Chapter Forty
Perempuan yang Punya Rumah
POV: Allysa
Karakter: Allysa, Sekar, Bu Ratna, Kirana (lewat telepon)
Aku berumur tiga puluh sembilan tahun waktu aku akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu.
Apa yang Allysa pengen?
Aku ingat pertama kali pertanyaan itu muncul. Delapan tahun lalu, di rumah ibuku, malam waktu aku mendaftarkannya kelas renang. Aku berbaring menghadap tembok dan menyadari bahwa kalau ada yang menanyakan hal yang sama tentangku, aku tidak punya jawabannya.
Dan aku menulis waktu itu: aku cuma tahu aku mau tidak jadi orang yang seperti dulu. Dan itu bukan keinginan. Itu cuma menghindar.
Delapan tahun.
Jawabannya datang di hari Selasa yang benar-benar biasa, di ruang rapat kantor Surabaya, waktu Sekar mempresentasikan sesuatu dan berhasil.
Bukan berhasil besar. Presentasinya bagus, direktur regional mengangguk, ada dua pertanyaan yang dia jawab dengan tenang.
Dan aku duduk di ujung meja dan merasakan sesuatu di dadaku yang bentuknya asing.
Aku bangga.
Bukan bangga yang ada aku-nya. Bukan lihat, aku yang melatih dia. Aku memeriksa itu — aku memeriksanya dengan sangat teliti karena aku sudah terlatih memeriksa segala sesuatu di dalam diriku sejak dua puluh tahun lalu.
Tidak ada.
Cuma perempuan dua puluh delapan tahun yang lima tahun lalu menangis di ruang rapat ini, sekarang berdiri di depan ruangan yang sama dan tidak takut.
Dan aku duduk di kursi itu dan berpikir, dengan sangat jelas:
Aku mau ini.
Bukan Bintang. Bukan penebusan. Bukan menghapus apa pun.
Aku mau jadi orang yang ada di ruangan waktu orang lain berhasil.
Itu jawabannya. Butuh tiga puluh sembilan tahun.
Aku tidak akan menuliskan bahwa aku sembuh, karena aku tidak sembuh dan aku sudah lama berhenti memakai kata itu.
Yang bisa kutuliskan cuma hal-hal kecil yang berubah, dan semuanya butuh bertahun-tahun.
Aku bisa menerima pujian sekarang. Bukan dengan nyaman — aku masih menunduk, aku masih ingin mengalihkan pembicaraan dalam tiga detik. Tapi aku bisa bilang “makasih” dan berhenti di situ, tanpa menambahkan sesuatu yang mengecilkannya.
Butuh enam tahun.
Aku menerima jeruk sekarang.
Itu terdengar bodoh dan memang bodoh, tapi aku menghitungnya sebagai kemenangan terbesarku. Ada ibu-ibu di kelas renang yang selalu membawa buah untuk dibagikan setelah kelas, dan selama dua tahun pertama aku selalu menolak dengan sopan.
Sekarang aku mengambilnya, dan aku bilang terima kasih, dan aku memakannya di pinggir kolam bersama enam perempuan berumur lima puluhan yang mengomentari bentuk badanku dengan cara yang seharusnya menyinggung dan entah kenapa tidak.
Aku masih memeriksa diriku sendiri tiap hari. Itu tidak berhenti.
Tapi sekarang pemeriksaannya lebih cepat, dan lebih sering hasilnya bersih, dan aku tidak lagi terkejut kalau hasilnya bersih.
Dan aku tidak lagi menghapus namaku dari hal baik yang kulakukan.
Itu yang paling lama. Sepuluh tahun.
Sekar yang menyadarkanku, tanpa tahu apa-apa, di tahun keempatku di Surabaya. Aku memberikan sesuatu ke timku — bonus tambahan yang kuurus diam-diam lewat keuangan — dan Sekar mengetahuinya dari orang lain, dan dia datang ke mejaku dan bilang:
“Bu, kenapa nggak bilang?”
“Ya nggak usah.”
Dan anak itu berdiri di depan mejaku dan bilang sesuatu yang tidak pernah kulupakan:
“Bu, kalau Ibu nggak bilang, kita nggak tau harus makasih ke siapa.”
Aku menatapnya.
“Terus?”
