Chapter Nineteen
Dari Seberang Jalan
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Pak Joko, Allysa (tidak menyadari), Kirana
Hari itu Selasa dan aku sedang kesal karena hal yang sangat kecil.
Aku perlu menyebutkan itu, karena kalau tidak, seluruh kejadian ini akan terdengar seperti sesuatu yang penting sejak awal. Tidak. Hari itu Selasa, jam setengah enam sore, dan aku berjalan pulang dari kantor ke halte dengan perasaan jengkel karena cetakan halaman tujuh salah warna dan harus diulang.
Aku berhenti di depan kedai kopi di ujung Jalan Wijaya untuk membeli minum.
Dan waktu aku keluar sambil memegang gelas plastik, aku melihat ke seberang jalan.
Ada gerobak terbalik.
Bapak-bapak tua, penjual buah, gerobaknya miring ke trotoar dan jeruknya berhamburan sampai ke aspal. Ada mobil yang membunyikan klakson. Ada orang-orang yang melangkah melewatinya sambil melihat sebentar lalu terus berjalan, karena begitulah Jakarta jam setengah enam sore.
Dan ada seorang perempuan berjongkok di trotoar mengumpulkan jeruknya.
Aku sudah mengangkat tangan untuk memanggil ojek waktu aku menyadari siapa dia.
Dia memakai kemeja kerja. Rok sampai lutut, sepatu formal. Tas kantornya diletakkan begitu saja di trotoar, di atas debu, tanpa dilihat.
Dan dia sedang berjongkok di pinggir jalan raya, mengumpulkan jeruk satu per satu dengan tangan, memasukkannya ke keranjang plastik.
Aku berdiri di depan kedai kopi dan tidak bergerak.
Bapak itu berusaha menegakkan gerobaknya sendiri dan tidak kuat. Allysa berdiri, memegang sisi gerobak yang lain, dan mereka mengangkatnya bersama. Gerobak itu terlalu berat untuknya; aku bisa melihat dari cara kakinya menahan.
Ada tiga jeruk yang menggelinding ke tengah jalan.
Dia melihat ke kanan-kiri, lalu berlari kecil ke tengah jalan mengambilnya, dan ada motor yang hampir mengenainya dan membunyikan klakson panjang, dan dia mengangkat tangan minta maaf sambil terus berlari kembali ke trotoar.
Lalu dia berjongkok lagi.
Dia mengambil jeruk-jeruk yang sudah kotor, mengelapnya dengan lengan kemejanya sendiri — kemeja kerja, warna terang — sebelum menaruhnya di keranjang.
Bapak itu bicara sesuatu. Dari seberang aku tidak bisa dengar. Allysa menggeleng, tertawa kecil, dan melanjutkan.
Selesai, dia berdiri. Menepuk-nepuk roknya. Ada noda cokelat di lutut dan di lengan kemejanya dan dia tidak melihatnya.
Bapak itu merogoh keranjang dan menyodorkan sesuatu — beberapa jeruk, jelas sebagai ucapan terima kasih.
Allysa menolak.
Bapak itu memaksa.
Allysa menolak lagi, mengatupkan tangan di depan dada dua kali, lalu mengambil tasnya dari trotoar dan berjalan pergi ke arah halte.
Dua puluh detik kemudian dia sudah hilang di antara orang-orang.
Aku berdiri di depan kedai kopi itu selama entah berapa lama.
Gelas plastikku berembun sampai basah semua di tangan.
Dan yang muncul di kepalaku bukan haru. Bukan bangga. Bukan satu pun perasaan hangat yang mungkin kalian duga.
Yang muncul adalah kalimat, dan kalimatnya panas dan pendek dan datang dengan sendirinya:
Ternyata dia bisa.
Aku menghabiskan sepuluh tahun menyusun penjelasan untuk perempuan itu.
Aku bilang ke diriku sendiri dia memang tidak bisa. Dia dibesarkan begitu. Dia tidak pernah diajari. Ibunya keras, ayahnya pergi, dan yang seperti itu memang tumbuh jadi orang yang tidak bisa melihat orang lain.
Aku memaafkannya berkali-kali dengan alasan itu. Aku bertahan sepuluh tahun dengan alasan itu.
