← Lunas

Chapter Forty Five

Kursi di Samping Kasur

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Allysa, Bu Ratna, Damar (lewat telepon)


Aku keracunan makanan di kunjungan bulan Maret.

Bukan sesuatu yang dramatis — sate di dekat stasiun, jam tujuh malam, dan jam sebelas aku sudah muntah empat kali di kamar mandi apartemen Gubeng.

Aku ingin pulang ke hotel. Aku mengucapkannya keras-keras dua kali.

Dan Allysa berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan tangan bersedekap dan bilang:

“Bintang, kamu nggak bisa jalan lurus.”

“Aku bisa naik taksi.”

“Kamu mau muntah di taksi orang?”

Dan aku duduk di lantai kamar mandi orang di kota yang bukan kotaku, jam sebelas malam, umur empat puluh lima tahun, dan aku merasakan sesuatu yang sangat lama tidak kurasakan:

Malu.

Bukan malu karena muntah. Malu karena merepotkan.

Aku tahu persis bentuknya. Aku sudah mengenalnya sejak umur enam tahun. Aku sudah menghabiskan tiga tahun berlatih untuk melawannya, sebelas minggu cuma untuk bisa bilang temenin gue makan siang.

Dan tetap saja, jam sebelas malam, di lantai kamar mandi, hal pertama yang keluar dari mulutku adalah:

“Maaf ya.”

Allysa tidak menjawab.

Dia berjalan pergi, dan aku mendengarnya di dapur, dan dia kembali dua menit kemudian dengan segelas air garam dan menaruhnya di lantai di sebelahku.

Lalu dia duduk di lantai kamar mandi juga, di seberangku, dengan punggung ke tembok.

“Lys, kamu nggak usah—“

“Bintang.”

Aku diam.

“Aturan dua,” katanya.

Aku menutup mata.

Kalau kamu ngerasa panik waktu dikasih, bilang. Jangan diem.

Dia yang membuat aturan itu. Untuk dirinya sendiri. Empat bulan lalu, di meja makan, waktu dia menaruh tangannya di meja dan bilang aku lagi panik.

Dan sekarang perempuan itu menyodorkannya balik kepadaku di lantai kamar mandi.

“Aku panik,” kataku.

“Iya.”

“Aku pengen banget pulang ke hotel.”

“Aku tau.”

“Karena kalau aku di sini, kamu harus ngurusin aku.”

Allysa mengangguk pelan.

“Iya,” katanya. “Terus?”

Dan aku duduk di lantai itu dan tidak punya kelanjutannya.

Karena itu memang seluruh isinya. Tidak ada bagian kedua. Tidak ada alasan yang lebih besar di baliknya.

Cuma seorang laki-laki berumur empat puluh lima tahun yang tidak bisa membiarkan orang lain mengurusnya.

“Nggak ada terus,” kataku.

“Ya udah.” Allysa berdiri. “Aku ambilin handuk.”


Aku di apartemen itu dua hari.

Hari pertama aku hampir tidak sadar. Yang kuingat cuma potongan — Bu Ratna berdiri di ambang pintu kamar tamu dan bilang sesuatu tentang bubur, Allysa menempelkan punggung tangannya ke dahiku, suara TV yang dikecilkan.

Hari kedua aku sudah bisa duduk.

Dan hari kedua itu yang mengubah segalanya, dan yang mengubahnya bukan sesuatu yang dia lakukan.

Yang mengubahnya adalah aku bangun jam tiga pagi.


Kamar tamu itu kecil. Ada kasur, lemari, dan satu kursi kayu di sudut yang biasanya dipakai menaruh baju.

Kursi itu tidak di sudut lagi.

Kursi itu di samping kasur, dan Allysa tertidur di atasnya, dengan kepala miring ke bahu dan satu kaki naik ke kursi dan buku terbuka di pangkuannya.

Lampu meja masih menyala.

Aku berbaring di kasur itu dan memandanginya.

Dan aku ingin menuliskan apa yang terjadi di dadaku dengan setepat mungkin, karena ini adalah momen yang paling penting dalam dua kehidupanku dan aku tidak akan mengizinkan diriku menghaluskannya.

Yang datang bukan haru. Bukan syukur. Bukan kehangatan.

