← Lunas

Chapter Thirty

Sembilan Jam

POV: Allysa

Karakter: Allysa, Kirana (lewat pesan), Bu Ratna (lewat telepon)


Pesannya masuk jam 05.51 pagi.

Kirana

Mbak

Ibunya Bintang meninggal tadi jam 10 lewat

Maaf ya saya kirim pagi2, saya nggak tau mau cerita ke siapa

Aku sedang di dapur, mengisi termos.

Aku membaca pesan itu dan aku tidak merasakan apa-apa selama kira-kira empat detik. Benar-benar tidak apa-apa. Aku bahkan sempat menutup keran dulu.

Lalu tanganku mulai gemetar dan aku harus meletakkan termosnya.


Aku sudah menyusun alasan untuk tidak pergi sebelum aku sampai ke kamar untuk berganti baju.

Alasannya bagus. Aku bahkan sekarang, bertahun-tahun kemudian, masih menganggapnya bagus.

Satu: aku bukan siapa-siapa. Di dunia ini, aku teman kuliah yang kebetulan pernah satu proyek kerja. Tidak ada satu pun alasan wajar bagi orang seperti itu untuk menempuh enam jam perjalanan ke kampung orang.

Dua: kehadiranku akan jadi beban. Di hari paling berat dalam hidup laki-laki itu, dia akan harus memikirkan aku — harus memutuskan bagaimana bersikap, harus menjelaskan ke orang-orang, harus mengelola sesuatu.

Tiga, dan ini yang paling jujur: aku sudah membuat aturan sembilan tahun lalu, poin keempat, ditulis sambil berjalan pulang di bawah hujan. Kalau kehadiranku bikin dia nggak nyaman, pergi. Nggak usah nunggu disuruh.

Semua alasannya benar.

Aku tetap berangkat.


Aku menelepon Ibu dari jalan tol jam delapan pagi.

“Bu, aku nggak pulang hari ini.”

“Ke mana?”

“Ada urusan luar kota.”

“Urusan apa?”

Aku memandangi jalan.

“Ibunya Bintang meninggal,” kataku.

Hening di seberang.

“Kamu diundang?”

“Nggak.”

“Kamu dikabarin sama dia?”

“Nggak.”

Hening lagi, lebih lama.

Aku sudah siap dimarahi. Aku bahkan setengah menginginkannya — aku ingin ada orang yang menghentikanku, supaya aku bisa berbalik dan menyalahkan orang lain.

“Bawa payung,” kata Ibu.

“Hah?”

“Di sana ujan. Ibu liat di TV tadi.” Suaranya biasa saja. “Sama bawa uang cash. Di kampung nggak ada ATM.”

“Bu—“

“Lys.”

“Iya?”

“Jangan masuk kalau nggak dipanggil.”

Aku menggenggam setir lebih erat.

“Iya, Bu.”

“Ya udah. Hati-hati.”

Dan telepon ditutup.

Aku menyetir sambil menangis selama dua puluh menit setelah itu, dan aku tidak tahu persis untuk apa.


Aku sampai jam satu lewat lima belas.

Kampungnya kecil. Rumahnya mudah ditemukan karena ada tenda biru di halaman dan orang-orang duduk di kursi plastik dan ada pengeras suara yang menyiarkan bacaan dari dalam.

Aku memarkir mobil di tanah kosong di samping masjid, dua puluh meter dari rumah itu.

Dan aku duduk di dalam mobil.


Aku ingin menuliskan sembilan jam itu dengan jujur, karena kalau tidak, ini akan terdengar seperti pengorbanan.

Bukan.

Sembilan jam itu adalah sembilan jam yang paling memalukan dalam hidupku.

Karena selama jam pertama, aku benar-benar berniat masuk.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Turut berduka cita. Empat kata. Aku akan masuk, menyalami siapa pun yang perlu disalami, duduk lima belas menit, lalu pergi.

Aku memegang gagang pintu mobil sekitar dua puluh kali dalam satu jam itu.

Dan tiap kali aku memegangnya, ada satu pertanyaan yang muncul dan tidak mau pergi:

Buat apa?

Bukan pertanyaan retoris. Pertanyaan sungguhan.

Apa yang akan berubah kalau aku masuk?

Bintang tidak butuh empat kataku. Rumah itu penuh orang yang sudah mengucapkan empat kata yang sama sejak subuh. Kirana ada di dalam — perempuan yang naik bus enam jam entah berapa kali selama dua tahun terakhir, yang memasak di dapur itu, yang dipanggil “Ran” oleh perempuan yang sekarang berbaring di ruang tengah.

