Chapter Three
Suara yang Sudah Tujuh Tahun Tidak Kudengar
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Damar, Bu Sri, Allysa (lewat pesan)
Aku menghabiskan tiga jam pertama dengan tidak melakukan apa-apa.
Duduk di tepi kasur, ponsel di tangan, memandangi tembok. Kipas angin terus berbunyi ceklek tiap satu putaran. Hujan berhenti sekitar jam delapan, lalu turun lagi jam sembilan.
Aku bukan orang yang panik. Sepuluh tahun terakhir sudah membakar habis kemampuanku untuk panik; yang tersisa cuma semacam ketenangan lelah yang kupakai untuk menghadapi apa saja, termasuk kematian, termasuk ini.
Jadi aku duduk saja dan membiarkan kepalaku bekerja pelan-pelan.
Aku mati. Itu bagian yang kuyakini. Aku ingat aspal yang hangat di pipi dan warna jingga dan suara logam terseret yang panjang sekali.
Sekarang aku di sini.
Aku bisa menghabiskan sisa hidupku mencari tahu kenapa. Aku bisa membaca setiap teori, mencari orang lain yang mengalaminya, menghabiskan bertahun-tahun mencoba mengerti.
Atau aku bisa tidak.
Aku memilih tidak. Waktu itu juga, jam sembilan pagi, di kamar kos dengan cat mengelupas berbentuk peta Sulawesi. Aku memutuskan bahwa aku tidak akan pernah mencari tahu kenapa, karena kalau aku mencari tahu kenapa, aku akan menghabiskan hidup keduaku persis seperti hidup pertamaku: menunggu jawaban dari sesuatu yang tidak berkewajiban menjawabku.
Sudah cukup.
Ponselku bergetar lagi jam sepuluh.
Allysa
Halo?
Bintang.
Kamu tidur ya.
Tiga pesan. Berurutan.
Dan aku duduk di sana memandanginya, dan aku menunggu sesuatu di dalam dadaku bergerak.
Tidak ada.
Ini yang paling mengejutkanku dari seluruh pagi itu — lebih mengejutkan daripada bangun dari kematian. Aku melihat namanya di layar dan tidak ada apa-apa. Tidak sakit, tidak rindu, tidak marah. Perutku tidak jatuh. Tanganku tidak gemetar.
Seperti membaca nama orang yang dulu satu kelas denganmu di SD.
Aku pernah membaca di suatu tempat bahwa tubuh manusia mengganti seluruh selnya setiap tujuh tahun sekali. Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi pagi itu aku merasa seperti orang yang baru saja mengganti seluruh selnya sekaligus, dalam satu malam, dan sel-sel yang baru ini tidak pernah bertemu Allysa Prameswari seumur hidup mereka.
Aku menaruh ponsel telungkup di kasur.
Nanti sore, jam lima, di halte depan Pasar Kemuning, ada seorang laki-laki berumur dua puluh empat tahun yang seharusnya berdiri di sana dengan seluruh badan basah dan mengatakan hal yang akan menghancurkan sepuluh tahun hidupnya.
Laki-laki itu tidak akan datang.
Aku merasa perlu menyesali itu. Aku menunggu penyesalannya datang.
Tidak datang juga.
Jam sebelas aku menelepon Damar.
Aku menemukan nomornya di kontak, tersimpan sebagai Damar Kuliah, dan tanganku berhenti di atas tombol hijau selama mungkin satu menit penuh.
Di hidup pertama, terakhir kali aku mendengar suara Damar adalah tujuh tahun sebelum aku mati. Dia menelepon empat kali di malam ulang tahunnya. Aku tidak angkat. Besoknya dia mengirim satu pesan — ya udah, Bin. Sehat-sehat ya — dan setelah itu tidak ada lagi.
Aku menekan tombolnya.
Dering pertama.
Dering ked—
“Woy.”
Dan aku tidak bisa bicara.
Suaranya. Suara Damar umur dua puluh empat, yang belum pernah kutinggalkan, yang belum pernah mengetuk pintu apartemen orang lain berkali-kali lalu menyerah. Suara yang malas dan berisik dan ada bunyi TV di belakangnya.
“Halo? Bin? Sinyal lo jelek amat.”
Aku menempelkan punggung tangan ke mulut.
“Bintang. Anjir. Halo?”
“Iya,” kataku. Suaraku pecah di tengah. “Iya. Ini gue.”
