← Chapters Ch. 31 / 51

Chapter Thirty One

Empat Puluh Menit

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Allysa, Kirana, Damar


Empat puluh hari setelah Ibu meninggal, aku kembali ke rumah itu sendirian untuk membereskan barang-barangnya.

Kirana menawarkan ikut. Aku bilang tidak.

Itu penolakan pertamaku kepadanya yang bukan karena jadwal, dan aku tahu persis apa yang kulakukan waktu mengucapkannya, dan aku tetap mengucapkannya.

Dia bilang, “Oke.”

Dan dia tidak mengungkitnya lagi.

Kalau aku bisa kembali ke satu hari dalam hidupku dan mengubahnya, mungkin hari itu.


Rumah kosong itu bukan seperti yang kubayangkan.

Aku sudah menyiapkan diri untuk sesuatu yang sunyi dan berat. Ternyata yang paling sulit bukan sunyinya.

Yang paling sulit adalah barang-barangnya masih sedang dipakai.

Ada gelas di rak piring yang belum kering benar. Ada benang jahit yang masih terpasang di jarum, setengah jalan menyelesaikan jahitan di kerah kemeja anak tetangga. Ada obat di meja dengan tiga butir tersisa di strip.

Rumah itu tidak terlihat seperti rumah orang yang meninggal. Terlihat seperti rumah orang yang keluar sebentar ke pasar.

Aku duduk di lantai ruang tengah selama satu jam sebelum bisa mulai.


Aku menemukan kardusnya sore hari, di atas lemari, di bawah tumpukan kain.

Kardus bekas mi instan, ditutup dengan lakban yang sudah menguning. Di sisinya, tulisan tangan Ibu dengan spidol:

BINTANG

Aku menurunkannya dan membukanya di lantai.

Isinya gambar.

Semuanya. Semua gambar yang pernah kubuat dari umur enam sampai lulus SMA. Gambar di kertas buku tulis, gambar di kertas bungkus, gambar di belakang kalender bekas.

Ada seratusan lembar. Mungkin lebih.

Dan di bagian bawah kardus, dilipat rapi, ada kertas yang lebih besar dari yang lain.

Aku membukanya.

Gambar tembok belakang lemari. Bukan gambar tembok — potongan tembok yang sebenarnya, dilepas. Ibu memotong bagian belakang lemari kayu itu waktu lemarinya dibuang, dan menyimpan potongannya.

Di situ ada gambar yang kubuat waktu umur delapan tahun. Kereta api. Jelek sekali. Perspektifnya kacau dan salah satu gerbongnya lebih besar dari lokomotifnya.

Dan di sudut potongan kayu itu, tulisan tangan Ibu, pensil, kecil sekali:

Bintang, 8 tahun. Bagus.

Aku duduk di lantai rumah kosong itu memegang potongan tembok lemari dan menangis sampai gelap.


Aku menelepon Allysa jam delapan malam.

Aku ingin sangat jelas tentang urutannya, karena penting: aku menelepon dia. Bukan sebaliknya.

Dan aku tidak merencanakannya. Aku duduk di lantai dengan kardus terbuka di depanku, dan aku sudah menelepon Kirana satu jam sebelumnya dan bicara dua puluh menit dan menutup telepon dengan perasaan yang tidak berkurang sedikit pun.

Karena aku tidak bisa mengatakan bagian yang paling penting.

Aku tidak bisa bilang: Ran, perempuan ini nyimpen gambar-gambar gue selama dua puluh lima tahun. Dan di dunia yang satunya dia mati sendirian sambil nunggu gue telepon balik, dan kardus ini tetep ada di atas lemari itu, dan nggak ada yang pernah bukain.

Ada satu orang di dunia yang tidak perlu diberi penjelasan.

Deringnya dua kali.

“Bintang?”

“Kamu sibuk?”

“Nggak.” Suaranya langsung berubah. “Kenapa?”

Dan aku duduk di lantai rumah kosong itu dan membuka mulut dan tidak ada yang keluar.

Hening di telepon selama mungkin lima belas detik.

