← Chapters Ch. 49 / 51

Chapter Forty Nine

Orang yang Nyentuh Duluan

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Allysa, Bu Ratna, Damar, Kirana


Aku empat puluh enam tahun waktu seseorang memegang tanganku duluan.

Bukan kiasan. Aku menghitungnya, di kereta pulang malam itu, gerbong empat, dan aku menghitungnya sampai tiga kali karena aku tidak percaya angkanya.

Di kehidupan pertama, sepuluh tahun, tidak sekali pun.

Aku yang selalu mengulurkan. Aku yang mencari tangannya waktu menyeberang, dan tiga detik yang kucatat di buku abu-abu itu adalah tiga detik di mana dia tidak menariknya.

Kirana memegang tanganku duluan berkali-kali. Perempuan itu memelukku di dapur, di lorong kantor, di depan orang. Dan tiap kali aku menerimanya dengan senang dan tiap kali, dalam tiga hari, aku mengembalikannya dengan sesuatu yang lebih besar.

Jadi angkanya tetap nol.

Nol kali dalam empat puluh enam tahun aku disentuh tanpa aku merasa harus membayarnya.


Tiga bulan pertama, aku kaget tiap kali.

Ini terdengar konyol untuk laki-laki berumur empat puluh enam tahun, dan aku sudah berhenti peduli bagaimana terdengarnya.

Kami sedang jalan di trotoar Gubeng, dan tangannya masuk ke tanganku, dan seluruh tubuhku menegang selama sepersekian detik sebelum aku bisa mengendalikannya.

Allysa merasakannya. Tentu saja dia merasakannya.

Dan dia tidak melepaskan, dan dia tidak minta maaf, dan dia tidak bertanya.

Dia cuma bilang, sambil terus jalan:

“Aturan dua.”

Dan aku bilang, “Aku kaget.”

Dan dia bilang, “Iya.”

Dan kami terus jalan.

Butuh tiga bulan sampai tubuhku berhenti menegang. Dan butuh setahun lebih sampai aku bisa menerimanya tanpa ada bagian di dalam kepalaku yang otomatis mulai menyusun cara membalasnya.


Ciuman pertama kami terjadi di dapur apartemen Gubeng, hari Minggu pagi, dan bukan momen yang bagus untuk diceritakan.

Aku sedang mencuci piring. Dia lewat di belakangku untuk mengambil sesuatu dari kulkas, dan dia berhenti, dan dia bilang:

“Bintang.”

Aku menoleh sambil masih memegang piring.

Dan dia menciumku.

Cepat. Canggung. Hidungku kena pipinya dan tanganku basah dan piringnya hampir jatuh.

Dan waktu dia menarik diri, dia bilang — dengan wajah yang merah sampai ke telinga, di dapur, jam delapan pagi:

“Aku nunggu dua puluh delapan tahun buat itu dan hasilnya jelek banget ya.”

Dan aku tertawa sampai harus meletakkan piringnya.

“Lys.”

“Apa.”

“Kamu mau ngulang?”

“Ya jelas mau.”

Yang kedua lebih baik.

Yang ketiga jauh lebih baik.

Dan waktu kami akhirnya berhenti, dia menempelkan dahinya ke bahuku dan tidak bergerak selama mungkin dua menit, dan aku berdiri di dapur itu dengan tangan basah di punggungnya dan merasakan seluruh tubuhnya bergetar.

“Kamu nangis?”

“Enggak.”

“Lys.”

“Iya, aku nangis. Diem.”


Aku pindah ke Surabaya di bulan Maret tahun berikutnya.

Studionya tetap di Jakarta — Rendra yang memegang, dan dia lebih baik dariku dalam mengurus orang, dan itu sudah jelas sejak lima tahun sebelumnya. Aku ke Jakarta seminggu tiap bulan.

Aku menyewa apartemen sendiri di Gubeng, dua lantai di bawah mereka.

Bu Ratna yang mengusulkan.

“Kenapa nggak sekalian di sini aja, Bu?” tanya Allysa waktu itu.

Dan perempuan tujuh puluh sembilan tahun itu mengangkat wajahnya dari acara masak dan bilang:

“Kalian belum nikah.”

“Bu, aku empat puluh enam.”

