Chapter Thirteen
Bulan Kedelapan
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Kirana, Pak Har, Damar
Enam bulan pertama di penerbit adalah waktu paling menyenangkan dalam dua kehidupanku.
Aku menulis itu tanpa keraguan sedikit pun. Bukan bulan-bulan terbaik — yang terbaik masih jauh, masih belasan tahun dari sana — tapi yang paling menyenangkan, ya.
Aku bangun jam enam. Aku naik dua angkot. Aku duduk di meja pojok dekat jendela dan menggambar sampai jam enam sore, dan orang membayarku untuk itu, dan gambar-gambarku dicetak dan dijilid dan dikirim ke toko dan dibaca oleh anak-anak sebelum tidur.
Buku pertama yang kukerjakan judulnya Kucing yang Tidak Bisa Membuka Mata. Delapan belas halaman. Tentang anak kucing di gudang yang matanya belum bisa terbuka, dan kakak-kakaknya yang bergantian menceritakan padanya seperti apa dunia di luar, dan sebagian besar cerita mereka salah.
Aku mengirim satu eksemplar ke Ibu.
Dia menelepon dua hari kemudian, jam tujuh pagi, dan hal pertama yang dia katakan adalah:
“Ini kucing gudang kita, ya.”
“Iya.”
“Yang matanya sebelah itu.”
“Iya, Bu.”
Hening di seberang. Cukup lama.
“Ibu tunjukin ke Bu Har,” katanya akhirnya, dengan suara yang berusaha keras terdengar biasa saja. “Sama Bu Tin. Sama tukang sayur.”
“Ya ampun, Bu.”
“Ya biarin. Orang bukunya bagus.”
Aku menempelkan ponsel lebih rapat ke telinga dan menutup mata.
Di hidup pertamaku, tidak pernah ada satu pun percakapan seperti ini. Tidak sekali pun dalam tiga puluh empat tahun.
Kirana adalah orang yang tidak bisa diam.
Bukan berisik — dia bisa diam berjam-jam kalau sedang membaca naskah. Maksudku dia tidak bisa membiarkan sesuatu menggantung.
Kalau ada yang salah, dia bilang hari itu juga. Kalau dia kesal padamu, kamu akan tahu dalam sepuluh menit. Kalau dia suka gambarmu, dia akan mengetuk mejamu dan bilang “yang halaman sebelas bagus banget” lalu pergi lagi tanpa basa-basi.
Untuk seseorang yang menghabiskan sepuluh tahun menebak-nebak isi kepala orang lain, berada di dekat manusia seperti itu rasanya seperti keluar dari ruangan pengap.
“Kamu kenapa sih senyum-senyum,” katanya suatu siang.
“Nggak apa-apa.”
“Bintang.”
“Beneran nggak apa-apa. Saya cuma seneng aja kerja di sini.”
Kirana menatapku dengan curiga, lalu mengangkat bahu dan pergi.
Aku tidak bisa menjelaskan padanya bahwa aku baru saja menghabiskan sepuluh menit di kamar mandi kantor sambil menatap cermin karena aku menyadari, di tengah rapat, bahwa aku sudah tidak menghitung.
Selama sepuluh tahun, di ruangan mana pun, aku selalu menghitung. Berapa lama aku sudah bicara. Apakah orang sudah bosan. Apakah aku sudah mengambil terlalu banyak tempat. Itu berjalan terus di latar belakang, tiap detik, seperti kipas komputer.
Di rapat siang itu aku bicara lima menit penuh tentang kenapa halaman keempat belas tidak berfungsi, dan di tengah kalimat aku sadar bahwa penghitungnya mati.
Bukan pelan. Mati.
Aku pergi ke kamar mandi dan berdiri di depan cermin sampai bisa mengendalikan wajahku.
Bulan ketujuh, kontrakku diperpanjang.
Bulan kedelapan, aku hampir menghancurkan semuanya.
Yang lucu — bukan lucu, tapi kalian mengerti maksudku — adalah bahwa aku tidak melihatnya datang sama sekali. Aku sudah menghabiskan berbulan-bulan berpikir tentang pola-pola lamaku. Aku sudah membuat dua aturan. Aku merasa sudah memetakan semuanya.
Dan aku tetap berjalan masuk ke dalamnya dengan mata terbuka lebar, sambil merasa sangat sehat.
Begini urutannya.
Bulan keenam, Pak Har bertanya apakah aku mau mengambil satu proyek tambahan di luar jam kantor. Bayarannya bagus. Aku bilang iya.
