Chapter Five
Tangan yang Masih Ingat
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Damar, Allysa (lewat pesan)
Ada kardus di bawah kasurku.
Aku tahu isinya sebelum aku menariknya keluar. Aku tahu persis, karena aku pernah menutup kardus itu dengan lakban di tahun kelima kehidupan pertamaku, mengangkatnya ke gudang apartemen, dan tidak pernah membukanya lagi selama lima tahun berikutnya.
Waktu itu alasannya masuk akal. Aku bilang ke diriku sendiri: menggambar tidak menghasilkan apa-apa, dan aku butuh uang, dan Allysa yang membayar sebagian besar tagihan, dan laki-laki yang tinggal di rumah pacarnya sambil menggambar seharian itu punya nama sendiri, dan namanya tidak enak didengar.
Tapi itu bukan alasan yang sebenarnya.
Alasan yang sebenarnya: Allysa pernah lewat di belakangku waktu aku sedang menggambar, berhenti sebentar, melihat ke kertasku, lalu bilang — tanpa nada jahat sama sekali, benar-benar seperti orang menyampaikan informasi cuaca —
“Kamu tuh kalau ngegambar mukanya lucu, tahu nggak.”
Lalu dia berlalu.
Dan aku duduk di situ memandangi gambarku sendiri, dan tiba-tiba seluruh kegiatan itu terasa memalukan. Seperti orang dewasa yang ketahuan main mobil-mobilan.
Aku tidak berhenti menggambar hari itu juga. Butuh sekitar delapan bulan. Tapi kalau ditanya kapan tepatnya aku mulai mati, jawabannya bukan tahun kesepuluh di perempatan Jalan Kemuning.
Jawabannya sore itu, tahun kedua, waktu seseorang bilang mukaku lucu.
Aku menarik kardusnya keluar dari bawah kasur.
Isinya berantakan. Pensil warna yang tercecer dari kotaknya, dua buku sketsa yang sudah menguning di pinggir, penghapus yang mengeras, satu set pena gambar yang tintanya pasti sudah beku, dan setumpuk kertas A3 yang melengkung karena lembap.
Aku duduk bersila di lantai dan mengeluarkan semuanya satu per satu.
Buku sketsa yang atas kubuka.
Dan aku langsung tertegun, karena gambarnya bagus.
Bukan “bagus untuk pemula”. Bagus. Ada studi tangan di halaman keenam yang membuatku menahan napas — proporsinya benar, garisnya percaya diri, dan yang paling penting, ada sesuatu di dalamnya. Tangan itu terlihat seperti tangan orang yang lelah.
Aku duduk memandanginya lama sekali.
Karena begini: di kepalaku, selama sepuluh tahun, aku menyimpan satu keyakinan yang sudah kuanggap fakta. Keyakinan itu berbunyi: aku memang tidak pernah cukup bagus, makanya aku berhenti.
Aku mengulanginya ke diriku sendiri ratusan kali. Waktu aku melihat teman seangkatan naik. Waktu aku mengangkat galon di kos-kosan orang untuk uang tambahan. Waktu aku, di tahun kedelapan, ditanya oleh sepupu Allysa “kerjanya apa, Mas?” dan aku menjawab “serabutan” sambil tersenyum.
Aku memang tidak pernah cukup bagus.
Dan sekarang aku duduk di lantai kos, umur dua puluh empat, memegang bukti bahwa itu bohong.
Aku memang cukup bagus. Aku cuma berhenti.
Aku menutup buku sketsanya dan menekan pangkal telapak tangan ke mata sampai muncul bintik-bintik terang.
Sepuluh tahun. Aku membuang sepuluh tahun karena satu kalimat, dan yang lebih parah — bukan Allysa yang membuang. Dia cuma bilang mukaku lucu. Aku yang mengambil kalimat itu, membawanya pulang, merawatnya, membesarkannya, dan memberinya kunci ke seluruh rumah.
Itu pemikiran yang tidak nyaman, dan aku mendorongnya menjauh secepat mungkin waktu itu.
Nanti, tiga tahun lagi, aku akan duduk di kursi lain dan memikirkannya sampai selesai. Tapi belum. Belum di malam itu.
Aku mulai menggambar jam sepuluh malam dan berhenti jam empat pagi.
Yang paling aneh: tanganku ingat.