Yang datang adalah pengenalan.

Karena aku sudah pernah melihat pemandangan ini.

Bukan perempuannya — perempuannya belum pernah. Kursinya.

Kursi kayu di samping kasur, dipindahkan dari ruangan lain, tidak pernah dikembalikan.

Tiga minggu terakhir hidup ibuku. Rumah bercat hijau muda. Aku memindahkan kursi itu dari ruang tamu dan tidak pernah mengembalikannya, dan aku duduk di situ tiap malam sampai jam dua, dan kadang Kirana yang menggantikan supaya aku bisa tidur.

Kursi di samping kasur adalah satu-satunya bentuk cinta yang benar-benar kukenali, karena itu satu-satunya yang pernah kuberikan sampai habis.

Dan sekarang ada orang yang duduk di kursi itu untukku.

Aku berbaring di kasur kamar tamu itu jam tiga pagi dan menutup wajah dengan kedua tangan, dan aku menangis sepelan yang kubisa supaya perempuan itu tidak bangun.


Aku tidak jatuh cinta malam itu.

Aku ingin sangat jelas soal itu, karena kalau aku menuliskannya sebagai momen jatuh cinta, aku sedang berbohong tentang hal yang paling penting dalam seluruh cerita ini.

Yang terjadi malam itu lebih kecil dan lebih menentukan.

Aku sadar bahwa aku sudah tidak keberatan dia ada di sana.

Itu saja. Sesederhana itu.

Selama dua puluh enam tahun, keberadaan perempuan itu di dalam ruangan yang sama denganku selalu berarti sesuatu — awalnya berarti bahaya, lalu berarti kewajiban, lalu berarti arsip, lalu berarti percakapan yang harus dikelola.

Jam tiga pagi itu, dia cuma ada di sana.

Dan aku tidak sedang menghitung apa pun.


Cintanya datang delapan bulan kemudian, dan datangnya di kereta.

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan bulan November, gerbong empat, jam sebelas malam. Aku sedang membuka ponsel untuk mencatat sesuatu tentang buku yang sedang kukerjakan.

Dan aku melihat catatanku sendiri.

Ada dua belas baris di sana, ditulis selama tiga minggu terakhir, di hari-hari yang berbeda.

Kucing di depan studio balik lagi. Ceritain ke Lys.

Rendra ganti motor. Warnanya jelek banget. Ceritain.

Anak Damar yang kecil bisa baca. Ceritain ke Lys.

Soto di seberang stasiun ganti kuah. Lys pasti marah.

Dua belas baris.

Dan aku duduk di gerbong empat kereta malam Jakarta–Surabaya dan menatap layar itu dan merasakan seluruh isi dadaku jatuh.

Karena aku tidak pernah memutuskan untuk membuat catatan itu.

Aku tidak pernah duduk suatu malam dan berpikir aku akan menyimpan hal-hal untuk diceritakan ke dia. Tanganku yang melakukannya, selama entah berapa bulan, di sela-sela hal lain, tanpa satu pun keputusan sadar.

Dan aku menggeser ke atas untuk melihat sejak kapan.

Baris pertama tertanggal empat belas bulan lalu.


Aku menelepon Damar dari stasiun Gambir jam enam pagi.

“Bin? Ini masih pagi banget.”

“Mar.”

“Kenapa?”

Dan aku berdiri di peron stasiun dengan tas di bahu dan bilang:

“Gue kayaknya sayang sama dia.”

Hening di seberang.

Lalu Damar bilang, dengan nada orang yang baru saja diberi tahu bahwa air itu basah:

“Ya iyalah.”

“Mar.”

“Bin, lo naik kereta sembilan jam bolak-balik selama dua tahun.”

“Itu beda—“

“Sembilan jam, Bin. Dua kali sebulan. Dua tahun.” Aku bisa mendengar dia mengubah posisi. “Gue ke rumah mertua gue yang jaraknya empat puluh menit aja ngeluh.”

Aku menekan dahi ke tiang peron.

“Gue bilang ke dia gue nggak punya perasaan itu.”

“Kapan?”

“Dua tahun lalu. Di depan pintu.”

“Ya waktu itu emang nggak punya.” Damar menguap. “Terus kenapa? Orang berubah.”

“Gue janji, Mar.”

