam di parkiran masjid. Dua ratus tiga belas halaman. Lagu tahun 1978 yang dia cari selama empat malam. Kalimat yang bisa dia ucapkan yang akan membuatku tidak bisa tidur selama sebulan.
Dan yang dia kirim adalah enam baris yang tidak meminta apa pun, dan seluruh isinya tentang aku.
Bukan tentang kami. Bukan tentang dia.
Tentang satu bohong yang kubawa sejak umur enam tahun, yang bahkan ibuku baru berhasil menyebutnya dua hari sebelum meninggal.
Aku berbaring di kasur di lantai dua studio itu dan menangis dengan cara yang tidak pernah kuduga akan kulakukan lagi di umur empat puluh satu.
Dan yang ketiga datang jam dua pagi, waktu aku sudah berhenti menangis dan cuma berbaring menatap langit-langit.
Dia nggak nunggu aku.
Itu yang paling jelas dari suratnya, dan butuh enam jam sampai aku bisa melihatnya.
Perempuan itu tidak pergi ke Surabaya untuk menghukum diri. Dia tidak pergi supaya aku menyusul. Kalau dia ingin disusul, dia akan menulis alamatnya.
Tidak ada alamat di surat itu. Tidak ada nomor. Tidak ada satu pun cara untuk membalas.
Dia pergi karena dia sedang membangun hidup, dan dia menitipkan enam baris terakhir kepada orang lain dengan kemungkinan besar surat itu akan dibuang tanpa pernah kubaca —
dan dia menerima kemungkinan itu.
Aku duduk di kasur jam dua pagi.
Dan aku memikirkan sesuatu yang membuat perutku dingin:
Kalau aku pergi ke Surabaya sekarang, hari ini juga, dan berdiri di depannya —
apa yang sebenarnya kubawa?
Aku membawa laki-laki empat puluh satu tahun yang punya studio, empat karyawan, buku yang terbit di Jepang, dan ruangan terkunci di dalam dirinya yang sudah menghabiskan seorang perempuan baik selama empat tahun.
Aku membawa seseorang yang tidak tahu cara meminta tolong tanpa langsung mencari cara membalasnya dalam tiga hari.
Aku membawa seseorang yang butuh dua tahun untuk bertanya ke sahabatnya sendiri “Allysa apa kabar” — bukan karena tidak peduli, tapi karena bertanya berarti mengakui bahwa aku ingin tahu, dan mengakui bahwa aku ingin tahu berarti membutuhkan, dan membutuhkan adalah satu-satunya hal yang tidak pernah kupelajari.
Perempuan itu sudah menghabiskan empat belas tahun memperbaiki dirinya sendiri.
Dan aku akan datang membawa ini.
Aku menyalakan lampu, mengambil kertas dan pensil, dan menulis satu kalimat di atasnya.
Bukan surat. Aku tidak punya alamatnya.
Cuma satu kalimat, untuk kutempel di tembok kamar lantai dua studio, di sebelah gambar meja makan dengan kursi kosong yang sudah kupindahkan dari kos ke kos ke ruko selama tujuh belas tahun:
Beresin dulu.
Aku tidak pergi ke Surabaya malam itu.
Aku juga tidak pergi bulan itu, atau tahun itu.
Dan aku tahu persis bagaimana ini terdengar. Aku tahu bahwa ada versi cerita ini di mana seorang laki-laki membaca surat jam delapan malam dan sudah ada di bandara jam enam pagi, dan versi itu jauh lebih bagus untuk diceritakan.
Tapi aku sudah pernah jadi orang yang menyerahkan seluruh dirinya kepada orang pertama yang benar-benar memperhatikannya.
Aku sudah pernah berdiri di halte dalam hujan di umur dua puluh empat dan menyerahkan sepuluh tahun hidupku kepada seseorang karena aku tidak tahu cara melakukannya setengah-setengah.
Dan aku sudah pernah, di umur tiga puluh satu, mengajak seseorang makan malam di hari yang sama dengan hari aku berdiri di seberang jalan dan melihat perempuan lain berjongkok di trotoar — dan aku tahu, waktu mengajaknya, bahwa sebagian dari alasanku adalah melarikan diri.
Perempuan itu membayar harganya selama empat tahun.
Aku tidak akan melakukannya untuk ketiga kalinya.
Jadi aku menempelkan kertas itu di tembok, dan aku menyimpan suratnya di laci yang sama dengan gambar jeruji gerbang dan gambar sebelas gelas di meja restoran padang, dan aku mulai mengerjakan sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan perempuan itu.
Aku mulai belajar cara meminta.
[Bersambung ke Bab 38 — POV Allysa]