Kepalaku tiga puluh empat tahun, tapi tangan ini dua puluh empat, dan tangan ini masih punya semua yang dulu kubuang. Garis panjang yang tidak gemetar. Kecepatan. Cara memutar pergelangan tanpa berpikir. Aku menggambar seperti orang yang menemukan rumah lamanya masih berdiri, perabotannya masih di tempatnya, kuncinya masih muat.
Yang berubah cuma isi kepalanya.
Anak umur dua puluh empat itu dulu menggambar hal-hal yang keren. Pedang. Robot. Perempuan berambut panjang dilihat dari bawah.
Aku menggambar meja makan.
Meja kayu yang goyang salah satu kakinya, piring dengan telur ceplok, sambal di toples, dan satu gelas di sebelah kiri piring.
Aku menggambarnya empat kali malam itu. Yang keempat kubiarkan tidak selesai — bagian kursi kosong di seberang meja masih berupa garis tipis — karena tanganku berhenti sendiri di situ dan aku tidak memaksanya.
Jam empat pagi aku menempelkan gambar itu ke tembok pakai selotip.
Lalu aku tidur, dan aku tidak bermimpi apa-apa, dan itu pertama kalinya sejak entah kapan.
Damar mengajakku ketemu hari Sabtu.
Warung kopi di pinggir jalan, yang kursinya plastik dan wifinya lambat dan bapak penjualnya menyetel dangdut dari radio kecil. Tempat yang di hidup pertamaku berhenti kudatangi sekitar tahun ketiga dan kemudian tutup di tahun keenam, dan aku baru tahu tutupnya waktu lewat naik motor dan melihat ruko itu jadi konter pulsa.
Damar sudah di sana duluan, kaki naik ke kursi, main ponsel.
Aku berdiri agak jauh selama beberapa detik cuma untuk melihat.
Dia kurus. Rambutnya panjang tidak karuan. Kaosnya kaos gratisan dari acara kampus.
Di hidup pertamaku, tujuh tahun setelah momen ini, laki-laki ini akan berdiri di barisan paling belakang pemakamanku memakai kemeja yang jelas bukan miliknya, dan dia tidak akan menangis, dan dia akan bertanya satu kalimat kepada Allysa lalu pergi.
“Woy! Lo mau berdiri di situ terus?”
Aku duduk.
“Gue pesenin kopi item, lo nggak protes kan.”
“Nggak.”
Damar menaruh ponselnya. Memandangiku. Menyipitkan mata.
“Lo kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Bin.” Dia mencondongkan badan. “Sepuluh hari lo ilang ke kampung, terus balik-balik lo jadi—“ dia menggerakkan tangan ke arahku, seluruh badanku, seperti menunjuk barang di etalase, “—gini.”
“Gini gimana?”
“Duduk lo lurus. Lo nggak pernah duduk lurus.”
Aku menyandarkan punggung.
“Dan lo dari tadi ngeliatin gue kayak orang mau nangis,” lanjutnya. “Serius, Bin, lo sakit? Ibu lo sakit?”
“Ibu sehat.” Aku memutar gelas kopi di meja. “Sehat banget malah. Kemarin marahin gue gara-gara naruh gelas.”
“Ya terus lo kenapa?”
Dan di sinilah dinding itu lagi.
Aku bisa mengatakannya sekarang. Kalimatnya sudah tersusun rapi di kepalaku: Mar, gue mati minggu lalu. Umur gue tiga puluh empat. Gue habisin sepuluh tahun sama cewek yang gue temuin di halte sore itu, dan lo berhenti nyariin gue tahun ke-tiga, dan gue nggak nyalahin lo.
Damar akan mendengarkan sampai selesai. Dia orangnya begitu.
Lalu dia akan bertanya apakah aku sudah tidur cukup, dan dia akan menawarkan menemaniku ke dokter, dan dia akan mengirim pesan ke Ibu diam-diam.
Dan aku akan kehilangan dia untuk kedua kalinya, dengan cara yang jauh lebih memalukan.
“Gue mau mulai gambar lagi,” kataku.
Damar mengerjap.
“Yang bener?”
“Yang bener.”
“Lo yang bilang gambar nggak bakal ngasih makan?”
“Gue salah.”
Damar bersandar ke kursinya dan menatapku beberapa saat, dan ekspresinya berubah jadi sesuatu yang membuat dadaku sakit — bukan kaget, bukan meledek.
Lega.
“Ya kan gue udah bilang dari dulu,” katanya, sambil menyeruput kopinya. “Gue bosen banget ngeliat lo ngerjain desain banner sunatan.”