Dan perempuan itu tidak mengisi keheningannya. Tidak bertanya lagi. Tidak bilang “halo?”. Dia cuma menunggu.

“Aku nemu kardus,” kataku akhirnya.

“Kardus apa?”

“Gambar-gambar aku. Dari umur enam.”

Aku mendengar dia menarik napas di seberang.

“Ibu nyimpen semuanya,” kataku. “Sampai potongan tembok lemari. Ada tulisannya. Bintang, delapan tahun. Bagus.

Hening lagi.

Lalu, sangat pelan:

“Bintang.”

“Hm.”

“Dia mati nggak liat itu semua.”

Bukan pertanyaan.

Dan aku menutup mata dan menekan ponsel lebih rapat ke telinga, karena tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa mengucapkan kalimat itu — kalimat tentang perempuan yang mati di dunia yang tidak pernah ada — tanpa aku harus menjelaskan apa-apa.

“Iya,” kataku.

“Sekarang dia liat.”

“Iya.”

Kami tidak bicara selama beberapa saat.

“Bintang,” katanya. “Aku boleh nanya satu hal? Kamu boleh nggak jawab.”

“Boleh.”

“Ibu kamu suka apa?”

Aku mengerjap.

“Maksudnya?”

“Ya suka apa.” Suaranya biasa saja. “Makanan, lagu, apa aja. Aku nggak pernah tau apa-apa tentang dia.”

Dan aku duduk di lantai rumah kosong ibuku dan mulai bercerita.

Aku bercerita selama satu jam empat puluh menit.

Tentang sinetron jam tujuh dan bagaimana dia mengomentari pemainnya keras-keras seolah mereka bisa dengar. Tentang harga cabai. Tentang kucing gudang yang matanya sebelah. Tentang bagaimana dia tidak pernah mau duduk di dapur dan selalu berdiri, sampai dua tahun terakhir waktu kakinya sudah tidak kuat. Tentang kebaya dengan kancing yang tidak sama satu. Tentang Monas.

Tentang bagaimana dia menarik kembali kalimat yang sudah dia ucapkan selama dua puluh lima tahun, dua hari sebelum meninggal.

Allysa tidak menyela satu kali pun.

Dia cuma bergumam sesekali supaya aku tahu dia masih di sana, dan dua kali dia tertawa kecil, dan sekali aku mendengar dia menarik napas dengan cara yang membuatku tahu dia sedang menangis dan tidak mau aku tahu.

Dan waktu aku selesai, jam sepuluh lewat, dia bilang:

“Makasih ya.”

Aku mengerjap.

“Buat apa?”

“Buat cerita.”

Dan aku duduk di lantai dan tidak bisa menjawab, karena perempuan itu baru saja berterima kasih kepadaku karena aku membiarkannya mendengarkan.

“Bintang.”

“Hm.”

“Aku tutup ya. Kamu tidur.”

“Iya.”

“Selamat malam.”

“Lys.”

“Hm?”

Aku memandangi kardus terbuka di lantai.

“Kamu di parkiran, hari itu.”

Hening panjang di seberang.

“Iya,” katanya akhirnya.

“Kenapa nggak masuk?”

Dan dia menjawab tanpa ragu sedikit pun, seperti orang yang sudah menyiapkan jawabannya berbulan-bulan:

“Karena kalau aku masuk, kamu bakal tau aku dateng.”

Aku menekan pangkal telapak tangan ke mata.

“Ya udah,” katanya. “Selamat malam, Bintang.”

Dan dia menutup telepon lebih dulu.


Aku pulang ke Jakarta hari Minggu.

Dan hari Senin, Kirana masuk ke ruanganku, menutup pintunya, dan duduk.

“Bintang.”

“Hm?”

“Kamu telepon dia.”

Aku menaruh penaku.

Dan ini bagian yang harus kutulis dengan jujur, karena kalau aku menghaluskannya, aku sedang berbohong tentang orang yang tidak layak dibohongi bahkan di dalam tulisan:

Aku tidak menyangkalnya.

Tapi aku juga tidak menceritakan apa-apa.

“Iya,” kataku.

“Dua jam.”