“Ya jadinya kita cuma ngerasa beruntung.” Dia mengangkat bahu. “Beda, Bu. Kalau tau ada orangnya, kita jadi pengen bales ke orang lain juga.”
Anak dua puluh tujuh tahun.
Aku duduk di mejaku setelah dia pergi dan memandangi layar yang mati selama beberapa menit.
Karena sepuluh tahun aku pikir menghapus namaku itu bentuk kerendahan hati.
Ternyata itu bentuk paling halus dari mengambil.
Kamu mengambil kesempatan orang lain untuk berterima kasih. Kamu mengambil kesempatan mereka untuk membalas ke orang lain lagi. Kamu memutus rantainya di titik dirimu, dan kamu menyebutnya tidak ingin merepotkan.
Persis seperti seseorang yang menaruh air hangat di meja jam dua pagi selama sepuluh tahun.
Ibu pindah ke Surabaya di tahun keenamku.
Bukan karena sakit — dia sehat sekali, itu bagian yang paling membuatku ingin tertawa. Perempuan berumur tujuh puluh enam tahun yang berenang dua puluh lima meter empat kali seminggu.
Dia pindah karena bosan.
“Rumahnya udah dijual?”
“Belum. Ibu sewain.”
“Bu!”
“Ya apa? Uangnya buat Ibu.”
Kami tinggal berdua di apartemen tiga kamar di daerah Gubeng. Dia mengambil kamar yang menghadap timur karena “kamu nggak pernah bangun pagi, biar Ibu aja yang liat matahari”.
Dan dua tahun terakhir itu adalah dua tahun terbaik dalam hidupku sampai titik itu.
Kami bertengkar. Sering. Tentang hal-hal bodoh — tentang cara menyusun kulkas, tentang volume TV, tentang bagaimana aku pulang terlalu malam di umur tiga puluh sembilan dan dia masih menungguku di ruang tamu dengan lampu menyala.
Dan tiap kali kami bertengkar, selesai dalam sehari.
Aku tidak pernah mengalami itu seumur hidupku sampai umur tiga puluh delapan.
Kirana meneleponku hampir tiap dua minggu selama enam tahun itu.
Dia punya dua anak sekarang. Yang besar memanggilku “Tante Lys” lewat telepon dengan suara yang selalu terlalu keras.
Kami tidak pernah membicarakan Bintang.
Sekali, di tahun kelima, dia hampir. Dia bilang “Mbak, aku ketemu—“ lalu berhenti sendiri, lalu bilang “nggak jadi”, dan aku bilang “iya”.
Dan itu saja.
Yang membuatku menghargai perempuan itu lebih dari yang bisa kujelaskan: dia berhenti sendiri. Tanpa kuminta. Selama enam tahun.
Sampai suatu malam di bulan Oktober, dia menelepon dan suaranya berbeda.
“Mbak.”
“Kenapa?”
“Aku mau nanya sesuatu dan Mbak boleh nggak jawab.”
Aku menaruh bukuku.
“Tanya.”
Hening di seberang.
“Kalau ada orang yang dateng ke Surabaya,” katanya, “dan orang itu bukan aku—“
“Ran.”
“Aku belum selesai, Mbak.”
Aku menutup mulutku.
“Aku nggak tau apa-apa,” lanjutnya cepat. “Sumpah. Aku nggak dikasih tau apa-apa dan aku nggak nanya. Aku cuma denger dari orang.”
“Denger apa?”
“Nggak penting.” Aku bisa mendengar dia menarik napas. “Mbak, aku cuma mau nanya satu hal. Terus aku tutup teleponnya dan kita nggak akan ngomongin lagi.”
“Iya.”
“Kalau ada yang dateng,” kata Kirana, “Mbak mau apa?”
Dan aku duduk di sofa apartemen Gubeng dengan buku terbuka di pangkuan dan lampu ruang tamu yang masih menyala karena Ibu belum tidur.
Delapan tahun lalu, di meja makan apartemen kecil di Wonokromo, ibuku menjawab pertanyaan yang hampir sama.
Ya kamu tanya dia mau apa. Terus kamu bilang kamu mau apa. Gitu doang, Lys. Orang normal gitu doang.
Dan selama delapan tahun aku memikirkan bagian kedua dari kalimat itu — bagian yang selalu kulewati, bagian yang paling sulit.
