Chapter Fourteen
Perempuan yang Naik Tangga
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Damar (lewat pesan), Kirana (dari kejauhan), Bu Ratna
Damar yang memberitahuku.
Damar
lys si bintang sakit
demam 3 hari masih ngantor anjir goblok emang
gue kesana besok bawa bubur
Aku membaca pesan itu di perpustakaan kampus, di antara tumpukan buku metodologi, dan aku duduk sangat diam selama mungkin dua menit.
Bulan kedelapan.
Aku tahu. Aku sudah tahu sejak Agustus.
Aku tahu persis bagaimana urutannya: dia akan menerima setiap pekerjaan tambahan yang ditawarkan, dan dia akan merasa senang melakukannya, dan dia tidak akan berhenti sampai badannya yang berhenti untuknya.
Aku sudah menuliskannya di daftar. Poin nomor tujuh. Jangan dipake. Itu bukan punyaku.
Dan aku memegang aturan itu selama empat bulan, dan sekarang aku duduk di perpustakaan dengan ponsel di tangan dan aku tahu bahwa laki-laki itu sedang berbaring di kamar kos lantai dua nomor tujuh dengan demam tiga puluh sembilan derajat.
Aturan itu ada untuk mencegahku memakainya sebagai alat.
Tapi ini bukan alat. Ini orang sakit.
Aku menutup buku metodologiku dan pergi.
Aku tidak langsung ke sana. Aku mampir ke pasar dulu.
Aku membeli ayam, wortel, seledri, bawang bombay, dan satu bungkus kaldu blok. Aku tidak tahu cara membuat sup ayam. Aku benar-benar tidak tahu; dalam sepuluh tahun aku tidak pernah sekali pun memasak untuk laki-laki itu, dan sekarang aku berdiri di pasar sore dengan kantong plastik di tangan sambil membuka resep di ponsel seperti orang bodoh.
Aku juga membeli termometer. Dan parasetamol. Dan dua botol air mineral besar, karena aku ingat — aku ingat dari tahun keempat — bahwa dia tidak pernah mau turun untuk beli air kalau sedang sakit, dan dia akan minum air keran kalau habis.
Aku ingat itu.
Aku ingat itu karena tahun keempat aku pulang jam sebelas malam dan melihat galon di dapur kosong, dan aku kesal, dan aku bilang kok nggak beli sih.
Dan dia bilang, dari kamar, dengan suara serak: besok aja.
Dan aku tidak menyambungkan apa pun. Aku tidak berpikir kenapa suaranya serak. Aku cuma kesal soal galon.
Aku berdiri di pasar dengan dua botol air mineral di tangan dan hampir tidak bisa bernapas.
Aku sampai di depan gerbang kos jam setengah tujuh malam.
Lampu kamar nomor tujuh menyala.
Dan aku berdiri di trotoar itu — di tempat yang sama persis, di antara motor-motor yang diparkir, untuk ketiga kalinya dalam hidup keduaku — dengan tiga kantong plastik di tangan, dan aku menyusun kalimatnya.
Aku cuma nganter. Aku nggak masuk. Kamu nggak usah turun, taruh aja di depan.
Bagus. Itu bagus. Itu tidak menuntut apa-apa.
Aku mengangkat tangan untuk membuka gerbang.
Dan gerbangnya terbuka duluan dari dalam.
Perempuan itu keluar sambil bicara ke belakang, ke arah tangga.
“—iya, iya, saya kunci dari luar! Kamu tidur!”
Rambutnya diikat asal-asalan. Dia memakai kemeja kerja yang lengannya digulung sampai siku. Dia memegang kantong plastik kosong dan kunci motor, dan wajahnya adalah wajah orang yang baru saja menghabiskan dua jam di dapur orang lain.
Dia hampir menabrakku.
“Eh! Maaf, maaf.” Dia mundur selangkah, tertawa kecil. “Nggak keliatan.”
“...Iya. Nggak apa-apa.”
Perempuan itu menutup gerbang, mengaitkan gemboknya, lalu menoleh padaku sambil tersenyum ramah.
“Mau masuk? Bentar saya bukain lagi.”
