← Chapters Ch. 15 / 51

Chapter Fifteen

Paket Tanpa Nama Pengirim

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Kirana, Damar, Bu Sri (lewat telepon)


Setahun lewat, dan aku hampir tidak menyadarinya.

Itu yang paling aneh dari tahun pertama kehidupan keduaku. Aku sudah menyiapkan diri untuk menjalaninya seperti orang yang menghitung mundur — mengingat tanggal-tanggal, menandai peristiwa yang seharusnya terjadi, membandingkan terus.

Ternyata tidak.

Hari-hari cuma lewat. Aku bangun jam enam. Naik dua angkot. Menggambar. Pulang. Kadang mampir makan bersama Damar. Kadang lembur. Menelepon Ibu tiap Minggu.

Dan suatu pagi di bulan Maret aku sedang mengantre di warung nasi uduk dekat kantor, dan aku melihat kalender di dinding warung, dan aku baru sadar tanggalnya empat belas.

Setahun.

Aku berdiri di antrean itu dengan piring kosong di tangan dan menunggu sesuatu terjadi di dalam dadaku.

Tidak ada. Cuma lapar.

Aku membayar nasi udukku dan kembali ke kantor.


Yang berubah dalam setahun, kalau dihitung:

Aku naik empat kilogram. Ini terdengar remeh; tidak. Di hidup pertamaku, aku turun terus tiap tahun, sedikit-sedikit, sampai di tahun kesepuluh aku memakai celana yang sama dengan yang kubeli waktu umur dua puluh dua dan celana itu longgar.

Aku tidur enam sampai tujuh jam. Setelah bulan kedelapan itu, aku memasang aturan: tidak ada kerja setelah jam sebelas malam. Aku melanggarnya kira-kira sekali sebulan, dan tiap kali melanggar aku memberitahu Damar, karena aku sudah belajar bahwa aturan yang tidak ada saksinya bukan aturan.

Aku sudah menyelesaikan empat buku. Yang keempat, Anak yang Menoleh, akhirnya diterbitkan juga — Kirana yang memperjuangkannya dalam rapat, dan dia menang, dan dia tidak pernah menyebut-nyebutnya lagi setelah itu.

Aku mengucapkan kata “tidak” sekitar sembilan kali. Aku menghitungnya. Kesembilan kalinya rasanya masih sama seperti yang pertama.

Dan aku pindah kos.

Bukan jauh — dua kilometer, kamar yang sedikit lebih besar, ada jendela yang menghadap ke pohon. Aku pindah karena aku mampu, dan karena kipas angin yang berbunyi ceklek tiap satu putaran itu akhirnya rusak total, dan waktu aku memandangi bangkainya di lantai aku merasa seperti orang yang baru saja diizinkan pergi.

Aku menempelkan gambar-gambarku di tembok kamar baru. Sekarang ada sebelas.

Yang jeruji gerbang tetap di dalam laci.


Pesan dari Allysa masuk sekitar dua minggu sekali sekarang.

Isinya makin pendek. Makin jarang tentang aku.

Aku lulus kemarin.

Aku dapet kerja. Product management. Gedungnya tinggi banget, aku pusing tiap keluar lift.

Ibuku nanem cabe di pot. Katanya biar nggak beli.

Dan aku tetap membacanya, tiap kali, dan aku tetap tidak membalas.

Damar yang akhirnya bertanya.

Kami sedang di warung kopi yang sama — yang bapaknya menyetel dangdut, yang di hidup pertamaku tutup di tahun keenam dan aku baru tahu waktu lewat naik motor — dan ponselku bergetar di meja dan aku membaliknya telungkup seperti biasa.

“Bin.”

“Hm.”

“Kenapa lo nggak blokir aja, sih?”

Aku mengangkat wajah.

“Setahun lebih.” Damar mengaduk kopinya. “Dia kirim, lo nggak bales. Dia kirim lagi, lo nggak bales lagi. Itu udah setahun lebih, Bin.”

“Terus?”

“Ya lo blokir aja kalau emang nggak mau.”

Aku membuka mulut untuk menjawab, dan menutupnya lagi.

