Chapter Twelve
Hal yang Tidak Kupakai
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Bu Ratna, Damar (lewat pesan), Bintang (disebut)
Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun, dan aku akan menceritakannya sekarang karena kalau tidak, seluruh bagian hidupku yang ini akan terdengar lebih mulia dari yang sebenarnya.
Selama sebelas hari setelah malam di gerbang itu, aku menyusun rencana.
Rencana yang bagus. Rencana yang efektif. Rencana yang, kalau kujalankan, mungkin akan berhasil.
Aku mengetiknya di aplikasi catatan, malam hari, di lantai kamar, dengan cara yang sama seperti aku menyusun peta jalan produk bertahun-tahun kemudian di kantor: bertahap, dengan asumsi, dengan cabang alternatif kalau salah satu langkah gagal.
Isinya kira-kira begini.
Bintang ingat semuanya. Artinya aku punya sepuluh tahun data tentang seorang manusia yang tidak dimiliki siapa pun di dunia.
Aku tahu makanan yang dia bilang tidak suka padahal sebenarnya suka — dia bilang tidak suka durian karena aku bilang baunya bikin pusing di tahun pertama.
Aku tahu dia tidak bisa tidur kalau ada bunyi jam dinding, dan dia diam saja selama sepuluh tahun karena jam itu dari almarhum nenekku.
Aku tahu dia takut ketinggian tapi tidak pernah bilang, dan tahun keempat aku menyeretnya naik wahana di Dufan dan dia menurut, dan turun dari wahana itu dia pucat selama dua jam dan aku bilang lebay banget sih.
Aku tahu tanggal-tanggal. Aku tahu peristiwa. Aku tahu di bulan apa dia akan mulai kelelahan dan di minggu apa dia biasanya jatuh sakit.
Aku bisa memakai semua itu.
Aku bisa muncul di hari yang tepat dengan hal yang tepat. Aku bisa jadi orang yang selalu kebetulan mengerti. Aku bisa membangun, sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun, kesan bahwa aku adalah satu-satunya orang di dunia yang benar-benar mengenalnya —
dan itu tidak akan sepenuhnya bohong, karena memang aku satu-satunya.
Aku menulis rencana itu sampai tiga halaman.
Dan di malam kesebelas, jam dua pagi, aku membacanya dari awal sampai habis dengan tenang.
Lalu aku muntah di kamar mandi.
Kalian perlu tahu kenapa.
Bukan karena rencananya jahat. Kalau dibaca satu per satu, isinya justru manis. Membawakan makanan kesukaan. Mengingat hal-hal kecil. Muncul waktu dibutuhkan.
Perempuan mana pun bisa menulis daftar itu tanpa dosa apa pun.
Yang membuatku muntah adalah bentuknya.
Bertahap. Dengan asumsi. Dengan cabang alternatif kalau salah satu langkah gagal.
Itu bukan cara orang mencintai. Itu cara orang mengelola.
Dan begitu aku melihatnya, aku langsung mengenali dari mana bentuk itu datang, karena aku sudah pernah membuatnya sekali sebelumnya.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun aku mengelola seorang manusia. Bertahap. Dengan asumsi. Dengan cabang alternatif. Tiap kali dia bertahan, aku menaikkan sedikit; tiap kali dia goyah, aku memberi sedikit — satu senyum, satu malam yang manis, satu genggaman tangan tiga detik saat menyeberang — cukup untuk menahannya di tempat, tidak pernah lebih.
Aku tidak pernah menyebutnya begitu waktu itu. Waktu itu aku menyebutnya hubungan.
Tapi bentuknya sama persis.
Dan sekarang, dengan penyesalan sebagai bahan bakarnya alih-alih ketakutan, aku baru saja membangun mesin yang sama untuk kedua kalinya.
Perempuan itu masih di sini. Dia tidak pergi ke mana-mana. Dia cuma mengganti tujuannya.
Aku duduk di lantai kamar mandi jam dua pagi dengan mulut yang pahit, dan aku menghapus tiga halaman itu satu per satu, dan aku menghapusnya juga dari folder sampah supaya tidak bisa dikembalikan.
Lalu aku membuka daftarku yang lama, yang enam poin itu, dan aku menambahkan yang ketujuh.
7. Semua yang aku tau tentang dia dari sepuluh tahun itu — jangan dipake. Sekalipun. Itu bukan punyaku. Itu punya orang yang dia percaya, dan orang itu udah mati.
Aku hampir melanggarnya empat hari kemudian.
Damar mengirim pesan — kami masih sesekali bertukar kabar sejak warung kopi itu, dan aku tidak pernah bertanya tentang Bintang duluan, tidak sekali pun, tapi Damar tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita.
