Chapter Eight
Es Teh Dua
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Damar, Bintang (disebut)
Butuh dua minggu untuk memberanikan diri.
Bukan mencari nomornya — itu gampang, Damar satu angkatan denganku, temanku masih ada yang punya kontaknya. Yang butuh dua minggu adalah menyiapkan diri untuk apa yang akan terjadi.
Karena begini: yang kutakutkan bukan Damar akan memakiku.
Yang kutakutkan justru dia tidak akan.
Dia membalas dalam empat menit.
Damar
Allysa yang temennya Bintang kan? Oh iya inget. Ada apa nih?
Aku menatap layar itu sampai mataku panas.
Allysa yang temennya Bintang.
Di dunia yang lain, laki-laki ini berdiri di barisan paling belakang pemakaman dengan kemeja pinjaman, dan dia tidak menangis, dan dia menghampiriku setelah semua orang bubar dan bertanya satu kalimat yang akan kubawa sampai mati.
“Dia sempat bahagia nggak, sih?”
Dan sekarang dia mengetik “oh iya inget” dengan emoji.
Aku mengetik balasannya tiga kali dan menghapusnya tiga kali. Yang akhirnya kukirim:
Bisa ketemu? Ada yang mau aku tanyain. Nggak lama kok.
Boleh. Besok? Warkop deket kampus, yang ada bapak-bapak nyetel dangdut itu.
Aku tahu warkop itu.
Aku tahu warkop itu karena di hidup pertamaku, di tahun ketiga, aku pernah lewat depannya naik motor bersama Bintang, dan Bintang memelankan motornya sedikit — cuma sedikit, hampir tidak kelihatan — dan aku bilang, “Kenapa?”
Dan dia bilang, “Nggak apa-apa.”
Dan kami lanjut jalan.
Aku tidak pernah bertanya lagi. Aku bahkan sudah lupa kejadian itu sampai detik ini, dan sekarang aku duduk di kamarku dengan ponsel di tangan dan tiba-tiba paham bahwa laki-laki itu sedang memandangi tempat di mana sahabatnya biasa duduk, dan dia memelankan motornya, dan dia bilang nggak apa-apa, karena aku ada di belakangnya.
Berapa banyak lagi nggak apa-apa yang tidak pernah kuhitung?
Aku tidak tidur malam itu.
Damar datang telat sepuluh menit, memakai kaos gratisan acara kampus, dan langsung menarik kursi plastik di seberangku.
“Sori, sori. Bangun kesiangan.” Dia melambai ke bapak warung. “Pak, es teh dua ya.”
Dua. Dia memesankanku tanpa bertanya.
Aku menunduk ke meja.
“Kenapa?” Damar mengerutkan kening. “Lo nggak suka es teh? Ya udah—“
“Nggak. Suka kok.” Aku menegakkan badan. “Makasih.”
Bapak warung menaruh dua gelas. Dangdutnya sedang di bagian yang keras.
Dan aku duduk di seberang laki-laki yang tujuh tahun lagi akan berhenti mencari sahabatnya karena aku, dan yang sepuluh tahun lagi akan bertanya apakah sahabatnya itu sempat bahagia, dan yang saat ini sedang menyedot es teh sambil main ponsel dengan santai.
“Jadi kenapa?” Dia menaruh ponselnya. “Ini soal Bintang, kan.”
“Iya.”
“Gue udah nebak.” Damar bersandar. “Dia nggak jadi nembak lo, terus dia ngilang, terus lo bingung. Bener nggak?”
Aku mengangguk.
“Ya gue juga bingung, sumpah.” Damar mengangkat kedua tangan. “Tiga bulan dia ngomongin lo terus. Gue sampe hafal jadwal kuliah lo, Lys. Serius. Gue tau lo hari Selasa kosong.”
Dadaku sakit.
“Terus tiba-tiba dia telepon, bilang nggak jadi.” Damar menggeleng. “Terus ilang ke kampung sebelas hari. Balik-balik jadi—“ dia mencari kata, “—jadi kayak orang lain.”
“Kayak orang lain gimana?”
“Ya kayak orang lain.” Damar mengaduk es tehnya dengan sedotan. “Duduknya lurus. Ngomongnya pelan. Terus dia mulai gambar lagi, padahal dia yang paling ngotot bilang gambar nggak bakal ngasih makan.”
Dia berhenti mengaduk.
“Dan dia jadi baik banget sama gue.”
“Baik?”
