Chapter Forty Three
Dua Sisi
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Allysa, Bu Ratna, Damar (lewat telepon)
Butuh sebelas bulan.
Aku menuliskan angkanya duluan karena kalau tidak, akan terdengar seperti satu percakapan panjang di satu malam yang dramatis, dan bukan itu yang terjadi.
Yang terjadi: aku ke Surabaya sekali setiap dua atau tiga minggu, selama sebelas bulan, dan tiap kali kami bicara empat sampai enam jam selama dua hari, dan setelah sebelas bulan kami baru sampai di tahun kedelapan.
Kereta malam Jakarta–Surabaya berangkat jam sembilan dan sampai jam enam pagi. Aku hafal gerbongnya. Aku hafal warung soto di seberang stasiun yang buka jam setengah enam.
Aku menghabiskan hampir tiga puluh juta untuk tiket kereta dalam setahun itu, dan Damar bilang aku bisa naik pesawat, dan aku bilang aku suka keretanya.
Itu bohong. Aku suka keretanya karena sembilan jam di kereta memberiku waktu untuk menyusun apa yang akan kuceritakan, dan sembilan jam pulang memberiku waktu untuk menaruh kembali apa yang baru saja kudengar.
Kami mulai dari tahun pertama.
Duduk di meja makan apartemen Gubeng, hari Sabtu siang, dengan Bu Ratna di ruang tengah menonton acara masak dengan volume yang terlalu keras — dan aku baru menyadari di kunjungan ketiga bahwa perempuan itu selalu menaikkan volumenya begitu kami mulai bicara, dengan sengaja, supaya kami tidak perlu mengecilkan suara.
Aturannya kami buat di hari pertama, dan aturannya cuma tiga.
Satu: satu tahun per kunjungan, maksimal. Jangan melompat. Jangan mempercepat karena ada bagian yang tidak enak.
Dua: yang cerita duluan bergantian. Kalau minggu ini aku yang mulai dari sisiku, minggu depan dia.
Tiga: nggak ada yang boleh minta maaf di tengah cerita.
Aturan ketiga yang paling penting, dan Allysa yang mengusulkannya.
“Kalau aku minta maaf di tengah,” katanya, “kamu bakal berhenti dengerin dan mulai ngurusin aku. Dan aku bakal ngerasa lega. Dan itu bikin ceritanya berhenti.”
Kami memegangnya sebelas bulan.
Aku akan menuliskan tiga hal dari sebelas bulan itu. Bukan yang paling menyakitkan. Yang paling mengubah sesuatu.
Yang pertama: tahun kedua. Ulang tahun.
Aku sudah menceritakan sisiku. Aku memasak seharian. Aku menunggu sampai jam sebelas. Dia pulang, melihat mejanya, bilang aku udah makan, dan masuk kamar.
Aku menceritakan bagaimana aku duduk di meja itu sendirian selama empat puluh menit sebelum membereskannya. Bagaimana aku menyimpan sisanya di kulkas dan memakannya sendiri selama tiga hari karena aku tidak bisa membuangnya.
Allysa mendengarkan sampai selesai. Dia tidak minta maaf. Dia memegang aturannya.
Lalu giliran dia.
“Aku pulang jam sebelas kurang dua puluh,” katanya.
Aku mengerutkan kening.
“Jam sebelas lewat.”
“Nggak.” Dia menggeleng. “Aku sampai gedung apartemen jam sebelas kurang dua puluh. Aku duduk di mobil di basement selama dua puluh menit.”
Aku menaruh gelasku.
“Ngapain?”
“Karena aku tau kamu masak.”
Ruangan itu sunyi kecuali suara TV dari ruang tengah.
“Kamu ngasih tau aku pagi-pagi,” lanjutnya. “Kamu bilang ‘nanti pulang jangan makan dulu ya’. Kamu senyum waktu bilangnya.”
Dia memandangi mejanya sendiri.
“Dan aku duduk di mobil di basement selama dua puluh menit sambil mikirin dua hal.”
“Apa?”
“Yang pertama: aku pengen banget naik ke atas.” Suaranya rata. “Beneran. Aku pengen buka pintu dan liat mejanya dan duduk dan makan sama kamu. Aku bisa ngerasain gimana enaknya di badan aku.”
“Terus?”
“Terus yang kedua: kalau aku ngelakuin itu, kamu bakal tau.”
Aku menatapnya.
“Tau apa?”
Dan Allysa mengangkat wajahnya.
“Kamu bakal tau kamu bisa bikin aku seneng,” katanya.
Aku tidak bisa bicara.
“Dan begitu kamu tau itu,” lanjutnya, “kamu punya kuasa. Kamu bisa ngasih, dan kamu bisa nahan. Dan kalau suatu hari kamu nahan, aku bakal hancur.”
Dia mengangkat bahu, gerakan yang sangat kecil.
“Jadi aku duduk di basement dua puluh menit sampai aku yakin mukaku bener. Terus aku naik. Terus aku bilang aku udah makan.”
Aku duduk di meja makan itu dengan tangan menutup wajah.
“Lys.”
