← Chapters Ch. 35 / 51

Chapter Thirty Five

Kabar Baik

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Damar, Rendra, Pak Har


Aku buka studio sendiri di umur tiga puluh sembilan.

Bukan hal besar. Ruko dua lantai di daerah Bintaro, lantai bawah untuk kerja, lantai atas untuk gudang dan satu kamar tempat aku sering menginap kalau malas pulang. Empat orang termasuk aku. Rendra ikut keluar dari penerbit dan jadi orang kedua.

Pak Har memelukku di hari terakhir dan bilang, “Saya udah nunggu ini dari lima tahun lalu, Bin.”

Dan aku bilang, “Kenapa nggak bilang, Pak?”

Dan dia bilang, “Ya kalau saya bilang, kamu nggak akan mikir itu ide kamu.”


Studio itu jalan dua tahun sebelum hal itu terjadi.

Hal itu — begitu aku menyebutnya di kepalaku selama bertahun-tahun, karena kalau aku menyebutkan bendanya, bunyinya jadi terlalu kecil untuk sesuatu yang mengubah segalanya.

Ini bendanya: sebuah penerbit dari Jepang membeli hak terbit empat buku kami.

Itu saja.

Nilainya tidak besar. Prosesnya membosankan — enam bulan email, tiga kali panggilan video jam enam pagi, satu kontrak dua puluh delapan halaman yang harus dibaca pengacara.

Tapi salah satu dari empat buku itu adalah Kucing yang Tidak Bisa Membuka Mata.

Buku pertamaku. Yang kukerjakan di meja pojok dekat jendela empat belas tahun lalu, tentang anak kucing di gudang rumah ibuku yang matanya belum bisa terbuka.

Emailnya masuk hari Rabu, jam empat sore.

Aku membacanya dua kali. Lalu aku berdiri dari kursiku, keluar dari ruangan, dan naik ke lantai dua studio, dan aku duduk di kasur di kamar kecil itu.

Dan aku mengeluarkan ponselku.


Aku ingin menuliskan lima menit berikutnya dengan tepat, karena lima menit itu adalah titik balik seluruh hidupku dan tidak ada satu pun orang yang menyaksikannya.

Aku membuka daftar kontak.

Ibu jariku menggeser ke bawah.

Dan kepalaku berjalan sendiri, seperti yang dilakukan kepala orang waktu mendapat kabar baik — mencari nama, otomatis, tanpa diperintah.

Ibu.

Nomornya masih ada. Aku tidak pernah menghapusnya. Sudah tujuh tahun.

Aku menggeser lewat.

Damar.

Jam empat sore. Anaknya dua, yang kecil baru tiga bulan dan Damar sudah tidak tidur benar selama sebelas minggu. Kemarin dia mengirim pesan jam dua pagi berbunyi gue kayaknya udah nggak punya jiwa.

Aku akan meneleponnya. Nanti malam. Dan dia akan berteriak, dan dia akan senang betulan, dan besoknya dia akan memasang statusnya.

Tapi kabar ini tidak bisa dia terima seluruhnya.

Karena kalau aku bilang “Mar, bukunya masuk Jepang,” dia akan senang untuk studio, untuk kariernya temannya, untuk hal-hal yang memang pantas disenangi.

Dia tidak akan tahu bahwa kucing itu nyata.

Dia tidak akan tahu bahwa di dunia yang lain, kucing itu tetap tinggal di gudang rumah kosong sampai mati, dan tidak ada yang menggambarnya, dan tidak ada yang tahu matanya sebelah.

Aku menggeser lewat.

Kirana.

Nomornya juga masih ada. Kami masih saling mengirim ucapan ulang tahun. Dia menikah empat tahun lalu; aku datang, dan aku senang, dan aku mengucapkan selamat kepada suaminya yang laki-laki baik dan tidak menyimpan apa pun.

Aku tidak akan meneleponnya. Bukan karena canggung.

Karena aku tidak berhak lagi menaruh apa pun di tangan perempuan itu, setelah empat tahun aku tidak pernah menaruh apa-apa di sana waktu aku berhak.

Aku menggeser lewat.

Rendra. Pak Har. Tim studio.

Mereka akan senang. Kami akan makan bersama. Ada yang akan memesan kue.

Aku menggeser terus.

Dan ibu jariku berhenti.