“Ya iyalah lo, siapa lagi.” Ada suara dia mengubah posisi duduk. “Kenapa? Lo kedengeran kayak abis lari maraton.”
“Nggak apa-apa.”
“Lo mau ngomongin nanti sore ya.” Nada suaranya berubah, jadi jail. “Gimana, udah siap? Udah latihan di depan kaca?”
Aku menutup mata.
Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Semalam — semalam yang bagi Damar baru terjadi delapan jam lalu — aku menelepon dia sampai jam dua pagi, panik, menanyakan apakah kalimatku terdengar bodoh atau tidak. Dia menyuruhku tidur. Dia bilang lo bakal baik-baik aja, Bin.
“Mar,” kataku.
“Hm?”
“Nanti sore gue nggak jadi.”
Hening di seberang. TV-nya mengecil; dia pasti menekan remote.
“Nggak jadi gimana?”
“Nggak jadi.”
“Lo yang tiga bulan terakhir ngomongin dia mulu sampe gue mau muntah?”
“Iya.”
“Bin—“ Damar berhenti. Aku mendengar dia menarik napas. “Ada apa? Serius. Lo kenapa?”
Dan di sinilah aku bertemu dinding yang akan kutabrak berkali-kali sepanjang sepuluh tahun berikutnya, dinding yang tidak akan pernah bisa kulewati bersama siapa pun:
Tidak ada satu pun cara untuk menjelaskannya.
Aku bisa bilang aku mati. Aku bisa bilang aku menjalani sepuluh tahun bersama perempuan itu dan dia mengeringkanku sampai tidak tersisa apa-apa, dan aku bisa memberikan tanggal, detail, kutipan kalimat. Dan Damar akan mendengarkan, karena Damar orang baik, dan Damar akan mengantarku ke psikiater.
Hal terbesar yang pernah terjadi dalam hidupku, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa kuajak bicara tentangnya.
Kecuali satu orang. Dan aku baru saja memutuskan untuk tidak menemuinya.
“Gue cuma sadar aja,” kataku akhirnya. “Gue kayaknya belum tahu diri gue mau apa.”
Damar diam agak lama.
“Ya udah,” katanya pelan. “Nggak apa-apa. Lo nggak wajib jelasin ke gue.”
Dan itu — kalimat itu, dari orang yang tujuh tahun lagi akan berhenti mencariku karena aku yang menghilang — kalimat itu yang akhirnya membuatku menangis.
Diam-diam. Dengan ponsel jauh dari mulut supaya tidak terdengar.
“Mar.”
“Apa.”
“Maaf ya.”
“Buat apa?”
Aku menyeka mata dengan lengan.
“Belum. Belum buat apa-apa.”
Aku beli tiket bus jam dua siang.
Rumah Ibu enam jam dari Jakarta, ke arah timur, lewat jalan yang berkelok-kelok di dua jam terakhir sampai selalu ada satu-dua penumpang yang muntah. Aku hafal jalannya. Aku hafal warung nasi tempat bus berhenti empat puluh menit, hafal bapak-bapak penjual tahu yang naik di terminal ketiga, hafal bau AC bus yang bercampur pengharum stroberi murahan.
Terakhir kali aku melewati jalan ini, aku pulang untuk pemakaman Ibu.
Aku duduk di dekat jendela dan tidak tidur sama sekali.
Bukan karena tidak mengantuk. Karena aku takut kalau aku tidur, aku akan bangun lagi di aspal Jalan Kemuning, dan seluruh hari ini ternyata cuma hal terakhir yang dipikirkan otak yang sedang mati.
Jadi aku memaksa mataku terbuka selama enam jam, memandangi sawah dan ruko dan tiang listrik yang lewat, sambil sekali-sekali menekan punggung tangan kananku dengan ibu jari untuk memastikan bekas lukanya masih belum ada.
Ponselku bergetar delapan kali sepanjang perjalanan.
Aku tidak membaca satu pun.
Aku sampai jam delapan malam.
Rumahnya kecil, catnya hijau muda yang sudah pudar, dan lampu terasnya masih yang itu — bohlam kuning yang menarik ngengat sampai ada bunyi tuk-tuk terus-menerus semalaman.
Aku berdiri di depan pagar selama entah berapa lama.
Ada suara TV dari dalam. Sinetron. Ibu selalu menonton sambil mengomentari pemainnya keras-keras seolah mereka bisa dengar.
