Chapter Thirty Four
Teman
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Kirana, Bu Ratna, atasan (Pak Bimo)
Kirana jadi temanku.
Bukan “teman” dalam pengertian yang enak diceritakan. Teman betulan — yang meneleponku jam sebelas malam untuk bertanya apakah warna dinding kamarnya jelek, yang muncul di rumahku tanpa memberi tahu sambil membawa martabak, yang tahu bahwa aku tidak bisa makan pedas dan mengejekku tentang itu selama dua tahun.
Ibu menyukainya sejak hari pertama.
“Yang mana tadi namanya?”
“Kirana, Bu.”
“Yang ketawanya keras itu?”
“Iya.”
“Ibu suka.” Dia mengangguk sambil mengiris bawang. “Kamu kalau sama dia jadi manusia.”
Aku berhenti mengiris.
“Maksudnya?”
Ibu tidak menoleh.
“Ya jadi manusia,” katanya. “Biasanya kamu kayak orang lagi ngisi formulir.”
Aku ingin menuliskan sesuatu yang tidak nyaman tentang persahabatan itu.
Selama tahun pertama, aku tidak pernah benar-benar tenang di dekatnya.
Karena tiap kali dia datang, ada bagian di dalam kepalaku yang berjalan di latar belakang seperti kipas komputer, dan bagian itu terus bertanya:
Apakah aku boleh punya ini?
Perempuan ini duduk di ruang tamuku sambil makan martabak dan mengeluh tentang bosnya, dan dia tidak tahu bahwa aku pernah membunuh laki-laki yang dia cintai selama sepuluh tahun.
Dia tidak tahu bahwa aku pernah berdiri di dalam lift antara lantai empat belas dan lantai enam dan hampir menanamkan satu kalimat di kepalanya yang tidak akan pernah bisa dia cabut.
Dia tidak tahu bahwa aku duduk sembilan jam di parkiran masjid di kampung ibunya Bintang, di hari perempuan itu meninggal, sementara dia berada di dalam rumah membantu memasak untuk pelayat.
Dan dia menyebutku temannya.
Aku menghabiskan setahun penuh menunggu perasaan itu berubah jadi rasa bersalah yang menghancurkan.
Yang terjadi malah sebaliknya, dan pelan sekali, dan aku baru menyadarinya di suatu Minggu sore di tahun kedua waktu dia tertidur di sofa ruang tamuku sambil menonton acara masak.
Aku duduk di kursi seberang dan memandanginya dan berpikir, dengan sangat jelas:
Aku nggak akan pernah nyakitin orang ini.
Bukan aku tidak boleh. Bukan aku harus hati-hati.
Aku tidak akan.
Dan itu pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku mempercayai kalimat tentang diriku sendiri tanpa harus memeriksanya dulu.
Kami tidak pernah membicarakan Bintang.
Itu terjadi begitu saja, tanpa disepakati, dalam beberapa bulan pertama. Dia menyebut namanya sesekali di tahun pertama — tidak bisa dihindari, mereka masih satu kantor selama setahun sebelum Kirana pindah ke penerbit lain — lalu makin lama makin jarang, lalu berhenti.
Dan aku tidak pernah bertanya. Tidak sekali pun, dalam empat tahun.
Sampai suatu malam di tahun ketiga, waktu kami minum di rooftop bar yang terlalu mahal untuk kami berdua, dan dia sudah dua gelas, dan dia bilang:
“Mbak Allysa.”
“Hm?”
“Mbak pernah suka sama Bintang, ya.”
Aku memutar gelasku.
Dan aku sudah menyusun jawaban untuk pertanyaan ini selama tiga tahun. Aku punya empat versi. Semuanya bohong dengan cara yang berbeda-beda.
“Iya,” kataku.
Kirana mengangguk pelan, memandangi kota.
“Kapan?”
“Lama.”
“Sekarang masih?”
Aku menoleh dan menatapnya.
“Ran,” kataku. “Kalau jawabannya iya, kamu mau aku ngapain?”
Dia berpikir agak lama. Dia benar-benar berpikir; aku bisa melihatnya.
“Nggak ngapa-ngapain,” katanya akhirnya. “Aku cuma pengen tau.”
“Kenapa?”
“Karena aku sayang sama Mbak,” katanya, sederhana sekali. “Dan aku nggak mau Mbak punya sesuatu yang Mbak simpen sendirian. Aku udah pernah pacaran sama orang kayak gitu. Capek banget dari luar.”
Aku menaruh gelasku.
Dan aku bilang — dan ini kalimat paling jujur yang pernah kuucapkan kepada siapa pun di dunia ini selain ibuku:
“Iya. Masih.”
Kirana mengangguk.