Terus kamu bilang kamu mau apa.
“Ran,” kataku.
“Iya?”
“Aku nggak tau.”
“Mbak—“
“Bukan aku ngindar.” Aku memandangi lampu ruang tamu. “Aku beneran nggak tau. Dan itu baru buat aku.”
Hening di seberang.
“Dulu aku selalu tau,” lanjutku. “Dua puluh tahun aku selalu tau persis apa yang aku mau dari dia, walaupun aku nggak pernah ngaku. Aku mau dia maafin aku. Terus aku mau dia balik. Terus aku mau dia bahagia — dan yang itu bener, tapi masih ada aku-nya di dalemnya.”
Aku menarik napas.
“Sekarang aku nggak punya jawabannya.”
“Itu bagus apa jelek?”
Aku memikirkannya.
“Bagus,” kataku. “Kayaknya bagus.”
Kirana diam agak lama.
“Mbak,” katanya akhirnya. “Boleh aku bilang satu hal terakhir?”
“Boleh.”
“Kalau orangnya dateng,” katanya, “Mbak nggak wajib nerima.”
Aku memejamkan mata.
“Aku tau.”
“Nggak, Mbak. Aku serius.” Suaranya berubah, jadi keras dengan cara yang jarang. “Aku kenal Mbak delapan tahun. Mbak tuh orangnya kalau ada yang dateng, Mbak bakal mikir Mbak harus bayar. Mbak bakal mikir kalau Mbak nolak, itu berarti Mbak jahat lagi.”
Aku menekan ponsel lebih rapat ke telinga.
“Itu bukan bayar utang, Mbak,” katanya. “Itu hidup Mbak.”
Aku duduk di sofa itu lama sekali setelah telepon ditutup.
Ibu keluar dari kamarnya jam sebelas untuk mengambil air, melihatku duduk di kegelapan, dan berhenti.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Lys.”
Aku menoleh.
Perempuan tujuh puluh enam tahun itu berdiri di ambang dapur dengan gelas di tangan, dan dia memandangiku dengan tatapan yang sudah kukenal selama tiga puluh sembilan tahun.
“Ibu tanya sekali, terus Ibu tidur,” katanya. “Kamu takut apa?”
Dan aku duduk di sofa dan menjawab dengan jujur, karena aku sudah lama berhenti punya alasan untuk tidak.
“Aku takut dia dateng,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena kalau dia dateng, aku harus mutusin sesuatu.” Aku memandangi tanganku. “Dan aku udah dua puluh lima tahun nggak pernah mutusin apa-apa buat diri aku sendiri, Bu. Semua yang aku putusin, aku putusin buat bayar.”
Ibu berdiri di ambang dapur.
“Terus?”
“Terus aku nggak tau caranya milih sesuatu cuma karena aku mau.”
Dan ibuku — perempuan yang dua puluh delapan tahun lalu berdiri di dapur lain, di kota lain, dan mengucapkan sebelas kata yang membentuk seluruh hidupku —
perempuan itu mengangkat bahu dan bilang:
“Ya belajar.”
“Bu—“
“Ibu umur enam puluh dua baru belajar ngambang, Lys.” Dia meminum airnya. “Kamu tiga puluh sembilan. Masih kepagian buat nyerah.”
Dan dia menaruh gelasnya di wastafel dan berjalan ke kamarnya.
Di ambang pintu kamarnya, dia berhenti.
“Lys.”
“Iya, Bu?”
“Kalau dia dateng,” katanya, tanpa menoleh, “kamu jangan langsung jawab.”
“Kenapa?”
“Ya minum dulu. Duduk dulu.”
Dia membuka pintunya.
“Orang yang buru-buru jawab tuh biasanya lagi jawab pertanyaan lama.”
Aku tidur nyenyak malam itu.
Dan hari Sabtu berikutnya, jam dua siang, waktu aku sedang di dapur mencuci sayur dan Ibu sedang menonton acara masak dengan volume yang terlalu keras, bel apartemen berbunyi.
Ibu berteriak dari ruang tamu:
“LYS! ADA ORANG!”
“Iya, Bu, bentar!”
Aku mematikan keran, mengelap tangan ke celana, dan berjalan ke pintu.
[Bersambung ke Bab 41 — POV Bintang]