Bulan ketujuh, seorang penulis yang senang dengan gambarku minta dikerjakan proyek pribadinya. Aku bilang iya.
Ada dua ilustrator yang keluar di minggu ketiga bulan ketujuh. Pekerjaan mereka dibagi. Aku bilang iya untuk semuanya, dan aku bilangnya cepat, sebelum ditawarkan ke orang lain.
Bulan kedelapan, aku tidur rata-rata empat jam semalam dan aku merasa hebat.
Itu bagian yang perlu kutekankan. Aku tidak merasa tertekan. Aku merasa hebat.
Karena tiap kali seseorang menyerahkan pekerjaan padaku dan aku menerimanya, ada sesuatu yang menyala di dalam dadaku, dan sesuatu itu berkata: lihat. Kamu dibutuhkan. Kamu tidak merepotkan siapa pun. Kamu justru yang menampung.
Sepuluh tahun aku merasa jadi beban yang ditoleransi.
Dan sekarang ada tempat di mana aku bisa membeli kebalikannya, dan harganya cuma tidur.
Aku membelinya sebanyak-banyaknya.
Aku jatuh hari Kamis, di kantor, jam empat sore.
Tidak dramatis. Aku tidak pingsan di tengah ruangan. Aku cuma berdiri dari kursi untuk mengambil air dan pandanganku menghitam dan aku memegang meja Kirana untuk menahan diri, dan waktu penglihatanku kembali, Kirana sudah berdiri dan memegang lenganku.
“Duduk.”
“Saya nggak apa-apa—“
“Duduk, Bintang.”
Aku duduk.
Kirana menempelkan punggung tangannya ke dahiku, cepat sekali, seperti orang yang sudah biasa.
Lalu dia menarik tangannya dan berdiri diam selama dua detik.
“Kamu panas banget,” katanya. “Berapa hari?”
“...Tiga.”
“Tiga hari?”
“Nggak parah kok, cuma—“
“Kamu demam tiga hari dan kamu masuk kerja tiga hari.”
Kantor jadi sunyi. Beberapa kepala menoleh.
Dan aku duduk di kursi itu dan merasakan sesuatu yang sangat familiar naik ke dadaku — dorongan untuk minta maaf, untuk mengecilkannya, untuk memastikan tidak ada yang repot.
“Maaf ya, Mbak. Nggak enak jadinya—“
“JANGAN MINTA MAAF.”
Semua orang di ruangan itu berhenti.
Kirana berdiri di depan mejaku dengan wajah yang benar-benar marah, dan aku belum pernah melihatnya begitu, dan untuk sesaat aku benar-benar takut.
“Saya bilang apa di hari pertama kamu masuk?” Suaranya menurun tapi tidak melunak. “Saya bilang apa, Bintang?”
Aku tidak menjawab.
“Kamu boleh bilang enggak.” Dia mengetuk mejaku sekali dengan buku jari. “Saya bilang itu di hari pertama. Saya bilang itu lagi bulan ketiga. Saya bilang itu bulan kelima waktu kamu ambil proyeknya Bu Rima.”
“Saya sanggup kok.”
“Saya tau kamu sanggup.” Kirana menarik kursi dari meja sebelah dan duduk sehingga wajah kami sejajar. “Itu bukan masalahnya. Masalahnya kamu nggak pernah nanya ke diri kamu sendiri apakah kamu mau.”
Aku membuka mulut.
Dan tidak ada yang keluar, karena dia benar, dan karena aku baru saja mendengar kalimat itu dan langsung tahu bahwa itu adalah kalimat yang menjelaskan sepuluh tahun hidupku.
Kamu nggak pernah nanya ke diri kamu sendiri apakah kamu mau.
Bukan Allysa yang memaksaku pindah ke apartemennya. Dia menawarkan. Aku bilang iya.
Bukan Allysa yang melarangku ambil kerja di Bandung. Dia diam dua hari. Aku yang menolak tawaran itu sendiri, dengan tanganku sendiri, lalu menyalahkannya selama sembilan tahun.
Bukan Allysa yang menutup kardus alat gambarku dengan lakban. Aku.
Perempuan itu melakukan hal-hal yang mengerikan padaku. Itu benar, dan itu tidak berubah, dan aku tidak akan pernah berpura-pura sebaliknya.
Tapi ada satu ruangan di dalam sepuluh tahun itu yang tidak pernah dia masuki, dan pintu ruangan itu selalu kukunci dari dalam.
