Chapter Twenty Eight
Lembar di Tangan
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Bu Sri, Kirana, Damar, dokter
Batuknya mulai bulan Desember dan kami menyalahkan polusi Jakarta.
Itu lelucon di antara kami selama empat bulan. Tiap telepon hari Minggu:
“Batuknya gimana, Bu?”
“Masih. Gara-gara kota kamu.”
“Ya ampun, Bu, empat hari doang.”
“Ya empat hari juga ngaruh.”
Dan kami tertawa, dan lanjut membicarakan cabai.
Aku menyuruhnya ke dokter di bulan Januari. Dia bilang sudah. Dikasih obat. Sudah minum.
Aku menyuruhnya ke dokter lagi di bulan Februari. Dia bilang nanti.
Bulan Maret suaranya berubah di telepon — ada bunyi seperti sesuatu yang tersangkut di dadanya tiap kali dia menarik napas panjang, dan dia menutupinya dengan berbicara lebih cepat.
Aku pulang hari itu juga.
Aku ingin menuliskan bagian ini dengan jujur, karena inilah bedanya dua kehidupan itu, dan bedanya bukan soal takdir.
Bedanya cuma soal siapa yang duduk di kursi mana.
Di kehidupan pertama, aku tidak tahu ibuku sakit sampai tiga hari sebelum dia meninggal.
Bukan karena dia menyembunyikannya lebih baik. Dia pasti menelepon. Perempuan itu pasti menelepon berkali-kali, sama seperti sekarang, dengan suara yang dibuat ringan dan batuk yang ditutupi.
Yang berbeda: di kehidupan pertama, aku menelepon ibuku rata-rata sekali sebulan. Kadang lebih jarang. Selalu pendek, selalu di sela-sela sesuatu, selalu dengan suara pelan.
Kamu tidak bisa mendengar bunyi yang tersangkut di dada ibumu lewat telepon delapan menit sekali sebulan.
Kamu cuma bisa mendengarnya kalau kamu sudah mendengar dua ratus telepon dua puluh menit sebelumnya, dan kamu hafal persis bagaimana suara perempuan itu seharusnya.
Itu saja bedanya.
Bukan mukjizat. Bukan pengetahuan masa depan. Aku tidak pernah sekali pun memakai apa yang kutahu tentang tanggal-tanggal — dan lagi pula, di kehidupan pertama Ibu meninggal di bulan Oktober tahun ketujuh, dan sekarang sudah tahun kelima dan sudah dimulai, jadi tanggalnya pun tidak sama.
Yang membuatku tahu bukan karena aku pernah mati.
Karena aku menelepon.
Rumah sakit kabupaten. Lorong dengan lantai yang dipel terus-menerus sampai baunya menempel di baju.
Aku menunggu dua jam untuk hasilnya, sendirian, dengan Ibu di ruang tunggu satunya karena dia bilang mau duduk dekat jendela.
Dokternya perempuan, mungkin seumuran denganku, dan dia menaruh dua lembar kertas di meja dan memutarnya menghadapku.
Aku mendengarkan sampai selesai.
Aku menanyakan empat pertanyaan, dan aku menuliskan jawabannya di ponselku, dan tanganku tidak gemetar sama sekali sampai pertanyaan keempat.
“Berapa lama?”
Dokter itu diam sebentar.
“Kalau responsnya bagus, dua sampai tiga tahun,” katanya. “Kalau tidak, lebih pendek. Saya tidak bisa janji apa-apa, Mas.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Dok.”
Aku keluar dari ruangan itu dan berjalan ke lorong dan duduk di kursi besi yang dingin dengan dua lembar kertas di tangan.
Dan aku duduk di sana entah berapa lama.
Kalau ada yang bertanya apa yang kupikirkan di menit-menit itu, jawabannya akan mengecewakan.
Aku tidak memikirkan kematian. Aku tidak memikirkan waktu yang tersisa. Aku tidak memikirkan hal-hal besar sama sekali.
