← Chapters Ch. 11 / 51

Chapter Eleven

Yang Tidak Bisa Ditarik

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Kirana, Damar, Allysa (lewat pesan)


Aku tidak tidur sampai jam empat pagi.

Bukan karena memikirkan dia. Karena memikirkan diriku sendiri.

Selama tujuh puluh satu hari aku memegang satu hal dengan sangat rapi, dan hal itu adalah ini: aku sudah selesai.

Bukan sombong. Itu observasi. Aku melihat namanya di layar dan tidak terjadi apa-apa di dadaku. Aku membaca pesannya tiap malam dan tidak ada gelombang. Aku bisa berdiri di depannya, mengucapkan makasih dan selamat malam, lalu naik ke kamar dan tidur nyenyak.

Aku bahkan agak bangga. Aku pikir itu bukti bahwa aku sembuh.

Lalu semalam, satu kalimat dari mulutnya — aku cuma nggak mau kamu ngerasa kayak gitu lagi — dan aku mencengkeram jeruji gerbang seperti orang yang mau memanjatnya.

Dan yang keluar dari mulutku bukan cuma bocor.

Yang keluar dari mulutku adalah tagihan.

Kamu bahkan belum sempat nggak nanya waktu Ibu saya meninggal.

Aku memutar ulang kalimat itu di kepalaku sampai pagi, dan tiap putaran rasanya makin memalukan.

Karena begini: kalimat itu tidak keluar dari orang yang sudah selesai.

Orang yang sudah selesai tidak menyimpan urutan. Orang yang sudah selesai tidak punya daftar yang tersusun rapi sampai bisa dicabut satu dalam setengah detik di bawah tekanan. Kalimat itu sudah jadi sebelum semalam. Kalimat itu sudah lama ada di sana, dilipat rapi, menunggu.

Aku sudah menyiapkan tagihan.

Aku cuma belum pernah punya kesempatan menyerahkannya.

Dan yang paling parah — yang membuatku bangun dari kasur jam empat pagi dan berdiri di depan jendela — bukan bahwa aku hampir menyerahkannya.

Tapi bahwa selama setengah detik itu, rasanya enak.

Ada semacam kepuasan hangat waktu melihat wajahnya berubah. Ada bagian di dalam diriku yang menonton dari belakang sambil berkata: nah. Rasakan.

Aku berdiri di depan jendela kos jam empat pagi dan aku menyadari sesuatu yang membuatku mual:

Aku bisa menjadi dia.

Dengan sangat mudah. Aku punya semua bahannya — sepuluh tahun bukti, daftar lengkap, ingatan yang sempurna, dan seorang perempuan yang akan menerima apa pun yang kulempar tanpa membalas.

Aku bisa menghabiskan sepuluh tahun berikutnya membalas sepuluh tahun yang lalu, dan aku akan punya alasan yang bagus untuk setiap tusukannya, dan tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyalahkanku, karena tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu.

Aku menempelkan dahi ke kaca jendela.

Ibu pernah bilang sesuatu waktu aku kelas dua SMP, waktu aku pulang dan bercerita bahwa aku membalas anak yang mengejekku dengan mengejek ayahnya yang baru dipecat.

Ibu tidak marah. Ibu cuma bilang:

“Bin, kalau kamu bales pake cara dia, kamu bukan menang. Kamu cuma nambah satu orang kayak dia di dunia.”

Aku membuat aturan kedua pagi itu, jam empat lewat, sambil berdiri di depan jendela.

Aturan pertama, sebulan lalu di warung kopi: tidak akan pernah lagi menyebut siapa pun bukan siapa-siapa.

Aturan kedua: aku tidak akan pernah menyerahkan tagihan itu.

Tidak sekali pun. Tidak waktu marah, tidak waktu capek, tidak waktu dia pantas menerimanya — dan dia pantas, dia sangat pantas, itu bukan pertanyaan.

Bukan demi dia.

Karena kalau aku menyerahkannya, aku akan menghabiskan sisa hidupku sebagai orang yang punya tagihan. Dan aku sudah pernah menghabiskan sepuluh tahun sebagai orang yang punya sesuatu di dadanya yang tidak bisa dia letakkan.

Aku tidak mau punya apa-apa lagi di sana.


Pesannya masuk jam 01.12.

Maaf ya yang tadi. Aku nggak akan ke sana lagi.

Selamat malam, Bintang.

Aku membacanya jam empat pagi, di depan jendela.

Dan aku menunggu.

Aku menunggu pesan ketiga. Yang isinya kamu inget kan? atau kamu tadi bilang apa? atau — yang paling kutakutkan — aku juga inget.

Tidak ada.

Aku menunggu sampai jam lima. Tidak ada.

Aku memeriksa ponsel lagi jam tujuh, jam sembilan, jam sebelas siang. Tidak ada apa-apa.

Dan aku menghembuskan napas panjang dan berkata pada diriku sendiri: bagus. Dia nggak nangkep.

Aku benar-benar percaya itu.

Aku akan terus percaya itu selama enam bulan lagi.