Dan sekarang aku berdiri di seberang jalan dan melihat perempuan itu berjongkok di trotoar berdebu untuk orang yang bahkan tidak dia kenal, mengelap jeruk dengan kemeja kerjanya sendiri, tanpa satu pun penonton, tanpa satu pun keuntungan, tanpa aku.
Dia bisa.
Dia selalu bisa.
Aku menghantam dinding kedai kopi itu dengan sisi telapak tangan, satu kali, cukup keras sampai pelayannya menoleh dari dalam.
Aku minta maaf ke pelayannya dan pergi.
Aku tidak pulang. Aku berjalan.
Empat kilometer, sampai gelap, tanpa arah, dengan gelas kopi yang tidak kuminum sama sekali sampai akhirnya kubuang di tempat sampah.
Dan sepanjang empat kilometer itu kepalaku berteriak hal yang sama berulang-ulang, dengan kemarahan yang tidak pernah kualami bahkan di malam di gang itu:
Dia cuma nggak mau. Padaku.
Bukan tidak bisa. Bukan tidak diajari. Bukan tidak mampu.
Perempuan itu punya kapasitas itu di dalam dirinya sepanjang waktu. Kapasitas untuk berjongkok di trotoar demi orang asing. Untuk mengorbankan kemeja. Untuk berlari ke tengah jalan.
Dan selama sepuluh tahun, tiga ribu enam ratus lima puluh hari, dia memilih untuk tidak menggunakannya pada satu orang.
Aku berhenti di trotoar di suatu tempat di Kebayoran dan menekuk badan dengan tangan di lutut.
Karena semua penjelasan yang kubangun selama sepuluh tahun runtuh sekaligus, dan yang tersisa di tempatnya adalah kalimat paling sederhana dan paling tidak bisa kutanggung:
Aku tidak dianggap layak.
Bukan dia yang tidak bisa mencintai.
Aku yang tidak dipilih untuk menerimanya.
Aku sampai kos jam sembilan malam dan duduk di lantai kamar tanpa menyalakan lampu.
Dan setelah semua kemarahan itu keluar — setelah empat kilometer, setelah tanganku berhenti gemetar — yang tersisa adalah sesuatu yang jauh lebih merepotkan.
Aku memikirkan bapak penjual jeruk itu.
Bapak itu tidak akan pernah tahu siapa perempuan yang membantunya. Dia tidak akan pernah tahu bahwa perempuan itu pernah membunuh seseorang pelan-pelan selama sepuluh tahun. Besok pagi dia akan mendorong gerobaknya lagi dan kalau ada yang bertanya, dia mungkin akan bercerita: kemarin ada mbak-mbak kantoran baik banget.
Dan itu bukan bohong.
Itu bagian yang tidak bisa kususun, dan aku duduk di lantai kamar gelap itu sampai jam satu pagi mencoba menyusunnya.
Karena selama satu tahun lima bulan, aku menyimpan perempuan itu di satu tempat di kepalaku. Tempat itu punya bentuk yang rapi. Isinya monster — bukan monster yang meraung, monster yang lebih buruk: monster yang tenang, yang menjawab sambil mengetik, yang tahu ibumu sakit dan tetap minta diantar.
Monster itu mudah. Monster tidak perlu dipikirkan lagi. Kamu tinggal menutup pintunya dan pergi membangun hidupmu.
Tapi monster tidak berjongkok di trotoar untuk penjual jeruk.
Monster tidak menolak dikasih jeruk gratis.
Dan begitu satu hal itu tidak cocok — satu saja — seluruh bentuknya rusak, dan yang tersisa di dalam ruangan itu bukan monster lagi.
Yang tersisa adalah manusia.
Dan itulah yang membuatku tidak bisa tidur.
Karena monster bisa dikunci di suatu tempat dan dilupakan.
Manusia bisa berubah. Manusia bisa dikenali ulang.
Manusia harus dipikirkan.
Aku ingin menegaskan sesuatu supaya tidak ada yang salah paham tentang malam itu.
Aku tidak jatuh cinta lagi di depan kedai kopi Jalan Wijaya.
