← Chapters Ch. 51 / 51

Chapter Fifty One

Epilog — Sebelah Kiri

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Allysa


Bu Ratna meninggal di umur delapan puluh sembilan, di kamarnya, di pagi hari.

Aku tidak akan menceritakannya panjang-panjang.

Yang akan kutuliskan cuma ini: perempuan itu berenang dua puluh lima meter empat kali seminggu sampai umur delapan puluh tujuh, dan berhenti bukan karena tidak kuat, tapi karena kolamnya tutup dan kolam pengganti terlalu jauh.

Dan dua hari sebelum dia pergi, dia memanggilku ke kamarnya waktu Allysa sedang di dapur.

“Bin.”

“Iya, Bu.”

Dia memegang pergelangan tanganku. Genggamannya lemah.

Dan dia bilang:

“Makasih ya.”

“Buat apa, Bu?”

Dan perempuan delapan puluh sembilan tahun itu bilang:

“Buat nggak nyerah sama anak Ibu.”

Aku duduk di kursi kayu di samping kasurnya — kursi yang dipindahkan dari ruang tamu tiga minggu sebelumnya dan tidak pernah dikembalikan — dan aku memegang tangannya dan tidak bisa bicara.

Dan Bu Ratna menepuk pergelangan tanganku dua kali, pelan, persis seperti seseorang di rumah bercat hijau muda tiga puluh tahun sebelumnya.

“Dia susah,” katanya. “Ibu tau.”

“Bu—“

“Ibu yang bikin dia susah.”

Dan aku bilang, dan aku bersungguh-sungguh dengan seluruh isi dadaku:

“Nggak, Bu. Ibu yang bikin dia bisa berhenti.”


Sekarang aku enam puluh tujuh tahun.

Kami masih di Gubeng. Apartemen yang sama; kami sempat membicarakan untuk pindah ke rumah dan tidak pernah melakukannya, karena setiap kali kami membicarakannya, salah satu dari kami bilang “tapi dapurnya enak” dan pembicaraannya selesai.

Aku sudah tidak menggambar setiap hari. Tanganku tidak sebagus dulu — ada tremor kecil di jari kelingking yang muncul lima tahun lalu — dan aku sudah berhenti melawannya.

Aku menggambar dua kali seminggu. Selalu pagi. Selalu di meja makan.

Allysa pensiun empat tahun lalu dan langsung membuka semacam kelas — bukan kelas resmi, cuma enam orang perempuan muda dari kantor lamanya yang datang tiap dua minggu ke apartemen kami dan duduk di ruang tamu dan bertanya hal-hal tentang pekerjaan dan hidup.

Aku selalu keluar kalau mereka datang. Bukan karena diusir.

Aku keluar karena aku suka lewat di depan pintu waktu pulang dan mendengar enam perempuan tertawa di ruang tamu rumahku.


Kami bicara tentang sepuluh tahun itu kira-kira sekali setahun sekarang.

Tidak direncanakan. Biasanya muncul sendiri — sesuatu di TV, atau nama yang tidak sengaja disebut, atau tanggal.

Dan kami membicarakannya seperti orang membicarakan kota tempat mereka pernah tinggal.

Tidak ada tangis lagi. Sudah lama tidak.

Tapi ada satu percakapan, tiga bulan lalu, yang ingin kutuliskan di sini karena itu percakapan terakhir yang penting.


Kami sedang mencuci piring. Dia yang mencuci sekarang; tanganku sudah tidak bisa memegang piring basah dengan aman.

Dan aku sedang mengelap gelas, dan tanpa alasan apa pun aku bilang:

“Lys.”

“Hm?”

“Kamu inget nggak Jalan Wijaya?”

“Yang mana?”

“Deket kedai kopi. Ada bapak-bapak jualan jeruk, gerobaknya kebalik.”

Air kerannya mati.

Dan Allysa berbalik dengan tangan berbusa dan menatapku.

“Kamu tau soal itu?”

“Aku liat,” kataku.

Dan aku menceritakannya.

Bagaimana aku baru keluar dari kedai kopi dengan gelas plastik di tangan, jengkel karena cetakan halaman tujuh salah warna. Bagaimana aku melihat ke seberang jalan dan melihat perempuan berkemeja kerja berjongkok di trotoar mengumpulkan jeruk dengan tangan.

Bagaimana dia berlari ke tengah jalan mengambil tiga yang menggelinding, dan hampir tertabrak motor.

Bagaimana dia mengelap jeruk yang kotor dengan lengan kemeja kerjanya sendiri.

