← Chapters Ch. 25 / 51

Chapter Twenty Five

Ibu Datang ke Jakarta

POV: Bintang

Karakter: Bintang, Bu Sri, Kirana, Damar


Ibu belum pernah ke Jakarta.

Enam puluh tiga tahun, dan belum pernah. Ayahku yang membawanya ke kota ini sekali waktu mereka baru menikah, tapi itu tahun delapan puluhan dan mereka cuma sampai terminal.

Aku sudah mengajaknya dua puluh kali dalam empat tahun terakhir. Jawabannya selalu sama: nanti, kalau ada waktu. Padahal perempuan itu tidak punya jadwal apa pun kecuali pasar dan sinetron jam tujuh.

Yang akhirnya membuatnya mau bukan ajakanku.

Buku itu menang.

Penghargaan tahunan untuk buku anak, kategori ilustrasi. Bukan penghargaan besar — tidak ada uangnya, dan acaranya di ruang serbaguna sebuah gedung kebudayaan dengan kursi lipat.

Aku menelepon Ibu untuk memberitahu, dan aku sudah siap mendengar “ya ampun” dan lalu cerita tentang harga cabai.

Yang kudengar malah:

“Acaranya kapan?”

“Tanggal delapan belas, Bu.”

“Ibu ikut.”

Aku hampir menjatuhkan ponselku.


Aku menjemputnya di terminal Kampung Rambutan jam enam pagi.

Dia turun dari bus dengan tas plastik besar dan satu kardus yang diikat rafia, dan dia sudah berkeringat, dan hal pertama yang dia katakan setelah empat tahun aku menjadi orang yang menelepon tiap Minggu adalah:

“Ini rendang. Sama kripik. Jangan dimakan sendiri, kasih temen-temen kamu.”

“Bu, ini berat banget.”

“Ya makanya kamu bawa.”

Aku membawanya.

Dan di dalam angkot menuju kos-kosanku, dengan kardus di pangkuan dan Ibu duduk di sebelahku memandangi jendela, aku menoleh dan melihat wajahnya.

Perempuan itu sedang melihat gedung-gedung.

Kepalanya sedikit mendongak, mulutnya sedikit terbuka, dan matanya bergerak mengikuti bangunan yang lewat seperti anak kecil.

Aku memalingkan wajah ke jendela di sisiku sendiri dan menekan pangkal telapak tangan ke mata.

Karena aku ingat sesuatu.

Di kehidupan pertamaku, aku pernah mengajaknya juga. Sekali. Tahun kelima. Aku bilang, “Bu, ke Jakarta yuk, nginep di tempat aku.”

Dan Ibu bilang, “Boleh.”

Dan aku pulang ke apartemen malam itu dan menyampaikannya, dan Allysa sedang di meja makan dengan laptop, dan dia bilang — tanpa mengangkat wajah, dengan nada yang benar-benar biasa saja:

“Nginep di mana? Kamarnya kan cuma satu.”

Dan aku bilang, “Oh iya ya.”

Dan itu saja. Selesai. Aku tidak pernah mengajaknya lagi.

Dua tahun kemudian dia meninggal tanpa pernah melihat gedung-gedung ini.


Acaranya jam tujuh malam dan Ibu sudah siap sejak jam empat.

Dia memakai kebaya. Kebaya yang sama dengan yang dia pakai ke pemakaman Ayah, aku tahu karena aku ingat kancingnya yang tidak sama satu.

Dan dia duduk di tepi kasur kos-kosanku sejak jam empat sampai jam enam, tegak, dengan tas kecil di pangkuan, seperti orang menunggu di ruang tunggu rumah sakit.

“Bu, masih dua jam.”

“Ibu tau.”

“Duduk santai aja.”

“Ini santai.”

Aku menyerah dan ikut duduk di sebelahnya.

Kami diam beberapa saat.

“Bin.”

“Iya?”

“Nanti Ibu duduk di mana?”

“Di depan. Aku udah bilangin panitianya.”

“Jangan depan-depan banget.”

“Kenapa?”

Ibu membenahi tasnya di pangkuan.

“Ibu nggak biasa,” katanya.

