Chapter Forty Eight
Sebelas Kalimat
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bintang, Bu Ratna, Kirana (lewat telepon)
Aku butuh tiga bulan setelah hari itu.
Tiga bulan yang aneh, karena tidak ada satu pun yang berat di dalamnya.
Itu bagian yang tidak kuduga. Aku sudah menyiapkan diri untuk bergulat — untuk malam-malam di lantai kamar, untuk daftar-daftar baru, untuk memeriksa tiap dorongan di dalam diriku sampai jam tiga pagi.
Tidak ada.
Yang terjadi malah sesuatu yang jauh lebih membingungkan: aku jadi capek.
Capek yang aneh. Capek yang datang setelah semuanya selesai, bukan sebelumnya. Aku tidur sepuluh jam di malam Minggu itu dan bangun masih lelah, dan begitu terus selama tiga minggu.
Kirana yang menjelaskannya, lewat telepon, sambil menggendong anaknya yang bungsu di latar belakang.
“Ya jelas, Mbak,” katanya. “Orang habis angkat lemari dua puluh enam tahun terus lemarinya diambil orang. Ya badannya kaget.”
“Ran, itu perumpamaan paling jelek yang pernah aku denger.”
“Ya tapi bener kan.”
Dan dia benar.
Aku tidak langsung bahagia.
Aku ingin menuliskan itu, karena kalau tidak, akan terdengar seperti seseorang mengucapkan satu kata di meja makan dan seluruh hidup berubah.
Yang berubah cuma satu hal, dan hal itu kecil sekali:
Aku berhenti memeriksa.
Selama dua puluh enam tahun, tiap kali aku melakukan sesuatu, ada bagian di dalam kepalaku yang berjalan di latar belakang dan bertanya: ini buat siapa? Ada apa di baliknya? Apa kamu lagi ngambil sesuatu?
Bagian itu tidak mati. Aku sudah tahu bahwa dia tidak akan pernah mati, dan aku sudah lama berhenti mengharapkannya.
Tapi dia jadi pelan.
Dan di ruang yang tersisa, sesuatu yang lain mulai muncul, dan butuh tiga bulan sampai aku bisa menamainya.
Aku mulai menginginkan sesuatu.
Aku menyadarinya di suatu Sabtu pagi di bulan September.
Bintang di Surabaya. Kami di pasar, dengan Ibu berjalan sepuluh langkah di depan seperti biasa, dan Bintang sedang membawa dua kantong belanjaan sambil mendengarkan Ibu mengomel tentang harga cabai.
Dan Ibu bilang sesuatu — aku bahkan tidak ingat apa — dan laki-laki itu tertawa.
Kepalanya ke belakang sedikit, matanya menyipit, suaranya keras.
Suara yang pertama kali kudengar dari jarak dua puluh meter di sebuah mal dua puluh dua tahun lalu, di antara musik dan orang-orang, dan yang membuatku berdiri diam sampai temanku menarik lenganku.
Dan aku berdiri di antara lapak sayur di pasar Gubeng jam tujuh pagi dan berpikir, dengan sangat jelas dan tanpa satu pun perhitungan:
Aku mau denger ini tiap hari.
Bukan aku pantas. Bukan aku boleh. Bukan ini bayaran.
Aku mau.
Aku berdiri di pasar itu dengan tangan memegang ikat bayam dan menangis, dan Ibu menoleh dan bilang “kenapa toh”, dan aku bilang “nggak apa-apa, Bu”, dan Ibu bilang “ya udah, bayarin bayamnya”.
Aku menyusun sebelas kalimat.
Aku menyusunnya selama dua minggu, di catatan ponselku, dan aku merevisinya tiap malam.
Dan di malam kesebelas aku membacanya dari awal dan aku menyadari sesuatu yang membuatku menaruh ponselku dan tertawa sendirian di kamar sampai Ibu mengetuk tembok.
Aku pernah melakukan ini.
Dua puluh delapan tahun lalu.
Sebelas kalimat, disusun berulang-ulang di dalam angkot, dihafal seperti orang menghafal doa, untuk diucapkan di halte depan Pasar Kemuning jam lima sore di bawah hujan.
Dan aku tidak pernah sempat mengucapkannya, karena laki-laki itu tidak datang.
Aku duduk di lantai kamar apartemen Gubeng, empat puluh lima tahun, dan membaca sebelas kalimat baru yang kususun untuk laki-laki yang sama.
Lalu aku menghapus semuanya.
Semuanya. Kesebelasnya.