Karena aku sudah memikirkan pertanyaan itu ratusan kali sendirian, di kamar, jam sebelas malam, tepat sebelum tidur. Dan aku belum pernah menemukan jawaban yang bisa kuucapkan keras-keras tanpa terdengar seperti orang yang membohongi dirinya sendiri.

“Gue nggak tau,” kataku.

“Lo masih suka?”

“Enggak.”

Aku menjawabnya terlalu cepat, dan Damar mengangkat alis, dan aku mengangkat tangan.

“Serius, Mar. Enggak. Gue nggak bohong.”

Dan itu memang bukan bohong. Setahun lebih dan aku masih tidak merasakan apa-apa saat melihat namanya. Tidak berdebar. Tidak rindu. Kalau ada yang bertanya apakah aku mau bertemu dengannya, jawabannya masih tidak, dengan seluruh tubuhku.

“Terus kenapa?”

Dan di warung kopi itu, dengan dangdut dari radio kecil dan es teh yang sudah tinggal air, aku akhirnya mengucapkannya keras-keras untuk pertama kalinya — versi yang paling dekat dengan kebenaran yang bisa kususun:

“Karena dia satu-satunya orang yang tau.”

Damar mengerutkan kening. “Tau apa?”

Aku memandangi meja.

“Ada satu hal,” kataku pelan, “yang paling gede yang pernah kejadian sama gue. Yang paling gede seumur idup gue. Dan gue nggak bisa cerita ke siapa-siapa. Nggak ke lo, nggak ke Ibu, nggak ke siapa pun.”

“Bin—“

“Bukan karena gue nggak percaya lo.” Aku mengangkat wajah. “Gue percaya lo lebih dari siapa pun. Tapi ini bukan soal percaya. Ini soal — ada yang emang nggak bisa dipindahin ke orang lain.”

Damar diam.

“Dan di dunia ini cuma ada satu orang yang tau,” kataku. “Cuma satu. Dan orangnya dia.”

Aku mengangkat bahu.

“Gue nggak mau ketemu dia. Gue nggak mau ngobrol sama dia. Gue nggak mau balik. Tapi kalau gue blokir—“

Aku berhenti.

“Kalau gue blokir, gue sendirian beneran.”

Warung kopi itu ramai. Ada suara gorengan. Radio ganti lagu.

Damar tidak bertanya apa “hal yang paling gede” itu. Tidak sekali pun, tidak malam itu, tidak bertahun-tahun setelahnya.

Dia cuma menyeruput kopinya dan bilang:

“Ya udah.”

Lalu, setelah beberapa detik:

“Tapi lo tau kan itu nggak sehat.”

“Iya.”

“Ya udah kalau lo tau.”

Dan kami lanjut membicarakan hal lain, dan itu salah satu alasan kenapa aku mencintai laki-laki itu seumur hidupku.


Kirana mengajakku makan malam di bulan Mei.

Bukan makan siang kantor. Malam. Restoran, bukan warung. Dia yang mengajak, dan dia mengajaknya dengan cara yang sangat Kirana:

“Bintang. Sabtu malem kosong?”

“Kosong.”

“Makan yuk. Berdua. Bukan urusan kantor.” Dia menatapku lurus. “Saya lagi nggak main tebak-tebakan, ya. Saya ajak kamu makan malem karena saya pengen ajak kamu makan malem.”

Aku duduk di kursiku dengan pensil di tangan dan tidak bisa berkata apa-apa selama tiga detik penuh.

“Kalau kamu nggak mau, bilang enggak,” lanjutnya, santai. “Beneran nggak apa-apa. Besok kita rapat halaman dua puluh tiga kayak biasa dan saya nggak akan aneh.”

Dan itu — cara dia menutup kalimatnya, dengan pintu keluar yang dibuka lebar-lebar dan tanpa satu pun jebakan di dalamnya —

Aku bilang iya.

Bukan karena berdebar. Aku perlu jujur soal ini karena nanti akan penting: waktu itu aku tidak berdebar sama sekali.