“Ya makanya nikah.”


Kami menikah delapan bulan kemudian.

Kecil. Empat puluh orang. Aku tidak akan menceritakan banyak tentang harinya karena hari itu milik kami dan aku ingin menyimpannya.

Yang akan kutuliskan cuma tiga hal.

Yang pertama: Damar jadi saksi, dan laki-laki itu menangis lebih keras dari siapa pun di ruangan, termasuk kedua mempelai, sampai istrinya menegurnya dua kali.

Setelah acara selesai, dia menghampiriku di belakang gedung, dengan dasi yang sudah dilepas, dan memelukku selama satu menit penuh.

Lalu dia melepas dan bilang:

“Gue tunggu tiga puluh tahun, Bin.”

“Gue tau.”

“Tiga puluh tahun gue nungguin lo ngambil sesuatu buat diri lo sendiri.”

Dan dia menepuk dadaku dengan punggung tangannya, dua kali, seperti yang dia lakukan sejak kuliah.

“Ya udah. Sekarang urus.”

Yang kedua: Kirana datang bersama suaminya dan dua anaknya.

Dia memeluk Allysa lebih dulu, lama, dan aku melihat mereka berdua bicara di sudut ruangan selama sepuluh menit sambil menangis dan tertawa bergantian, dan aku tidak pernah bertanya apa yang mereka bicarakan.

Lalu dia menghampiriku.

“Bin.”

“Ran.”

Dia menatapku dan menyipitkan mata.

“Kamarnya udah kebuka?”

Dan aku bilang, “Udah.”

Dan perempuan itu mengangguk sekali dan bilang, “Bagus,” dan pergi mengejar anaknya yang sedang memanjat kursi.

Yang ketiga: Bu Ratna tidak menangis sama sekali sepanjang acara.

Dia mengomel tentang katering, dia mengomel tentang kursi, dia mengomel tentang fotografer yang katanya terlalu lama.

Dan waktu semuanya selesai, jam sembilan malam, aku menemukannya duduk sendirian di kursi di sudut ruangan yang sudah kosong.

Dia menangis diam-diam sambil memegang tasnya.

Aku duduk di sebelahnya dan tidak berkata apa-apa.

Setelah beberapa saat dia bilang:

“Bin.”

“Iya, Bu.”

“Kamu jangan ngilang lagi ya.”

Dan aku menoleh.

Perempuan tujuh puluh sembilan tahun itu tidak menatapku. Dia menatap ruangan kosong.

“Ibu nggak tau kalian dulu kenapa,” katanya. “Ibu nggak akan nanya.”

Dia menyeka wajahnya dengan punggung tangan.

“Tapi Ibu tau bentuk orang yang ngilang. Ibu nikah sama satu.”


Foto studio itu bulan berikutnya.

Bukan foto pernikahan — kami sudah punya itu. Ini yang lain.

Aku yang mengusulkan, dan aku mengusulkannya dengan gugup, dan Allysa langsung tahu kenapa.

“Bintang.”

“Iya?”

“Ini yang dulu itu ya.”

Aku mengangguk.

Tahun kedelapan. Satu-satunya hal yang pernah kuminta seumur hidup di kehidupan pertama: foto berdua untuk dipajang.

Tiga kali janji. Tiga kali aku duduk di lobi studio memegang dua tiket antrean. Tiga kali aku pulang sendirian sambil bilang ke mbak resepsionis, maaf ya, Mbak. Lain kali.

Dan bingkai kayu warna terang itu tetap berisi kertas contoh bawaan toko selama dua tahun sampai aku melepasnya di hari terakhir.

Allysa tidak mengatakan apa-apa waktu aku selesai bercerita.

Dia cuma mengangguk, dan mengambil ponselnya, dan memesan jadwalnya sendiri di depanku.


Hari Sabtu itu aku datang empat puluh menit lebih awal.

Aku sudah memutuskan di kereta — bukan kereta, aku sudah tinggal di Surabaya, tapi aku sudah memutuskannya semalam sebelumnya: aku akan datang lebih awal, dan aku akan menunggu, dan kalau dia terlambat, tidak apa-apa.

