Chapter Forty Seven
Lunas
POV: Bintang
Karakter: Bintang, Allysa, Bu Ratna
Bu Ratna pergi ke kolam renang jam dua siang dan tidak pulang sampai jam enam.
Aku tahu itu bukan kebetulan, karena perempuan itu tidak pernah berenang hari Sabtu.
Dia berhenti di ambang pintu sebelum keluar, memakai sandalnya, dan menoleh ke arah kami berdua yang duduk di meja makan.
“Ibu berenang,” katanya.
“Bu, ini hari Sabtu—“
“Ya Ibu tau ini hari Sabtu, Lys.”
Dan dia keluar dan menutup pintu.
Aku sudah menyusun kalimatnya selama seminggu di kereta.
Dan waktu duduk di meja makan itu, dengan perempuan itu di seberangku dan pintu yang baru saja tertutup, aku membuang seluruh susunannya dan mulai dari tempat yang paling awal.
“Lys,” kataku. “Aku mau cerita tentang Ibu.”
Dia mengerutkan kening.
“Ibu kamu?”
“Iya.”
“Bintang, kita udah—“
“Belum.” Aku menggeleng. “Ada satu bagian yang belum pernah aku ceritain. Ke siapa pun. Dua kehidupan.”
Aku menaruh kedua tanganku di meja.
“Ibu tuh punya satu kalimat,” kataku. “Yang dia ucapin ke aku dari aku kecil sampai aku dewasa.”
“Kalimat apa?”
Dan aku mengucapkannya.
“Kamu jangan ngerepotin ya, Bin.”
Aku menceritakan bentuknya.
Bagaimana dia mengucapkannya sambil membenahi kerah bajuku sebelum berangkat sekolah. Sambil menyisir rambutku. Sambil menyerahkan bekal. Sebelum aku main ke rumah teman, sebelum aku ikut kegiatan sekolah, sebelum apa pun.
Ratusan kali. Mungkin ribuan.
Dan tiap kali dengan sayang. Itu bagian yang paling penting dan yang paling sulit dijelaskan — tidak ada satu pun kali di mana perempuan itu mengucapkannya dengan jengkel.
Dia mengucapkannya dengan sayang, sambil membetulkan kerah bajuku, karena dia takut.
Perempuan itu sendirian, tidak punya apa-apa, dan dia takut orang-orang menganggapnya tidak becus. Jadi dia memastikan anaknya tidak pernah menyusahkan siapa pun.
Dia mengakuinya sendiri, dua hari sebelum meninggal, dengan napas yang tersangkut di dadanya.
Dan dia menariknya kembali.
Ibu tarik. Kamu ngerepotin aja, Bin. Yang banyak. Yang sering. Sampai orangnya kesel.
Ngerepotin orang itu boleh. Itu bukan dosa. Ibu salah.
Allysa mendengarkan semuanya tanpa menyela.
Dan waktu aku selesai, dia bilang, pelan:
“Aku tau.”
Aku mengangkat wajah.
“Kamu cerita ke aku,” katanya. “Waktu telepon, di rumah ibu kamu. Malam kamu nemu kardus.”
“Iya.”
“Aku nulis itu di surat.”
“Aku tau.” Aku menatapnya. “Itu sebabnya aku di sini.”
“Lys,” kataku. “Aku mau kamu itung sesuatu.”
“Itung apa?”
“Berapa umur aku waktu Ibu mulai ngomong gitu?”
Dia mengerutkan kening. “Kecil. Kamu bilang dari kamu kecil.”
“Lima. Mungkin empat.” Aku mengangguk. “Aku inget dia ngomong gitu waktu aku TK.”
“Terus?”
“Terus aku ketemu kamu umur berapa?”
Allysa berhenti.
Aku bisa melihat detik persisnya — bisa melihat wajahnya berubah waktu angka itu bertemu di kepalanya.
“Dua puluh tiga,” katanya.
“Dua puluh tiga,” ulangku.
Aku mencondongkan badan ke meja.
“Delapan belas tahun, Lys.”
Dia tidak bicara.
“Delapan belas tahun sebelum kamu ada,” kataku. “Sebelum kamu tau nama aku. Sebelum kamu lahir dari kota mana pun kamu lahir.”
Aku mengetuk meja sekali dengan buku jari.
“Aku udah jadi orang yang percaya bahwa keberadaan aku itu ngerepotin.”
Dan aku melihat sesuatu di wajah perempuan itu mulai retak.
“Bintang—“
“Belum selesai.”
“Lys, aku mau kamu denger ini dan aku mau kamu nggak motong sampai aku habis, karena aku butuh dua puluh enam tahun buat nyusunnya.”
Dia mengangguk. Tangannya sudah menutup mulutnya.
“Waktu aku pindah ke apartemen kamu,” kataku, “kamu nggak maksa aku. Kamu nawarin. Aku yang bilang iya.”
“Bintang—“
“Waktu aku dapet kerja di Bandung, kamu diem dua hari.” Aku menatapnya lurus. “Kamu nggak ngelarang. Kamu diem. Dan aku yang nolak tawarannya. Dengan tangan aku sendiri. Aku yang nulis emailnya.”
