Chapter Twenty Seven
Sekarang Aku Tahu
POV: Allysa
Karakter: Allysa (sendirian)
Yang memicunya sepele. Semua hal yang menghancurkan selalu sepele; aku sudah menulis kalimat itu bertahun-tahun lalu dan aku masih belum menemukan pengecualiannya.
Hari Rabu. Bulan Februari. Aku pulang kerja jam sembilan malam, hujan, dan aku memasak mi instan karena Ibu sudah tidur dan aku tidak ingin membangunkan siapa pun dengan suara wajan.
Aku menaruh mangkuknya di meja makan.
Lalu aku menaruh gelas air di sebelah kanan mangkuk, seperti seumur hidupku.
Dan aku duduk, dan aku menatap gelas itu, dan aku memindahkannya ke sebelah kiri.
Bukan untuk apa-apa. Aku bahkan tidak sedang memikirkan siapa pun. Tanganku bergerak sendiri, seperti orang yang membetulkan bingkai foto yang miring.
Aku menatap gelas di sebelah kiri mangkuk itu.
Dan aku menangis di meja makan jam sembilan lewat, sendirian, dengan mi instan yang mulai mengembang.
Aku ingin menuliskan bagian ini dengan hati-hati, karena ini yang paling penting dari seluruh hidupku dan aku tidak mau merusaknya dengan kalimat yang terlalu bagus.
Malam itu aku duduk di meja makan dan akhirnya menghitung.
Sepuluh tahun, dua bulan, delapan hari.
Itu berapa lama sejak 14 Maret.
Dan aku duduk di kursi itu dan menyadari, untuk pertama kalinya, bahwa aku sudah menjalani sepuluh tahun.
Sepuluh tahun mencintai seseorang yang tidak membalas.
Sepuluh tahun mengirim pesan yang dibaca dan tidak dijawab, lalu berhenti mengirim sama sekali.
Sepuluh tahun berada di ruangan yang sama dengan seseorang dan berbicara dengannya sebelas menit tentang pekerjaan.
Sepuluh tahun tidak boleh mengeluh — tidak kepada siapa pun, tidak sekali pun — karena tidak ada satu orang di dunia ini yang akan mengerti, dan karena bahkan kalau ada, aku tidak berhak.
Sepuluh tahun bangun tiap pagi dan memutuskan untuk tetap baik kepada orang yang tidak memberiku apa-apa.
Persis.
Durasi yang sama. Bentuk yang sama. Dari kursi yang berlawanan.
Dan inilah yang harus kutulis, dan yang paling tidak ingin kutulis.
Selama sepuluh tahun di kehidupan pertama, aku menyaksikan seorang laki-laki melakukan ini persis, di depan mataku, tiap hari.
Dan aku menganggapnya lemah.
Aku perlu jujur tentang bentuk perasaannya, karena kalau tidak, tidak ada gunanya menulis ini sama sekali.
Bukan kasihan. Kasihan itu masih hangat.
Yang kurasakan adalah jijik.
Tahun keempat, sesuatu bergeser di dalam diriku. Aku mulai menaikkan tekanannya — dan tiap kali dia menyerap. Tiap kali dia memaafkan. Tiap kali besok paginya dia masih membuatkan kopi dan bertanya apakah aku tidur nyenyak.
Dan ada bagian di dalam diriku yang menonton itu dan berteriak:
Kenapa kamu diam saja?
Berdiri. Lawan. Bentak aku sekali saja.
Punya harga diri, dong.
Aku membencinya karena bertahan.
Aku menyebutnya menyedihkan — di dalam kepalaku, ratusan kali, dengan kata-kata yang tidak akan pernah kuucapkan keras-keras tapi tetap kupikirkan dengan sangat jelas.
Aku pikir laki-laki itu bertahan karena dia tidak punya pilihan lain. Karena dia terlalu takut sendirian. Karena dia terlalu lemah untuk pergi.
Aku pikir bertahan itu hal yang gampang — hal yang dilakukan orang yang tidak punya cukup keberanian untuk berhenti.
Itu yang kupercaya selama sepuluh tahun.
Dan sekarang aku sudah melakukannya sendiri, sepuluh tahun, dari dalam.
Dan aku tahu.