Apa yang bisa kutambahkan?

Dan jawabannya, waktu akhirnya datang, membuatku melepas gagang pintu itu untuk terakhir kalinya:

Yang akan berubah cuma satu hal.

Dia akan tahu aku datang.

Itu saja. Itu seluruh perbedaannya.

Dan begitu aku melihat kalimat itu dengan jelas, aku langsung mengenali bentuknya, karena aku sudah menghabiskan sembilan tahun belajar mengenali bentuk itu di dalam diriku:

Aku ingin dia tahu.

Bukan aku ingin ada di sana. Bukan aku ingin berduka.

Aku ingin dia tahu bahwa aku menempuh enam jam.

Aku menyandarkan kepala ke setir dan tidak bergerak selama sangat lama.


Jam dua, ada orang lewat membawa kantong es batu. Laki-laki, seumuranku, memakai kaos yang basah di punggung.

Dia melihat mobilku. Melambat sedikit. Lalu lanjut jalan.

Aku menunduk supaya tidak terlihat.

Dan begitu dia lewat, aku menyadari sesuatu yang membuatku ingin memukul setir:

Aku bersembunyi.

Aku menempuh enam jam untuk duduk dua puluh meter dari rumah orang, lalu bersembunyi supaya tidak ketahuan.

Perempuan macam apa yang melakukan itu?


Jam tiga, aku hampir menyalakan mesin untuk pulang.

Aku bahkan sudah memasukkan kunci.

Dan yang menghentikanku bukan sesuatu yang mulia. Aku ingin sekali menulis bahwa aku sadar sesuatu; tidak.

Yang menghentikanku: aku terlalu capek untuk menyetir enam jam lagi.

Jadi aku diam.

Dan karena aku diam, dan karena tidak ada apa pun yang bisa kulakukan, sesuatu yang lain akhirnya punya ruang untuk masuk.


Aku memikirkan perempuan yang berbaring di dalam rumah itu.

Aku tidak pernah bertemu dengannya. Tidak sekali pun, dalam dua kehidupan.

Yang kutahu tentangnya cuma potongan-potongan, dan hampir semuanya kudapat dari orang lain: dia menjahit untuk membiayai anaknya. Dia mengarang cerita tiap malam karena tidak mampu membeli buku. Dia menonton sinetron jam tujuh sambil mengomentari pemainnya keras-keras. Dia pertama kali melihat Monas di umur enam puluh tiga dan bilang ini kok tinggi banget ya.

Dan di dunia yang lain, dia menelepon anaknya jam sembilan malam, dan anaknya bilang nanti kutelepon balik, dan dia bilang:

“Iya, nggak apa-apa. Nggak penting kok.”

Suaranya kecil sekali waktu itu.

Bintang menuliskannya di halaman berapa, aku tidak ingat. Tapi kalimatnya aku hafal, karena aku membaca buku abu-abu itu sembilan hari setelah dia mati dan aku menghitung tiga ratus dua puluh tujuh entri dengan pensil sampai jam empat pagi.

Aku duduk di mobil itu jam tiga sore dan berkata keras-keras, di dalam mobil yang tertutup, kepada tidak seorang pun:

“Maaf, Bu.”

Dan begitu keluar, aku tidak bisa berhenti.

“Maaf. Maaf, Bu. Maaf.”

Aku mengulangnya entah berapa kali, dengan tangan menutup mulut, di dalam mobil yang panas di parkiran masjid kampung, sampai suaraku habis.

Karena perempuan itu tidak melakukan apa pun kepadaku. Tidak sekali pun. Dia bahkan tidak tahu aku ada.

Dan aku mengambil dua tahun terakhir hidupnya, dan aku mengambil anaknya dari sisinya di malam terakhir, dan aku melakukannya karena aku ingin diantar ke acara kantor.

Itu satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa kubayar. Tidak dengan apa pun. Tidak dengan sembilan poin, dua ratus tiga belas halaman, atau sisa hidupku.

Orang yang kusakiti sudah tidak ada, dan dia sudah tidak ada bahkan sebelum aku sempat mengenalnya.


Aku tinggal karena itu.

Bukan untuk Bintang. Aku sudah memutuskan jam satu bahwa aku tidak akan masuk, dan aku memegangnya.

Aku tinggal untuk perempuan yang tidak pernah kutemui.

