Chapter One
Barang yang Tidak Kubawa
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Allysa (tidak hadir), Damar (disebut), Bu Sri (disebut)
Ternyata sepuluh tahun cuma muat di satu koper.
Aku sudah menghitungnya tiga kali. Dua celana jeans, lima kaos, satu kemeja yang cuma kupakai waktu pemakaman Ibu, jaket abu-abu yang risletingnya macet sejak tahun lalu. Sikat gigi. Charger. Dompet yang isinya kartu-kartu mati.
Selesai. Masih ada ruang kosong di sudut koper, dan aku tidak tahu harus mengisinya dengan apa.
Aku duduk di lantai kamar sambil memandangi apartemen ini, mencoba mencari sesuatu yang bisa kubawa. Sesuatu yang bisa membuktikan aku pernah tinggal di sini. Tapi semuanya milik Allysa. Sofanya dia yang beli. Kulkasnya dia. Meja makannya dia, kursinya dia, gorden yang tidak pernah kami buka itu juga dia.
Ada satu bingkai foto di dinding ruang tamu. Kubeli dua tahun lalu, ukuran sedang, kayu warna terang. Sampai sekarang isinya masih kertas contoh bawaan toko — gambar keluarga bule yang tertawa di pantai. Tiga kali kami janjian ke studio foto. Tiga kali aku duduk di lobi studio sambil memegang dua tiket antrean, dan tiga kali aku pulang sendirian sambil bilang ke mbak resepsionis, “Maaf ya, Mbak. Lain kali.”
Dua tahun. Aku tidak pernah melepas kertas contohnya. Entah kenapa. Mungkin karena selama kertas itu masih di sana, artinya masih ada kemungkinan.
Aku berdiri, jalan ke ruang tamu, dan melepasnya sekarang.
Bingkainya jadi kosong. Cuma kaca dan kayu dan tembok di baliknya.
Anehnya, itu terlihat lebih jujur.
Aku menulis suratnya di meja makan.
Ini bagian yang paling lama. Bukan karena aku tidak tahu mau bilang apa — justru sebaliknya. Ada terlalu banyak. Sepuluh tahun kalimat yang mengantre di tenggorokan, saling dorong, dan setiap kali aku mencoba menuliskan satu, sembilan ratus lainnya ikut keluar.
Draf pertama panjangnya empat halaman. Aku baca ulang dan langsung mual.
Isinya menyalahkan dia.
Setiap kalimatnya terdengar seperti tagihan. Kamu pernah begini. Kamu pernah begitu. Waktu Ibu meninggal kamu. Aku merobeknya jadi delapan bagian dan membuangnya ke tempat sampah dapur, ke bawah, di bawah bungkus mi instan, supaya dia tidak lihat.
Draf kedua tiga paragraf. Terlalu sopan. Terdengar seperti surat pengunduran diri.
Draf ketiga aku tulis jam empat sore, waktu matahari masuk dari jendela dapur dan membuat seluruh apartemen kelihatan hangat, padahal tidak. Aku menulisnya cepat, tanpa berhenti, tanpa membaca ulang.
Lys,
Aku pergi bukan karena aku berhenti sayang.
Aku pergi karena aku sudah nggak punya apa-apa lagi buat dikasih ke kamu, dan aku nggak mau kamu lihat aku kosong.
Rumahnya buat kamu. Semua buat kamu. Aku nggak minta apa-apa.
Jangan lupa makan.
— Bintang
Empat kalimat. Sepuluh tahun jadi empat kalimat.
Aku melipatnya dua kali dan menaruhnya di meja makan, di sebelah kiri.
Lalu aku berhenti.
Sebelah kiri. Aku selalu naruh apa pun di sebelah kiri — gelas, sendok, ponsel, kunci. Sejak kecil. Ibu pernah bilang itu karena waktu umur lima tahun aku suka nyenggol gelas sendiri kalau ditaruh di kanan, jadi aku memindahkannya, dan kebiasaan itu tidak pernah pergi.
Sepuluh tahun, dan aku tidak yakin Allysa pernah menyadarinya. Tidak sekali pun dia menyinggung. Tidak pernah ada, “Kamu kok selalu naruh gelas di situ, sih?”
Bukan hal penting. Sungguh. Cuma gelas.
Tapi aku berdiri di situ agak lama, dan tanganku sedikit gemetar, dan aku tidak mengerti kenapa yang membuatku hampir menangis di hari aku memutuskan pergi bukan ulang tahun yang dia lewatkan, bukan malam Ibu meninggal, bukan kalimat dia bukan siapa-siapa, cuma nebeng —
tapi gelas.
Sebelum keluar, aku buka laci meja kerja.
Ada buku di dalamnya. Sampul abu-abu, sudutnya sudah lecek, karetnya sudah kendur. Aku mulai menulis di situ tahun kedua, waktu aku sadar ada terlalu banyak hal yang tidak jadi kukatakan dan aku butuh tempat menaruhnya supaya tidak menumpuk di dada.
Di halaman pertama, tulisan tanganku sendiri, spidol hitam:
HAL-HAL YANG TIDAK JADI KUKATAKAN
Aku membukanya sembarang.