Air mata sudah jatuh di wajahnya dan dia tidak menyekanya.
“Waktu aku berhenti gambar,” lanjutku, “kamu bilang satu kalimat. Satu. Kamu bilang muka aku lucu kalau lagi ngegambar.”
Aku mengangkat tanganku.
“Kamu ngomong itu sambil lewat, Lys. Kamu nggak berhenti. Kamu nggak bermaksud apa-apa.”
Aku menjatuhkan tanganku lagi.
“Dan aku ambil kalimat itu. Aku bawa pulang. Aku rawat lima tahun. Terus aku kasih dia kunci ke seluruh rumah, dan aku tutup kardus gambar aku pake lakban, dan aku angkat ke gudang.”
Aku menelan ludah.
“Kamu nggak pernah nyentuh kardus itu. Aku yang ngangkat. Aku yang beli lakbannya.”
Meja makan itu sunyi.
Di luar ada suara motor. Suara anak-anak di lorong lantai sembilan.
“Aku bukan lagi bilang kamu nggak jahat,” kataku.
Allysa mengangkat wajahnya.
“Kamu jahat, Lys.” Suaraku tidak bergetar. “Kamu tau ibu aku sakit dan kamu tetep minta dianter. Kamu bilang aku bukan siapa-siapa di depan lima orang. Kamu pulang jam sebelas dan bilang udah makan padahal belum.”
Aku menatapnya.
“Itu semua kamu. Nggak ada yang bisa ngambil itu dari kamu, dan aku nggak akan pernah bilang nggak apa-apa. Nggak sekali pun. Sampai aku mati.”
Dia mengangguk, dan bahunya berguncang, dan dia tidak mengeluarkan suara.
“Tapi kamu nggak ngilangin aku,” kataku.
Dia menutup mulutnya lebih rapat.
“Aku udah ilang duluan.”
“Waktu aku dua puluh tiga,” kataku, “aku berdiri di halte itu dan aku nyerahin sepuluh tahun hidup aku ke orang yang baru aku kenal tiga bulan.”
Aku mengangkat bahu.
“Kamu bilang ‘ya udah’. Dua kata. Dan aku seneng seminggu.”
Aku menyeka wajahku dengan lengan.
“Lys, orang normal nggak gitu.”
Dia menggeleng, dan aku tidak tahu dia menggeleng untuk apa.
“Orang normal denger ‘ya udah’ terus mikir ya kok gitu.” Aku mengangkat tanganku. “Orang normal nanya. Orang normal kecewa. Orang normal minta lebih.”
Aku menjatuhkan tanganku ke meja.
“Aku seneng seminggu, Lys. Karena buat aku, ‘ya udah’ itu udah lebih dari yang aku kira pantes aku dapet.”
Aku menarik napas.
“Itu bukan kamu yang ngerusak aku. Itu aku dateng ke kamu dalam kondisi rusak, dan aku nggak pernah bilang, dan kamu nggak pernah tau.”
Allysa akhirnya bicara, dan suaranya hampir tidak ada.
“Itu bukan pembelaan buat aku.”
“Enggak,” kataku. “Itu bukan pembelaan.”
“Terus kenapa kamu cerita?”
Dan aku mencondongkan badan ke depan dan mengucapkan bagian yang butuh seminggu di kereta untuk kususun dan yang akhirnya keluar dalam bentuk yang sama sekali berbeda:
“Karena kamu udah dua puluh enam tahun bayar utang yang jumlahnya kamu itung sendiri,” kataku, “dan itungannya salah.”
Dia menatapku.
“Kamu ngitung sepuluh tahun,” kataku. “Kamu pikir kamu ngambil sepuluh tahun dari aku dan kamu harus balikin.”
Aku menggeleng.
“Aku yang ngilang, Lys.”
Aku menaruh telapak tanganku di meja.
“Aku yang milih ngilang. Aku yang nolak Bandung. Aku yang nutup kardus. Aku yang ketawa di rumah Vinka biar pestanya nggak rusak. Aku yang ngangkat paket waktu pulang dari makamin Ibu.”
Suaraku pecah dan aku membiarkannya.
“Kamu cuma nggak nyariin aku.”
Aku menyeka mata.
“Itu jahat. Itu kejam. Sepuluh tahun kamu nggak nyariin orang yang tidur di sebelah kamu, dan itu nggak bisa dimaafin, dan aku nggak lagi maafin kamu sekarang.”
Aku menatapnya.
“Tapi itu bukan utang sepuluh tahun, Lys. Itu utang nggak nyari.”
“Dan sekarang,” kataku.
Aku berhenti karena tenggorokanku menutup.
Aku menunggu sampai bisa bicara lagi.
“Dua puluh enam tahun, Lys.”
Aku mulai menghitung, dan aku tidak tahu aku akan menghitung sampai aku mulai.