Tanganku ada di gerendel pagar dan tidak bisa membukanya.
Karena begini: sebagian kecil dari diriku — bagian yang paling penakut, bagian yang sudah belajar bahwa jangan pernah berharap terlalu banyak — bagian itu yakin bahwa kalau aku membuka pagar ini, rumahnya akan kosong. Bahwa suara TV itu dari rumah sebelah. Bahwa ini hukuman, dan hukumannya adalah aku diberi hidup kedua tapi tetap tidak diberi ini.
Aku membuka pagarnya.
Aku mengetuk.
Ada suara sandal diseret di lantai. Ada suara gerendel. Pintu terbuka setengah, dan bau minyak goreng dan balsem dan rumah keluar bersamaan menghantam wajahku.
“Lho,” kata Ibu.
Dia berdiri di situ dengan daster batik dan rambut diikat asal-asalan, memegang remote TV di tangan kiri, mengerutkan kening seperti sedang menghitung sesuatu.
“Kok pulang nggak bilang-bilang? Ibu nggak masak apa-apa.”
Hidup. Berdiri. Kesal karena tidak sempat masak.
Dan aku — laki-laki dua puluh empat tahun yang sepuluh menit lalu masih yakin dirinya sudah kehabisan air mata untuk seumur hidup — aku melangkah maju dan memeluknya.
Terlalu keras. Aku tahu terlalu keras karena aku mendengar dia mengaduh kecil.
“Ya ampun, Bin. Kenapa toh.”
Aku tidak menjawab.
Aku menunduk, menempelkan dahi ke bahunya yang cuma sampai dadaku, dan aku menangis dengan cara yang belum pernah kulakukan sejak umur tujuh tahun. Menangis yang berisik. Menangis yang membuat seluruh badan berguncang dan napas tersendat dan tidak peduli siapa yang dengar.
Tiga tahun. Tiga tahun dalam hitunganku, delapan jam dalam hitungan dunia.
Ibu meninggal. Aku nggak nyalahin dia. Sungguh. Aku cuma pengen dia nanya.
Malam itu, jam sembilan, di parkiran gedung kantor, ponselku bergetar dan namanya Ibu dan aku bilang nanti kutelepon balik.
Dan Ibu bilang, “Iya, nggak apa-apa. Nggak penting kok.”
Suaranya kecil sekali waktu itu.
Ibu tidak bertanya apa-apa lagi. Dia cuma berdiri di sana, membiarkan anaknya yang sudah besar menangis di bahunya di depan pintu, dan menepuk-nepuk punggungku pelan dengan tangan yang masih memegang remote.
“Ya udah,” katanya. “Ya udah. Masuk dulu.”
Lalu, setelah beberapa saat:
“Ibu goreng telur ya. Ada nasi kok.”
Kami makan jam sembilan malam di meja kayu yang goyang salah satu kakinya.
Telur ceplok, nasi kemarin yang dipanaskan, sambal terasi dari toples. Ibu bicara terus tanpa henti — tentang tetangga yang anaknya menikah, tentang kucing yang beranak di gudang, tentang harga cabai.
Aku tidak mendengarkan setengahnya. Aku cuma duduk di situ dan membiarkan suaranya mengisi ruangan.
Di tengah makan, Ibu berhenti, memandangi mejaku, lalu berkata:
“Kamu kok masih naruh gelas di situ, sih.”
Aku berhenti mengunyah.
Gelasku ada di sebelah kiri piring. Seperti biasa. Seperti selalu.
“Dari kecil,” lanjut Ibu sambil mengambil sesendok nasi, “Ibu udah bilang berkali-kali kalau di kiri itu kesenggol tangan. Ndak pernah nurut.”
Sederhana sekali. Kalimat basa-basi ibu-ibu di meja makan. Tidak ada artinya.
Aku menunduk ke piringku supaya dia tidak lihat mataku, dan aku bilang, “Iya. Maaf.”
Sepuluh tahun. Tiga ribu enam ratus lima puluh kali sarapan di meja yang sama dengan orang yang sama.
Dan yang menyadarinya cuma perempuan berumur lima puluh delapan tahun yang baru melihatku makan satu kali malam ini.
Ponselku bergetar lagi di saku. Aku sudah tahu dari siapa.
Aku membiarkannya.
[Bersambung ke Bab 4 — POV Allysa]