Chapter Seventeen
Aku Tahu
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Allysa, Bu Ratna (sekilas)
Aku membacanya sampai jam sembilan malam.
Dua ratus tiga belas halaman. Aku tidak melewatkan satu pun. Aku duduk di lantai kamar dengan punggung ke kasur dan membalik halaman demi halaman, dan tiga jam pertama aku tidak merasakan apa-apa yang tidak kuduga.
Karena aku sudah tahu semuanya.
Itu bagian yang harus kalian mengerti. Aku hidup di dalam sepuluh tahun itu. Aku hafal setiap kejadian di dalam buku itu — aku bahkan bisa mengoreksi tanggalnya di beberapa tempat, karena ada dua entri yang urutannya terbalik.
Membacanya seperti membaca ringkasan film yang sudah kutonton seribu kali.
Halaman lima puluh, ulang tahun tahun kedua. Aku bilang “aku udah makan.” Aku belum makan.
Aku sudah tahu dia belum makan. Aku menemukan bungkus roti di tempat sampah kamar keesokan paginya.
Halaman sembilan puluh tiga, pesta Vinka. Aku bilang dia bukan siapa-siapa cuma nebeng. Semua ketawa. Dia ikut ketawa.
Aku sudah tahu. Aku yang tertawa.
Aku membalik halaman demi halaman dan yang kurasakan cuma semacam lelah datar, seperti orang yang membaca berkas kasusnya sendiri di kantor polisi.
Sampai halaman seratus delapan puluh empat.
Tahun 7, Oktober. Aku tau ibunya sakit. Aku tetep minta dianter ke acara kantor.
Aku berhenti.
Aku membacanya lagi.
Lalu aku membacanya lagi, dan lagi, dan aku mendengar suara napasku sendiri di kamar yang sunyi.
Aku tau.
Tiga kata.
Kalian mungkin tidak mengerti kenapa itu yang menghancurkanku, karena kalau dibandingkan dengan entri-entri lain di buku itu, kalimat ini kelihatan kecil. Tidak ada penghinaan di dalamnya. Tidak ada kata kasar.
Jadi biar kujelaskan.
Selama sepuluh tahun, aku bertahan hidup dengan satu bangunan di dalam kepalaku. Bangunannya tidak besar. Cuma satu ruangan, dan di dinding ruangan itu tertulis satu kalimat:
Dia tidak tahu apa yang dia lakukan.
Aku membangunnya di tahun ketiga dan aku merawatnya sampai hari aku mati.
Tiap kali sesuatu terjadi — tiap kali dia menjawab sambil mengetik, tiap kali dia pulang jam sebelas dan bilang sudah makan, tiap kali aku duduk di kamar mandi dengan keran menyala — aku masuk ke ruangan itu dan membaca kalimat di dindingnya.
Dia tidak tahu.
Dia memang begitu orangnya. Dia tidak sadar. Dia sedang capek. Dia tidak pernah diajari cara menunjukkan sayang, ibunya keras, ayahnya pergi. Dia tidak tahu bahwa yang dia lakukan itu menyakitkan.
Dan selama aku bisa mempercayai itu, semuanya masih bisa ditanggung.
Karena kalau dia tidak tahu, maka aku tidak sedang tinggal bersama orang yang menyakitiku. Aku sedang tinggal bersama orang yang tidak beruntung, dan aku sedang bertahan, dan bertahan itu ada gunanya.
Ruangan itu satu-satunya alasan aku sanggup bangun tiap pagi selama tujuh tahun terakhir.
Dan malam itu, di lantai kamar kos, dengan tangannya sendiri, dengan tulisannya sendiri, perempuan itu membakarnya sampai habis.
Aku tau ibunya sakit.
Aku tetep minta dianter.
Aku menutup buku itu.
Aku menaruhnya di lantai.
Lalu aku mengambil ponselku dan menelepon nomor yang belum pernah sekali pun kutelepon dalam satu tahun dua bulan dua puluh satu hari.
Dia mengangkat di dering ketiga. Ada suara sesuatu pecah di belakangnya.
“Bintang?”
“Alamat kamu di mana.”
Hening.
“...Bintang—“
“Alamat kamu. Di mana.”
Rumahnya di gang, dua puluh menit naik ojek. Rumah kecil, satu lantai, catnya krem yang sudah kusam, ada pot cabai di teras.
Dia sudah berdiri di depan pagar waktu aku sampai. Masih memakai baju rumah. Rambutnya tidak diikat.
Aku turun dari ojek dengan buku itu di tangan.
“Bintang, masuk du—“
“Halaman seratus delapan puluh empat.”
Dia berhenti.
Aku membuka bukunya. Tanganku gemetar dan aku tidak peduli.
“‘Aku tau ibunya sakit,‘” bacaku. Suaraku terlalu keras untuk gang jam sepuluh malam. “‘Aku tetep minta dianter ke acara kantor.‘”
Dia tidak bergerak.
“Kamu tau.”
“Iya.”