Dan aku duduk di sebelah perempuan itu di kamar kos-kosan Jakarta jam empat sore, dan aku menyadari sesuatu yang seharusnya sudah kusadari puluhan tahun lalu:

Semua yang ada di dalam diriku — kebiasaan mengecilkan diri, kebiasaan mengecek dulu apakah aku merepotkan, kebiasaan berdiri di pinggir ruangan — semua itu tidak datang dari mana-mana.

Perempuan ini juga punya.

Dia mewariskannya kepadaku tanpa pernah tahu, sama seperti seorang ibu lain di rumah bercat krem di seberang kota mewariskan sesuatu yang lain kepada anak perempuannya di dapur lima belas tahun lalu.

Tidak ada yang jahat. Tidak ada satu pun yang berniat.

Cuma orang-orang yang menyerahkan apa yang mereka punya, termasuk yang patah.

“Bu.”

“Hm.”

“Ibu duduk di depan,” kataku. “Aku mau Ibu di depan.”

Ibu menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kalau nggak ada Ibu, nggak ada bukunya.”

Perempuan itu memandangiku beberapa detik.

Lalu dia menoleh ke depan lagi, membenahi tasnya lagi, dan bilang, dengan suara yang berusaha keras terdengar biasa:

“Ya udah.”

Dan aku melihat tangannya bergetar sedikit di atas tas itu.


Kirana datang jam setengah tujuh.

Dia berlari kecil dari parkiran, memakai gaun yang jelas dibeli buru-buru, rambutnya untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya diikat rapi.

Dia berhenti di depan kami dan langsung menunduk hormat.

“Ibu! Halo, Bu! Saya Kirana.”

Dan Ibu — yang seumur hidupnya berbicara dengan tiga puluh orang saja di kampung dan tidak pernah bertemu perempuan Jakarta yang berlari sambil memegang gaunnya — Ibu berdiri dan menyalami tangannya dengan dua tangan.

“Ya ampun. Cantiknya.”

“Ah, Ibu bisa aja.”

“Kamu yang suka nyuruh anak saya tidur ya?”

Kirana tertawa keras.

“Iya Bu! Dia susah banget dibilangin!”

“Ya makanya,” kata Ibu. “Ibu udah bilangin dari kecil.”

Dan mereka mulai bicara — di lorong gedung kebudayaan, sepuluh menit sebelum acara — dan mereka tidak berhenti selama dua puluh menit, dan aku berdiri di sebelah mereka seperti orang asing.

Dan aku bahagia.

Aku perlu menuliskannya dengan jelas karena ini akan penting nanti: malam itu aku bahagia. Bukan lega. Bukan tenang. Bahagia, dengan bentuk yang penuh, tanpa satu pun sudut yang kosong.

Ibuku hidup, memakai kebaya, duduk di barisan depan.

Perempuan yang kucintai duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya waktu namaku dipanggil.

Damar dan istrinya duduk dua baris di belakang, dan Damar bersorak terlalu keras sampai ditegur panitia.

Aku naik ke atas panggung kecil itu dengan kursi lipat di depanku dan mikrofon yang berdengung, dan aku bicara empat puluh detik, dan yang kukatakan cuma:

“Buku ini tentang anak kucing di gudang rumah ibu saya. Ibu saya ada di sini malam ini. Baru pertama kali ke Jakarta.”

Dan aku menunjuk ke barisan depan.

Dan tiga ratus orang menoleh dan bertepuk tangan ke arah perempuan berkebaya dengan kancing yang tidak sama satu, dan perempuan itu menunduk-nunduk dengan panik dan menutup wajahnya dengan tas kecilnya.


Kami makan malam bertujuh setelah acara. Aku, Ibu, Kirana, Damar, istrinya, dan dua orang dari kantor.

Ibu bercerita tentang aku waktu kecil selama empat puluh menit dan tidak ada yang menghentikannya.

“Dia tuh dari kecil suka gambar di tembok. Ibu marahin. Terus dia gambar di belakang lemari biar nggak ketauan.”

“Ya ampun,” kata Kirana. “Terus ketauan?”

“Ketauan pas lemarinya dipindah. Sepuluh tahun kemudian.”

Semua tertawa.

“Terus gimana, Bu?” tanya Damar.

Ibu berhenti sebentar.

“Ya Ibu diem aja,” katanya. “Bagus soalnya.”

Dan aku menunduk ke piringku dan tidak bisa mengangkat wajah selama beberapa detik.

Malam itu, di angkot pulang, Ibu tertidur di bahuku.