Bertahan itu tidak gampang.
Bertahan itu hal paling sulit yang pernah kulakukan seumur hidupku, dan aku sudah melakukan banyak hal sulit.
Karena begini bentuknya dari dalam:
Kamu bangun tiap pagi dan tidak ada satu pun yang berubah dari kemarin. Tidak ada perkembangan. Tidak ada tanda. Tidak ada satu pun hal yang bisa kamu tunjuk dan bilang nah, ada gerakan.
Dan kamu tetap harus memutuskan, hari itu juga, untuk tidak berubah jadi orang yang pahit.
Itu keputusan. Tiap hari. Berkali-kali sehari.
Karena tersedia satu pilihan lain yang jauh lebih mudah, dan pilihan itu selalu ada di sebelahmu, menunggu dengan sabar: jadi jahat.
Kamu bisa jadi sinis. Kamu bisa mulai menghitung. Kamu bisa mulai menyimpan kuitansi dan suatu hari menyerahkan tagihannya. Kamu bisa mulai bilang ke dirimu sendiri bahwa kamu korban, dan begitu kamu percaya kamu korban, kamu boleh melakukan apa saja.
Itu pintu yang terbuka lebar-lebar, tiap hari, selama sepuluh tahun.
Dan laki-laki itu tidak masuk. Tidak sekali pun.
Tiga ratus dua puluh tujuh entri di buku abu-abu, dan tidak ada satu pun yang berisi kebencian terhadapku — di dalam buku yang dia yakin tidak akan pernah ada yang baca.
Aku dulu menganggap itu bukti dia lemah.
Sekarang aku tahu itu adalah hal paling keras yang pernah dilakukan siapa pun yang pernah kukenal.
Aku duduk di meja makan itu sampai jam dua pagi.
Dan sekitar jam sebelas, sesuatu yang lebih buruk datang.
Karena aku menyadari bahwa yang kulakukan sepuluh tahun terakhir ini tidak sesulit yang dia alami.
Aku punya hal-hal yang tidak pernah dia punya.
Aku punya ibu yang duduk di kursi dapur dan bilang kamu bukan lagi nyesel, kamu lagi ngukum diri sendiri, dan kamu suka.
Aku punya pekerjaan yang membuatku merasa mampu.
Aku punya kesehatan. Aku punya uang. Aku punya rumah tempat aku tidak takut.
Dan yang paling penting: aku punya alasan.
Aku tahu persis kenapa aku melakukan semua ini. Aku punya daftar sembilan poin. Aku punya dua ratus tiga belas halaman. Aku tahu apa yang kutebus dan kenapa.
Bintang tidak punya satu pun dari itu.
Laki-laki itu bangun tiap pagi selama sepuluh tahun tanpa tahu kenapa. Tanpa daftar. Tanpa alasan yang bisa dia tuliskan. Tanpa satu orang pun yang bisa dia ajak bicara — karena dia sudah kupisahkan dari Damar di tahun ketiga, dan ibunya terlalu jauh, dan dia terlalu malu.
Dia melakukannya di dalam ruangan yang benar-benar kosong.
Dan waktu ibunya meninggal, satu-satunya hal yang dia inginkan — satu-satunya, dia menuliskannya sendiri — adalah supaya ada yang bertanya.
Aku menempelkan dahi ke meja makan.
Sepuluh tahun aku menganggap laki-laki itu bodoh karena mencintai orang yang tidak membalas.
Ternyata itu bukan kebodohan. Itu bahkan bukan cinta, di ujungnya.
Itu adalah seseorang yang memilih, tiap hari selama tiga ribu enam ratus lima puluh hari, untuk tidak berubah jadi orang seperti aku.
Dan dia berhasil.
Sampai hari terakhir. Sampai surat di meja makan yang isinya empat kalimat dan tidak satu pun menyalahkanku.
Rumahnya buat kamu. Jangan lupa makan.
Dia menang, dan tidak ada satu orang pun di dunia yang tahu dia sedang bertanding.
Ada satu hal lagi malam itu, dan ini yang membuatku akhirnya bangkit dari kursi.
Aku bertanya pada diriku sendiri: kalau aku sudah tahu semua ini — kalau aku sudah tahu dari dalam bahwa bertahan itu keras, bahwa itu keputusan tiap hari, bahwa itu bukan kelemahan —
kenapa aku dulu tidak melihatnya?