Damar
lys si bintang masuk penerbit anjir
gue bilang apa
dia mulai kerja senin
Aku duduk memandangi layar itu, dan yang naik pertama kali bukan senang.
Yang naik adalah refleks.
Bulan kedelapan.
Karena aku tahu. Aku tahu bahwa di dunia yang lain, di bulan kedelapan dia bekerja di tempat mana pun, tubuhnya akan jatuh — selalu bulan kedelapan, selalu pola yang sama, karena dia akan menerima setiap pekerjaan tambahan yang ditawarkan dan tidak akan pernah bilang tidak sampai badannya yang bilang untuknya.
Dan otakku langsung menyusun: bulan kedelapan berarti bulan Desember. Aku bisa—
Aku menaruh ponselku menghadap ke bawah.
Itu bukan punyamu, Allysa.
Aku duduk di tepi kasur dengan tangan mengepal di paha, dan itu adalah pertama kalinya aku benar-benar merasakan berat aturan yang kubuat sendiri.
Karena ini yang tidak dikatakan orang tentang menebus: yang paling sulit bukan melakukan hal-hal baik.
Yang paling sulit adalah tidak melakukan hal-hal baik yang caranya salah.
Aku tahu sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari sakit. Aku menyimpannya. Aku tidak memakainya.
Dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan tahu bahwa aku menahannya, dan tidak akan ada satu pun poin yang kudapat karenanya, dan Bintang akan tetap jatuh sakit di bulan Desember dan tidak akan pernah tahu bahwa ada perempuan di ujung kota yang tahu sejak Agustus.
Itu tebusan yang benar. Yang tidak menghasilkan apa-apa.
Aku membalas Damar:
Bagus banget. Seneng dengernya.
Dan tidak menanyakan apa-apa lagi.
Aku berhenti mengirim pesan tiap malam.
Bukan berhenti total. Aku menguranginya jadi seminggu sekali, lalu dua minggu sekali.
Alasannya bukan karena aku menyerah, dan bukan juga karena aku sedang bermain strategi — itu justru yang paling kutakutkan, bahwa suatu hari aku akan menemukan diriku berhenti mengirim pesan supaya dia merasa kehilangan.
Alasannya karena aku akhirnya membaca ulang pesan-pesanku sendiri dari awal.
Tujuh puluh satu malam. Semuanya masih ada di layar, tersusun rapi ke bawah, tidak satu pun berbalas.
Dan sekitar setengahnya, kalau kubaca dengan jujur, bukan untuk dia.
Aku nggak minta dibales. Beneran.
Kalau kamu risih aku berhenti, tinggal bilang.
Aku nggak akan ganggu.
Bacalah kalimat-kalimat itu dari sisinya. Semuanya menempatkan dia dalam posisi harus memutuskan. Semuanya, dengan sangat sopan, dengan sangat halus, meletakkan sesuatu di tangannya dan berkata nih, kamu yang atur.
Orang yang benar-benar tidak ingin mengganggu tidak perlu mengumumkan tiap malam bahwa dia tidak ingin mengganggu.
Aku menutup mataku dan menekan pangkal telapak tangan ke dahi.
Bahkan permintaan maafku pun punya tagihan di dalamnya. Kecil. Sopan. Hampir tidak terlihat.
Tapi ada.
Jadi aku menguranginya. Dan tiap kali aku ingin mengirim sesuatu, aku memaksa diriku menjawab satu pertanyaan lebih dulu:
Ini buat dia, atau buat supaya aku merasa lebih ringan?
Kalau jawabannya yang kedua — dan sering sekali jawabannya yang kedua — aku menahannya, dan aku menanggung malam itu sendirian.
Itu bulan-bulan yang panjang.
Ibu memergokiku di dapur, jam sebelas malam, sedang berdiri memandangi dinding tanpa melakukan apa-apa.
“Kamu kenapa toh, akhir-akhir ini.”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Kamu itu dari kecil kalau bilang nggak apa-apa artinya ada apa-apa.”
Aku menoleh.
Ibu berdiri di ambang dapur dengan daster dan rambut yang sudah memutih di pelipis, memegang gelas kosong, dan menatapku dengan ekspresi yang jarang sekali kulihat: cemas.
Dan sesuatu di dadaku bergerak.
Ibu tahu nggak, Ibu ngajarin aku apa?
Kalimat itu ada di sana lagi. Sudah tiga bulan kalimat itu duduk di belakang gigiku, menunggu.
Aku bisa mengucapkannya sekarang. Aku bisa memberikannya kepada perempuan itu, dan perempuan itu akan menanggungnya, karena ibu-ibu selalu menanggung apa pun yang diberikan anaknya.
