← Lunas

Chapter Thirty Nine

Cara Meminta

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Damar, Rendra, Sekar (belum dikenal), Kirana


“Beresin dulu” adalah kalimat yang gampang ditempel di tembok dan sangat sulit dijelaskan artinya.

Aku menghabiskan tiga bulan pertama tidak tahu harus mulai dari mana.

Karena apa, sebenarnya, yang harus dibereskan? Aku sehat. Aku punya usaha yang jalan. Aku tidak minum, tidak ada dendam yang kupelihara, tidak ada satu pun hal yang kalau ditunjuk orang akan disebut masalah.

Aku bahkan sudah bisa meminta tolong. Rendra membuktikannya sembilan tahun lalu, empat halaman, dan aku tidak membelikannya apa-apa.

Jadi apa?

Yang akhirnya menunjukkan jalannya bukan renungan. Aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa renungan hampir tidak pernah menghasilkan apa-apa.

Yang menunjukkan jalannya adalah rapat hari Selasa.


Kami sedang membahas kontrak Jepang. Ada empat orang di ruangan.

Dan Rendra bilang, di tengah rapat, tentang jadwal pengiriman berkas:

“Bin, ini terlalu mepet. Gue nggak sanggup.”

Dan aku menjawab — otomatis, dalam setengah detik, tanpa berpikir:

“Ya udah, sini gue yang kerjain.”

Rapat lanjut. Tidak ada yang menganggapnya aneh.

Malamnya aku duduk di lantai dua studio dan memutar ulang setengah detik itu di kepalaku sampai jam satu pagi.

Karena aku baru sadar apa yang barusan kulakukan.

Rendra meminta tolong. Dia mengatakannya dengan benar, di depan orang, tanpa malu: gue nggak sanggup.

Dan aku mengambilnya darinya.

Aku tidak bertanya bagian mana yang berat. Aku tidak bertanya apa yang bisa digeser. Aku tidak menawarkan membagi.

Aku mengambil seluruhnya, dalam setengah detik, dan aku merasa baik waktu melakukannya.

Aku duduk di lantai dua itu dan akhirnya melihat bentuknya.

Selama empat puluh satu tahun aku menganggap masalahku adalah aku tidak bisa meminta.

Bukan.

Masalahku adalah aku tidak bisa membiarkan orang lain memberi.

Meminta tolong sekali-sekali itu gampang; aku sudah bisa. Yang tidak bisa kulakukan adalah menerima sesuatu dan membiarkannya berdiri di sana tanpa segera menutupnya dengan sesuatu yang lebih besar.

Dan orang yang tidak bisa menerima akan selalu, cepat atau lambat, mengubah setiap hubungan jadi hubungan satu arah.

Kirana menghabiskan empat tahun mencoba memberiku sesuatu, dan aku terus mengembalikannya dengan bunga.

Sampai dia berdiri di tengah apartemen penuh kardus dan bilang: aku mau jadi orang yang dibutuhin.


Aku mulai melakukan latihan.

Aku ingin menuliskan itu apa adanya, karena bunyinya konyol dan memang konyol, dan itu tetap satu-satunya hal yang berhasil.

Aku menulis daftar di buku catatan. Judulnya tidak ada. Isinya aturan.

1. Kalau ada yang nawarin bantuan, bilang iya. Jangan tanya “yakin?”.

Itu yang paling sulit dari semuanya, dan aku gagal sembilan kali sebelum berhasil sekali. Yakin? adalah cara paling sopan untuk mengembalikan barang kepada pemberinya sebelum sempat dibuka.

2. Kalau udah dibantu, jangan balas dalam 7 hari.

Tujuh hari sewenang-wenang. Aku memilihnya karena tiga hari terlalu pendek dan sebulan terlalu bohong. Aturannya bukan untuk tidak pernah membalas — aturannya untuk membiarkan pemberian itu berdiri sendirian dulu, tanpa langsung ditumpuk.

3. Sekali seminggu, minta sesuatu yang kamu nggak butuh-butuh amat.

Ini yang paling aneh dan yang paling banyak mengajariku.

Karena ternyata aku bisa meminta tolong kalau situasinya darurat. Kalau aku sakit kepala dan tenggatnya tiga hari lagi, aku bisa. Darurat memberi izin.