Aku duduk dengan pertanyaan itu cukup lama.
Dan jawabannya, waktu datang, sangat sederhana dan sangat memalukan:
Karena kalau aku mengakui bahwa yang dia lakukan itu sulit, aku harus mengakui bahwa dia kuat.
Dan kalau dia kuat, maka dia bertahan bukan karena tidak punya pilihan.
Dia bertahan karena dia memilih — memilih aku, tiap hari, selama sepuluh tahun, dengan sadar, sambil tahu persis apa yang dia terima sebagai gantinya.
Dan aku tidak sanggup menanggung itu.
Karena orang yang bertahan karena lemah itu tidak menuntut apa-apa dariku. Dia cuma kasihan. Aku bisa membuangnya tanpa harga.
Tapi orang yang bertahan karena memilih — orang itu sedang memberiku sesuatu yang sangat besar, tiap hari, selama sepuluh tahun.
Dan aku tidak punya apa-apa untuk membalasnya.
Jadi aku memutuskan bahwa dia lemah.
Itu lebih murah.
Aku menyebutnya menyedihkan selama sepuluh tahun supaya aku tidak perlu berhutang.
Aku mencuci mangkuk mi instan itu jam dua pagi dan pergi ke kamar.
Aku membuka aplikasi catatan yang berjudul HAL-HAL YANG KULAKUKAN untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu.
Kursornya berkedip di bawah entri terakhir.
Hari ini aku denger dia ketawa. Udah. Cukup.
Dan aku mulai mengetik dua hal yang tidak pernah kutulis di dua ratus tiga belas halaman itu — dua hal yang sengaja kutinggalkan, bukan untuk menyembunyikannya darinya, tapi karena aku tidak sanggup melihatnya sendiri.
Aku mengetik yang pertama sampai selesai.
Aku cinta dia. Sepuluh tahun. Dari awal. Dan itu bukan pembelaan — itu yang bikin semuanya jauh lebih jahat. Aku ngecilin dia justru karena aku cinta. Tiap luka yang aku bikin itu asuransi.
Lalu aku mulai mengetik yang kedua.
Tahun keempat aku mulai—
Dan tanganku berhenti.
Aku duduk di lantai kamar dengan ponsel di tangan dan ibu jariku menggantung di atas layar, dan aku mencoba lagi, dan berhenti lagi, dan mencoba lagi.
Tiga kali.
Aku tidak bisa.
Aku bisa menulis bahwa aku mencintainya. Itu ternyata gampang; itu hampir terasa enak.
Yang tidak bisa kutulis adalah bahwa aku merasa jijik padanya karena bertahan.
Karena selama kalimat itu belum ada di layar, aku masih bisa jadi perempuan yang jahat karena takut.
Begitu kalimat itu ada, aku jadi perempuan yang menghina laki-laki paling baik yang pernah dia temui, karena kebaikannya.
Dan aku belum sanggup jadi perempuan yang itu.
Aku menghapus tiga kata yang sudah kuketik, mengunci ponselku, dan tidur.
Butuh empat tahun lagi sampai aku bisa menuliskannya.
Aku menulisnya di kamar sewaan di Surabaya, jam empat pagi, dengan koper yang belum kubuka di sudut ruangan, dan tanganku gemetar sepanjang tiga paragraf itu.
Dan setelah selesai, aku duduk memandangi layar dan menunggu sesuatu yang mengerikan terjadi.
Tidak ada.
Yang datang cuma perasaan yang tidak kuduga sama sekali: ringan.
Bukan lega. Bukan bebas.
Cuma ringan, seperti orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang sudah lama dipeluk sampai lupa bahwa itu berat.
Tapi itu masih empat tahun lagi.
Malam itu, di lantai kamar di rumah ibuku, aku cuma bisa sampai sejauh itu, lalu berhenti.
Dan besoknya aku bangun jam enam, naik lift ke lantai sembilan belas, dan bekerja.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis.
Sama seperti seseorang, sepuluh tahun, di rumah yang tidak pernah bertanya kabarnya.
[Bersambung ke Bab 28 — POV Bintang]