Aku duduk di kasur di lantai dua studio itu dan menatap satu nama di layar.

Aku belum pernah meneleponnya dalam sebelas tahun.

Sebelas tahun. Sejak malam di rumah kosong ibuku, sejak kardus bekas mi instan dengan tulisan spidol, sejak dua jam yang membuat Kirana masuk ke ruanganku hari Senin dan menutup pintu.

Dan yang membuatku tidak bisa bergerak bukan bahwa aku ingin meneleponnya.

Tapi kenapa.

Karena begini: kabar ini punya bentuk yang aneh. Kalau kuletakkan di tangan siapa pun di dunia ini, mereka akan menerima setengahnya.

Setengah yang bisa mereka terima: buku anak karya ilustrator Indonesia diterbitkan di Jepang. Itu berita. Itu bisa diucapkan selamat.

Setengah yang tidak bisa diterima siapa pun:

Aku pernah mati di perempatan Jalan Kemuning sambil mengkhawatirkan apakah seseorang akan salah paham.

Dan aku bangun lagi, dan aku membuka kardus di bawah kasur yang di dunia lain kututup dengan lakban dan naik ke gudang apartemen selama lima tahun.

Dan gambar pertama yang keluar dari tangan itu jadi buku pertama.

Dan buku itu sekarang akan dibaca oleh anak-anak di negara yang tidak bisa kutunjuk di peta sebelum minggu ini.

Sepuluh tahun hidupku ada di dalam kabar ini. Sepuluh tahun yang tidak pernah terjadi.

Dan cuma ada satu orang di dunia ini yang bisa mendengarnya utuh.

Bukan karena dia mencintaiku. Bukan karena aku mencintainya — dan malam itu aku masih akan menjawab tidak kalau ada yang bertanya, dan aku akan menjawabnya dengan jujur.

Karena dia satu-satunya orang yang tahu bahwa sepuluh tahun itu ada.

Dan selama satu orang itu masih ada di suatu tempat, sepuluh tahun itu nyata.

Kalau dia tidak ada — kalau tidak ada satu pun manusia hidup yang tahu — maka sepuluh tahun itu cuma sesuatu yang terjadi di dalam kepalaku, dan aku tidak punya cara untuk membuktikan bahwa aku pernah menanggungnya, bahkan pada diriku sendiri.

Aku duduk di kasur itu dengan ibu jariku menggantung di atas nama itu selama mungkin lima menit.

Lalu aku mengunci ponselku dan turun ke lantai bawah dan bekerja sampai jam sembilan malam.


Aku menelepon Damar jam sepuluh.

Dia berteriak. Aku sudah tahu dia akan berteriak. Bayinya menangis di belakang dan dia harus berhenti dua kali.

“BIN. ANJIR. JEPANG?”

“Jepang.”

“Yang kucing itu?”

“Yang kucing itu.”

Hening sebentar di seberang, cuma suara bayi.

Dan lalu Damar bilang, dengan suara yang berubah:

“Yang di gudang rumah nyokap lo?”

Aku menutup mata.

“Iya.”

“Bin.”

“Hm.”

“Nyokap lo tuh—“ Dia berhenti. Aku mendengarnya menarik napas. “Anjir. Gue nggak bisa ngomong apa-apa.”

Dan aku duduk di lantai dua studio dan menangis dengan telepon menempel di telinga, dan Damar tidak bilang apa-apa selama satu menit penuh kecuali “iya, Bin. Iya.”

Jadi begitulah.

Aku salah. Damar bisa menerima lebih dari setengahnya.

Tapi bahkan Damar cuma sampai di situ.

Karena dia mengira dia sedang berduka untuk ibu temannya yang meninggal tujuh tahun lalu, di rumah, di kasurnya sendiri, setelah dua tahun tujuh bulan.

Dia tidak tahu bahwa di suatu tempat yang tidak ada, perempuan itu mati sendirian sambil menunggu telepon balik yang datang jam dua pagi dan diangkat oleh tetangga.

Dan itu — perbedaan antara dua kematian itu — adalah hal terbesar yang pernah terjadi dalam hidupku.

Dan tidak ada satu orang pun yang bisa kuajak merayakannya.


Aku pulang ke kos jam sebelas malam dan aku tidak bisa tidur.