Yang tidak bisa kulakukan adalah meminta sesuatu yang cuma lebih enak kalau ada.

“Ren, temenin gue makan siang, gue males sendirian.”

Butuh sebelas minggu sampai aku bisa mengucapkan kalimat itu.

Dan waktu akhirnya kuucapkan, Rendra menjawab “oke” sambil terus mengetik, dan kami makan siang, dan tidak ada apa pun yang terjadi.

Aku duduk di warung padang di depan studio itu dan hampir menangis di depan rekan kerjaku karena tidak ada apa pun yang terjadi.


4. Ceritain sesuatu yang bikin kamu keliatan jelek. Ke orang yang nggak wajib denger.

Aturan keempat butuh delapan bulan.

Aku menceritakannya ke Damar, di warung kopi yang bapaknya menyetel dangdut, di kursi plastik yang sama dengan tujuh belas tahun lalu.

Bukan tentang sepuluh tahun. Itu masih tidak mungkin, dan aku sudah berhenti berpura-pura suatu hari akan mungkin.

Aku menceritakan tentang Kirana.

Semuanya. Tentang bagaimana aku mengajaknya makan malam pertama kali di hari yang sama dengan hari aku berdiri di seberang Jalan Wijaya dan melihat sesuatu yang membuatku marah. Tentang bagaimana aku tahu, waktu mengajaknya, bahwa sebagian dari alasanku adalah melarikan diri. Tentang empat tahun berikutnya.

Damar mendengarkan sampai habis.

Lalu dia bilang:

“Ya lo emang brengsek.”

Aku mengerjap.

“Mar—“

“Apa? Lo mau gue bilang apa?” Dia mengangkat bahu. “Lo pake orang buat lari. Empat tahun. Itu brengsek.”

Dan aku duduk di kursi plastik itu dan merasakan sesuatu yang tidak pernah kuduga:

Lega.

Karena selama sembilan tahun aku menyimpan itu sendirian, dan selama sembilan tahun bagian di dalam kepalaku terus berdebat — tapi aku sayang dia, tapi aku nggak niat, tapi aku nggak pernah bohong — dan debat itu tidak pernah selesai karena tidak ada lawannya.

Damar menyelesaikannya dalam empat detik.

“Terus gimana?” kataku.

“Ya udah.” Dia menyeruput kopinya. “Lo brengsek delapan tahun lalu. Sekarang lo tau. Jangan diulangin.”

“Cuma gitu?”

“Ya mau gimana lagi, Bin?” Damar menaruh gelasnya. “Lo mau gue hukum? Gue bukan hakim. Gue temen lo.”

Dia mengangkat bahu.

“Yang bisa gue lakuin cuma nggak bohong ke lo. Nah, udah gue lakuin. Sekarang lo yang urus sisanya.”


Aku menelepon Kirana enam bulan setelah itu.

Aku minta izin dulu lewat pesan — Ran, boleh telepon? Ada yang mau aku omongin. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa — dan dia membalas boleh dong dengan tiga emoji.

Dan aku minta maaf.

Bukan minta maaf yang lama. Bukan yang panjang, bukan yang meminta dia mengatakan tidak apa-apa.

Aku bilang: aku memakainya untuk lari, di awal. Aku menyimpan ruangan itu terkunci selama empat tahun padahal dia sudah berkali-kali bilang dia sanggup. Dan aku membiarkan dia sendirian merawat hubungan itu satu tahun lebih setelah dia mengatakannya di malam ulang tahunnya sendiri.

Kirana diam agak lama.

Lalu dia bilang:

“Iya.”

Cuma itu. Tidak nggak apa-apa. Tidak aku udah lupa.

Iya.

Dan aku menutup mataku dan berkata, “Makasih.”

“Bin.”

“Hm?”

“Makasih buat apa?”

“Buat nggak bilang nggak apa-apa.”

Dan perempuan itu tertawa di seberang telepon — tertawa keras, tanpa ditahan sedikit pun, sama seperti hari pertama aku mengenalnya di ruang wawancara delapan belas tahun lalu.

“Ya emang nggak apa-apa, sih,” katanya. “Cuma emang iya juga.”

Kami bicara empat puluh menit setelah itu. Tentang suaminya. Tentang anaknya yang dua. Tentang penerbit tempatnya bekerja sekarang.