Dan besok pagi aku akan merasa lebih ringan.
Ini buat dia, atau buat supaya aku merasa lebih ringan?
Aku menarik napas.
“Bu,” kataku. “Ibu dulu waktu Ayah pergi, gimana?”
Ibu berhenti.
Gelas di tangannya turun sedikit.
“Kenapa nanya gitu?”
“Pengen tau aja.” Aku bersandar ke meja dapur. “Aku nggak pernah nanya.”
Ibu berdiri di ambang pintu cukup lama.
Lalu dia masuk, menaruh gelasnya di bak cuci, dan duduk di kursi makan — dan itu sendiri sudah aneh, karena Ibu tidak pernah duduk di dapur; Ibu selalu berdiri, selalu sedang mengerjakan sesuatu.
“Ya susah,” katanya akhirnya.
Aku menunggu.
“Ibu marah lama,” lanjutnya, memandangi tangannya sendiri di atas meja. “Bukan sama dia. Sama Ibu sendiri.”
“Kenapa?”
“Ya karena Ibu ngasih semuanya.” Dia mengangkat bahu, dan senyumnya miring dan pahit. “Terus pas ditinggal, Ibu bingung. Ibu nggak tau Ibu ini siapa kalau bukan istrinya dia.”
Dapur itu sunyi. Kulkas berdengung.
“Makanya Ibu selalu bilang,” katanya, “jangan ngasih semuanya.”
Dan di situlah aku mendengarnya lagi, sebelas kata yang sama, dengan wajah dan suara yang lengkap kali ini — bukan potongan yang kusimpan sejak umur sembilan tahun, tapi versi utuhnya, dari mulut perempuan yang sedang duduk kelelahan di kursi dapur.
Dan yang kudengar bukan pelajaran.
Yang kudengar adalah peringatan dari orang yang ketakutan.
Ibu tidak sedang mengajariku cara hidup. Ibu sedang berdiri di pinggir lubang sambil berteriak ke belakang, awas, ada lubang — dan aku anak sembilan tahun yang mendengar teriakan itu dan menyimpulkan bahwa seluruh jalan adalah lubang.
“Bu,” kataku pelan.
“Hm?”
“Ibu nyesel nggak? Yang ngasih semuanya itu.”
Ibu mengangkat wajahnya.
Dan dia diam sangat lama — begitu lama sampai aku pikir dia tidak akan menjawab.
“Ya nggak,” katanya akhirnya. “Ibu dapet kamu.”
Aku menunduk cepat ke lantai dapur.
“Cuma ya,” lanjut Ibu, berdiri lagi, kembali ke bak cuci, kembali mengerjakan sesuatu seperti biasa, “Ibu harusnya nyisain buat Ibu sendiri dikit. Bukan buat nggak dikasih. Buat kalau nanti sendirian, masih ada yang bisa dipegang.”
Air keran menyala.
“Kamu ngerti nggak bedanya?”
Aku berdiri di dapur itu dengan mata panas dan menjawab, “Iya, Bu.”
Bohong. Aku belum mengerti waktu itu.
Aku baru akan mengerti tiga puluh bab lagi, di ruangan yang sama, dengan perempuan yang sama, waktu akhirnya aku bisa menangis untuk anak berumur sembilan tahun yang berdiri di pintu dapur ini bertahun-tahun lalu dan salah dengar.
Tapi malam itu aku menaruh satu hal di tempatnya, dan itu sudah cukup untuk membuatku bisa tidur:
Ibuku tidak menghancurkanku.
Ibuku sedang tenggelam, dan aku kebetulan berdiri di dekatnya, dan aku memungut apa yang jatuh dari tangannya.
Yang menghancurkan Bintang bukan Ibu.
Aku.
Malam itu aku membuka aplikasi catatan yang berjudul HAL-HAL YANG KULAKUKAN.
Ada seratus tiga puluh delapan entri sekarang. Aku sudah sampai tahun kelima.
Aku mengetik yang berikutnya.
Tahun 5. Dia berhenti gambar. Aku nggak nanya kenapa. Aku ngerasa lega karena rumah jadi rapi.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mulai menulis daftar ini, aku menambahkan sesuatu di bawahnya yang bukan kejahatan.
Kemarin dia masuk penerbit. Dia gambar lagi.
Aku nggak ada hubungannya sama itu. Sama sekali. Dan itu bagus.
Ternyata dia bisa. Selama ini dia bisa.
Dia cuma nggak pernah dikasih ruang.
Aku mengunci ponselku dan tidur menghadap tembok, dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan aku tidur sampai pagi tanpa terbangun.
[Bersambung ke Bab 13 — POV Bintang]