Bagaimana dia menolak dikasih jeruk.

Allysa berdiri di depan wastafel dengan tangan berbusa dan mendengarkan semuanya tanpa bergerak.

“Bintang,” katanya waktu aku selesai. “Itu tiga puluh tahun lalu.”

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

Dan aku menaruh gelas yang sedang kukeringkan.

“Karena waktu itu aku marah,” kataku.

Dia mengerjap.

“Marah?”

“Marah banget.” Aku menyandarkan pinggang ke meja dapur. “Aku jalan empat kilometer habis itu. Aku mukul tembok kedainya sampai pelayannya noleh.”

“Kenapa?”

Dan aku mengucapkannya — kalimat yang berjalan di kepalaku sepanjang empat kilometer itu, tiga puluh tahun lalu, panas dan pendek dan datang dengan sendirinya:

“Karena aku sadar kamu bisa.”

Allysa menatapku.

“Aku sepuluh tahun nyusun alesan buat kamu,” kataku. “Aku bilang ke diri aku sendiri kamu emang nggak bisa. Kamu nggak pernah diajarin. Ibumu keras, ayahmu pergi, orang kayak gitu emang tumbuh jadi orang yang nggak bisa liat orang lain.”

Aku mengangkat bahu.

“Terus aku berdiri di seberang jalan dan liat kamu jongkok di trotoar berdebu buat orang yang kamu nggak kenal. Nggak ada penonton. Nggak ada aku.”

Aku menatapnya.

“Kamu bisa, Lys. Kamu selalu bisa. Kamu cuma nggak mau — sama aku.”

Dapur itu sunyi.

Dan Allysa mematikan kerannya yang sudah mati, gerakan tanpa arti dari tangan yang tidak tahu harus melakukan apa, lalu mengelap tangannya ke celana.

“Bin,” katanya. “Kamu masih marah?”

Dan aku memikirkannya dengan sungguh-sungguh, karena perempuan itu berhak mendapat jawaban yang benar setelah tiga puluh tahun.

“Enggak,” kataku.

“Beneran?”

“Beneran.” Aku mengambil gelas berikutnya dari rak pengering. “Aku berhenti marah sekitar—“

Aku berhenti, menghitung.

“—sebelas bulan itu,” kataku. “Yang kita cerita dua sisi. Waktu kamu cerita soal ulang tahun tahun kedua.”

“Yang basement.”

“Yang basement.” Aku mengelap gelasnya. “Kamu duduk dua puluh menit di mobil karena kalau kamu naik dan seneng, aku bakal tau aku bisa bikin kamu seneng.”

Aku menaruh gelasnya di rak.

“Itu bukan ‘nggak mau’, Lys. Itu ‘nggak berani’.”

Aku menoleh.

“Aku tiga puluh tahun mikir kamu nggak mau. Ternyata kamu takut. Dan takutnya bentuknya jelek banget sampai keliatan kayak kejam.”

Allysa berdiri di depan wastafel dan menutup mulutnya dengan tangan yang masih setengah basah.

“Itu tetep kejam,” katanya.

“Iya,” kataku. “Tetep kejam. Dua-duanya bener. Bareng.”

Dan dia tertawa — tawa yang basah dan pendek — karena itu kalimat ibunya, kata per kata, dari dapur di kota lain tiga puluh tahun lalu.


Ada satu hal lagi yang kuceritakan malam itu, dan yang ini lebih pendek.

“Lys.”

“Hm?”

“Restoran padang.”

Dia berhenti mengelap.

“Yang mana?”

“Yang sebelas orang. Proyek Lumina.” Aku menatap rak piring. “Kamu bilang aku selalu naruh gelas di sebelah kiri.”

Allysa tidak bergerak.

“Aku ke toilet habis itu,” kataku. “Aku berdiri di depan wastafel empat menit.”

“Kenapa?”

Dan aku bilang:

“Karena itu pertama kalinya ada orang liat aku.”

Perempuan itu menaruh piring yang sedang dipegangnya di meja, pelan sekali, dengan dua tangan.

Lalu dia menarik kursi meja makan dan duduk.

“Aku tau kamu bakal duduk,” kataku.

“Diem.”

“Kamu selalu bilang kamu bakal harus duduk.”

“BINTANG.”

Dan aku tertawa di dapur itu, umur enam puluh tujuh, sampai harus memegang meja.


Pagi ini hari Minggu.

Aku bangun jam enam, seperti empat puluh tahun terakhir. Allysa masih tidur; dia sudah pensiun dan dia menikmatinya dengan cara yang paling tidak sopan.