“Kamu tau.” Aku melangkah maju. “Malam itu. Waktu Ibu nelepon dan aku bilang nanti kutelepon balik karena aku lagi nungguin kamu di parkiran. Kamu tau dia lagi sakit.”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Tiga hari sebelumnya.” Suaranya rata. Dia tidak menunduk. Dia menatapku lurus dan menerima semuanya, dan itu membuatku semakin marah. “Kamu cerita hari Sabtu. Kamu bilang tetanggamu telepon, ibumu masuk rumah sakit dua hari. Aku bilang ‘ya udah, nanti kita liat.‘”
“Aku nggak inget kamu bilang itu.”
“Kamu nggak inget karena aku bilangnya sambil ngetik.”
Ada anjing menggonggong di ujung gang. Ada TV menyala di rumah sebelah.
Dan aku berdiri di sana dengan buku itu di tangan dan aku merasakan sesuatu naik dari perutku yang belum pernah kurasakan seumur hidup, dua kehidupan sekaligus.
Bukan sedih. Bukan sakit.
Marah.
Marah yang murni, panas, dan bersih, tanpa satu pun permintaan maaf yang menempel padanya.
“Kenapa kamu tulis ini,” kataku.
“Karena itu yang kejadian.”
“KENAPA KAMU KIRIM INI KE AKU?”
Suaraku pecah di tengah gang. Lampu teras rumah sebelah menyala.
Dan Allysa — perempuan yang selama sepuluh tahun tidak pernah sekali pun mengangkat wajahnya dari layar untukku — berdiri di depan pagar rumahnya dan tidak mundur satu langkah pun.
“Aku sepuluh tahun,” kataku, dan suaraku mulai tidak stabil, “sepuluh tahun aku bilang ke diri aku sendiri kamu nggak tau. Tiap malam. Tiap kali kamu ngelakuin sesuatu, aku masuk ke kamar mandi dan aku bilang ke diri aku sendiri dia nggak tau, Bin. Dia nggak tau.”
“Bintang—“
“Itu satu-satunya yang bikin aku bisa bangun pagi.” Aku mengangkat buku itu. “Dan kamu ngirim ini.”
Aku melempar buku itu ke tanah, di antara kami.
Halamannya terbuka di suatu tempat di tengah.
“Kamu ngambil itu dari aku,” kataku. “Itu satu-satunya yang aku punya dan kamu ngambilnya juga.”
Dan di situlah, akhirnya, wajah perempuan itu berubah.
Bukan menangis. Sesuatu yang lain — sesuatu yang runtuh dari dalam, pelan, seperti bangunan yang pondasinya sudah lama digerogoti.
“Aku nggak—“ Suaranya hilang. Dia menelan ludah. “Aku nggak kepikiran itu.”
“Ya.”
“Aku beneran nggak kepikiran, Bintang. Aku nulis itu buat aku sendiri, aku nulisnya biar aku nggak boleh lupa, aku nggak pernah—“
Dia berhenti.
Dan kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga sama sekali.
Dia jongkok, memungut buku itu dari tanah, dan berdiri lagi sambil memeluknya ke dada.
“Aku ambil lagi,” katanya cepat. “Aku bakar. Sekarang. Aku ada korek di dalem—“
“Nggak ada gunanya.”
“Aku bisa—“
“ALLYSA.”
Dia berhenti.
“Nggak ada gunanya,” kataku. Suaraku turun. “Aku udah baca. Kamu nggak bisa nariknya lagi.”
Dan kami berdua berdiri di gang itu, jam sepuluh malam, dengan lampu teras tetangga yang menyala dan anjing yang masih menggonggong, dan aku merasakan seluruh marah itu keluar dariku sekaligus seperti air dari ember yang bocor.
Yang tersisa cuma capek.
Aku menyeka wajah dengan lengan.
“Kenapa kamu nggak bilang,” kataku pelan.
“Bilang apa?”
“Semuanya.” Aku mengangkat tangan lalu menjatuhkannya lagi. “Kamu tau aku inget. Kamu tau dari malam itu di gerbang, kan? Yang aku keceplosan soal Ibu.”
Allysa tidak menjawab.
“Kan?”
Dan dia berdiri di sana memeluk buku itu, dan aku melihatnya mengambil napas, dan lalu:
“Aku juga inget.”
Gang itu sunyi.
“Sejak kapan,” kataku.
“Sejak awal.”
Aku menatapnya.
“Empat belas Maret,” katanya. “Jam enam lewat sebelas. Di kamar aku. Sama kayak kamu.”
Aku mundur setengah langkah.
“Kamu—“ Aku menggeleng. “Kamu tau dari hari pertama.”
“Iya.”
“Setahun lebih.”
“Satu tahun, dua bulan, dua puluh satu hari.”
Aku menatap perempuan itu dan sesuatu di kepalaku mulai menyusun ulang seluruh empat ratus empat puluh hari terakhir dengan urutan yang berbeda, dan tiap potongannya jatuh ke tempatnya dengan bunyi yang keras.
Pesan tiap malam yang tidak pernah menuntut apa pun.
Permintaan maaf yang tidak bisa dia jelaskan untuk apa.
Cara dia berhenti datang setelah malam di gerbang itu.
Selebaran lomba, dikirim dengan pintu yang sudah ditutupnya sendiri: aku nggak akan nanya kamu ikut apa nggak.