“Hm?”
“Kamu belum makan malam itu.”
“Belum.”
“Kamu makan apa?”
Dan dia bilang, dengan nada yang benar-benar biasa:
“Nggak makan.”
Yang kedua: tahun keenam. Pesta Vinka.
Ini yang paling kutakutkan dari sebelas bulan itu.
Aku menceritakan sisiku dan aku hampir tidak sanggup. Aku menceritakan bagaimana aku mengulurkan tangan ke lima orang asing, dan bagaimana suara di sebelahku memotong dengan senyum ringan, dan bagaimana semua orang tertawa.
Dan bagaimana aku ikut tertawa.
“Kenapa kamu ketawa?” tanya Allysa.
Dan aku duduk di meja itu dan menjawab sesuatu yang belum pernah kuucapkan ke siapa pun, termasuk ke diriku sendiri:
“Karena kalau aku nggak ketawa, semua orang bakal tau.”
“Tau apa?”
“Tau aku sakit.” Aku memandangi tanganku. “Dan kalau mereka tau aku sakit, mereka bakal ngerasa nggak enak. Dan pestanya jadi rusak. Dan itu jadi salah aku.”
Allysa menutup matanya.
“Aturan tiga,” kataku.
“Aku tau.” Dia menarik napas. “Aku nggak minta maaf. Aku cuma butuh sepuluh detik.”
Aku menunggu sepuluh detik.
Lalu dia bercerita.
Dan yang dia ceritakan bukan yang kuduga sama sekali.
“Aku ngomong itu karena kamu berdiri terlalu terbuka,” katanya.
“Maksudnya?”
“Kamu ngulurin tangan dan mata kamu binar-binar dan seluruh badan kamu bilang aku seneng bisa kenal kalian.” Dia menatapku. “Dan di ruangan itu isinya orang-orang kayak aku.”
Dia menggenggam gelasnya.
“Aku tau persis apa yang bakal mereka lakuin ke orang yang berdiri kayak gitu. Aku tau karena aku yang paling jago ngelakuinnya.”
“Jadi—“
“Jadi aku nembak kamu duluan.” Suaranya tidak bergetar sedikit pun. “Biar nggak ada yang sempet.”
Aku duduk di meja itu selama mungkin satu menit penuh.
“Lys,” kataku akhirnya. “Itu nggak bikin lebih baik.”
“Aku tau.”
“Itu bikin lebih parah.”
“Aku tau, Bintang.” Dia menaruh gelasnya. “Aku nggak cerita ini biar kamu ngerasa lebih baik. Kamu nanya aku lagi mikirin apa. Itu yang aku pikirin.”
Dan aku mengangguk, karena dia benar, dan karena itu memang yang kuminta.
Tapi ada sesuatu yang berubah di dadaku sore itu, dan aku baru bisa menamainya berbulan-bulan kemudian, di kereta pulang, entah kunjungan yang mana.
Selama dua puluh lima tahun aku menyimpan satu kalimat tentang perempuan itu di dalam kepalaku: dia ngerendahin aku di depan orang.
Dan itu benar. Itu tetap benar. Dia melakukannya dan aku ikut tertawa dan aku menuliskannya di buku abu-abu malam itu juga.
Yang tidak pernah kutahu selama dua puluh lima tahun adalah bahwa di dalam kepala perempuan itu, pada detik yang sama, sedang terjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Itu tidak membuatnya lebih baik.
Tapi itu membuatnya utuh.
Dan aku baru sadar, di kereta malam itu, bahwa selama dua puluh lima tahun aku hidup dengan setengah dari cerita hidupku sendiri.
Yang ketiga: tahun ketujuh.
Aku tidak akan menuliskan yang ini panjang-panjang.
Kami butuh tiga kunjungan untuk tahun ketujuh. Yang pertama kami mulai dan berhenti setelah dua puluh menit. Yang kedua kami mulai dan berhenti setelah satu jam.
Yang ketiga kami selesaikan.
Yang bisa kutuliskan cuma ini: aku menceritakan malam itu, parkiran gedung kantor, ponsel bergetar, nama Ibu di layar.
Dan Allysa menceritakan sisinya.
Dia sudah menulisnya di halaman seratus delapan puluh empat, tiga puluh tahun lalu, dalam satu kalimat. Aku tau ibunya sakit. Aku tetep minta dianter.
Sore itu dia menceritakan apa yang ada di balik satu kalimat itu, dan butuh empat puluh menit, dan aku tidak akan menuliskannya karena itu miliknya.
Yang akan kutuliskan cuma bagian terakhir.
Waktu dia selesai, kami duduk diam di meja makan itu sangat lama.
Lalu dia bilang:
“Bintang, aku mau langgar aturan tiga.”
Dan aku bilang, “Jangan.”
Dia menoleh.
“Jangan minta maaf,” kataku. “Bukan karena kamu nggak boleh. Karena aku nggak bisa nerimanya.”
“Bintang—“
“Lys, dengerin.” Aku menatapnya. “Kalau kamu minta maaf soal Ibu, aku harus jawab. Dan cuma ada dua jawaban. Aku bilang ‘nggak apa-apa’ — itu bohong, dan itu ngerusak semuanya yang kita bangun sebelas bulan ini.”