“Bintang.”
Aku mengangkat wajah. Mataku basah dan aku tidak sempat menyembunyikannya.
Kirana melihatnya. Dia tidak berkomentar.
“Pulang,” katanya, lebih pelan sekarang. “Sekarang. Saya panggilin taksi.”
“Saya bisa naik angkot—“
“Bintang.”
“...Iya.”
Aku tidak masuk kerja selama lima hari.
Demamnya naik ke tiga puluh sembilan di hari kedua, dan aku menghabiskan sebagian besar waktu itu tidur di kamar kos dengan kipas angin yang berbunyi ceklek tiap satu putaran.
Damar datang dua kali membawa bubur dan mengomel selama empat puluh menit.
Dan Kirana datang di hari ketiga.
Aku membuka pintu dengan rambut berantakan dan kaos yang sudah dipakai dua hari, dan dia berdiri di lorong lantai dua kos-kosan itu memegang dua kantong plastik.
“Mbak—“
“Jangan panggil Mbak, kesannya saya tua.” Dia menerobos masuk tanpa dipersilakan. “Ya ampun. Kamarnya kecil banget.”
“Ini kos-kosan.”
“Iya saya tau, saya juga pernah muda.” Dia menaruh kantong-kantong itu di lantai. “Ada panci?”
“...Ada.”
“Ya udah.”
Dia memasak sup ayam di dapur bersama lantai dua kos-kosanku, dengan kompor gas yang salah satu tungkunya mati, sambil terus bicara tentang naskah yang sedang dia edit dan betapa penulisnya keras kepala.
Aku duduk di ambang pintu kamar sambil berselimut dan mendengarkan.
Dan di suatu titik, di tengah dia menceritakan sesuatu tentang halaman dua puluh tiga, aku menyadari bahwa aku sedang menghitung lagi.
Bukan penghitung yang lama. Yang lain.
Aku sedang menghitung berapa lama sejak terakhir kali ada orang memasak untukku di dalam ruangan yang sama.
Jawabannya: aku yang selalu memasak. Sepuluh tahun.
Tidak sekali pun sebaliknya. Tidak waktu aku demam. Tidak waktu Ibu meninggal.
“Bintang?”
“Hah?”
“Kamu dari tadi ngeliatin panci.”
“...Maaf.”
“Kamu tuh minta maaf terus, ya.” Dia menutup pancinya. “Nanti kalau saya udah kenal kamu lebih lama, saya tanya kenapa. Sekarang belum. Sekarang makan dulu.”
Dia menyerahkan mangkuk ke tanganku.
Dan begitulah caranya.
Bukan di momen yang besar. Bukan dengan pengakuan atau musik atau hujan.
Cuma seorang perempuan berdiri di dapur bersama kos-kosan sambil mengomel tentang halaman dua puluh tiga, dan aku duduk di ambang pintu dengan selimut di bahu, dan sesuatu yang sudah lama mati di dadaku bergerak sedikit.
Sedikit sekali.
Tapi bergerak.
Aku kembali kerja hari Senin, dan hal pertama yang kulakukan adalah masuk ke ruangan Pak Har dan mengembalikan dua proyek.
Itu percakapan tersulit yang pernah kulakukan seumur hidup — lebih sulit daripada berdiri di halte di bawah hujan sepuluh tahun lalu, lebih sulit daripada menulis surat perpisahan di meja makan.
Tanganku gemetar di bawah meja sepanjang lima menit itu.
Pak Har mendengarkan sampai selesai, mengangguk, lalu bilang: “Ya udah. Saya kasih ke Rendra.”
Selesai.
Sesederhana itu. Empat detik. Tidak ada yang marah, tidak ada yang kecewa, tidak ada satu pun akibat dari yang kubayangkan selama seminggu.
Aku keluar dari ruangan itu dan berdiri di lorong selama beberapa saat.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun aku tidak pernah bilang tidak, karena aku yakin — benar-benar yakin, dengan seluruh tubuhku — bahwa kalau aku bilang tidak, orang akan pergi.
Dan ternyata jawabannya cuma ya udah, saya kasih ke Rendra.
Aku berjalan kembali ke mejaku, duduk, dan menggambar sesuatu di sudut kertas buram sebelum mulai bekerja.
Gambar kecil. Sepuluh detik. Tidak untuk siapa-siapa.
Anak laki-laki yang menendang bola dan tidak menoleh.
[Bersambung ke Bab 14 — POV Allysa]