Hari ini dia pegang tanganku tiga detik waktu nyeberang. Tiga detik. Cukup buat seminggu.
Aku menutupnya cepat, seperti orang ketahuan.
Bawa atau tidak?
Kalau kubawa, tidak ada satu pun jejakku yang tertinggal di apartemen ini. Aku hilang bersih. Seolah sepuluh tahun itu tidak pernah terjadi, seolah tidak pernah ada laki-laki yang tidur di sisi kanan ranjang itu selama tiga ribu enam ratus lima puluh malam.
Kalau kutinggal—
Kalau kutinggal, dia mungkin akan membacanya.
Dan itu jahat. Itu bentuk paling licik dari balas dendam: pergi baik-baik, lalu meninggalkan bom waktu berisi sepuluh tahun kesakitan supaya dia yang menanggungnya setelah aku tidak ada.
Aku tidak mau begitu.
Aku benar-benar tidak mau begitu, dan itu bagian yang paling melelahkan dari menjadi diriku — bahkan di hari terakhir, bahkan sambil menyeret koper keluar dari hidupnya, aku masih sibuk memastikan dia baik-baik saja.
Tapi tanganku tidak mengambilnya.
Aku menutup laci dan bilang ke diriku sendiri, nanti aku ambil lain kali, padahal aku tahu tidak akan ada lain kali. Mungkin aku cuma ingin ada satu benda kecil yang membuktikan aku pernah di sini. Mungkin aku ingin, sekali saja, meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dia abaikan.
Aku tidak tahu. Sungguh, sampai detik itu aku tidak tahu.
Aku menelepon Damar di lift.
Nomornya masih ada, tersimpan sebagai Damar Kuliah, dan aku hampir tidak percaya jarinya masih ingat harus scroll ke mana. Tujuh tahun. Terakhir kali kami bicara, dia menelepon empat kali berturut-turut di malam ulang tahunnya dan aku tidak angkat, karena Allysa waktu itu bilang, “Temen kamu yang itu bawa pengaruh buruk, deh.”
Dering pertama. Dering kedua. Dering ketiga.
Aku memutuskan panggilannya sendiri sebelum tersambung.
Mau bilang apa, memangnya? Halo, Mar, ini Bintang, yang tujuh tahun lalu ngilang tanpa alasan. Sekarang gue butuh tempat numpang.
Lift terbuka di lantai dasar. Aku menyeret koperku melewati satpam yang mengangguk sopan tanpa tahu apa-apa, keluar ke halaman, ke motor yang cicilannya baru habis tahun lalu — satu-satunya benda mahal yang benar-benar milikku.
Langit jam setengah tujuh malam warnanya jingga kotor. Jakarta bau aspal panas dan gorengan.
Aku mengikat koper di jok belakang pakai tali karet. Ikatannya jelek. Aku benahi dua kali.
Lalu aku berdiri di situ, memegang helm, dan menoleh ke atas.
Lantai sebelas. Jendela ketiga dari kiri. Lampunya masih mati; dia belum pulang. Dia tidak akan pulang sampai jam sebelas, seperti biasa.
Ada bagian kecil dan bodoh dan tidak mau mati di dalam diriku yang berpikir: tunggu saja sebentar lagi. Siapa tahu hari ini dia pulang cepat. Siapa tahu hari ini dia turun, lihat kopernya, dan nanya mau ke mana.
Cuma nanya. Itu saja.
Sepuluh tahun aku menunggu ditanya.
Aku memakai helm.
Hal terakhir yang kupikirkan bukan Allysa.
Ini yang aneh. Nanti, kalau aku sempat menceritakannya ke siapa pun, mungkin bagian ini yang paling sulit dipercaya. Sepuluh tahun hidupku berputar mengelilingi satu orang, dan di detik-detik terakhir kepalaku malah pergi ke tempat lain.
Aku memikirkan Ibu.
Tentang bagaimana tiga tahun lalu, jam sembilan malam, ponselku bergetar dan nama di layarnya Ibu, dan aku sedang di parkiran gedung kantor Allysa menunggu dia keluar karena dia minta diantar ke acara kantornya. Aku bilang ke Ibu nanti kutelepon balik. Ibu bilang, “Iya, nggak apa-apa. Nggak penting kok.”
Suaranya kecil sekali waktu itu.
Aku menelepon balik jam dua pagi. Yang mengangkat tetanggaku.
Dan yang paling kuingat dari malam itu bukan kabarnya. Bukan perjalanan lima jam ke rumah. Bukan pemakaman.
Yang paling kuingat: aku duduk di tepi ranjang Ibu yang sudah kosong, dan aku ingin sekali ada orang yang bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku pulang dua hari kemudian ke apartemen, dan Allysa sedang di meja makan, dan dia melihatku, dan dia bilang —
“Kamu udah balik? Ada paket di depan tuh, angkatin dong.”
Aku angkat paketnya.