Aku sudah menyiapkan diri untuk itu. Aku bahkan sudah menyiapkan kalimatnya di kepala, kalimat yang ringan dan tidak menuduh, untuk kalau-kalau.

Aku sampai di studio jam sepuluh kurang dua puluh.

Dia sudah di sana.

Duduk di kursi lobi, dengan tas di pangkuan, memakai kemeja yang jelas disetrika, memandangi pintu.

Aku berhenti di ambang pintu.

“Lys.”

Dia berdiri terlalu cepat.

“Kamu udah lama?” tanyaku.

Dan dia bilang, “Bentar kok.”

Dan mbak resepsionis di belakang meja mengangkat wajahnya dan bilang, dengan nada ramah yang sepenuhnya tidak tahu apa yang sedang dia lakukan:

“Wah, udah dari jam delapan, Pak.”

Aku menoleh ke Allysa.

Perempuan itu sudah merah sampai ke telinga.

“Dua jam,” kataku.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Lys.”

“Aku takut macet.”

“Ini hari Sabtu.”

“YA AKU TAKUT.”

Dan aku berdiri di lobi studio foto itu dan menutup wajah dengan kedua tangan sampai bahuku berhenti berguncang, dan mbak resepsionis bertanya apakah semuanya baik-baik saja, dan Allysa bilang “iya, Mbak, dia emang gitu.”


Fotonya jelek.

Aku serius. Kami berdua kaku, senyumku aneh, dan fotografernya menyuruh kami rileks empat kali dan tidak berhasil.

Yang bagus cuma satu, dan yang bagus itu bukan yang mereka arahkan.

Fotografernya sedang mengatur lampu, dan Allysa bilang sesuatu di sebelahku — aku bahkan tidak ingat apa — dan aku tertawa, dan dia menoleh untuk melihatku tertawa.

Dan fotografernya menekan tombolnya.

Itu yang kami pilih.

Bingkainya kayu warna terang, ukuran sedang.

Aku beli yang sama persis. Aku mencarinya di empat toko sampai ketemu.

Dan waktu aku menggantungnya di dinding ruang tamu apartemen kami, Allysa berdiri di belakangku memandanginya, dan dia tidak berkata apa-apa selama mungkin dua menit.

Lalu dia bilang:

“Bintang.”

“Hm?”

“Aku nggak akan pernah bisa ganti yang itu.”

Aku turun dari kursi dan berbalik.

“Yang mana?”

“Yang dua tahun kosong,” katanya. “Yang isinya kertas contoh bule-bule di pantai. Aku nggak akan pernah bisa balikin dua tahun itu.”

Dan aku berdiri di ruang tamu itu dan berkata sesuatu yang butuh waktu bertahun-tahun untuk kuucapkan dengan ringan:

“Lunas, Lys.”

Dan dia menyeka wajahnya dan bilang:

“Iya. Maaf.”

Dan aku bilang, “Nggak usah.”

Dan dia bilang, “Iya.”

Dan itu percakapan yang kami ulangi mungkin tiga puluh kali selama sepuluh tahun berikutnya, dengan kalimat yang persis sama, sampai akhirnya berubah jadi lelucon di antara kami berdua yang tidak akan lucu bagi siapa pun di dunia.


Ada satu hal lagi dari tahun-tahun pertama itu yang ingin kutulis.

Allysa mulai memegang tanganku waktu menyeberang.

Dia yang memulai. Tiap kali. Tanpa gagal, selama sepuluh tahun berikutnya, di jalan mana pun, di kota mana pun.

Dan dia tidak pernah melepaskannya sampai kami sampai di seberang.

Aku tidak pernah bertanya kenapa.

Aku sudah tahu.

Karena ada satu kalimat di dalam buku bersampul abu-abu yang dia baca sembilan hari setelah aku mati, sambil menghitung tiga ratus dua puluh tujuh entri dengan pensil sampai jam empat pagi.

Hari ini dia pegang tanganku tiga detik waktu nyeberang. Tiga detik. Cukup buat seminggu.

Perempuan itu tidak pernah menyebutnya. Tidak sekali pun, dalam sepuluh tahun.

Dia cuma memegang tanganku tiap kali menyeberang, sampai sampai di seberang, seumur hidupnya.


[Bersambung ke Bab 50 — POV Allysa]