Dan menjelang tutup, dia bertanya:

“Bin. Kamu masih nyimpen kamar itu?”

Aku duduk di lantai dua studio.

“Masih,” kataku.

“Masih dikunci?”

Dan aku menjawab dengan jujur, karena aku sudah cukup lama berhutang kejujuran pada perempuan itu:

“Iya. Tapi sekarang aku tau pintunya di mana.”

Kirana diam.

“Itu udah beda banget dari dulu, lho,” katanya.


Butuh tiga tahun dari kertas di tembok sampai aku merasa siap.

Tiga tahun. Aku tahu itu terlalu lama; aku tahu ada yang membaca ini dan berpikir seorang laki-laki berumur empat puluh satu tahun tidak butuh tiga tahun untuk belajar bilang “tolong”.

Aku juga berpikir begitu, tiap beberapa bulan, waktu aku melihat kertas di tembok itu dan merasa bodoh.

Tapi ini yang tidak dimengerti orang yang tidak pernah menjalaninya: hal-hal seperti ini tidak diperbaiki dengan memutuskan.

Kamu tidak bisa duduk suatu malam dan memutuskan untuk berhenti jadi orang yang menghapus dirinya sendiri.

Kamu cuma bisa melakukan hal kecil yang salah bentuknya, ratusan kali, sampai suatu hari kamu melakukannya tanpa harus memaksa tanganmu.

Dan hari itu datang di suatu Kamis biasa, dan bentuknya sangat kecil.

Aku sedang lembur di studio. Jam delapan malam. Rendra sudah pulang, yang lain sudah pulang.

Dan aku merasa mual — mungkin makan siangnya, mungkin kurang tidur — dan pandanganku mulai berkunang.

Dan tanganku mengambil ponsel dan menelepon Damar dan aku bilang:

“Mar, gue nggak enak badan. Bisa jemput?”

Tidak ada perdebatan di dalam kepalaku. Tidak ada perhitungan. Tidak ada nanti dia repot, tidak ada anaknya masih kecil, tidak ada ah nanti juga sembuh.

Setengah detik. Tanganku sendiri.

Damar bilang, “Dua puluh menit.”

Dan dia datang, dan dia mengantarku pulang, dan dia mengomel sepanjang jalan tentang bagaimana aku tidak pernah berubah dari kuliah.

Dan aku duduk di kursi penumpang mobilnya dengan kepala bersandar ke jendela, dan aku tidak memikirkan satu pun cara untuk membalasnya.

Sampai di kos aku bilang, “Makasih, Mar.”

Dan dia bilang, “Santai.”

Dan aku masuk, dan aku tidur.


Aku berdiri di depan tembok kamar lantai dua studio hari Sabtu pagi.

Ada dua belas gambar tertempel di sana. Meja makan dengan kursi kosong. Anak yang menoleh sebelum bolanya mendarat. Kucing yang matanya belum bisa terbuka. Anak yang menendang bola dan tidak menoleh.

Dan satu kertas dengan dua kata, tulisan tanganku, tiga tahun lalu.

Beresin dulu.

Aku melepasnya dari tembok.

Aku tidak membuangnya. Aku melipatnya dua kali dan memasukkannya ke laci yang sama dengan gambar jeruji gerbang, gambar sebelas gelas di meja restoran padang, dan enam baris tulisan tangan di kertas yang lipatannya sudah menipis di garisnya.

Lalu aku menutup laci itu dan turun ke lantai bawah dan menelepon Damar.

“Mar.”

“Hm?”

“Gue butuh alamat.”

Hening di seberang selama dua detik.

Dan lalu Damar tertawa — tertawa yang panjang, tertawa yang isinya tiga tahun, tertawa yang membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.

“ANJIR. AKHIRNYA.”

“Mar—“

“GUE TUNGGU TIGA TAHUN, BIN.”

“Iya, gue tau—“

“Bentar.” Suara kursi ditarik. Suara laci dibuka. “Gue punya. Gue simpen dari dulu.”

Aku memegang ponsel dan menatap dinding studioku.

“Lo simpen alamatnya?”

“Ya iyalah,” kata Damar. “Gue kan menang taruhan.”


[Bersambung ke Bab 40 — POV Allysa]