Kalau ada satu hal yang ingin kukatakan kepada diriku yang berdiri di depan jendela pagi itu, satu hal saja, mungkin ini: perempuan itu tidak pernah bodoh. Tidak sekali pun, tidak dalam dua kehidupan.

Yang tidak dia lakukan bukan menyadari.

Yang tidak dia lakukan adalah memakainya.

Dan itu jenis pengendalian diri yang, waktu itu, aku bahkan tidak tahu ada.


Kabar dari penerbit masuk hari Jumat.

Bukan telepon. Email, dua paragraf, dan aku membacanya di warnet dengan tangan gemetar sampai harus kuletakkan di paha.

Aku tidak menang lombanya. Juara satu jatuh ke perempuan dari Yogya, dan waktu aku melihat karyanya aku setuju — karyanya memang lebih baik, dan aku bisa mengatakan itu tanpa satu pun perasaan pahit, dan itu sendiri sudah terasa seperti kemenangan kecil.

Tapi paragraf keduanya:

Kami ingin menawarkan posisi ilustrator kontrak (6 bulan, dapat diperpanjang) untuk lini buku anak usia 4–8 tahun.

Aku membaca kalimat itu delapan kali.

Lalu aku menelepon Damar, dan Damar berteriak lagi, dan anak SMA di bilik sebelah menoleh lagi, dan aku mulai berpikir mungkin aku harus berhenti menerima kabar baik di warnet.


Hari pertama masuk kerja, Kirana memberiku meja di pojok dekat jendela dan setumpuk naskah setinggi lima belas sentimeter.

“Baca semua,” katanya. “Sampai Jumat.”

“Semua?”

“Semua.” Dia menaruh gelas kopi di mejaku tanpa ditanya. “Kamu harus tau kita nerbitin apa. Nggak bisa gambar buat penerbit yang kamu nggak ngerti seleranya.”

Dia menarik kursi dari meja sebelah dan duduk menghadapku.

“Dan Bintang.”

“Iya?”

“Kamu boleh bilang enggak.”

Aku mengerjap. “Maksudnya?”

“Ke saya. Ke Pak Har. Ke siapa pun di sini.” Dia menunjuk tumpukan naskah itu dengan dagu. “Kalau ada yang nyuruh kamu gambar sesuatu dan kamu ngerasa itu salah, bilang. Kalau deadline-nya nggak masuk akal, bilang. Kalau kamu capek, bilang.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kamu keliatan banget tipe yang nggak akan bilang.” Kirana mengangkat bahu. “Saya udah tujuh tahun di sini. Ilustrator yang nggak pernah bilang enggak itu selalu berhenti di bulan kesembilan. Selalu. Dan gambarnya udah jelek dari bulan keenam, cuma nggak ada yang berani ngomong.”

Dia berdiri, mendorong kursinya kembali ke meja sebelah.

“Saya nggak mau kamu berhenti di bulan kesembilan.”

Lalu dia pergi ke ruangannya.

Dan aku duduk di meja pojok dekat jendela, dengan setumpuk naskah dan gelas kopi yang tidak kuminta, dan aku memandangi punggungnya sampai pintunya tertutup.

Bukan karena berdebar. Sungguh, waktu itu bukan itu.

Tapi karena dalam sepuluh tahun dan tiga bulan, itu pertama kalinya seseorang memberitahuku terlebih dahulu bahwa aku boleh menolak.


Aku pulang jam tujuh malam dan menempelkan gambar baru di tembok kamar kos.

Sekarang ada empat. Meja makan dengan kursi kosong. Anak yang menoleh sebelum bolanya mendarat. Kucing gudang yang matanya belum bisa buka. Dan yang keempat, digambar tadi malam sambil menunggu subuh: jeruji gerbang, dari dalam.

Aku memandanginya agak lama.

Lalu aku menurunkannya, melipatnya dua kali, dan memasukkannya ke laci.

Bukan karena tidak bagus. Justru karena bagus.

Aku sudah memutuskan pagi tadi bahwa aku tidak akan menyimpan tagihan, dan menggantung gambar itu di tembok, tepat di depan kasurku, tempat mataku jatuh tiap malam sebelum tidur — itu namanya menyimpan tagihan.

Ada bedanya antara mengingat dan memelihara.

Aku belum tahu di mana garisnya waktu itu. Aku masih belajar. Aku akan salah berkali-kali di tahun-tahun berikutnya, dan beberapa kesalahannya akan menyakiti orang yang tidak bersalah sama sekali.

Tapi malam itu aku menutup laci, dan aku menganggap itu cukup.

Ponselku bergetar jam 21.08.

Allysa

Selamat ya buat kerjaannya. Aku denger dari Damar.

Aku nggak akan tanya-tanya. Aku cuma seneng.

Aku membacanya jam sebelas, seperti biasa, sebelum tidur.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam tujuh puluh dua hari, ibu jariku turun ke kolom balasan dan mengetik sesuatu.

Satu kata.

Makasih.

Aku menatapnya di layar selama hampir dua menit.

Lalu aku menghapusnya, mengunci ponsel, dan tidur.


[Bersambung ke Bab 12 — POV Allysa]