“Nggak,” kataku. Terlalu cepat. “Nggak usah.”
“Yakin? Nggak repot kok.”
“Iya. Saya salah alamat.”
Dia mengangkat alis, tapi tidak mengejar. Dia cuma bilang “oh, oke,” lalu berjalan ke motornya di ujung trotoar.
Aku berdiri di situ.
Dan sebelum menyalakan motornya, perempuan itu mengangkat wajah ke arah lantai dua — ke jendela kamar nomor tujuh — dan berteriak, tidak keras-keras amat, dengan nada orang yang sedang mengomel dan menikmatinya:
“BINTANG! SUPNYA DIHABISIN YA! SAYA CEK BESOK!”
Ada suara dari dalam. Tidak jelas kata-katanya.
Dan perempuan itu tertawa — tertawa keras, tanpa ditahan sedikit pun — lalu memakai helmnya dan pergi.
Aku tidak ingat berjalan pulang.
Aku ingat sampai di rumah dan Ibu bertanya kenapa aku bawa belanjaan sebanyak itu, dan aku bilang salah beli, dan aku masuk kamar dan menutup pintu dan duduk di lantai dengan punggung ke pintu, seperti biasa, karena itu satu-satunya posisi yang bisa kutahan.
Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang tidak kubanggakan.
Selama sekitar sepuluh menit, aku membencinya.
Perempuan itu. Yang bahkan tidak tahu namaku. Yang menawarkan membukakan gerbang untuk orang asing di trotoar. Yang tertawa keras di jalan pukul setengah tujuh malam.
Aku membencinya dengan cara yang panas dan cepat dan memalukan, dan kepalaku menyusun kalimat-kalimat kecil yang jahat tentang dia — tentang tawanya, tentang caranya berteriak di jalan, tentang bagaimana dia jelas tipe orang yang tidak pernah mengalami apa pun yang berat seumur hidupnya.
Bahasa lama. Bahasa yang kupakai bersama Vinka selama lima tahun.
Ternyata masih terpasang. Ternyata masih bisa menyala sendiri dalam tiga detik, tanpa kuminta, tanpa aku memutuskan apa pun.
Aku duduk di lantai kamar dan membiarkan diriku mendengar semua itu sampai habis.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri satu pertanyaan, dan itu pertanyaan yang menghentikan segalanya:
Apa yang perempuan itu lakukan?
Dia mendengar ada orang sakit. Dia datang. Dia memasak. Dia menyuruh orang itu tidur. Dia mengunci gerbang dari luar supaya orang itu tidak perlu turun.
Itu saja.
Itu seluruh kejahatannya.
Dan aku, yang tidur di sebelah laki-laki itu selama sepuluh tahun, tidak pernah melakukan satu pun dari empat hal itu. Tidak sekali pun. Tidak waktu dia demam tiga hari di tahun kesepuluh dan aku menginap di rumah Vinka karena aku tidak tahan melihat dia membutuhkanku.
Aku menekan tumit tangan ke mata sampai muncul bintik-bintik terang.
Perempuan itu tidak mengambil apa pun dariku.
Dia cuma melakukan hal yang seharusnya kulakukan, di tempat yang seharusnya kutempati, dengan cara yang tidak pernah terpikir olehku selama sepuluh tahun.
Kalau dia jahat, mungkin aku bisa bertahan.
Tapi dia baik, dan dia mudah, dan dia jelas — dan menonton orang lain melakukannya dengan mudah adalah cara paling telak untuk mengetahui bahwa kesulitanku selama ini bukan karena keadaan.
Aku yang sulit.
Malam itu aku menulis di HAL-HAL YANG KULAKUKAN.
Bukan entri baru dari masa lalu. Sesuatu yang lain, di halaman terpisah, yang kutulis dalam satu tarikan tanpa berhenti:
Hari ini aku beli ayam, wortel, seledri, bawang bombay, kaldu blok, termometer, parasetamol, dua botol air.
Aku nggak jadi ngasih.
Ada orang lain yang udah masak duluan.
Dan yang paling aku nggak bisa terima bukan itu.