“Kenapa kamu nggak bilang,” ulangku.
“Karena kalau kamu tau aku inget,” katanya, “semua yang aku lakuin berubah artinya.”
Aku diam.
“Aku bakal jadi orang yang nagih.” Suaranya bergetar sekarang, untuk pertama kalinya. “Yang bilang liat, aku udah berubah, sekarang giliran kamu. Dan aku udah pernah gitu, Bintang. Tahun sembilan. Waktu aku ngelamar kamu di depan orang banyak.”
Aku ingat malam itu.
Aku ingat aku bilang iya, dan aku ingat semua orang bertepuk tangan, dan aku ingat berjalan pulang dengan perasaan yang tidak bisa kunamai selama bertahun-tahun sampai aku mati.
“Itu bukan buat kamu,” katanya. “Itu buat aku. Biar aku ngerasa udah bayar.”
Aku menatap tanah.
“Jadi aku diem,” lanjutnya. “Setahun dua bulan dua puluh satu hari. Karena kalau aku bilang, itu buat aku lagi. Biar bebannya jadi separo. Biar ada orang lain yang tau.”
Dia mengangkat bahu, dan gerakannya kecil sekali.
“Kamu nanggung sendirian setahun lebih tanpa ngeluh. Aku pikir aku bisa juga.”
Kami tidak masuk ke rumah. Kami duduk di trotoar gang, di depan pagar, seperti dua orang bodoh.
Ibunya sempat membuka pintu satu kali, melihat kami, dan menutupnya lagi tanpa bertanya apa-apa.
Aku bicara lebih dulu setelah entah berapa lama.
“Aku mau nanya satu hal.”
“Iya.”
“Dan aku mau jawaban yang jujur, walaupun jelek.”
“Iya.”
Aku memandangi aspal di antara sepatuku.
“Kamu sayang aku nggak? Waktu itu.”
Aku merasakan dia menoleh.
“Iya.”
“Sepuluh tahun?”
“Sepuluh tahun.”
“Dari awal?”
“Dari sebelum awal.”
Aku menutup mata.
Dan di sinilah aku harus jujur tentang sesuatu yang tidak enak: aku berharap dia bilang tidak.
Aku ingin sekali dia bilang tidak. Aku ingin dia bilang dia tidak pernah mencintaiku, bahwa aku cuma nyaman, bahwa dia terlalu malas untuk mengakhirinya.
Karena kalau begitu, sepuluh tahun itu jadi masuk akal. Kejam, tapi masuk akal.
“Terus kenapa,” kataku.
Allysa diam sangat lama.
“Karena kalau aku nunjukin,” katanya akhirnya, “kamu jadi punya kuasa buat ngancurin aku.”
Aku membuka mata.
“Ibuku ninggalin semuanya buat Ayah,” lanjutnya, memandangi ujung gang. “Terus Ayah pergi. Terus Ibu nggak bisa berdiri selama dua tahun. Aku umur sembilan tahun dan aku liat itu tiap hari.”
“Jadi kamu—“
“Aku ngecilin kamu.” Suaranya rata lagi, dan justru itu yang membuatnya mengerikan. “Pelan-pelan. Tiap tahun dikit. Biar pas kamu pergi nanti, kehilangan kamu nggak bakal bunuh aku.”
Aku menoleh dan menatap sisi wajahnya.
“Itu asuransi,” katanya. “Tiap kali aku nyakitin kamu, itu asuransi.”
Aku tidak bisa bicara selama mungkin satu menit.
“Terus?” kataku akhirnya. “Berhasil?”
Allysa menoleh.
Dan untuk pertama kalinya malam itu — untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan — aku melihat perempuan itu menangis di depanku.
“Aku nggak bisa berdiri dari lantai dapur selama dua hari,” katanya.
Aku pulang jam satu pagi.
Sebelum naik ojek, aku berdiri di depan pagar dan mengatakan satu hal terakhir, dan aku sudah memikirkannya selama setengah jam terakhir sambil duduk di trotoar itu.
“Aku nggak bisa ngasih kamu apa-apa.”
Allysa mengangguk. “Aku tau.”
“Aku serius, Lys.” Aku menatapnya. “Bukan aku lagi ngambek. Bukan aku lagi mikir-mikir. Yang dulu ada di aku buat kamu itu udah nggak ada. Bukan pindah, bukan disimpen. Nggak ada.”
“Aku tau.”
“Dan aku nggak akan nagih ke kamu.” Aku menelan ludah. “Aku udah janji sama diri aku sendiri setahun lalu. Aku nggak akan pernah ngungkit apa pun dari sepuluh tahun itu ke kamu. Malam ini aku ngelanggar. Nggak akan ada lagi.”
Perempuan itu menangis diam-diam sambil memeluk bukunya sendiri.
“Aku nggak akan ngusir kamu,” kataku. “Kamu boleh kirim pesan. Kamu boleh ada. Aku nggak akan blokir kamu.”
Aku memakai helm ojek.
“Tapi jangan berharap.”
Dan aku pergi.
[Bersambung ke Bab 18 — POV Allysa]