Yang berputar di kepalaku cuma ini:
Bagus. Aku dapat kabarnya sekarang.
Dua sampai tiga tahun.
Di dunia yang satunya aku dapat tiga hari.
Aku menekuk kedua lembar kertas itu jadi empat dan memasukkannya ke saku, lalu berjalan ke ruang tunggu satunya.
Ibu duduk dekat jendela, memandangi parkiran.
Dia menoleh waktu aku datang.
“Gimana?”
Dan aku duduk di sebelahnya dan menceritakan semuanya. Semuanya. Tanpa dikurangi, tanpa dibulatkan, tanpa satu pun kalimat penghibur yang tidak ada isinya.
Aku sudah memutuskan itu di lorong tadi, dan itu keputusan terpenting yang pernah kubuat sebagai anak.
Karena di kehidupan pertama, semua orang di sekitar perempuan ini menghaluskan segalanya untuknya. Tetangga. Dokter kampung. Aku, lewat telepon delapan menit sekali sebulan.
Dan dia mati tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengatur sisa hidupnya sendiri.
Ibu mendengarkan sampai habis.
Lalu dia mengangguk sekali, dan memandangi parkiran lagi, dan bilang:
“Ya udah.”
Kami duduk diam beberapa menit.
“Bin.”
“Iya, Bu.”
“Nanti pulang kita mampir pasar ya. Ibu mau beli benang.”
“Benang buat apa?”
“Ya buat jahit.”
“Kata Ibu mata Ibu udah nggak kuat.”
“Ya nggak kuat.” Dia mengangkat bahu. “Tapi bukan berarti nggak bisa.”
Dan aku menoleh dan memandangi sisi wajah ibuku di ruang tunggu rumah sakit kabupaten itu, dan aku tersenyum untuk pertama kalinya sejak pagi.
Aku pindah ke rumah Ibu.
Bukan seluruhnya — pekerjaanku di Jakarta, dan aku tidak bisa melepasnya, dan Ibu akan mengamuk kalau aku mencobanya.
Jadi kami membuat sistem. Aku di Jakarta Senin sampai Kamis, pulang tiap Kamis malam, kembali Senin subuh. Enam jam bus, dua kali seminggu, selama dua tahun berikutnya.
Pak Har menyetujuinya dalam empat detik.
“Ya udah. Kirim gambarnya lewat email.”
Empat detik.
Aku keluar dari ruangannya dan berdiri di lorong kantor selama beberapa saat, karena di kehidupan pertama aku tidak pernah sekali pun meminta apa pun kepada siapa pun, karena aku yakin — benar-benar yakin, dengan seluruh tubuhku — bahwa meminta berarti kehilangan.
Kirana yang mengurus sisanya.
Dia yang mencarikan dokter spesialis di kota kabupaten yang lebih besar. Dia yang menelepon temannya yang bekerja di rumah sakit. Dia yang membuat jadwal obat di aplikasi ponselku karena aku terus lupa.
Dan di bulan kedua, dia bilang:
“Bintang.”
“Hm?”
“Aku mau ikut hari Kamis.”
Aku berhenti mengetik.
“Ran, itu enam jam bus.”
“Aku tau.”
“Terus balik lagi Senin subuh.”
“Aku tau, Bintang.” Dia menatapku. “Aku bukan nanya.”
Dia ikut hampir tiap dua minggu selama dua tahun.
Enam jam bus. Bolak-balik. Untuk tinggal tiga hari di rumah kecil bercat hijau muda dan membantu memasak dan menemani Ibu menonton sinetron jam tujuh sambil ikut mengomentari pemainnya keras-keras.
Ibu memanggilnya “Ran” mulai bulan keempat.
Dan di bulan kesembilan, waktu aku sedang di dapur dan mereka berdua di ruang tengah, aku mendengar Ibu bilang sesuatu yang membuatku berhenti mencuci piring.