Dan aku duduk di angkot yang berhenti-berhenti sepanjang Jalan Fatmawati dengan kepala ibuku di bahuku, dan aku berpikir — dengan sangat jelas, dengan seluruh kejujuran yang kupunya waktu itu:

Ini cukup. Ini semua yang aku mau. Aku nggak butuh apa-apa lagi.

Aku benar-benar berpikir begitu.

Dan aku salah, dan aku baru akan tahu bahwa aku salah tiga tahun kemudian, dan yang membuatku tahu bukan sesuatu yang besar.

Cuma satu kabar baik yang tidak tahu harus kuberitahukan ke siapa.


Ibu tinggal empat hari.

Hari kedua, Kirana mengajaknya ke Monas. Aku tidak ikut; ada tenggat. Mereka pergi berdua, jam delapan pagi, dan pulang jam empat sore dengan dua kantong oleh-oleh dan wajah Ibu yang merah terbakar matahari.

Malamnya, waktu Kirana sudah pulang, Ibu duduk di tepi kasur dan bilang:

“Bin.”

“Iya?”

“Kirana bagus.”

“Iya.”

“Kamu nikahin.”

Aku sedang mencuci gelas di wastafel kecil kamar kos. Aku berhenti.

“Iya, Bu. Nanti.”

“Nanti kapan?”

“Belum siap aja.”

Ibu diam beberapa saat.

“Bin, sini duduk.”

Aku duduk.

Dan perempuan itu menatapku dengan tatapan yang sudah kukenal seumur hidupku, tatapan yang bisa membaca apa pun yang kucoba sembunyikan sejak umur enam tahun.

“Ibu nggak akan nanya lagi soal ini,” katanya. “Ibu udah pernah bilang di telepon, dan Ibu nggak mau jadi ibu-ibu yang ngomel.”

“Iya.”

“Tapi Ibu mau kamu tau satu hal.”

“Iya, Bu.”

Ibu memandangi tangannya sendiri.

“Waktu Ayah kamu meninggal,” katanya, “Ibu nggak nangis di pemakaman. Kamu inget nggak?”

“Inget.”

“Semua orang bilang Ibu kuat.” Dia mengangkat bahu. “Padahal bukan. Ibu marah.”

Aku menunggu.

“Ibu marah karena Ibu nggak pernah bilang ke dia,” lanjutnya. “Dua puluh tiga tahun. Ibu nggak pernah bilang.”

“Bilang apa?”

Ibu mengangkat wajahnya.

“Ya bilang,” katanya. “Yang harusnya dibilang.”

Dan dia berdiri, dan dia mengambil handuk dari gantungan, dan dia berjalan ke kamar mandi seperti orang yang baru saja membicarakan harga cabai.

“Ibu mandi dulu.”

Pintunya tertutup.

Aku duduk di tepi kasur di kamar kos itu sangat lama.


Aku mengantar Ibu ke terminal hari Minggu.

Dia memelukku di depan pintu bus — dan itu sendiri sudah aneh, karena kami bukan keluarga yang berpelukan, karena kami tidak pernah diajari.

“Bu.”

“Hm.”

“Ibu sehat kan?”

“Sehat.”

“Beneran?”

“Ya sehat. Kenapa toh?”

Aku tidak tahu kenapa aku bertanya.

Aku ingin menuliskannya sebagai firasat, tapi itu bohong. Tidak ada firasat. Aku bertanya karena aku selalu bertanya, karena empat tahun terakhir aku bertanya tiap Minggu di telepon, karena aku sudah kehilangan perempuan ini sekali dan aku tidak akan pernah berhenti memeriksa.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Ibu menepuk pipiku dua kali dengan telapak tangannya.

“Kamu kurusan,” katanya. “Makan.”

Lalu dia naik ke bus.

Dan aku berdiri di terminal Kampung Rambutan sampai busnya keluar dari peron, dan aku melambaikan tangan walaupun kacanya gelap dan aku tidak tahu apakah dia melihat.

Dua bulan kemudian dia menelepon dan bilang batuknya tidak sembuh-sembuh sejak pulang dari Jakarta, dan dia menyalahkan polusi, dan kami tertawa membicarakannya.

Empat bulan kemudian aku duduk di lorong rumah sakit dengan lembar hasil pemeriksaan di tangan.


[Bersambung ke Bab 26 — POV Allysa]