Karena aku akhirnya mengerti kenapa aku menyusunnya.
Aku menyusun kalimat supaya tidak ada yang keluar salah. Supaya tidak ada bagian yang berantakan. Supaya orang di seberangku menerima versi diriku yang sudah kupoles dan bukan versi yang sebenarnya.
Dua puluh delapan tahun, dan aku masih perempuan yang berlatih senyum di depan cermin sejak SMA.
Aku menghapus sebelas kalimat itu dan tidak menyiapkan apa pun.
Halte depan Pasar Kemuning masih ada.
Aku memeriksanya lewat peta sebelum berangkat, dan aku hampir tidak percaya. Dua puluh delapan tahun. Pasarnya sudah direnovasi dua kali, jalannya sudah dilebarkan, tapi haltenya masih di sana — bangunan baru, atap baru, di titik yang sama persis.
Aku terbang ke Jakarta hari Jumat.
Aku tidak memberitahunya alasannya. Aku cuma bilang aku ada urusan kantor dan aku ingin bertemu hari Sabtu sore, dan dia bilang “oke”, dan dia tidak bertanya apa-apa.
Itu salah satu hal yang paling kusukai dari laki-laki itu, dan aku baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian: dia tidak pernah menuntut penjelasan lebih dulu.
Aku minta bertemu jam lima sore.
Di halte depan Pasar Kemuning.
Dia sudah di sana waktu aku sampai.
Berdiri di bawah atap halte dengan tangan di saku, memandangi jalan, dengan punggung lurus.
Empat puluh enam tahun. Rambutnya sudah banyak yang putih di pelipis. Dia memakai kemeja yang jelas disetrika.
Dan aku berhenti sepuluh meter dari sana dan memandanginya beberapa detik sebelum melanjutkan jalan.
Karena dua puluh delapan tahun lalu, di titik yang sama persis, ada seorang perempuan berumur dua puluh tiga tahun yang berdiri di sini selama empat jam dengan payung yang tidak pernah dia buka.
Dan laki-laki itu tidak datang.
Sekarang dia berdiri di sana empat puluh menit lebih awal.
“Lys.”
“Halo.”
Dia menoleh ke sekeliling. “Kenapa di sini?”
Dan aku berdiri di depannya dan tidak menjawab, dan aku melihat detik persisnya — detik di mana dia melihat sekeliling lagi, lebih pelan, dan membaca papan namanya, dan mengerti.
Wajahnya berubah.
“Lys.”
“Iya.”
“Ini—“
“Iya.”
Dan laki-laki itu menutup mulutnya dengan tangan dan berbalik membelakangiku selama beberapa detik, dan waktu dia berbalik lagi matanya merah.
Hujan mulai turun jam lima lewat sepuluh.
Aku tidak merencanakan itu. Aku ingin sangat jelas soal itu, karena kalau ada yang mengira aku memeriksa ramalan cuaca — aku memeriksanya, dan ramalannya bilang cerah.
Hujan turun sendiri.
Dan kami berdiri di bawah atap halte itu dengan air yang mulai memutihkan jalan, dan aku bilang:
“Bintang, aku mau ngomong.”
“Iya.”
Dan aku membuka mulut, dan yang keluar berantakan.
“Aku mau kamu.”
Itu kalimat pertamanya, dan aku langsung tahu itu keluar salah, dan aku terus.
“Bukan mau kamu maafin aku. Bukan mau balik ke dulu, karena nggak ada dulu yang mau aku balikin, dulu itu jelek banget dan aku yang bikin jelek.”
Aku menggerakkan tanganku dan tidak tahu mau menaruhnya di mana.
“Aku mau kamu yang sekarang. Yang duduk lurus. Yang ketawa keras di pasar sampai ibu-ibu lapak sayur noleh. Yang nelepon Damar minta jemput jam delapan malem tanpa mikir dulu setengah jam.”
Suaraku sudah tidak stabil dan aku tidak peduli.
“Aku mau bangun pagi dan ada kamu. Aku mau kamu cerita tentang kucing depan studio walaupun aku nggak kenal kucingnya. Aku mau ada di ruangan waktu bukumu terbit lagi, dan aku mau kamu tau aku ada di ruangan, aku nggak mau ngumpet di parkiran lagi—“
Aku berhenti karena tenggorokanku menutup.
“Aku nggak mau ngumpet lagi, Bintang.”
Aku menyeka wajahku dengan lengan.
“Aku dua puluh enam tahun ngasih kamu sesuatu terus ngapus nama aku. Aku capek. Aku mau namaku nempel.”