Dan sekitar jam satu pagi, berbaring di kasur menatap langit-langit, aku akhirnya mengucapkannya di dalam kepalaku dengan kata-kata yang benar untuk pertama kalinya:

Aku sendirian.

Bukan sendirian yang biasa. Aku punya Damar. Aku punya empat orang di studio yang makan siang bersamaku tiap hari. Aku punya lima belas orang yang akan datang kalau aku menelepon jam tiga pagi.

Aku punya hidup yang penuh. Aku ingin menegaskan itu, karena kalau aku menuliskan ini sebagai orang yang kesepian dan menyedihkan, aku sedang berbohong dan seluruh dua belas tahun itu jadi tidak ada artinya.

Hidupku bagus. Hidupku jauh lebih bagus dari yang pernah kubayangkan bisa kumiliki.

Dan tetap saja ada satu ruangan di dalam diriku, dan ruangan itu adalah ruangan utama, dan tidak ada satu orang pun di dalamnya.

Kirana benar. Empat tahun lalu, di kamarnya, malam ulang tahunnya sendiri, sambil memegang buku dua belas halaman yang kubuat selama tiga minggu.

Kayak ada satu kamar di rumah kamu yang nggak boleh aku masukin. Cuma punya kamu tuh kayaknya kamar utama.

Dan aku berbaring di kasur jam satu pagi dan bertanya pada diriku sendiri pertanyaan yang Damar tanyakan dua belas tahun lalu di belakang gedung resepsi pernikahannya:

Lo nyimpen pintu itu buat siapa?

Dan untuk pertama kalinya, aku menjawabnya dengan jujur.

Bukan aku menyimpannya untuk sepuluh tahun itu. Itu jawaban yang kupakai selama dua belas tahun dan itu jawaban yang aman dan itu setengah benar.

Yang benar:

Aku menyimpannya untuk satu-satunya orang yang bisa masuk ke sana.

Dan aku tidak bisa memisahkan keduanya.

Aku sudah mencoba selama dua belas tahun. Aku sudah bilang pada diriku sendiri berkali-kali bahwa yang kusimpan itu kejadiannya, bukan orangnya — aku bahkan mengucapkannya keras-keras ke Kirana di ambang pintu apartemennya, di kalimat terakhir kami, dan aku bersungguh-sungguh.

Dan Kirana menjawab, sambil bersandar ke kusen pintu, dengan senyum yang capek sekali:

Cuma kejadian itu ada orangnya. Dan cuma dia yang tau. Jadi ujungnya sama aja.

Aku menutup mata di kamar kos jam satu pagi.

Perempuan itu sudah tahu jawabannya delapan tahun sebelum aku.


Aku tidak menelepon Allysa malam itu.

Aku juga tidak meneleponnya minggu itu, atau bulan itu.

Karena satu hal masih menghalangi, dan hal itu belum berubah sedikit pun sejak malam di depan pagar rumahnya dua belas tahun lalu:

Aku masih tidak menginginkannya.

Aku ingin sangat jelas soal ini, karena kalau aku menghaluskannya sekarang, aku sedang menulis ulang sesuatu yang jujur jadi sesuatu yang manis.

Aku tidak merindukannya. Aku tidak membayangkan hidup bersamanya. Kalau ada yang menawariku untuk kembali ke perempuan itu malam itu juga, aku akan menolak — bukan karena marah, bukan karena bangga, tapi karena tidak ada apa pun di dalam diriku yang menginginkannya.

Yang kuinginkan cuma satu hal, dan bentuknya jauh lebih kecil dan jauh lebih memalukan:

Aku ingin ada satu orang di dunia ini yang tahu bahwa aku pernah menanggung sesuatu.

Itu saja.

Bukan cinta. Bukan pasangan. Bukan masa depan.

Cuma satu saksi.

Aku berbaring di kasur sampai jam tiga pagi, dan lalu aku tertidur, dan besoknya aku bangun jam enam dan pergi ke studio dan bekerja.

Dan empat bulan kemudian aku menelepon Damar untuk urusan lain, dan di tengah percakapan, tanpa direncanakan, tanpa satu pun persiapan, aku mendengar mulutku sendiri bertanya:

“Mar. Allysa apa kabar?”

Dan Damar diam di seberang telepon.

Diam yang panjang. Terlalu panjang.

“Mar?”

“Bin,” katanya. “Dia udah pindah.”


[Bersambung ke Bab 36 — POV Allysa]