Aku ke dapur, memasak air, dan menyiapkan sarapan untuk dua orang.

Roti, telur, kopi untukku dan teh untuknya.

Dan waktu aku menaruh piringku di meja, aku mengulurkan tangan ke rak untuk mengambil gelas.

Dan aku berhenti.

Karena gelasnya sudah ada di meja.

Dua gelas. Yang satu di sebelah kanan piringnya.

Dan yang satu lagi — punyaku — sudah ada di sebelah kiri piringku.

Ditaruh semalam. Sebelum tidur. Waktu aku sudah di kamar.

Aku berdiri di dapur itu jam enam pagi memandangi dua gelas di atas meja kayu.

Enam puluh tujuh tahun. Dua kehidupan. Tiga ribu enam ratus lima puluh kali sarapan di meja yang lain, di kota yang lain, di seberang perempuan yang tidak pernah melihat.

Dan gelasnya ada di sebelah kiri.


Aku menoleh waktu mendengar langkah kaki.

Allysa berdiri di ambang dapur dengan rambut berantakan dan wajah orang yang belum sepenuhnya bangun, memakai kaos yang sebenarnya milikku.

Enam puluh enam tahun. Rambutnya sudah putih semua sekarang; dia berhenti mengecatnya lima tahun lalu dan bilang itu merepotkan.

Dia melihat aku berdiri diam di depan meja.

Dan dia melihat ke arah mejanya.

Dan aku melihat wajahnya berubah — dia baru sadar apa yang dia lakukan semalam, dia baru sadar aku sedang melihatnya, dan seluruh wajahnya runtuh dalam dua detik.

“Aku—“ Suaranya hilang. “Aku nggak—“

Dan perempuan itu menangis di ambang pintu dapur jam enam pagi, dengan tangan menutup mulut, dengan kaos yang kebesaran.

Aku berjalan ke arahnya.

Dan aku memeluknya dari belakang waktu dia berbalik setengah, dan aku menaruh daguku di bahunya, dan aku bilang:

“Udah.”

Dia menggeleng.

“Udah, Lys.”

“Bin, aku sepuluh tahun—“

“Aku tau.”

“Aku nggak pernah liat—“

“Aku tau.” Aku mengeratkan pelukanku. “Udah. Nggak apa-apa.”

Dan kami berdiri di dapur itu, dua orang tua di apartemen di Gubeng, jam enam pagi hari Minggu, sampai dia berhenti.

Lalu dia menyeka wajahnya dengan lengan kaosku yang dia pakai, yang mana menyebalkan, dan dia duduk di kursinya.

Dan kami sarapan.


Aku mencuci piringnya sendiri pagi ini, walaupun tanganku tidak boleh, karena dia masih di kamar mandi dan aku ingin.

Dan waktu aku menaruh gelasku di rak pengering, aku memikirkan sesuatu untuk terakhir kalinya, dan aku akan menuliskannya di sini lalu selesai.

Aku mati di perempatan Jalan Kemuning waktu umur tiga puluh empat tahun, dengan koper terikat di jok belakang dan surat empat kalimat di meja makan.

Dan hal terakhir yang kupikirkan — hal paling terakhir, sebelum semuanya jadi putih — bukan hal besar.

Aku ingin pulang dan memindahkan gelas itu ke sebelah kanan. Sekali saja.

Biar dia bingung. Biar dia nanya.

Itu isi kepalaku waktu aku mati. Itu seluruh permintaanku setelah sepuluh tahun.

Supaya ada satu orang yang bertanya.


Dia tidak pernah bertanya.

Butuh dua puluh tahun lagi, di restoran padang, di antara sebelas orang, sambil menuang sambal.

Dan dia tidak bertanya waktu itu juga.

Dia cuma bilang dia melihatnya.

Dan itu ternyata jauh lebih baik dari yang pernah kuminta, dan aku baru mengerti kenapa pagi ini, umur enam puluh tujuh, berdiri di dapur memandangi dua gelas di atas meja kayu.

Pertanyaan itu butuh dijawab.

Kalau dia bertanya kenapa gelasmu selalu di kiri, aku harus menjelaskan. Dan aku akan mengecilkannya, seperti biasa, seperti seumur hidup. Nggak apa-apa. Kebiasaan aja.

Tapi dia tidak bertanya.

Dia cuma menaruh gelasku di sebelah kiri, tiap pagi, selama dua puluh tahun.

Dan itu bukan pertanyaan.

Itu jawaban.


— TAMAT —