Enam jam berikutnya, aku cuma duduk. Aku tidak membuka ponsel — aku memeriksanya sekali, jam lima, lalu memasukkannya ke laci dasbor dan tidak menyentuhnya lagi.

Aku mendengarkan pengeras suara dari rumah itu. Bacaan bergantian, suara laki-laki, kadang perempuan. Kadang berhenti, kadang mulai lagi.

Aku tidak tahu doanya. Aku tidak tahu satu pun. Aku bukan orang yang tumbuh dengan itu.

Jadi aku cuma duduk dan mendengarkan, selama enam jam, di dalam mobil, dua puluh meter dari sana.

Dan itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan yang tidak ada aku-nya sama sekali.


Hujan turun jam tujuh.

Deras. Suaranya di atap mobil begitu keras sampai aku tidak bisa mendengar pengeras suara lagi.

Aku menyalakan mesin untuk menghidupkan penyeka kaca, dan lewat kaca yang basah aku bisa melihat tenda biru itu bergoyang dan orang-orang berlarian memindahkan kursi.

Dan aku melihat sesuatu.

Ada seseorang berdiri di beranda rumah itu. Jauh, dua puluh meter, dalam hujan, dengan cahaya lampu dari dalam di belakangnya sehingga cuma terlihat siluetnya.

Aku tidak bisa memastikan itu dia.

Aku tidak akan pernah bisa memastikan.

Tapi siluet itu berdiri di beranda selama mungkin dua menit, menghadap ke arah parkiran, tidak bergerak.

Lalu dia masuk kembali ke dalam rumah.

Aku mematikan penyeka kaca dan membiarkan kacanya tertutup air lagi.


Aku pulang jam setengah sepuluh malam.

Bukan karena diusir. Bukan karena menyerah.

Aku pergi karena aku sadar bahwa kalau aku bertahan sampai lewat tengah malam, aku sedang melakukan sesuatu yang lain — sesuatu yang bentuknya mulai berubah dari aku ingin ada di sini menjadi aku ingin bisa bilang bahwa aku bertahan sampai tengah malam.

Sembilan jam masih tentang dia dan ibunya.

Jam kesepuluh akan mulai tentang aku.

Jadi aku menyalakan mesin dan pergi.

Aku menyetir enam jam dalam hujan dan sampai rumah jam empat pagi.

Ibu masih bangun. Duduk di kursi rotan, seperti sepuluh tahun lalu, dengan selimut di pangkuan.

“Bu, kok belum tidur.”

“Ya nunggu kamu.”

Aku berdiri di ambang pintu dengan baju yang setengah basah dan rambut yang menempel di dahi.

“Kamu masuk?” tanyanya.

“Nggak.”

Ibu mengangguk pelan.

“Bagus.”

Dan dia berdiri, melipat selimutnya, dan berjalan ke kamarnya.

Di ambang pintu kamarnya, dia berhenti.

“Lys.”

“Iya, Bu?”

Dia tidak menoleh.

“Ibu bangga.”

Dan dia masuk dan menutup pintu.

Dan aku berdiri di ruang tamu jam empat pagi dan menangis dengan cara yang paling tidak masuk akal — bukan karena Bintang, bukan karena ibunya, bukan karena sembilan jam itu.

Karena perempuan berumur enam puluh empat tahun yang lima belas tahun lalu berdiri di dapur dan mengucapkan sebelas kata yang membentuk seluruh hidupku, baru saja mengucapkan dua kata yang belum pernah kudengar seumur hidupku.

Dan dia mengucapkannya untuk sesuatu yang tidak kulakukan.

Untuk sesuatu yang aku tidak lakukan.


Aku tidak mengirim pesan apa pun ke Bintang. Tidak hari itu, tidak minggu itu, tidak bulan itu.

Kirana mengirim pesan tiga hari kemudian:

Mbak, makasih ya udah dengerin

Maaf kemarin saya kirim pagi2 banget

Dan aku membalas:

Nggak apa-apa. Kamu jaga diri ya.

Dan itu saja.

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu aku pernah ke sana.

Ibuku tahu. Itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup.

Dan kalau ada yang bertanya apakah aku menyesal menempuh enam jam untuk duduk di parkiran dan pulang tanpa keluar dari mobil — jawabannya tidak.

Karena untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, aku melakukan sesuatu yang benar-benar bersih.

Aku tidak dilihat. Aku tidak dihitung. Tidak ada satu pun orang yang berterima kasih.

Dan aku tetap datang.


[Bersambung ke Bab 31 — POV Bintang]