Itu bagian yang tidak pernah bisa kuceritakan ke siapa pun tanpa terdengar seperti sedang mengarang: aku mengangkat paketnya. Aku bahkan tidak marah. Aku cuma mengangkat paketnya, menaruhnya di dapur, lalu masuk kamar mandi dan menangis dengan keran menyala supaya tidak terdengar.
Dan di halaman berikutnya buku abu-abu itu, malam itu, aku menulis:
Ibu meninggal. Aku nggak nyalahin dia. Sungguh. Aku cuma pengen dia nanya.
Motor melaju. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu-satu.
Dan aku ingat berpikir, di jalur paling kiri, di antara bau knalpot dan suara klakson dan angin yang masuk lewat sela helm:
Kalau nanti aku sampai di kos Damar, hal pertama yang mau kulakukan cuma satu. Aku mau makan malam sambil ditanya hari ini gimana.
Cuma itu.
Sepuluh tahun, dan targetku sudah turun sampai ke situ.
Perempatan itu ada di dekat Jalan Kemuning.
Lampunya hijau. Aku ingat betul lampunya hijau, karena aku sempat menoleh ke atas untuk memastikan, dan aku sempat berpikir aman, dan aku sempat menarik gas sedikit.
Aku tidak pernah melihat truknya.
Yang kuingat cuma suara — bukan suara tabrakan, tapi suara logam yang terseret di aspal, panjang sekali, jauh lebih panjang dari yang masuk akal. Dan warna jingga. Dan tanah yang tiba-tiba ada di sebelah kiri kepalaku padahal seharusnya di bawah.
Dingin.
Aku ingat berpikir: koperku.
Lalu aku ingat berpikir sesuatu yang lebih memalukan, sesuatu yang membuatku bersyukur tidak ada yang bisa membaca isi kepala orang sekarat:
Nanti dia pulang, lihat suratnya, terus mikir aku beneran pergi. Dia nggak akan tahu aku nggak sengaja.
Aspalnya hangat di pipi. Ada orang berteriak. Ada sepatu berlari-lari.
Dan hal terakhir, benar-benar yang paling terakhir, sebelum semuanya jadi putih:
Aku ingin pulang dan memindahkan gelas itu ke sebelah kanan. Sekali saja. Biar dia bingung. Biar dia nanya.
06.11.
Kipas angin berputar dengan bunyi ceklek tiap satu putaran, ceklek, ceklek, ceklek, dan aku tahu bunyi itu. Aku kenal bunyi itu seperti aku kenal suaraku sendiri.
Kipas itu rusak di tahun 2016 dan tidak pernah kuperbaiki karena aku pindah.
Aku membuka mata.
Langit-langit kamar kos. Cat putih yang mengelupas di sudut, membentuk pola yang dulu kubilang mirip peta Sulawesi. Poster film di dinding, sudutnya menggulung. Bau kasur tipis dan sabun cuci murah dan hujan semalam yang masuk lewat ventilasi.
Aku tidak bergerak.
Aku berbaring di sana selama mungkin dua menit penuh, menatap langit-langit, dan tubuhku terasa salah. Ringan. Tidak sakit. Tidak ada nyeri tumpul di punggung bawah yang sudah jadi temanku sejak tahun kelima.
Aku mengangkat tangan ke depan wajah.
Tanganku kurus. Kuku-kukunya pendek dan ada noda tinta di sisi jari tengah, bekas pegang pena terlalu lama. Dan di punggung tangan kananku —
tidak ada bekas luka.
Bekas luka itu dari tahun keenam. Aku memecahkan gelas di dapur dan memungut pecahannya dengan tangan kosong karena Allysa bilang jangan berisik, dia lagi rapat.
Aku menggosok punggung tanganku dengan ibu jari. Sekali. Dua kali. Tidak ada apa-apa di sana. Kulitnya mulus seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Napasku mulai kacau.
Aku bangun terlalu cepat sampai pandanganku menghitam sedetik, meraba-raba kasur, menemukan ponsel di sebelah kiri bantal, di tempat aku selalu menaruhnya.
Layarnya menyala.
Bentuk ponselnya salah. Tebal, tombolnya masih fisik, wallpaper-nya gambar galaksi yang kuunduh entah dari mana. Dan di tengah layar, angka putih besar-besar yang membuat seluruh isi perutku jatuh:
06.11 Senin, 14 Maret
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun kurang beberapa jam.
Aku duduk di tepi kasur, dengan ponsel di tangan yang tidak berhenti gemetar, di kamar kos yang sudah tujuh tahun tidak kutinggali, di pagi hari yang seharusnya sudah lama lewat.
Lalu ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk. Nama pengirimnya membuat tenggorokanku menutup rapat.
Allysa
Nanti jadi ketemu di halte kan?
Di luar, hujan mulai turun.
Dan aku ingat — aku ingat persis — bahwa nanti sore, di halte itu, di bawah hujan ini, aku akan berdiri di depan perempuan ini dan mengatakan aku mencintainya.
Dan dia akan menjawab, “Ya udah.”
Dua kata.
Dan aku akan bahagia selama seminggu penuh karenanya.
[Bersambung ke Bab 2 — POV Allysa]