Dan Damar diam agak lama.

“Bin,” katanya. “Lo tau nggak kenapa lo panik?”

“Kenapa?”

“Karena lo mikir kalau lo bilang, lo lagi minta sesuatu.”

Aku berdiri di peron itu dan tidak menjawab.

“Lo mikir kalau lo bilang lo sayang, otomatis lo lagi nagih dia buat jawab.” Suaranya melunak. “Padahal enggak. Lo cuma lagi ngasih dia informasi.”

“Terus kalau dia—“

“Ya itu urusan dia.” Damar menguap lagi. “Bin, lo udah empat puluh lima. Masa gue harus ngajarin lo ginian jam enam pagi.”


Aku memikirkannya selama tiga minggu.

Dan yang akhirnya membuatku memutuskan bukan Damar, dan bukan renungan.

Yang membuatku memutuskan adalah aku sadar apa yang sedang kulakukan dengan tidak mengatakannya.

Karena aku sudah punya alasan yang sangat rapi. Aku menyusunnya selama tiga minggu dan alasannya bagus:

Kalau aku bilang, dia harus memutuskan sesuatu. Dan dia sudah dua puluh enam tahun memutuskan sesuatu untuk membayar. Aku tidak akan menaruh beban itu di pundaknya.

Alasan yang mulia. Alasan yang penuh pertimbangan.

Dan di suatu malam di bulan Desember aku mengenalinya.

Itu bentuk yang sama persis dengan bentuk seorang perempuan yang menulis enam baris tanpa alamat dan menitipkannya ke orang lain dengan instruksi untuk dibuang.

Itu bentuk yang sama persis dengan bentuk seorang laki-laki yang menyimpan satu ruangan terkunci selama empat tahun karena dia sudah menghitung sendiri bahwa perempuan di sebelahnya akan gagal menampungnya.

Aku sudah menimbang-nimbang dan aku memutuskan sendiri.

Kirana mengucapkan kalimat itu ke wajahku, di ruanganku, empat belas tahun lalu.

Dan kamu putusin itu sendirian, tanpa pernah ngasih aku kesempatan buat nunjukin aku bisa apa nggak.

Aku duduk di lantai dua studio malam itu dan menyalakan lampu.

Dan aku mengerti, akhirnya, apa bedanya.

Memberi seseorang informasi bukan menaruh beban di pundaknya.

Menaruh beban di pundak seseorang adalah memutuskan untuk mereka bahwa mereka tidak sanggup menerimanya.

Aku sudah melakukan itu ke Kirana selama empat tahun.

Allysa sudah melakukan itu ke aku selama dua puluh enam.

Dan kami berdua sudah menyebutnya melindungi.


Aku ke Surabaya di minggu kedua Januari.

Kunjungan biasa. Kereta malam, gerbong empat, sampai jam enam pagi. Soto di seberang stasiun — kuahnya memang sudah ganti, dan Allysa memang marah waktu kuceritakan, persis seperti yang kucatat di ponselku empat belas bulan lalu.

Kami menghabiskan hari Sabtu seperti biasa. Belanja ke pasar bersama Bu Ratna, yang berjalan lebih cepat dari kami berdua dan mengomel tentang harga cabai dengan cara yang membuat dadaku sakit tiap kali.

Sabtu malam kami duduk di balkon dengan dua gelas teh.

Dan aku bilang:

“Lys, aku mau ngomong sesuatu, dan aku mau kamu nggak jawab apa-apa hari ini.”

Dia menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu jawab hari ini, kamu bakal jawab pertanyaan lama.” Aku memandangi lampu-lampu Surabaya. “Dan kamu udah dua puluh enam tahun jawab pertanyaan lama.”

Perempuan itu menaruh gelasnya, dan aku bisa melihat tangannya berhenti di udara sepersekian detik sebelum sampai ke meja.

“Bintang.”

“Dua tahun lalu aku berdiri di depan pintu kamu,” kataku, “dan aku bilang aku nggak punya perasaan itu.”

Aku menoleh dan menatapnya.

“Waktu itu aku jujur.”

Balkon itu sunyi. Ada suara motor jauh di bawah.

“Sekarang udah nggak,” kataku.


[Bersambung ke Bab 46 — POV Allysa]