“Iya.”

Kirana menatapku.

“Aku nggak marah,” katanya, dan aku tahu itu benar. “Aku nggak curiga. Aku bukan lagi nuduh kamu selingkuh, Bin, sumpah.”

“Aku tau.”

“Aku cuma—“ Dia berhenti. Dia menggosok dahinya. “Malam itu kamu telepon aku dua puluh menit.”

“Iya.”

“Terus habis itu kamu telepon dia dua jam.”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak nanya siapa dia buat kamu,” katanya. “Aku udah lama tau jawabannya bukan yang aku takutin.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Yang aku mau tau: kenapa dua puluh menit sama aku, terus dua jam sama dia?”

Dan aku duduk di kursi itu dan tahu persis jawabannya, dan tahu persis bahwa jawabannya tidak bisa kuucapkan, dan tahu persis apa artinya bahwa jawabannya tidak bisa kuucapkan.

“Ran—“

“Jangan bilang ‘belum bisa’.” Suaranya tidak keras. Itu yang paling menyakitkan; suaranya sama sekali tidak keras. “Tolong. Empat tahun, Bintang. Jangan yang itu lagi.”

Kantor di luar ruangan itu berisik. Ada telepon berdering di meja seseorang.

“Aku nggak bisa cerita ke kamu,” kataku. “Bukan karena aku nggak percaya kamu. Karena kalau aku cerita, kamu bakal mikir aku sakit.”

Kirana mengerjap.

“Sakit gimana?”

“Sakit yang perlu dokter.”

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan itu tidak punya jawaban cepat.

Dia duduk di kursi seberangku dan memandangiku dengan wajah yang perlahan berubah — dan yang muncul di sana bukan takut, bukan curiga.

Sedih.

“Bin,” katanya pelan. “Kamu tau nggak kenapa itu jawaban yang paling parah?”

“Kenapa?”

“Karena artinya kamu udah nimbang-nimbang.” Dia mengangkat bahu, kecil sekali. “Kamu udah bayangin gimana reaksi aku. Kamu udah simulasi. Terus kamu putusin aku bakal gagal.”

Aku membuka mulut.

“Dan kamu putusin itu sendirian,” lanjutnya, “tanpa pernah ngasih aku kesempatan buat nunjukin aku bisa apa nggak.”

Dia berdiri.

“Aku nggak marah, Bintang. Aku beneran nggak marah.”

Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di gagang.

“Aku cuma capek jadi orang yang kamu nggak percaya bakal nampung.”

Dan dia keluar.


Kalimat itu.

Kalimat itu persis.

Kirana tidak pernah berada di ruangan itu. Dia tidak pernah mendengar percakapan di ruang tengah rumah bercat hijau muda, bulan kesembilan, waktu aku berdiri di dapur dengan tangan basah dan mematikan keran.

Dia nggak percaya ada yang bakal nampung. Dari kecil dia gitu. Salah Ibu.

Dua perempuan, terpisah enam jam perjalanan, sama sekali tidak berhubungan, menemukan hal yang sama di dalam diriku dan menyebutnya dengan kata yang sama persis.

Aku duduk di ruanganku setelah pintunya tertutup dan menatap tembok cukup lama.

Dan aku tahu, saat itu juga, bahwa aku sedang kehilangan sesuatu.

Aku tahu, dan aku bisa berdiri dan mengejarnya ke lorong, dan aku bisa menceritakan semuanya hari itu juga — semuanya, dari 14 Maret sampai perempatan Jalan Kemuning — dan membiarkan perempuan itu memutuskan sendiri apakah dia sanggup atau tidak.

Itu yang seharusnya kulakukan.

Aku tidak melakukannya.

Aku duduk di kursi itu, dan aku bekerja sampai jam tujuh, dan malamnya aku mengirim pesan yang isinya maaf ya tadi dan dia membalas nggak apa-apa — dua kata, yang bentuknya sudah kukenal seumur hidupku, dari dua kehidupan.

Dan kami melanjutkan enam bulan lagi setelah itu.


[Bersambung ke Bab 32 — POV Allysa]