“Baik yang aneh.” Damar mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya ekspresinya serius. “Kayak — lo tau nggak, orang yang abis pulang dari rumah sakit terus jadi baik banget sama semua orang? Kayak gitu. Dia nelepon gue tiap dua hari. Dia nanya kabar nyokap gue. Dia nyokap gue nggak pernah dia tanyain seumur idup, Lys.”
Aku memegang gelasku dengan dua tangan supaya tidak terlihat gemetar.
“Menurut lo dia kenapa?” tanya Damar.
Dan di situlah aku hampir mengatakannya.
Sungguh. Kalimatnya sudah sampai di belakang gigiku. Mar, dia mati. Minggu lalu. Umur tiga puluh empat. Di perempatan Jalan Kemuning, jam setengah delapan malam, sambil bawa koper, karena dia akhirnya pergi dari aku.
Dan lo berhenti nyariin dia tahun ke-tiga, karena aku bilang lo bawa pengaruh buruk.
Aku menelan es teh terlalu banyak sampai kepalaku nyeri.
“Gue nggak tau,” kataku.
“Hm.” Damar mengamatiku agak lama. “Lo juga aneh, sih.”
“Aneh apa?”
“Lo nggak marah.”
Aku diam.
“Cewek yang ditinggal di halte tuh biasanya marah,” lanjutnya. “Atau minimal kesel. Lo dari tadi kayak orang yang lagi ngelayat.”
Bapak warung menaikkan volume radionya.
“Mar,” kataku. “Gue mau minta tolong satu hal.”
“Apa?”
“Jangan ninggalin dia.”
Damar mengerjap. “Hah?”
“Nanti.” Aku menatap gelasku. “Kalau suatu saat dia mulai jarang bales. Kalau dia mulai ngilang pelan-pelan. Kalau lo telepon empat kali terus nggak diangkat—“
Aku berhenti karena suaraku hampir putus.
“Jangan berhenti nelepon,” kataku. “Tolong. Lo boleh kesel. Lo boleh ngambek. Tapi jangan berhenti.”
Damar menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, dan di antara kami cuma ada suara dangdut dan bunyi penggorengan dari warung sebelah.
“Kenapa lo ngomong gitu?”
“Nggak apa-apa.”
“Lys.”
“Nggak apa-apa,” ulangku, dan aku mendengar suaraku sendiri mengucapkan tiga kata itu — tiga kata yang selama sepuluh tahun kuterima dari seseorang tanpa pernah sekali pun bertanya lebih jauh — dan rasanya seperti menelan pecahan kaca.
Damar menyandarkan punggung ke kursi plastiknya.
“Aneh banget lo berdua,” katanya. “Sumpah.”
Lalu, setelah beberapa detik:
“Ya udah. Gue nggak bakal ninggalin dia.”
Semudah itu.
Dia mengucapkannya sambil mengangkat bahu, sambil menyedot es teh, dengan nada orang yang menyanggupi tolong dibeliin rokok.
Karena bagi Damar, itu bukan janji besar. Itu bukan apa-apa. Kenapa dia harus meninggalkan sahabatnya?
Aku menunduk dan menutup wajah dengan satu tangan.
“Lho—eh—“ Damar panik. “Lys? Anjir. Kenapa? Gue salah ngomong?”
“Nggak.” Aku menggeleng, masih menutup wajah. “Nggak. Sori.”
“Bentar, gue minta tisu—Pak! Pak, tisunya!”
Dan laki-laki itu bangkit dari kursinya untuk mengambilkan tisu untuk perempuan yang, di dunia lain, sudah membunuh sahabatnya pelan-pelan selama sepuluh tahun.
Waktu aku sudah tenang, Damar duduk lagi dan tidak bertanya apa-apa selama beberapa menit. Dia cuma main ponsel, pura-pura sibuk, memberiku waktu.
Detail kecil itu juga menghancurkanku, tapi aku sudah tidak punya air mata tersisa untuk itu.
“Mar.”
“Hm.”
“Boleh nanya satu lagi?”
“Boleh.”
“Bintang tuh sebenernya pengen jadi apa, sih?”
Damar mengangkat wajahnya, kaget.
“Lo nggak tau?”
“Nggak.”
“Lo kan—“ Dia berhenti. “Ya emang lo belum jadian sih. Ya udah.”
Dia menaruh ponselnya, menyilangkan tangan.
“Dia pengen bikin buku anak,” katanya. “Yang dibacain sebelum tidur. Dia pernah cerita ke gue, mabok, jam tiga pagi. Katanya nyokapnya dulu nggak pernah punya duit buat beli buku cerita, jadi tiap malem nyokapnya ngarang sendiri. Ngasal. Ceritanya nggak nyambung. Tapi dia inget semua.”