“Terus kenapa nggak—“
“Karena dia nggak mau.” Aku mengangkat bahu. “Dan itu bukan hukuman, Ran. Dia berhak nggak mau.”
“Mbak udah nanya?”
“Nggak.”
“Terus tau dari mana?”
“Dia bilang.”
Dia menoleh cepat. “Kapan?”
Dan aku memandangi kota Jakarta dari lantai tiga puluh empat dan menghitung di kepalaku sebelum menjawab, dan angkanya membuatku sendiri kaget.
“Dua belas tahun lalu,” kataku.
Kirana menatapku dengan mulut sedikit terbuka.
“Dua belas—“ Dia menaruh gelasnya. “Mbak. Itu lama banget.”
“Iya.”
“Orang berubah dalam dua belas tahun.”
“Aku tau.”
“Terus kenapa Mbak nggak—“
“Ran.” Aku menoleh. “Kamu inget nggak, kamu bilang apa waktu kamu telepon aku malam itu?”
Dia diam.
“Kamu bilang kamu capek jadi orang yang dia nggak percaya bakal nampung,” kataku. “Dan aku bilang kamu nggak salah apa-apa.”
Aku memutar gelasku lagi.
“Aku yang bikin dia jadi kayak gitu.”
Rooftop itu berisik. Ada musik, ada orang tertawa di meja sebelah.
Kirana tidak bertanya apa-apa selama mungkin satu menit penuh.
Lalu dia bilang, pelan:
“Mbak, itu berat banget buat dibawa sendirian.”
“Iya.”
“Berapa lama Mbak bawa?”
Aku menatap gelasku.
“Dua belas tahun.”
Dan perempuan itu — yang tidak tahu apa-apa, yang tidak akan pernah tahu apa-apa, yang mengira dia sedang mendengar cerita tentang cinta kuliah yang berantakan —
perempuan itu mengulurkan tangan ke seberang meja dan menggenggam tanganku.
“Ya udah,” katanya. “Sekarang berdua.”
Aku menangis di rooftop bar yang terlalu mahal, dan Kirana tidak melepaskan tanganku, dan pelayan datang dan pergi lagi tanpa berkata apa-apa.
Tawaran Surabaya masuk di bulan Agustus tahun itu.
Pak Bimo memanggilku ke ruangannya hari Kamis sore.
“Lys, kamu tau kita mau buka operasi Jawa Timur?”
“Tau, Pak.”
“Saya mau kamu yang pegang.”
Aku duduk di kursi itu dan mendengarkan selama dua puluh menit. Kantor baru, tim baru, dua tingkat naik dari posisiku sekarang. Pindah ke Surabaya minimal dua tahun.
“Kamu nggak usah jawab sekarang,” katanya. “Pikirin dulu. Saya butuh jawaban tiga minggu.”
Aku pulang malam itu dan menceritakannya ke Ibu di meja makan.
Dan Ibu — yang enam puluh sembilan tahun, yang sudah bisa berenang gaya bebas dua puluh lima meter, yang tidak pernah tinggal sendirian seumur hidupnya — Ibu bilang:
“Ya ambil.”
“Bu, aku nggak bisa ninggalin Ibu.”
“Kenapa nggak bisa?”
“Ya nggak bisa aja.”
Ibu menaruh sendoknya.
“Lys.”
“Iya?”
“Kamu tuh selalu nyari alesan buat nggak pergi.”
Aku mengangkat wajah.
“Bukan gitu—“
“Iya gitu.” Dia mengangkat bahu. “Kamu nolak kerjaan di Singapur tahun lalu. Kamu nolak yang di Bandung tiga tahun lalu.”
“Itu beda—“
“Alesannya beda. Bentuknya sama.”
Kulkas berdengung.
“Kamu nunggu sesuatu di kota ini,” kata Ibu. “Dan kamu nggak akan ngaku, bahkan sama diri kamu sendiri.”
Aku menaruh sendokku dan tidak bisa mengangkat wajah.
“Bu.”
“Hm?”
“Aku nggak nunggu.”
Ibu tidak menjawab.
Dia cuma melanjutkan makan, dan setelah beberapa saat dia bilang, tanpa menoleh:
“Kalau kamu nggak nunggu, kenapa nolaknya susah?”
Aku memikirkan pertanyaan itu selama tiga minggu.
Dan yang paling mengganggu bukan bahwa Ibu benar.
Yang mengganggu: aku tidak bisa menemukan bukti bahwa dia salah.
Aku sudah dua belas tahun tidak berharap. Aku sudah memutus telepon-telepon itu sendiri, tujuh tahun lalu, waktu aku melihat wajahku tersenyum di layar ponsel yang gelap. Aku tidak pernah menghubunginya sekali pun sejak Kirana bilang mereka berakhir — empat tahun, tidak sekali pun.