“Kamu naik mobil enam jam ke kampung ibu aku dan kamu duduk di parkiran sembilan jam dan kamu pulang tanpa keluar dari mobil.”
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kamu nyari lagu tahun tujuh delapan selama empat malem karena aku nyenandungin empat baris di telepon.”
“Bintang—“
“Kamu mutus telepon itu sendiri,” kataku, “karena kamu liat muka kamu senyum di layar HP dan kamu takut kamu lagi bikin diri kamu jadi perlu.”
Aku mengetuk meja.
“Kamu tau aku bakal jatoh sakit di bulan kedelapan. Kamu tau dari Agustus. Kamu diem, karena kamu mutusin informasi itu bukan punya kamu.”
Aku mencondongkan badan.
“Kamu berdiri di lift sama Kirana dan kamu bisa naruh satu kalimat di kepalanya yang nggak akan pernah bisa dia cabut, dan kamu bilang ‘dia pendiam, saya nggak terlalu kenal’.”
Allysa menangis dengan suara sekarang, dan bahunya berguncang, dan aku terus.
“Kamu nulis dua ratus tiga belas halaman tentang hal terburuk yang pernah kamu lakuin dan kamu kirim ke aku tanpa nama pengirim dan tanpa surat pengantar, karena surat pengantar itu cara paling halus buat tetep tinggal di dalem amplop.”
Aku menyeka wajahku.
“Kamu nulis enam baris dan kamu titipin ke Damar dan kamu bilang buang aja kalau aku nggak nanya.”
Aku menarik napas panjang.
“Dua puluh enam tahun, Lys. Tiap hari. Tanpa ada yang liat. Tanpa ada yang ngitung.”
Dan aku mengucapkannya.
“Udah.”
Perempuan itu mengangkat wajahnya dari kedua tangannya.
“Lunas,” kataku.
Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang tidak pernah kulihat pada siapa pun seumur hidupku, dua kehidupan sekaligus.
Bukan lega. Bukan bahagia.
Sesuatu yang lebih mirip panik — panik orang yang berdiri di ruangan yang tiba-tiba tidak punya lantai.
“Bintang—“ Suaranya hancur. “Kamu nggak bisa—“
“Bisa.”
“Kamu nggak berhak—“
“Aku yang berhak.” Aku menatapnya. “Kamu bilang kamu ngutang ke aku. Ke aku, Lys. Bukan ke Tuhan, bukan ke dunia. Ke aku.”
Aku mencondongkan badan dan mengucapkan kalimatnya dengan sangat pelan.
“Yang punya piutang cuma bisa satu orang. Dan orangnya aku.”
Aku menaruh kedua tanganku di meja, telapak ke bawah.
“Dan aku bilang lunas.”
“Berhenti bayar, Lys.”
Perempuan itu menggeleng, dan menggeleng lagi, dan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“Berhenti,” kataku. “Kamu boleh nyesel seumur hidup. Kamu boleh inget semuanya. Aku juga inget dan aku nggak akan lupa dan aku nggak mau lupa.”
Aku menelan ludah.
“Tapi kamu udah nggak punya utang sama aku.”
Dan lalu bagian terakhir — bagian yang tidak kususun, yang keluar sendiri, dan yang baru kusadari artinya berbulan-bulan kemudian:
“Dan sekarang aku mau minta satu hal lagi.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Aku mau kamu bahagia,” kataku. “Bukan buat bayar. Bukan buat aku.”
Aku menatap perempuan itu.
“Karena kalau kamu nggak bahagia, dua puluh enam tahun itu jadi hukuman.”
Aku menggeleng.
“Dan itu bukan hukuman, Lys. Itu hidup kamu. Itu hidup kamu yang paling bagus. Dan kamu ngelewatinnya sambil mikir kamu lagi nyicil.”
Allysa menangis di meja makan itu selama mungkin dua puluh menit.
Aku tidak memeluknya. Aku ingin, dan aku tidak melakukannya.
Karena kalau aku memeluknya, aku sedang menghentikannya, dan aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa menghentikan tangis orang lain hampir selalu untuk kenyamanan diri sendiri.
Jadi aku duduk di seberang meja dan menunggu.
Dan waktu dia akhirnya berhenti, dan menyeka wajahnya dengan lengan bajunya sendiri seperti anak kecil, dia bilang:
“Bintang.”
“Hm?”
“Aku nggak tau harus ngapain.”
“Sekarang?”
“Ya sekarang.” Suaranya serak. “Dan besok. Dan sisanya.”
Dan aku bilang:
“Ya udah. Kita cari tau.”
Bu Ratna pulang jam enam sore dengan rambut yang masih basah.
Dia melihat kami berdua duduk di meja makan dengan mata yang jelas habis menangis dan piring yang belum dicuci sejak makan siang.
Dan perempuan tujuh puluh delapan tahun itu menaruh tas renangnya di kursi, berjalan ke dapur, dan berkata tanpa menoleh:
“Ibu masak nasi goreng ya. Nggak ada yang boleh nolak.”
[Bersambung ke Bab 48 — POV Allysa]