Damar mengangkat bahu.
“Dia pengen bikin yang beneran ada bukunya. Buat anak-anak yang nyokapnya nggak sempet ngarang.”
Aku duduk di kursi plastik itu dan tidak bergerak.
Sepuluh tahun.
Aku tidur di sebelah laki-laki itu selama sepuluh tahun, tiga ribu enam ratus lima puluh malam, dan aku tidak tahu.
Aku tidak tahu karena aku tidak pernah bertanya.
Dan orang yang tahu adalah laki-laki berkaos gratisan yang mendengarnya sekali, jam tiga pagi, dari orang mabuk — dan dia masih ingat detailnya bertahun-tahun kemudian.
Itu bedanya. Sesederhana itu bedanya.
Bukan soal siapa yang lebih mencintai. Damar tidak mencintai Bintang seperti aku mencintai Bintang; aku yakin itu, sekarang aku sangat yakin.
Dia cuma mendengarkan.
“Kenapa lo nanya?” Damar menyipitkan mata. “Lo mau ngasih kejutan atau apa? Jangan, deh. Dia nggak suka dikejutin.”
“Nggak.” Aku menggeleng. “Aku cuma pengen tau aja.”
“Ya udah.” Damar meregangkan badan. “Gue duluan ya, ada kelas jam dua.”
Dia berdiri, merogoh saku.
“Biar aku aja,” kataku cepat.
“Yee, sok kaya.”
“Serius. Aku yang minta ketemu.”
“Ya udah, makasih.” Damar menyandang tasnya, lalu berhenti sebentar di samping mejaku.
“Lys.”
“Hm?”
“Gue nggak tau apa yang terjadi di antara lo berdua,” katanya. “Dan gue nggak akan nanya. Tapi—“
Dia menggaruk belakang lehernya, canggung.
“Dia orangnya kalau sayang tuh nggak setengah-setengah. Sampai bego. Sampai ngerugiin diri sendiri.” Damar mengangkat bahu. “Jadi ya. Kalau lo nggak niat serius, mendingan sekarang aja jauhinnya. Sebelum dia keburu.”
Aku menatapnya.
“Iya,” kataku. “Aku ngerti.”
Damar pergi.
Dan aku duduk di warung kopi itu sendirian selama satu jam lebih, dengan dua gelas es teh yang sudah tinggal air, dan bapak warung sudah mengganti radionya ke lagu lain dua kali.
Dia sudah keburu, Mar.
Sepuluh tahun lalu, atau sepuluh tahun lagi, atau kapan pun itu. Dia sudah keburu. Dia sudah sayang sampai bego, sampai merugikan diri sendiri, sampai habis.
Dan aku yang menghabiskannya.
Malam itu aku membuka catatan di ponselku.
Ada lima baris di sana. Yang pertama sudah dicoret.
Aku menambahkan yang keenam:
6. Cari tau hal-hal tentang dia yang seharusnya aku tau dari dulu. Diem-diem. Jangan dipake buat deketin dia.
Lalu aku membuka aplikasi catatan yang lain, yang kosong, dan aku memberinya judul.
HAL-HAL YANG KULAKUKAN
Aku menatap judul itu lama sekali.
Lalu aku mulai mengetik, dari tahun pertama, dari yang paling awal, dari hal-hal kecil yang bahkan tidak akan diingat siapa pun.
Tahun 1. Dia masak nasi goreng buat aku hari Minggu. Aku bilang “kebanyakan garem” terus aku nggak makan. Aku buang. Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuci pirengnya.
Tahun 1. Dia dapet tawaran kerja di Bandung. Aku nggak ngelarang. Aku cuma diem dua hari sampe dia nolak sendiri. Aku inget aku ngerasa menang.
Tahun 2. Ulang tahun. Dia masak seharian. Aku pulang jam 11. Aku bilang “aku udah makan.” Aku belum makan.
Aku mengetik sampai jam tiga pagi.
Tidak ada satu pun pembelaan di dalamnya. Tidak ada satu pun tapi waktu itu aku. Aku sengaja. Aku memaksa diriku menuliskannya persis seperti yang akan ditulis orang lain kalau orang lain yang menyaksikannya.
Sembilan puluh empat entri malam itu.
Masih ada delapan tahun lagi yang belum kutulis.
[Bersambung ke Bab 9 — POV Bintang]