“Bayarannya lumayan.”
“Bayarannya seratus dua puluh ribu, Bin. Gue nggak bego.”
Aku tertawa.
Suara yang keluar dari mulutku sendiri mengagetkanku, karena aku tidak mengenalinya. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa dengan cara yang tidak diatur — tanpa mengecek dulu apakah tawaku terlalu keras, apakah momennya tepat, apakah orang di sebelahku sedang tidak ingin diganggu.
Damar melempar tutup botol ke arahku.
“Nah gitu dong. Muka lo dari tadi kayak orang abis diputusin.”
Aku menangkap tutup botolnya.
“Kurang lebih,” kataku.
Ponselku bergetar tiga kali sore itu.
Damar melirik. “Siapa sih dari tadi?”
Aku membalik ponselnya telungkup.
“Bukan siapa-siapa.”
Dan begitu kata-kata itu keluar, aku langsung merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkuk.
Bukan siapa-siapa.
Kalimat yang sama persis. Nada yang sama persis — ringan, sambil lalu, dilempar ke udara supaya percakapan bisa lanjut ke hal yang lebih penting.
Aku menatap ponsel telungkup di meja itu dan aku ingat berdiri di ruang tamu Vinka di tahun keenam, mengulurkan tangan ke lima orang asing, dan seseorang di sampingku memotong dengan senyum: “Dia bukan siapa-siapa. Cuma nebeng.”
Aku ingat semua orang tertawa.
Aku ingat aku ikut tertawa.
Dan sekarang aku duduk di warung kopi ini, dan aku baru saja menggunakan senjatanya.
“Bin?”
“Hah?”
“Lo bengong lagi.”
Aku mengambil ponselnya. Membalik. Menyalakan layar.
Allysa — 3 pesan
Aku denger dari Ibu kos kamu udah balik. Aku nggak bakal ke sana lagi kok, tenang aja.
Aku cuma mau bilang satu hal terus aku nggak akan ganggu.
Aku minta maaf. Aku nggak tau buat apa. Tapi aku minta maaf.
Aku membacanya dua kali.
Lalu aku menguncinya lagi dan memasukkannya ke saku.
“Temen,” kataku ke Damar. “Temen dari kampus.”
Itu bukan perbaikan besar. Aku tahu itu. Satu kata diganti satu kata lain, di warung kopi, di depan orang yang tidak akan pernah tahu bedanya.
Tapi malam itu, sebelum tidur, aku menghitung sesuatu.
Sepuluh tahun aku dipanggil bukan siapa-siapa, dan yang membuatnya menempel bukan karena Allysa mengucapkannya. Kalimat itu menempel karena tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang membantah, termasuk aku.
Jadi aku memutuskan satu aturan, dan aturan itu bertahan sampai akhir hidupku:
Aku tidak akan pernah lagi menyebut siapa pun bukan siapa-siapa. Termasuk perempuan itu. Termasuk kalau dia pantas mendapatkannya.
Bukan demi dia.
Hari Senin aku mengirim empat lamaran.
Bukan desain banner. Bukan logo UMKM. Empat penerbit buku anak, semuanya kucari di internet warnet dekat kos karena kuota di ponsel tidak cukup untuk mengunggah portofolio.
Aku mengirim gambar meja makan itu. Yang keempat. Yang kursi seberangnya tidak selesai.
Di badan email, bagian yang biasanya diisi orang dengan paragraf sopan penuh kata “kiranya” dan “sudi kiranya”, aku cuma menulis satu baris:
Saya ingin menggambar buku yang dibaca sebelum tidur.
Aku menekan kirim empat kali, membayar warnetnya delapan ribu, dan berjalan pulang.
Di jalan pulang aku melewati halte depan Pasar Kemuning.
Halte itu kosong. Cuma ada satu bapak-bapak tidur di ujung bangku dengan koran menutupi wajah.
Aku berdiri di seberang jalan memandanginya beberapa detik.
Ada bagian kecil di dalam diriku — bagian yang tidak pernah benar-benar mati, bagian yang akan menyusahkanku bertahun-tahun ke depan — bagian itu bertanya-tanya berapa lama perempuan itu menunggu di sana malam Senin itu.
Aku memutuskan untuk tidak mencari tahu.
Lalu aku pulang, dan aku menggambar sampai jam tiga pagi, dan tanganku masih ingat semuanya.
[Bersambung ke Bab 6 — POV Allysa]