“Ran.”
“Iya, Bu?”
“Kamu jangan kelamaan sama anak saya.”
Aku mematikan keran.
“Lho, kenapa Bu?” Kirana tertawa. “Ibu nggak suka sama saya?”
“Suka.” Suara Ibu tenang. “Suka banget. Makanya Ibu ngomong.”
Hening.
“Bu—“
“Ibu tuh udah tua,” kata Ibu. “Ibu udah pernah liat orang kayak dia.”
Aku berdiri di dapur dengan tangan basah dan tidak bergerak.
“Anak saya baik,” lanjutnya. “Baik banget. Terlalu baik malah. Tapi dia nyimpen sesuatu, dan dia nggak akan kasih tau kamu, dan bukan karena dia jahat.”
“Terus kenapa, Bu?”
Ibu diam agak lama.
“Karena dia nggak percaya ada yang bakal nampung,” katanya. “Dari kecil dia gitu. Salah Ibu.”
Dan aku berdiri di dapur rumah itu, umur tiga puluh satu di dunia ini dan empat puluh satu di dalam kepalaku, dan aku menutup mata.
Salah Ibu.
Aku ingin masuk ke ruangan itu dan bilang bukan. Bukan salah Ibu. Ibu tidak pernah melakukan apa pun yang salah; Ibu membesarkan anak sendirian dengan uang jahitan dan Ibu membelikan alat gambar waktu uangnya cuma cukup untuk beras.
Aku ingin bilang itu.
Aku juga tahu — dan ini yang membuatku tetap berdiri di dapur, dengan tangan basah, tidak bergerak — bahwa perempuan itu benar tentang satu hal, dan satu hal itu bukan kesalahannya sama sekali.
Dia nggak percaya ada yang bakal nampung.
Aku mendengar Kirana menjawab, pelan sekali:
“Saya nampung kok, Bu.”
Dan Ibu bilang:
“Ibu tau, Nak.”
Lalu, setelah beberapa detik:
“Tapi nampung itu perlu dua orang.”
Ibu meninggal di hari Rabu, dua tahun tujuh bulan setelah lembar itu.
Aku akan menceritakan hari itu di bab berikutnya, karena aku belum sanggup meletakkannya di sini, di bab yang isinya tentang bagaimana aku diberi waktu.
Yang ingin kutulis di sini cuma ini:
Dua tahun tujuh bulan.
Sembilan ratus empat puluh delapan hari.
Di kehidupan pertama aku dapat tiga hari, dan aku menghabiskan dua dari tiga hari itu di dalam bus dan satu hari di pemakaman.
Sembilan ratus empat puluh delapan.
Kami menonton sinetron jam tujuh bersama sekitar tujuh ratus kali. Kami ke pasar sekitar dua ratus kali. Aku belajar cara Ibu membuat rendang dan gagal empat kali sebelum berhasil, dan waktu akhirnya berhasil, Ibu mencicipinya, mengunyah lama, lalu bilang “kurang lengkuas” — dan tersenyum sepanjang sisa makan malam itu.
Aku menggambar dua belas buku di meja makan yang kakinya goyang.
Dan aku bertanya kepadanya. Terus-menerus, selama dua tahun tujuh bulan, tentang segalanya. Tentang ayahku. Tentang kenapa dia tidak menikah lagi. Tentang apa yang dia inginkan waktu berumur dua puluh. Tentang apakah dia pernah menyesal.
Semua hal yang di kehidupan pertama tidak sempat kutanyakan karena aku terlalu sibuk menunggu seseorang di parkiran kantornya.
Dan malam terakhir, dua hari sebelum dia pergi, Ibu memegang tanganku di tepi ranjang dan bilang sesuatu yang akan kubawa sampai aku mati untuk kedua kalinya.
Tapi itu bab berikutnya.
[Bersambung ke Bab 29 — POV Bintang]