Aku menelan ludah.
“Atau aku bilang ‘aku nggak maafin kamu’. Dan itu bener. Dan itu bakal jadi kalimat terakhir yang kita ucapin soal ini selamanya.”
Allysa memandangiku.
“Jadi aku minta kamu jangan,” kataku. “Bukan buat ngelindungin kamu. Buat ngelindungin aku.”
Dan perempuan itu mengangguk pelan.
“Oke,” katanya.
Dan dia tidak pernah meminta maaf tentang ibuku. Tidak sekali pun, sampai hari ini.
Itu keputusan terbaik yang pernah kami buat berdua.
Kami sampai tahun kesepuluh di bulan kesebelas.
Hari terakhir. Hari Minggu sore, meja makan yang sama, Bu Ratna di ruang tengah dengan TV yang terlalu keras.
Dan aku menceritakan hari terakhir.
Koper. Bingkai foto yang kertas contohnya kulepas. Surat empat kalimat. Buku abu-abu di laci yang tidak jadi kubawa.
Motor. Jalan Kemuning. Lampu hijau.
Aku selesai dan aku menunggu.
Allysa tidak bicara selama sangat lama.
Lalu dia bilang, sangat pelan:
“Aku pulang jam sebelas lewat dua puluh.”
“Iya.”
“Yang pertama aku liat bukan suratnya.”
“Terus apa?”
Dan dia mengangkat wajahnya.
“Bingkainya kosong,” katanya.
Aku menutup mata.
“Aku berdiri di pintu sambil lepas sepatu,” lanjutnya, “dan aku liat bingkai itu kosong, dan yang pertama aku rasain bukan takut.”
“Terus apa?”
“Kesel.”
Suaranya rata sekali.
“Aku kesel karena ada barang aku yang dipindahin tanpa izin.”
Aku membuka mataku dan menatap perempuan itu di seberang meja.
“Terus aku baca suratnya,” katanya. “Dan aku mikir satu kata.”
“Apa?”
“‘Drama.‘”
Dan dia mengucapkannya persis begitu — datar, tanpa satu pun usaha untuk melunakkannya, sambil menatapku lurus.
“Terus aku lipet suratnya. Aku taruh balik di meja. Aku masuk kamar. Aku ganti baju. Aku cuci muka.”
Dia mengangkat bahu.
“Aku bahkan nggak nelepon.”
Meja makan itu sunyi.
Dan aku duduk di sana, di apartemen Gubeng lantai sembilan, sebelas bulan setelah aku berdiri di lorong dan meminta tolong, dan aku merasakan sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.
Bukan marah.
Lega.
Karena selama tiga puluh tahun, aku punya satu pertanyaan yang tidak pernah bisa kutanyakan ke siapa pun.
Apakah dia tahu aku pergi?
Aku mati di perempatan itu sambil memikirkannya. Itu pikiran terakhirku — bukan Ibu, bukan Damar. Nanti dia pulang, lihat suratnya, terus mikir aku beneran pergi. Dia nggak akan tahu aku nggak sengaja.
Tiga puluh tahun aku membawa pertanyaan itu.
Dan sekarang aku tahu jawabannya, dan jawabannya adalah bahwa dia mendengus dan bilang drama dan pergi tidur.
Dan itu jauh lebih baik daripada tidak tahu.
“Bintang?”
Aku mengangkat wajah.
“Kamu nggak apa-apa?”
Dan aku bilang — dan aku bersungguh-sungguh, dan aku menyadari waktu mengucapkannya bahwa aku bersungguh-sungguh:
“Iya. Aku beneran nggak apa-apa.”
Aku menyeka wajahku dengan lengan.
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Buat nggak ngehalusin.”
Kami duduk di balkon apartemen itu malam terakhir, jam sepuluh, dengan dua gelas teh yang sudah dingin.
Sebelas bulan. Sepuluh tahun. Dua sisi.
“Selesai,” kata Allysa.
“Selesai.”
Kami tidak bicara beberapa saat.
“Bintang.”
“Hm?”
“Kamu udah nggak nyimpen sendirian lagi.”
Aku memandangi lampu-lampu Surabaya di bawah.
“Iya,” kataku.
Dan aku menyadari sesuatu di balkon itu, dan aku tidak mengucapkannya malam itu karena aku belum punya kata-katanya.
Selama tiga puluh tahun, ruangan di dalam diriku itu terkunci, dan aku selalu bilang isinya kejadian, bukan orang.
Sebelas bulan terakhir, ruangan itu terbuka.
Dan sekarang ada dua orang di dalamnya, dan bukan karena aku memasukkan siapa pun.
Karena ternyata memang selalu ada dua orang di sana. Sejak awal. Sejak 14 Maret jam enam lewat sebelas pagi, di dua kamar yang berbeda, di kota yang sama.
Aku cuma butuh tiga puluh tahun untuk melihat yang satunya.
[Bersambung ke Bab 44 — POV Allysa]