Aku tidak merasakan satu pun kehangatan. Aku tidak merindukannya. Kalau saat itu ada yang menawariku untuk kembali ke perempuan itu, aku akan menolak dengan seluruh tubuhku, dan aku akan menolaknya lagi besoknya dan bertahun-tahun setelahnya.
Yang terjadi malam itu bukan cinta.
Yang terjadi adalah lukanya dibuka lagi, setelah satu tahun lima bulan hampir menutup, dan kali ini dibuka dari arah yang tidak pernah kuduga.
Aku tidak marah karena dia jahat.
Aku marah karena dia baik — dan bukan padaku.
Dan aku tahu, bahkan malam itu, bahwa marah jenis ini jauh lebih berbahaya daripada benci. Karena benci itu selesai. Benci itu pintu tertutup.
Marah jenis ini adalah pertanyaan.
Dan pertanyaan tidak bisa ditutup dengan cara ditutup. Pertanyaan cuma bisa ditutup dengan jawaban, dan satu-satunya orang yang punya jawabannya adalah orang yang paling tidak ingin kutemui.
Aku sengaja tidak masuk kerja hari Rabu.
Aku bilang sakit. Aku tidak sakit. Aku berbaring di kasur seharian menatap langit-langit dan menghitung ulang segalanya.
Kirana menelepon jam empat sore.
“Kamu beneran sakit atau lagi kenapa?”
“Beneran sakit.”
“Bintang.”
Aku menutup mata.
“Nggak,” kataku. “Nggak sakit.”
Hening di seberang. Lalu:
“Ya udah. Nggak apa-apa. Besok masuk?”
“Besok masuk.”
“Oke.” Dia diam sebentar. “Bintang.”
“Hm?”
“Kamu tau kan kamu nggak harus cerita ke saya.”
“Iya.”
“Tapi kamu juga boleh.”
Aku memegang ponsel itu di telinga dan menatap langit-langit kamar kos, dan aku merasakan sesuatu yang aneh dan tidak nyaman: aku ingin bercerita.
Bukan tentang sepuluh tahun. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin.
Tapi tentang malam ini. Tentang berdiri di seberang jalan. Tentang bagaimana rasanya menemukan bahwa orang yang menghancurkanmu ternyata tidak rusak — dia cuma memilih.
Dan aku tidak bisa menceritakan sepotong pun tanpa menceritakan semuanya.
“Iya,” kataku. “Makasih ya.”
Kirana menghela napas di seberang, pelan, hampir tidak terdengar.
“Ya udah. Istirahat.”
Kamis pagi aku masuk kerja seperti biasa.
Dan hal pertama yang kulakukan setelah menyalakan komputer adalah membuka ponselku, membuka percakapan dengan Allysa — enam kata terakhir, bagus, semoga lancar — dan menatapnya.
Ibu jariku melayang di atas layar cukup lama.
Aku ingin bertanya kenapa.
Aku ingin mengetik satu pertanyaan: Kalau kamu bisa segitunya sama orang yang nggak kamu kenal, kenapa nggak sama aku?
Aku menghapus layarnya tanpa mengetik apa-apa.
Bukan karena aku sudah tenang. Justru sebaliknya.
Karena aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku menekan kirim. Percakapan itu akan berlanjut. Dan dari percakapan itu akan lahir percakapan berikutnya. Dan perlahan-lahan, tanpa satu pun momen yang bisa kutunjuk sebagai kesalahan, aku akan kembali ke dalam ruangan yang butuh sepuluh tahun dan satu kematian untuk kutinggalkan.
Aku menaruh ponselku telungkup di meja.
Sore itu, jam enam, aku berdiri di depan pintu ruangan Kirana dan mengetuknya.
“Mbak—Kirana.”
“Hm?”
“Sabtu kosong nggak?”
Dia mengangkat wajahnya dari naskah.
Dan aku berdiri di ambang pintu itu, dan aku tahu — aku benar-benar tahu, saat itu juga, dengan jujur — bahwa sebagian dari alasan aku bertanya adalah karena aku sedang melarikan diri dari sesuatu.
Aku bertanya juga.
Itu kesalahan pertamaku terhadap perempuan yang tidak melakukan apa pun yang salah, dan bukan yang terakhir.
“Kosong,” kata Kirana.
[Bersambung ke Bab 20 — POV Allysa]