Yang aku nggak bisa terima: dia ketawa waktu keluar dari gerbang.
Berarti di dalem sana barusan ada yang bikin dia ketawa.
Berarti Bintang masih bisa bikin orang ketawa.
Aku sepuluh tahun sama dia dan aku nggak inget dia pernah bikin aku ketawa sekalipun.
Bukan karena dia nggak lucu.
Karena aku nggak pernah ngasih dia kesempatan.
Aku menaruh ponselku dan tidur, dan aku tidak menangis malam itu, dan itu terasa lebih buruk daripada menangis.
Aku lulus tiga bulan kemudian.
Bukan dengan nilai bagus. Skripsiku selesai dengan cara yang sama seperti orang menyelesaikan piring makanan yang sudah dingin — bukan karena lapar, karena harus.
Ibu datang ke wisuda memakai kebaya yang dijahit ulang dari kebaya lamanya, dan dia menangis di barisan kursi orang tua, dan dia memotret aku sembilan belas kali dengan ponsel yang kameranya buram.
Aku melihat foto-foto itu malamnya.
Di semua foto, aku tersenyum dengan cara yang benar. Sudut bibirnya tepat, matanya menyipit sedikit, kepalanya dimiringkan.
Aku sudah melatih senyum itu sejak SMA.
Aku menggeser ke foto berikutnya, dan berikutnya, dan di foto kesembilan belas ada satu yang tidak sengaja — Ibu menekan tombolnya terlalu cepat, dan yang tertangkap adalah aku sedang tidak melihat kamera, sedang menoleh ke arah lain, dengan wajah yang belum sempat dipasang.
Aku memandangi foto itu lama sekali.
Wajahnya kosong. Bukan sedih. Kosong.
Wajah orang yang sedang menunggu sesuatu yang dia sendiri tahu tidak akan datang.
Aku menghapus delapan belas foto yang bagus dan menyimpan yang satu itu.
Aku diterima kerja di perusahaan teknologi enam minggu kemudian.
Posisi associate product manager. Gaji awalnya dua kali lipat dari yang kuduga. Kantornya di gedung tinggi di Jakarta Selatan dengan lift yang perlu kartu akses.
Di hidup pertamaku, aku masuk ke perusahaan yang sama, di posisi yang sama, di bulan yang sama.
Dan aku ingat persis bagaimana rasanya waktu itu: seperti akhirnya mendapatkan alat.
Karena di kantor seperti itu, semua yang kubawa dari kecil tiba-tiba jadi berharga. Kemampuan tidak menunjukkan apa pun di wajah. Kemampuan mengukur orang dalam tiga puluh detik dan tahu mana tombol yang bisa ditekan. Kemampuan tetap tenang sementara orang lain hancur di depanmu.
Aku naik cepat sekali di hidup pertamaku. Sangat cepat.
Dan tiap tingkat yang kunaiki membuatku makin yakin bahwa caraku benar — karena hasilnya terlihat, karena orang menghormatiku, karena tidak ada satu pun bukti yang mengatakan sebaliknya.
Kecuali satu.
Satu laki-laki di rumah, yang tiap tahun jadi sedikit lebih kecil, dan yang tidak pernah kuhitung sebagai data.
Hari pertama aku masuk kantor itu di hidup kedua, aku berdiri di lift sendirian di lantai sembilan belas, dan aku memandangi pantulan wajahku sendiri di pintu logamnya.
Kemeja rapi. Rambut diikat. Wajah tenang.
Persis.
Persis sama dengan perempuan yang duduk di meja makan mengetik sambil bilang terus aku harus gimana?
Aku menatap pantulan itu sampai pintunya terbuka.
Lalu aku keluar dan mulai bekerja, dan aku bekerja dengan baik, karena aku memang baik dalam hal ini.
Tapi malam itu aku menambahkan satu poin lagi ke daftarku, yang kedelapan, dan poin ini tidak ada hubungannya dengan Bintang sama sekali:
8. Tiap kali kamu ngerasa menang sama orang, berhenti. Cek. Menang apa? Buat apa?
[Bersambung ke Bab 15 — POV Bintang]