Hujan makin deras di atap halte.
“Dan aku takut,” kataku. “Aku takut banget. Aku takut aku bakal ngerusak kamu lagi dengan bentuk yang baru dan aku nggak akan nyadar sampai kamu udah kecil lagi.”
Aku menatapnya.
“Tapi Ibu bilang orang yang nolak dikasih itu lagi bilang ke orangnya bahwa dia nggak punya apa-apa yang cukup berharga. Dan aku nggak mau bilang itu ke kamu. Nggak lagi. Aku udah bilang itu ke kamu sepuluh tahun tanpa buka mulut.”
Aku menarik napas yang sama sekali tidak cukup.
“Jadi aku mau kamu. Dan aku mau kamu tau aku mau, karena aku udah dua puluh enam tahun nggak pernah bilang aku mau apa ke siapa pun, dan aku empat puluh lima tahun dan aku baru belajar, dan aku jelek banget ngomongnya—“
“Lys.”
“—dan aku nggak nyiapin kalimat apa-apa karena aku udah capek nyiapin kalimat, jadi ini keluarnya berantakan, dan aku minta maaf—“
“Lys.”
Aku berhenti.
Dan laki-laki itu berdiri di bawah atap halte depan Pasar Kemuning dengan hujan di belakangnya dan bilang:
“Berapa kalimat itu tadi?”
Aku mengerjap.
“...Hah?”
“Berapa kalimat,” ulangnya.
Dan aku berdiri di sana dengan mulut terbuka, dan aku menghitung, dan aku tidak bisa menghitungnya karena aku tidak ingat sudah mengatakan apa saja.
“Aku nggak tau,” kataku.
Dan Bintang tertawa.
Kepalanya ke belakang sedikit, matanya menyipit, suaranya keras — di halte, dalam hujan, di depan orang yang sedang menunggu bus.
“Bagus,” katanya. “Itu bagus banget.”
Dan dia berkata iya.
Bukan “ya udah”.
Dia bilang:
“Aku mau juga, Lys.”
Empat kata.
Dan dia menambahkan, sebelum aku sempat mengatakan apa pun:
“Dan aku mau kamu tau aku mau. Bukan aku nerima. Aku mau.”
Aku menangis di halte itu dengan cara yang sangat tidak sopan, dan seorang ibu-ibu yang sedang menunggu bus menawariku tisu, dan aku menerimanya.
Aku menerimanya.
Dua puluh enam tahun aku menolak jeruk dari penjual buah di trotoar Jalan Wijaya, dan sore itu aku mengambil tisu dari tangan orang asing di halte dan bilang terima kasih.
Bintang melihat itu terjadi.
Dan waktu ibu-ibu itu naik busnya dan pergi, laki-laki itu menoleh ke arahku dan bilang, pelan sekali:
“Kamu ambil tisunya.”
“Iya.”
Dan dia menutup matanya sebentar.
Lalu dia mengulurkan tangannya — telapak menghadap ke atas, di antara kami, tanpa mengambil apa pun.
Dan aku menaruh tanganku di situ.
Tangannya hangat dan agak kasar dan lebih besar dari yang kuingat, dan itu pertama kalinya aku menyentuh laki-laki itu dalam dua puluh delapan tahun.
Kami berdiri di halte itu memegang tangan sampai hujannya berhenti.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama empat puluh menit, dan itu empat puluh menit terbaik dalam hidupku.
Aku menelepon Ibu malam itu dari hotel.
“Bu.”
“Kenapa? Udah malem.”
“Bu, aku—“
Dan aku tidak bisa melanjutkannya.
Dan perempuan tujuh puluh delapan tahun itu diam di seberang telepon selama beberapa detik, dan lalu aku mendengar suaranya berubah.
“Ya udah,” katanya. “Ya udah, Lys.”
“Bu—“
“Kamu makan dulu.”
“Bu, aku belum selesai ngomong—“
“Ibu udah tau.” Suaranya basah. “Ibu udah tau dari kemaren waktu kamu berangkat. Muka kamu udah beda.”
Aku menempelkan ponsel ke dahi.
“Lys.”
“Iya, Bu?”
Dan ibuku bilang:
“Ibu bangga.”
Dan itu kedua kalinya perempuan itu mengucapkannya kepadaku dalam empat puluh lima tahun.
Yang pertama untuk sesuatu yang tidak kulakukan.
Yang kedua untuk sesuatu yang kulakukan.
[Bersambung ke Bab 49 — POV Bintang]