Semua itu benar.
Dan tetap saja: aku masih di kota ini.
Aku masih di kota yang sama dengan laki-laki itu, di gedung yang jaraknya dua puluh menit dari kantornya, dan aku sudah menolak tiga tawaran untuk pergi.
Dan tiap kali aku menolak, aku punya alasan yang bagus, dan tiap alasan itu benar.
Ibu sendirian. Timku lagi transisi. Aku nggak suka Singapura.
Dua belas tahun alasan yang benar.
Aku duduk di lantai kamar di malam terakhir sebelum aku harus menjawab, dan aku membuka aplikasi catatan, dan aku membaca daftar sembilan poin itu untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Poin nomor empat.
4. Kalau kehadiranku bikin dia nggak nyaman, pergi. Nggak usah nunggu disuruh.
Aku sudah memegangnya. Dua belas tahun. Aku tidak pernah muncul di depannya tanpa diundang, tidak pernah menghubunginya lebih dulu sejak Bab yang manapun dalam hidupku yang aku sudah lupa nomornya.
Tapi pergi di poin itu artinya menjauh dari ruangannya.
Bukan meninggalkan kota.
Dan aku duduk di lantai kamar itu dan menyadari bahwa selama dua belas tahun, aku sudah menyusun hidupku dengan sangat rapi supaya aku bisa tetap berada di dekat seseorang tanpa pernah mendekati-nya.
Dan aku menyebut itu penebusan.
Aku menyebut itu pengendalian diri.
Ternyata itu bukan salah satu pun.
Itu cuma cara paling sopan untuk tetap menunggu.
Aku menerima tawaran itu hari Senin.
Aku pulang dan memberi tahu Ibu, dan Ibu bilang “ya udah” sambil terus mengiris, dan lima menit kemudian aku menemukannya menangis di dapur sambil pura-pura mengurus bawang.
“Bu.”
“Ini bawang.”
“Iya, Bu.”
“Bawang.”
“Iya.”
Dan aku memeluknya dari belakang, di dapur itu, dan perempuan itu menepuk tanganku dua kali dan bilang “ya udah sana, ganti baju” tanpa berbalik.
Aku memberi tahu Kirana malamnya.
Dia berteriak di telepon selama dua menit — separuh senang, separuh marah — lalu diam, lalu bertanya:
“Mbak.”
“Hm?”
“Mbak pergi karena kerjaan, apa Mbak pergi karena dia?”
Aku memandangi tembok kamarku.
“Dua-duanya,” kataku.
“Mbak jujur banget sih.”
“Aku lagi belajar.”
Dan Kirana tertawa, dan lalu dia bilang sesuatu yang membuatku duduk di tepi kasur:
“Mbak, aku mau bilang satu hal terus aku nggak akan ngungkit lagi.”
“Iya.”
“Kalau Mbak pergi tanpa pernah nanya sekali pun,” katanya, “itu bukan Mbak ngelepasin dia.”
“Terus apa?”
“Itu Mbak ngehukum diri Mbak sendiri lagi.”
Aku menutup mataku.
“Dan Mbak,” lanjutnya, “kalau Mbak nggak nanya, dia juga nggak akan pernah dapet kesempatan buat bilang enggak.”
Aku pindah ke Surabaya tiga bulan kemudian.
Dan aku tidak menghubungi Bintang sebelum pergi.
Aku memikirkan kalimat Kirana itu tiap hari selama tiga bulan, dan aku memutar-mutarnya, dan setiap kali aku hampir yakin dia benar.
Tapi ada satu hal yang tidak dia ketahui.
Kirana mengira aku belum pernah bertanya.
Aku sudah. Dua belas tahun lalu, di depan pagar rumah ibuku, dalam gelap, dengan buku dua ratus tiga belas halaman di pelukanku.
Dan laki-laki itu menjawab dengan sangat jelas, dan dia tidak sedang marah waktu mengucapkannya, dan itu yang membuatnya bisa kupercaya:
Yang dulu ada di aku buat kamu itu udah nggak ada. Bukan pindah, bukan disimpen. Nggak ada.
Orang boleh berubah dalam dua belas tahun. Kirana benar soal itu.
Tapi kalau seseorang sudah menjawab pertanyaanmu dengan jujur, dan kamu bertanya lagi dua belas tahun kemudian, itu bukan pertanyaan.
Itu tagihan.
Jadi aku pergi tanpa bertanya.
Dan aku menulis satu surat, tulisan tangan, dan aku menitipkannya ke Damar dengan satu permintaan:
Kasih ke dia kalau dia nanya aku ke mana. Kalau dia nggak nanya, buang aja.
[Bersambung ke Bab 35 — POV Bintang]