Aku bilang iya karena perempuan itu menyatakan keinginannya dengan jelas, memberiku jalan keluar tanpa biaya, dan menunggu jawabanku tanpa membebaninya dengan apa pun.

Sepuluh tahun aku tidak pernah mengalami itu, satu kali pun.

Aku bilang iya karena aku ingin tahu bagaimana rasanya berada di dekat orang yang begitu.


Makan malamnya bagus. Kami tertawa banyak.

Aku pulang jam sebelas dengan perasaan hangat yang membingungkan, dan aku berbaring di kasur menatap langit-langit kamar kos baru selama satu jam sebelum bisa tidur.

Bukan karena jatuh cinta.

Karena aku ketakutan.

Ini yang tidak dikatakan orang tentang orang seperti aku: setelah sepuluh tahun di ruangan dingin, kehangatan tidak terasa seperti kelegaan.

Terasa seperti bahaya.

Sepanjang makan malam itu, ada bagian di dalam diriku yang duduk agak di belakang, mengamati, menghitung — bukan menghitung apakah aku terlalu banyak bicara, penghitung yang itu sudah mati — tapi menghitung sesuatu yang lain.

Berapa lama sampai ini jadi alat?

Karena aku tahu cara kerjanya. Aku hafal. Kamu diberi kehangatan, lalu kehangatan itu ditarik sedikit, lalu kamu bekerja untuk mendapatkannya kembali, dan begitu kamu mulai bekerja, kamu sudah kalah.

Aku tahu Kirana tidak melakukan itu. Aku tahu itu dengan seluruh kepalaku.

Tapi tubuhku belum percaya.

Dan aku berbaring di kasur jam dua belas malam dan menyadari sesuatu yang membuatku sedih dengan cara yang tenang:

Perempuan itu tidak melakukan apa pun yang salah. Sama sekali. Dia jelas, dia baik, dia jujur.

Dan aku tetap harus melewati satu ruangan penuh alarm untuk sampai ke sana.

Itu bukan salahnya.

Itu tagihan dari sepuluh tahun yang lalu, dan yang membayarnya adalah orang yang tidak ada hubungannya sama sekali.


Paket itu datang tanggal 4 Juni, ke kantor.

Resepsionis menelepon ke lantai dua. Aku turun. Amplop cokelat besar, tebal, dengan namaku ditulis tangan.

Tidak ada nama pengirim. Cuma alamat kantor dan namaku.

“Dari siapa, Mbak?”

“Nggak tau, Mas. Dianter kurir. Nggak ada apa-apa di belakang.”

Aku membawanya ke meja dan menaruhnya di sudut, dan aku bekerja sampai jam enam sore tanpa membukanya.

Bukan karena tidak penasaran.

Karena aku sudah mengenali tulisan tangannya di detik pertama, dari cara huruf g-nya menggantung, dan aku tahu bahwa apa pun yang ada di dalam amplop itu akan mengubah sesuatu, dan aku ingin menyelesaikan hari kerjaku dulu.

Aku membawanya pulang naik angkot dengan amplop itu di pangkuan.

Aku menaruhnya di meja kamar dan mandi.

Aku makan malam. Aku menelepon Ibu delapan menit. Aku mencuci piring, satu piring, yang cuma butuh dua puluh detik dan kutarik jadi lima menit.

Jam setengah sepuluh malam aku duduk di lantai kamar dengan punggung ke kasur, dan aku membuka amplop cokelat itu.

Isinya setumpuk kertas dijilid spiral. Tebalnya mungkin dua ratus halaman.

Di sampulnya, tulisan tangan, spidol hitam:

HAL-HAL YANG KULAKUKAN

Aku membalik ke halaman pertama.

Tidak ada surat pengantar. Tidak ada penjelasan. Tidak ada satu pun kalimat yang ditujukan kepadaku.

Cuma tanggal, dan entri, dari yang paling awal.

Tahun 1. Dia masak nasi goreng buat aku hari Minggu. Aku bilang “kebanyakan garem” terus aku nggak makan. Aku buang. Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuci pirengnya.

Aku duduk di lantai kamar dan tidak bergerak selama sangat lama.


[Bersambung ke Bab 16 — POV Allysa]